
Bu Rani merasa sangat tidak enak pada Asty yang selama ini menemani Qenan dan menjaganya dalam kondisi yang bisa di katakan kurang normal. Bu Rani berharap dalam hati kecilnya jika Qenan bisa kembali normal, ia akan segera menyatukan Asty dan Qenan.
Namun, kini harapan itu hanyalah tinggal sesuatu yang mustahil untuk terwujud karena Qenan melupakan Asty begitu saja, padahal Asty telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Qenan.
Bu Rani ingin sekali berkata bohong pada Asty agar membuatnya merasa bahagia, namun bu Rani kembali berfikir jika membohongi Asty suatu saat nanti pasti akan di ketahui Asty. Bu Rani tidak ingin membuat Asty lebih sakit lagi.
"Qenan.. dia sudah sadar, dia sudah kembali normal lagi layaknya pria seusianya. tapi..." ucapan bu Rani terputus, padahal Asty sudah senang mendengar kabar jika Qenan sudah sadar dan kembali normal.
Ada yang mengganjal di hatinya untuk mengatakan yang sebenarnya, namun bu Rani harus memberitahu kebenaran yang ada agar Asty tidak kecewa dan sakit hati di kemudian hari.
"tapi kenapa bu?" tanya Asty terlanjur penasaran menunggu kelanjutan cerita bu Rani yang saat ini malah terdiam melamun.
"eh iya, Qenan sudah sadar tapi dia tidak ingat sama kamu, Asty. ibu harap kamu bisa memaafkannya." ucap bu Rani terdengar sangat bersedih.
Bagai di cengkram dengan begitu kuat, hati Asty terasa perih, nafasnya begitu sesak mendengar kenyataan yang di ucapkan oleh bu Rani. Air matanya mengalir tak tertahankan, tetapi Asty malah tertawa menutupi kesedihannya.
"haha.. iya jelas saya sudah memaafkannya bu, mendengar dia sudah kembali normal juga saya sudah begitu senang karena tujuan saya memang untuk membuatnya kembali normal." jelas Asty tertawa sambil menyeka air matanya.
"terimakasih Asty, kamu memang anak yang baik." seru bu Rani.
Setelah puas berbincang dengan Asty, bu Rani pamit pergi ke minimarket karena banyak hal yang belum di kerjakan nya, mengingat Asty yang besok juga meminta libur satu hari lagi untuk memulihkan lukanya.
Bukan hanya tubuhnya yang terluka, tapi hatinya juga cukup terluka oleh kenyataan yang di hadapinya. Awalnya memang ia mencoba untuk profesional agar tidak terbawa perasaan saat bersama Qenan, namun lambat laun rasa cintanya mulai tumbuh untuk Qenan, tetapi kenyataan berkata lain.
Asty hanya bisa merelakan dan berdoa semoga Qenan kali ini bisa bahagia bersama Lusy, gadis yang sangat di cintai oleh Qenan.
"beruntung sekali gadis itu, pasti dia sangatlah cantik. ah sudahlah, gue yang buruk ini masa mengharapkan pria tampan. bagai punuk merindukan bulan saja, haha.." gumam Asty terkekeh.
Asty memang terlihat sangat tegar ketika menghadapi segala kenyataan hidup yang dia jalani, tapi ia hanyalah manusia biasa yang pasti merasakan sakit.
__ADS_1
Sesakit apapun ia tetap berusaha bangkit dan terus melanjutkan hidupnya, berharap akan ada keajaiban untuk dirinya.
***
Sore ini Qenan sudah di perbolehkan untuk pulang walau kondisinya memang belum begitu stabil, Qenan terus memaksa pulang sebab ia ingin segera menghubungi Lusy.
Di dalam kamar bernuansa gelap, Qenan tengah berbaring di kasur king size nya. Ia mengusap layar ponselnya untuk menghubungi Lusy, mengabarkan bahwa dirinya sudah sembuh dan akan segera melamarnya.
