Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 79


__ADS_3

Di malam yang begitu sunyi, suara teriakan Vian terdengar begitu jelas di telinga Asty yang tengah berada di kamar mandi. Asty segera meraih gagang pintu dan membukanya, membayangkan Vian dengan wajah marah kemudian menariknya dengan paksa, membuat goresan demi goresan luka di seluruh tubuhnya.


Ketika ia berhasil membuka pintu, di lihatnya Vian masih terlelap dengan nyamannya memeluk sebuah bantal guling.


"Huh.. ternyata dia cuma mengigau." Gumam Asty mengelus dadanya.


Asty pun kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa sakit, tetapi kali ini ia memilih untuk tidur di sofa karena ia merasa tidak nyaman tidur berdua dengan Vian.


Di malam yang sama, Qenan tengah berdiri di balkon kamarnya memandangi taburan bintang yang menghiasi gelapnya langit di malam itu.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, tetapi Qenan sama sekali tidak merasakan kantuk. Ia terus memikirkan Asty, gadis yang sangat ia cintai tapi karena kebodohannya membuat Asty hilang dan sampai saat ini belum ia temukan.


Qenan selalu berharap akan adanya kesempatan kedua untuk dirinya, agar bisa digunakan untuk menebus semua kesalahannya pada Asty.


"Sampai kapanpun aku akan terus mencari mu, semoga kelak kita bisa bersama selamanya. Jika aku bisa memilih takdirku, aku ingin selalu berada di dekat mu dan aku berjanji akan selalu menjagamu." ucap Qenan menatap langit, membayangkan wajah Asty yang terbentuk oleh susunan bintang.


***


"Selamat pagi sa-... Lho kemana dia pergi." tanya Vian ketika melihat Asty sudah tidak ada di sampingnya.


Vian segera bangun dan melempar selimutnya dengan kasar, emosinya memuncak ketika tidak bisa melihat keberadaan Asty.


Vian mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, di lihatnya Asty tengah tidur di sofa. Badannya terlihat menggigil, tetapi Vian tidak memperdulikannya.


Pergelangan tangan Asty di tarik dengan paksa oleh Vian memaksa Asty untuk berdiri tegak, wajah pucat nya tidak membuat Vian mengurungkan niat untuk memberikan hukuman.


"Vi-..." belum sempat Asty meneruskan ucapannya, tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi Asty hingga membuatnya tersungkur.


Asty segera bangkit dan berlari menuju pintu untuk keluar kamar, tetapi sayang nya kunci kamar di pegang oleh Vian.

__ADS_1


"Kamu cari ini?" Tanya Vian mengeluarkan kunci dari saku celananya, kemudian berjalan ke arah Asty.


Vian berjalan perlahan menghampiri Asty yang tengah bersandar di dinding dekat pintu karena ia tidak tahu akan berlari kemana lagi, Vian terus menyeringai sambil melipat lengan panjang kemejanya.


"Kamu tau apa kesalahan mu, hah?" tanya Vian meletakkan tangannya ke dinding membuat Asty tidak bisa berbuat apa-apa.


Asty terdiam, ia sama sekali tak berani menjawab pertanyaan Vian karena melihat wajahnya yang memerah penuh dengan emosi menatap Asty seperti mangsanya.


Melihat Asty yang hanya diam, Vian segera menggendong Asty dan membantingnya ke atas tempat tidur. Tanpa henti Vian mendaratkan telapak tangannya pada pipi Asty begitu keras, berharap Asty akan tergeletak tak sadarkan diri.


Asty berusaha menahan rasa sakitnya dan mengumpulkan tenaga untuk melawan Vian yang badannya lebih besar dari dirinya. Ketika cairan berwarna merah keluar dari ujung bibirnya, Asty dengan seluruh tenaganya menendang Vian dari hadapannya hingga Vian terjatuh ke lantai.


"Sialan, beraninya kau.!" Ucap Vian menarik pergelangan tangan Asty memaksanya berdiri di hadapan Vian.


Kepalanya terasa begitu berat ketika berdiri di hadapan Vian, hampir saja ia menjatuhkan diri ke lantai. Vian memegang kedua bahu Asty dan mengguncangnya membuat Asty dalam keadaan setengah sadar.


