
Asty terus berlari tanpa menengok ke belakang, melewati beberapa ruang kelas yang para muridnya sedang melaksanakan kegiatan belajar.
Melihat Asty berlarian seperti sedang di kejar seekor anjing membuat para siswa heran dan penasaran apa yang telah terjadi hingga membuat Asty berlari begitu cepat.
Asty terus berlari menuju ruang kepala sekolah tanpa menghiraukan pandangan para siswa yang melihatnya dari balik jendela. Hingga akhirnya ia berhasil sampai di ruang kepala sekolah.
"pak.." teriak Asty sambil mengatur napasnya yang seolah telah habis.
"kamu kenapa Asty?" tanya pak Budi yang tengah duduk di ruangannya.
"tolong pak.. " Asty berusaha menyusun kalimat di tengah nafasnya yang tersendat.
"kamu yang tenang dulu." ucap pak Budi memberikan segelas air pada Asty.
Asty meraih gelas yang berada di tangan pak Budi dan segera meminumnya hingga habis tak bersisa setetes pun.
"terimakasih pak." ucap Asty meletakan gelas di atas meja.
"jadi, kamu kenapa lari-larian begini?" tanya pak Budi.
"gini pak, Alvian mengancam akan membunuh saya dan sekarang dia sedang berkelahi dengan Toby." jelas Asty.
Awalnya pak Budi merasa tidak percaya karena bisa saja mereka sedang mengerjai kepala sekolah. Namun melihat leher Asty yang sedikit tergores dan terlihat darah mengalir dari sana akhirnya pak Budi mempercayainya.
"dimana mereka sekarang?" tanya pak Budi lagi.
Setelah Asty memberitahu dimana mereka berada, pak Budi menyuruh Asty pergi ke UKS untuk mengobati lukanya.
Setibanya Asty di UKS ia bertemu dengan Vina yang kebetulan sedang berada di UKS.
"ya ampun Asty, kamu kenapa lagi? abis berantem lagi apa?" tanya Vina terkejut melihat darah yang mengalir dari leher Asty dan juga rambut yang sudah sangat berantakan bercampur keringat.
"gue hampir mau di bunuh." ucap Asty berbaring di atas brankar.
"dibunuh? yang bener ajah kamu, siapa yang mau bunuh kamu?" tanya Vina lagi sambil mengobati luka Asty.
__ADS_1
"Vian." lirih Asty.
"apa? kok bisa? bukannya kalian pacaran ya?" Vina terus bertanya seperti wartawan yang sedang mencari berita.
"kita udah putus." jawab Asty memejamkan matanya.
Vina tidak berani bertanya lagi melihat Asty yang sangat lelah terbaring sambil menahan sakit akibat goresan pisau di lehernya.
Untung saja pisau itu hanya sedikit menggores leher Asty itupun di lakukan Vian tidak sengaja saat ia menoleh dan Asty segera berlari begitu saja.
"kamu istirahat saja dulu, aku temani di sini." seru Vina dan hanya di jawab anggukan oleh Asty yang matanya sudah terpejam.
Di koridor, pak Budi tengah melerai perkelahian antara Vian dan Toby. Vian yang terus memukuli Toby tapi Toby tak sedikitpun membalas perlakuan Vian membuat wajahnya kini dipenuhi luka.
"cukup Vian, ikut bapak ke kantor sekarang." ucap pak Budi memegang tangan Vian.
"dan kamu Toby, pergi ke UKS obati lukamu. di sana ada Vina yang sedang berjaga." tambah pak Budi.
Pak Budi membawa Vian ke ruangannya untuk di interogasi. Kini mereka sudah berada di ruangan yang sama dengan duduk berhadapan, pak Budi memulai pertanyaan setelah sebelumnya ia menghubungi pak Rudi kepala pelayan di rumah Vian karena ayah Vian tidak bisa di hubungi.
"iya pak bener saya yang mau bunuh Asty,." jawab Vian dengan santainya tanpa terlihat rasa penyesalan sedikitpun.