Akan tetapi ia begitu terkejut ketika berhasil menyusun pola kunci ponselnya, foto dirinya yang memakai kacamata tebal sedang berdua bersama seorang gadis yang sama sekali tidak ada dalam ingatannya.
Qenan terus menatap foto yang memperlihatkan dirinya tersenyum begitu bahagianya bersama seorang gadis yang juga tersenyum sangat manis di matanya. Ia terus menggali ingatannya tentang gadis itu, namun ia sama sekali tidak mendapatkan ingatan apapun.
"siapa dia sebenarnya, kenapa juga aku berpenampilan seperti ini lagi?" pertanyaan muncul dalam pikirannya.
Qenan terus memandangi wajah Asty dari foto di ponselnya, ada sedikit getaran di dalam hatinya yang ia tepis kan begitu saja. Saat ini gadis yang ada di hatinya hanyalah Lusy, gadis yang akan di lamar nya esok hari.
"ayo makan dulu donk, de." pinta Laras mulai lelah membujuk adiknya untuk makan.
Asty yang enggan bangkit karena merasa badan dan hatinya kurang bersemangat, tapi melihat usaha keras Laras menyuruhnya untuk makan, membuatnya merasa tidak enak hati pada sang kakak. Akhirnya ia mau makan.
"besok kakak masuk kerja, kamu ngga apa-apa sendiri di sini?" tanya Laras.
"nggak apa-apa kak, aku berani kok. kakak kerja ajah yang bener biar cepet dapet banyak uang buat nikah nanti, hehehe." ledek Asty.
"huh, masih bocah udah ikutan ngomongin nikah segala." ucap Laras menjitak kepala Asty.
Asty meringis memegangi kepalanya, tapi Laras hanya tertawa melihat adiknya kesakitan.
***
__ADS_1
Asty yang biasanya bangun menyiapkan sarapan untuk kakaknya, pagi ini ia hanya bangun melaksanakan sholat subuh dan kembali ke tempat tidurnya lagi. Badannya masih terasa kaku untuk di ajak beraktivitas, Laras juga memahami apa yang di rasakan Asty.
Kini Laras tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Asty. Setelah selesai sarapan, Laras segera berangkat menuju kantor tempat dia bekerja.
Dari pagi sampai siang Asty terus bermalas-malasan di depan tv membuatnya merasa bosan, Asty memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kontrakan hingga tanpa terasa ia sampai di sebuah taman.
Merasa sedikit lelah, ia duduk di bangku yang ada di taman tersebut. Sejenak ia teringat saat bersama Qenan, dulu Qenan sering meminta pergi bermain ke taman.
"hmm.. lagi apa yah dia sekarang." gumam Asty tersenyum sendiri.
Tiba-tiba pandangannya teralihkan pada sepasang kekasih yang tengah duduk berdua menikmati es krim.
"kamu ngapain sih, kok ngajak aku ke sini. di sini panas tau." rengek Lusy mengibaskan tangannya.
"lho, bukannya dulu kamu suka kalo aku ajak ke taman." jawab Qenan.
"sayang, aku gak suka di sini. panas..!" seru Lusy kesal.
Dari kejauhan Asty memperhatikan pasangan kekasih yang tengah duduk di depannya itu ternyata Qenan dan Lusy.
"ternyata bener ya, Lusy cantik juga." batin Asty menatap mereka berdua.
Asty yang mengenakan hoodie dan juga masker yang menutupi lebam di wajahnya, siapapun tidak akan ada yang mengenalinya.
Tapi pandangan Qenan tertuju pada Asty, semilir angin di taman saat itu mengibaskan rambut pendek Asty yang di gerainya. Qenan terus memperhatikan Asty padahal Lusy tengah merajuk dan duduk membelakangi nya, ia merasa mengenali Asty walaupun menutup wajahnya dengan masker.
Merasa risih karena di perhatikan, Asty memilih untuk pulang sebelum Lusy mengetahui jika Qenan tengah memandangnya.
"sepertinya aku mengenali gadis itu, tapi siapa dia?" batin Qenan terus menatap Asty walau kini yang terlihat hanya punggungnya saja.
__ADS_1