Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 87


__ADS_3

Vian terus mengejar Asty karena menurut informasi yang ia dapat dari Kiara, Asty memang masih hidup. Awalnya Vian juga tidak mempercayai Kiara, tetapi saat melihat foto dan mendengar cerita Kiara, ia baru mempercayainya.


Kini Asty tengah bersembunyi di sebuah lorong kecil dan berusaha meminta bantuan Qenan saat ia mengetahui ada panggilan masuk dari Qenan.


"Kamu di mana?" Tanya Qenan panik.


"T-tolong aku, aku sedang di kejar oleh Vian." suara Asty terdengar begitu gemetar hingga membuat Qenan bertambah panik.


Qenan segera melajukan mobilnya menuju lokasi yang telah di berikan oleh Asty, sementara Asty bersembunyi dengan seluruh badan yang gemetar. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk melawan Vian jika nanti Vian berhasil menemukannya.


Jalanan yang tampak sepi membuat Asty merasa sangat takut, ia tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa lagi.


"Sudah ku bilang, kau tidak akan bisa melarikan diri dari ku lagi. Kemari lah, atau aku yang akan menarik mu dengan paksa." Ucap Vian mengulurkan tangan di ujung lorong tempat Asty bersembunyi.


Tidak ada pilihan lain bagi Asty, untuk lari pun ia tidak bisa karena jalan sudah buntu. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati Vian, tetapi ia melakukan sedikit lompatan yang akhirnya menendang dada bidang milik Vian hingga membuatnya terjatuh.


Asty segera berlari meninggalkan Vian yang tengah merasa kesakitan.


"Sial, awas kau ya." Umpat Vian yang mencoba untuk bangkit.


Asty berlari hingga akhirnya ia bertemu dengan Qenan yang segera memeluknya dengan erat.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Qenan melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Asty.


Tubuh Asty bergetar hebat, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat menandakan jika ia baik-baik saja. Qenan segera merangkul Asty mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Oh.. Ternyata ada pahlawan baru di sini." Ucap Vian yang sudah ada di belakang mereka berdua.


"Arka.." Ucap Qenan setelah membalikkan badannya. "Asty, kamu masuk ke mobil sekarang." Pinta Qenan memegang kedua tangan dan menatap Asty.


Asty memasuki mobil dengan rasa takut, tangannya terus bergetar dan jantung nya semakin berdetak kencang. Perkelahian antara Vian dan Qenan pun terjadi, sekali lagi Qenan memberi pelajaran pada Vian karena selalu merusak kebahagiaannya.


Vian tersungkur ke jalan setelah mendapat serangan bertubi-tubi dari Qenan, kemudian Qenan berjalan menuju mobil yang sudah di sambut oleh senyuman Asty.


Namun, hal tak terduga terjadi. Asty melihat pergerakan Vian yang hendak bangkit dengan pisau di tangannya, ia berlari menuju Qenan berniat untuk menancapkan pisaunya pada Qenan.

__ADS_1


Dengan cepat Asty berlari menghampiri Qenan, memeluk dan menjauhkannya dari Vian. Akan tetapi pisau yang di bawa Vian malah tertancap di pinggang Asty, tubuh Asty melemas dalam pelukan Qenan seiring darah yang terus mengalir dari tubuhnya.


"Tidak, Asty..." Qenan memegang erat tubuh Asty di pangkuannya.


"Ma- maafkan aku sudah membohongi mu.. A-aku hanya ingin tahu jika kamu benar-benar me-mencintaiku seperti aku mencintaimu...." Ucap Asty tersenyum dengan nafas yang tersendat hingga akhirnya memejamkan matanya.


Tak lama kemudian polisi datang dan segera menangkap Vian yang masih memegang pisau berlumuran darah. Tanpa perlawanan Vian di bawa oleh polisi, berjalan sambil menatap Asty yang tergeletak di pangkuan Qenan.


"Tak apa aku masuk penjara, setidaknya Qenan tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupnya." Vian menyeringai dengan tangan diborgol.


Sementara ambulance membawa Asty ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.


Qenan terus menitikkan air matanya di depan ruang operasi, ia terus menyesali semua kejadian yang telah di alami oleh Asty. Ia merasa sangat bersalah karena tidak pernah bisa menjaga Asty, sedangkan Asty selalu bisa menjaganya saat ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Bu Tatum dan Laras tiba di rumah sakit setelah di beritahu oleh Qenan. Melihat kedatangan bu Tatum, Qenan segera bersimpuh di hadapan bu Tatum meminta maaf.