Perlahan tangan Vian turun menuju kancing kemeja yang digunakan oleh Asty kemudian menariknya membuat Asty kembali tersadar dan melihat wajah Vian yang di penuhi nafsu.


Asty mencoba mendekati Vian untuk mengambil kunci yang ada di sakunya, tiba-tiba tangan Vian mencengkeram pergelangan tangan Asty.


Rasanya ingin Asty berteriak saat dalam situasi menegangkan seperti itu, tapi pikirnya tidak ada gunanya sama sekali. Asty membenturkan kepala Vian ke dinding dengan tangan satunya membuat Vian benar-benar tidak sadarkan diri.


"Jangan mati ya, aku nggak mau masuk penjara." Gumam Asty beranjak meninggalkan Vian setelah mendapatkan kunci.


Sebenarnya ia merasa tidak tega melihat Vian mengeluarkan darah akibat perbuatannya, tetapi ia juga takut jika Vian terbangun dan marah atas apa yang telah dilakukan oleh Asty.


Asty bergegas keluar kamar dan mengunci pintunya kembali, ia berpura-pura panik dan meminta bantuan para pelayan dan penjaga.


"Tolong, tuan terjatuh saat berada di kamar mandi dan sekarang tidak sadarkan diri. Aku bingung harus bagaimana, tolong semuanya ke sana, ayo cepat." Ucap Asty dengan wajah panik dan menghentakkan kakinya seolah ikut kembali ke kamar bersama para pelayan.

__ADS_1


Dengan paniknya para pelayan dan penjaga bergegas menuju kamar Vian, mereka begitu percaya mendengar ucapan Asty hingga membuat Asty bisa keluar vila dengan mudahnya.


"Maaf ya, udah aku bohongin." Ucap Asty membuang kunci dari dalam kantong celananya ke taman dan berlari sekencang mungkin meninggalkan vila.


Asty tidak memikirkan kemana arahnya berlari, yang ada didalam pikiranya hanya pergi menjauh dari vila dengan sisa tenaganya.


Sementara di vila tengah terjadi keributan ketika melihat tuan mereka mengamuk saat mengetahui Asty telah pergi meninggalkan vila.


"Dasar bodoh, kalian." teriak Vian membentak seluruh pelayan dan penjaga walau kepalanya masih meneteskan darah.


Mereka hanya bisa diam menunduk ketika Vian melemparkan barang-barang yang terlihat olehnya. Sebagian penjaga telah menelusuri jejak kepergian Asty, langkah mereka terhenti di tepi jurang.


"Maaf tuan, kami tidak menemukannya. Tetapi kami hanya menemukan ini di tepi jurang." Ucap salah seorang penjaga menunduk dengan rasa hormat kemudian memberikan sebuah gelang.


Vian segera meraih gelang dari tangan penjaga, di tatapnya gelang tersebut dari berbagai sudut. Ternyata memang benar, itu adalah gelang yang selalu di pakai oleh Asty.


"Tidak, tidak mungkin Asty jatuh ke jurang itu." Teriak Vian hendak keluar vila mencari Asty sendirian.


Namun langkahnya terhenti saat kepalanya terasa begitu sakit hingga membuatnya terjatuh, para pelayan dengan sigap segera membawanya ke kamar dan memanggilkan dokter untuk mengobati lukanya.


***


Pagi ini Qenan sudah berada di kantornya, ia bekerja sambil terus memandangi foto Asty dalam sebuah figura yang begitu indah, cocok dengan foto di dalamnya yang menurut Qenan begitu cantik. Ia sengaja meletakkan foto Asty di atas mejanya agar ia bisa selalu memandangi wajah Asty setiap saat.


Hari itu Qenan terlihat sangat sibuk hingga ia tidak bisa menghentikan tangannya sendiri. Banyak sekali pekerjaan yang tertunda selama ia meninggalkan kantor, kesibukannya terhenti ketika tangannya tak sengaja menyenggol figura yang berisi foto Asty.


"Asty.." pekik Qenan segera bangkit dari kursinya dan mengambil foto Asty yang tergeletak di lantai.


Perasaan Qenan menjadi tidak karuan mengingat sama sekali belum ada kabar baik yang ia dapatkan tentang Asty.

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi hal buruk kepadamu." Ucap Qenan mengusap foto yang memperlihatkan wajah Asty yang begitu bahagia saat bersama Qenan.


__ADS_2