
Suasana sekolah sangat ramai kala itu, semua siswa-siswi sekolah berkumpul di lapangan menyaksikan acara pelepasan siswa-siswi kelas 12.
Saat ini sedang berlangsung acara pentas seni dari siswa kelas 11. Ketika para siswa asyik menonton pentas seni, Asty dan Dani asyik mengambil foto bersama untuk di simpan sebagai kenang-kenangan.
Berbagai pose telah mereka ambil, saat mereka hendak mengambil gambar lagi tiba-tiba Shela dan Toby datang mengejutkan mereka.
"wouy.. kok foto berdua ajah sih, nggak ngajak-ngajak kita." ucap Shela berdiri di depan Asty dan Dani yang tengah duduk berdua di depan panggung hiburan.
"aihh.. kalian juga abis foto berdua kan, hayo ngaku ajah deh.." ledek Asty membuat pipi Shela merona walau wajahnya terbalut oleh make up tapi tetap saja terlihat.
"ya iyalah.. itung-itung latihan buat nanti di pelaminan." seru Toby menggenggam tangan Shela, membuat wajahnya semakin merona dan hanya bisa tersenyum malu.
Mereka memang sudah meresmikan hubungan sejak beberapa bulan lalu. Awalnya mereka saling ledek dan sering di tinggal berdua oleh Asty saat ia berdiskusi bersama Dani, mereka juga sering bertengkar merebutkan hal yang tidak penting sama sekali.
Karena sering bertengkar dan ledek-ledekan, akhirnya tumbuh rasa cinta di antara mereka. Sebenernya Toby sudah menyukai Shela sejak masih SMP, Toby mengira mereka akan berpisah setelah lulus sekolah. Hingga Toby merasa putus asa tidak bisa mengejar cintanya, namun ternyata perkiraannya salah besar.
"ya udah yuk, kita foto berempat. tapi yang bagus ya, terus di simpan buat kenang-kenangan." ajak Asty kemudian mereka bersiap untuk di foto ketika Asty memanggil salah satu adik kelasnya meminta tolong untuk mengambil gambar mereka berempat.
Acara telah usai, mereka bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing melepas lelahnya seharian memakai pakaian resmi.
"Asty, gue anter pulang yaa. kapan lagi gue bisa boncengin lo. hehehe." ajak Dani tertawa melihat Asty yang tengah kesulitan berjalan dengan sepatu berhak tinggi yang di pakainya.
"iya ayo buruan ambil motor lo, gue tunggu di sini ajah, sakit nih kaki gue." seru Asty melepas sepatunya.
"siap bu ratu." seru Dani membungkukkan badannya di depan Asty.
"beuh.. lebay amat lo." ucap Asty yang di jawab tawa oleh Dani yang berjalan menuju parkiran.
Kini mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah Asty.
__ADS_1
"Dan, maafin gue ya kalo selama ini sering repotin lo, marah-marah sama lo dan pasti bikin lo jengkel juga." ucap Asty di tengah perjalanan.
"hahaha ngomong apa sih lo. justru gue seneng bisa kenal sama lo yang super duper menyebalkan ini." jawab Dani sambil tertawa.
"yah, terserah deh lo mau ngomong apa. abis ini lo mau kuliah dimana?" tanya Asty lagi.
"gue mau ke ibu kota, lo sendiri mau nyari kerja dimana? jangan bilang lo mau ke bapa kota biar ga sama kayak gue, haha." tanya Dani balik masih sambil tertawa.
Entah kenapa setiap orang yang dekat dengan Asty pasti ia akan merasa hidupnya sangat bahagia, mudah tertawa dan tidak berlarut-larut dalam masalah.
"aneh-aneh ajah lo, dimana juga tuh bapa kota. gue juga mau ke ibu kota dong, nyusulin kakak gue." ucap Asty dengan mantapnya.
"oh gitu, semoga sukses ya. semoga lo di sana juga dapet jodoh yang baik luar biasa sama lo, kalo ada yang macem-macem lo bilang ke gue ya, biar gue sikat tuh orang." seru Dani seolah dia bersikap sebagai seorang kakak yang akan melepas adiknya merantau.
"ya ya ya... tar gue pinjem sikat lo deh, biar gue ajah yang sikatin. haha" ucap Asty dengan tawanya.