"Bangun lah, ini bukan salahmu. Sekarang kita doakan saja agar Asty di berikan yang terbaik." Ucap bu Tatum memegang pundak Qenan dan tersenyum.


"Iya, Qen. Bangun lah, Asty tidak suka jika melihat kamu menangis." tambah Laras.


"Seharusnya hari ini Asty dan Qenan tengah berbahagia." Lirih bu Rani menatap jauh ke depan.


"Sudah bu, kita doakan saja semoga setelah ini mereka akan selalu di berikan kebahagiaan." Ucap bu Tatum memegang tangan bu Rani yang duduk di sampingnya.


Bu Tatum mencoba untuk tetap tegar saat anak bungsunya tengah menjalani operasi, ia hanya bisa memohon yang terbaik pada sang pencipta alam semesta.


Dua jam telah berlalu, dokter yang menangani Asty telah keluar dari ruang operasi. Tampak raut wajah dokter paruh baya itu kelelahan, tetapi ia tetap menjawab pertanyaan dengan tenang.


"Operasi telah berhasil, kita tinggal menunggu pasien sadar." Ucapnya dengan tersenyum dan pergi menuju ruangannya.


Qenan dan yang lainnya sedikit bernafas lega mendengar keberhasilan operasi yang dilakukan oleh Asty.


"Mama, ibu sama kak Laras pulang ajah. Biar aku di sini yang jagain Asty." Ucap Qenan melihat ibu dan yang lainnya tampak kelelahan.


"Baiklah, selalu beri kami kabar yah." Ucap bu Tatum mengusap pundak Qenan.

__ADS_1


Bu Tatum sangat mempercayai Qenan, sejak ayah Asty meninggal beberapa bulan lalu, Asty sangat merindukan sosok lelaki yang kuat dan selalu bisa melindunginya. Saat bu Tatum melihat Qenan, ia yakin jika Asty akan bahagia bersamanya dan Qenan lah sosok pelindung baru bagi Asty.


*****


"Ayah.." teriak Asty saat melihat punggung seorang lelaki yang tengah duduk di sebuah bangku taman.


Asty berjalan dengan begitu antusias menghampiri lelaki berpakaian serba putih itu, kemudian ia ikut duduk di sebelahnya setelah memeluknya dengan erat.


Suasana sekelilingnya terasa begitu damai dengan bunga-bunga cantik menghiasinya.


"Ayah, aku mau di sini ajah sama ayah." Ucap Asty bermanja-manja di bahu sang ayah.


"Hey, apa kamu tidak ingin berbahagia bersama cinta yang sudah susah payah kau kejar?" Tanya ayah mencubit hidung Asty.


Tiba-tiba hadir sosok Qenan yang memanggil namanya, seketika hati Asty terasa sangat hangat ketika mendengar Qenan memanggilnya.


"Pergilah, ayah sangat merestui hubungan kalian. Berbahagialah kalian berdua, ayah juga akan bahagia melihat kalian berbahagia." Ucap ayah Asty mengusap lembut punggung Asty.


Asty melangkahkan kakinya menuju Qenan, mereka saling bergandengan tangan dengan wajah yang berseri-seri.


Saat menatap ke arah dimana ayahnya berada, ternyata sudah tidak ada lagi di sana.


"Ayah.." Lirih Asty menggerakkan jari tangannya yang berada di atas brankar rumah sakit.


"Asty, kamu sudah sadar." Ucap Qenan bahagia menatap Asty yang perlahan membuka matanya.


Qenan yang sejak tadi duduk di samping Asty dan memegang tangannya, segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Asty.


Setelah melakukan pemeriksaan dan alat bantu pernapasan yang sudah di lepas, kini tinggallah mereka berdua di dalam ruang rawat. Qenan terus memegangi tangan Asty dan terus melengkungkan senyumnya sebagai rasa bahagianya bisa melihat Asty yang sudah dua hari tak sadarkan diri.


"Kak Qenan, kenapa wajahmu kucel sekali." Ucap Asty mengusap rambut Qenan yang terlihat mulai memanjang dan berantakan.


"Aku tidak sempat memikirkan penampilan, aku hanya berharap kamu segera bangun." Ucap Qenan menciumi punggung tangan Asty.


Kini kebahagiaan tengah berpihak kepada mereka, setelah berbagai macam kesulitan berhasil mereka lalui.

__ADS_1


__ADS_2