"Asty memang harus mati, setelah itu saya akan menyusulnya agar kita terus bersama selamanya." Vian kembali menjelaskan.
Pak Budi yang mendengar penjelasan Vian hanya bisa menggelengkan kepala, ia merasa mental Vian sudah terganggu makanya berani melakukan hal seperti itu.
Tak lama kemudian pak Rudi yang tadi di hubungi telah datang. Melihat keadaan Vian, pak Budi meminta pak Rudi membawa pulang Vian agar beristirahat di rumah, berharap Vian bisa kembali normal seperti sediakala setelah beristirahat di rumahnya.
Sesampainya di rumah, pak Rudi mengantar Vian ke kamarnya untuk beristirahat. Mengingat pagi tadi Vian sempat mengamuk, pak Rudi mengira akan sulit meminta Vian untuk beristirahat. Namun ternyata Vian menuruti perintah pak Rudi tanpa perlawanan sedikitpun.
Setelah melihat Vian sudah terlelap, pak Rudi menghubungi tuan besarnya yang bernama Farel untuk menyampaikan keadaan Vian.
Mendengar kabar mengenai anaknya, pak Farel yang berada di ibu kota segera bergegas menemui anaknya karena rasa khawatir dan bersalah yang telah mengabaikan anaknya selama ini.
Sementara Toby dan Asty kini berada di ruangan yang sama yaitu UKS, Toby tengah mendapat pengobatan dari Vina.
__ADS_1
"ya ampun Toby, muka lo." seru Asty terkejut ketika baru saja membuka mata ia melihat wajah Toby yang penuh dengan luka tengah di obati oleh Vina.
"Lo kasian sama gue apa ngeledek, hah?" tanya Toby sedikit kesal melihat Asty yang tengah terbaring dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"ya ampun, gue kasian lah. lo kayak gitu juga kan abis tolongin gue kan." jelas Asty masih dengan posisi berbaring di atas brankar sementara Toby duduk di sebuah kursi dan sedang di obati oleh Vina.
"hem .. iya deh makasih." jawab Toby santai.
Vina yang tengah mengobati luka Toby merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"sebenernya Vian kenapa sih, kok bisa senekat itu ya?" tanya Vina sambil menempelkan kapas berisi obat di pipi Toby.
"gue juga gak tau, selama gue kenal dia belum pernah dia kayak gini." jawab Toby.
Asty hanya terdiam, ia merasa penyebab perubahan Vian adalah dirinya. Namun saat ini ia merasa bingung harus berbuat apa, ia takut sakit hati lagi jika kembali lagi pada Vian.
Tapi di sisi lain Vian ingin terus berada di dekat Asty karena Asty adalah cinta pertamanya.
Melihat Asty yang tiba-tiba terdiam dengan pandangan lurus ke depan seolah tengah membayangkan apa yang akan terjadi membuat Toby dan Vina saling pandang dan berbisik.
"kenapa dia, kok tiba-tiba diem sih?" tanya Toby heran.
"aku juga nggak tau, apa dia trauma sama kejadian tadi ya?" Vina balik bertanya.
Setelah selesai mengobati Toby, Vina menghampiri Asty yang tengah melamun.
"Asty, kamu nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Vina pelan karena takut mengganggu Asty.
"eh, nggak kok. gue nggak apa-apa." jawab Asty sedikit terkejut karena lamunannya terusik.
"tadi Vian ngomong apa ajah sama lo?" tanya Toby berjalan menghampiri Asty menarik salah satu kursi dan duduk di dekat Vina, siap mendengarkan cerita Asty.
Asty terdiam sejenak, mengumpulkan ingatannya. Tiba-tiba seseorang datang mengejutkan mereka bertiga.
"Asty, lo nggak kenapa-kenapa kan? apa luka lo parah? kita ke rumah sakit ajah ya." rentetan pertanyaan seketika muncul dari mulut Rehan melihat Asty yang tengah duduk di brankar.
__ADS_1
"hadeh .. gue udah stand by mau dengerin cerita, malah ada iklan dulu." gumam Toby menepuk keningnya.