Sepanjang perjalanan mereka terus tertawa, tak mempedulikan tatapan pengendara lain dan orang-orang di sekitarnya. Karena hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu, setelah itu mereka akan di sibukkan dengan urusan masing-masing.
Pagi ini terasa berat bagi bu Tatum, ia akan di tinggalkan oleh anak bungsunya untuk pergi merantau menyusul sang kakak yang telah terlebih dahulu berkarir di kota.
"kamu yakin mau berangkat sendirian, de?" tanya bu Tatum lesu menatap Asty yang tengah merapihkan barang-barangnya.
"yakin bu, semalem kak Laras udah ngasih alamat kontrakannya, terus dia juga ngasih tau aku harus naik angkutan apa ajah." jelas Asty tetap fokus pada barang-barangnya namun sesekali menatap ibunya yang tengah bersedih akan di tinggal sendirian.
"kamu mau tinggalin ibu di rumah sendirian, de?" tanya bu Tatum masih belum rela melepas anaknya pergi merantau.
"ibu, besok juga ayah pulang. kemaren kan ayah udah telpon, aku juga udah bilang ke ayah kok. ibu tenang ajah ya." ucap Asty menatap dan mengusap lembut bahu sang ibu.
"baiklah, kamu hati-hati di jalannya yah. cepet kabarin kalo ada apa-apa ya." pinta bu Tatum penuh kasih sayang pada Asty.
__ADS_1
"iya ibu, ibu juga hati-hati di rumah ya. kalo cape istirahat ajah, jangan kerja. biar sekarang aku ajah yang kerja ya bu." seru Asty dalam pelukan bu Tatum.
Tangis bu Tatum tiba-tiba memecah keheningan rumah yang hanya di tinggali Asty dan ibunya itu. Bu Tatum meneteskan air matanya saat memeluk Asty, ia tak menyangka anak bungsunya yang dulu menjadi bahan rundungan teman-temannya kini sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.
"ibu jangan nangis, aku jadi ikutan nangis nih." ucap Asty melepaskan pelukan ibunya sambil menitikkan air mata.
"ibu nangis bahagia, de. gak kerasa kamu sekarang udah gede, udah bisa jaga diri sendiri." bu Tatum mengusap air mata yang mengalir di pipi Asty.
"ibu... doain aku yah, biar aku sukses terus bisa bahagiain ibu." Asty kembali menangis memeluk ibunya.
"pasti de, pasti ibu doain kamu." seru bu Tatum membalas pelukan Asty yang terasa hangat itu.
"ya sudah bu, Asty pamit berangkat dulu ya. ibu hati-hati di rumah ya, aku pasti bakalan kangen sama ibu." Asty mengecup pipi sang ibu penuh haru.
"iya de, kamu juga hati-hati di jalan ya." Bu Tatum memeluk Asty kembali.
Setelah berpamitan, Asty segera menaiki angkutan umum menuju terminal bis. Di perjalanan menuju terminal, ia menahan tangisnya mengingat sang ibu yang selalu ada untuknya kini harus berjauhan dengan jarak yang begitu jauh.
"semoga ibu selalu dalam lindungan Allah dan selalu di berikan kesehatan." batin Asty menatap jalanan yang sedang di lalui nya.
Beberapa menit kemudian Asty sampai di terminal bis, setelah mendapatkan bis Asty segera menaikinya. Asty duduk bersebelahan dengan seorang ibu, membuatnya kembali teringat dengan sosok bu Tatum yang di tinggalnya sendiri di rumah.
"kamu mau cari kerja di kota, de?" tanya ibu paruh baya itu pada Asty yang sudah duduk di sebelahnya.
"iya bu. ibu sendiri mau ke mana?" Asty balik bertanya.
"oh.. saya mau ketemu anak saya di kota, de." jawab ibu dengan ramah.
"kok sendirian ajah bu?" tanya Asty lagi.
__ADS_1
"iya nggak apa-apa de, saya udah biasa bolak balik sendiri." jawab ibu itu lagi dengan ramah.
Mereka terus mengobrol di sepanjang perjalanan menuju kota. Asty merasa seperti ada bu Tatum yang menemani perjalanannya. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di kota, mereka berpisah di terminal karena tujuan mereka berbeda.