
Toby melajukan motornya menembus keramaian jalan pagi itu, dengan mudahnya ia menyalip satu per satu kendaraan yang menghalangi jalannya.
Rasa penasaran terhadap cerita Asty tadi membuatnya melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai di sekolah.
Asty yang duduk di belakang Toby diam saja ketika di bawa kebut-kebutan, berbeda dengan gadis lain yang akan berteriak ketika di ajak ngebut. Asty seolah sudah terbiasa dengan kebut-kebutan, mengingat dahulu ia sering di ajak ngebut oleh Vian.
Motor sport berwarna hitam berhenti tepat di area parkir, Asty segera turun dan pergi begitu saja menuju kelas meninggalkan Toby yang tengah melepas helmnya.
"wouy mau kemana lo." teriak Toby menghentikan langkah Asty.
Toby berjalan sambil melepas sarung tangan dan menenteng helmnya. Toby yang berbadan tinggi dan masih memakai jaketnya membuat para siswi senior memperhatikannya, namun ia tak menghiraukan pandangan itu.
"bro, lo di liatin ajah tuh sama kakak kelas." bisik Asty tidak sampai ke telinga Toby karena kepalanya hanya sebatas dada Toby.
"heh ngomong apa sih lo." seru Toby yang tengah sibuk memasukan sarung tangan ke dalam ranselnya.
"dasar ogeb." ketus Asty kemudian berlalu meninggalkan Toby yang tengah lengah.
Asty yang kecil tidak bisa melangkah dengan cepat di bandingkan dengan Toby. Hanya selangkah saja Toby sudah dapat menarik ransel yang di pakai Asty.
"aduh.. duh.." teriak Asty menghentikan langkahnya ketika ransel yang ia pakai di tarik oleh Toby.
"mau kemana lo, hah. udah nebeng gak bilang makasih, pake mau kabur gitu ajah lagi. terus siapa itu yang mau culik lo, mana orangnya biar gue lempar ke Antartika sekarang juga." ucap Toby masih memegang ujung ransel Asty walau Asty sudah berhenti.
"waduh, serem amat. lo mau lempar dia ke sana, boleh gak gue minta lo lemparnya ke planet Neptunus ajah biar lebih jauh lagi. hahaha" pinta Asty membalikkan badannya sambil tertawa.
Mereka saling melempar candaan selama perjalanan menuju kelas, membuat orang-orang yang melihatnya mengira mereka adalah sepasang kekasih.
Tak terkecuali Dani, hal itu membuatnya geram ketika melihat mereka. Sebenernya Dani mengikuti mereka sejak dari rumah Asty tadi dan Asty mengetahui itu, makanya ia tidak bisa langsung cerita pada Toby apa yang terjadi sebenarnya.
"ada hubungan apa sih diantara mereka berdua?" Dani bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Dani berjalan mengikuti Toby dan Asty yang tengah asyik bercanda ria dari jarak yang tidak terlalu jauh, hingga akhirnya Asty berhenti di depan ruang kelasnya.
"gue masuk dulu, bro. nanti cerita di kantin ajah." seru Asty bersiap memasuki ruang kelasnya.
"okeh, gue tunggu cerita lo yang bikin penasaran itu." jawab Toby kemudian berlalu meninggalkan Asty menuju ruang kelasnya yang berada di sebelah ruang kelas Asty.
***
"apa? si Dani nembak lo?" tanya Toby terkejut saat Asty menceritakan apa yang terjadi tadi malam.
"sst.. jangan keras-keras ngomongnya, gue malu tau." ucap Asty meletakkan jari telunjuknya di bibir.
Saat ini Asty, Toby dan Shela tengah berada dalam meja yang sama di kantin sekolah tempat biasa mereka mengobrol.
"tau nih, cowok kok lebay nya melebihi cewek." ketus Shela melirik ke arah Toby.
"ya maaf, gue kan kaget. lagian Asty kan cuma punya Vian, sahabat gue. Dia gak boleh deketin Asty." seru Toby mengepalkan tangannya di atas meja.
"hehehe.. ya maaf donk, gue seneng sih kalo lo sama Vian. keliatannya serasi gitu, cocok banget deh pokoknya." seru Toby menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"terimakasih buat pendapat lo, tapi sayangnya gue udah gak mau lagi punya pacar. enak sendirian, bebas." ucap Asty menatap ke arah Toby dan Shela bergantian.
Suara langkah kaki menghentikan canda tawa yang mereka lakukan
"Asty, bisakah kita bicara berdua?" tanya Dani menghampiri Asty yang tengah duduk menyantap satu piring siomay kesukaannya.
Sebenarnya selama ini Asty selalu menghindari Dani karena ia takut akan menyakiti perasaan orang lain lagi. Asty ingin menolak Dani karena memang ia sudah tidak memiliki rasa padanya lagi.
Namun Asty belum mendapatkan jawaban yang tidak akan menyakiti perasaan Dani. Jika Asty diam saja pun akan membuat Dani berharap lebih lagi, karena yang Dani tau adalah Asty masih menyimpan rasa untuknya.
"ahh.. gue harus bilang apa nih, kalo gue jujur apa dia bisa terima jawaban gue yaa. gue takut dia sakit hati dan terjadi lagi kayak Vian, duuh. gue bingung nih." batin Asty menatap Dani yang sedang berdiri di samping kursinya menunggu Asty agar mengikuti ajakan Dani.
__ADS_1
"Asty..?" panggil Dani mengejutkan lamunan Asty.
"ah iya, kenapa tadi?" tanya Asty.
"ayo ikut gue, ada yang mau gue bilangin sama lo. tapi nggak bisa di sini." ajak Dani melihat ke arah Toby dan Shela.
"apapun yang akan terjadi, lebih baik gue jujur ajah. daripada gue ngegantungin anak orang." batin Asty mengikuti langkah Dani menuju taman sekolah.
Mereka saling terdiam sampai saat mereka tiba di taman, Dani mulai berbicara di suasana taman yang hanya ada mereka berdua dan bunga-bunga yang tengah bermekaran.
Asty duduk di tepian kolam yang terdapat banyak ikan hias cantik berwarna-warni. Sambil memainkan air kolam, Asty mendengarkan kata demi kata yang terucap dari mulut Dani.
"semalam kenapa lo gak bales chat gue?" tanya Dani yang tengah duduk di sebelah Asty.
"oh semalem hp gue di pake ibu buat telpon kakak." tanpa ragu Asty menjawab karena memang benar ketika Dani beberapa kali mengirim pesan, ia tengah di kamar dan ponselnya sedang di pakai oleh ibunya.
"tapi lo udah baca kan?" tanya Dani memastikan.
"iya gue baca tadi pagi." jawab Asty singkat dengan tangan yang masih asyik memainkan air dalam kolam ikan tersebut seolah ia akan menangkap ikan dengan tangannya.
"Asty, liat gue." seru Dani berdiri menarik kedua tangan Asty hingga Astypun ikut berdiri.
"eh Dani." ucap Asty terkejut.
"gue tau, dulu lo suka sama gue kan. maafin gue dulu gue gak peka, tapi sekarang lo mau kan jadi pacar gue." ucap Dani memberanikan diri mengutarakan perasaannya secara langsung.
"haduh.. masih di bahas ajah nih, dasar penghuni planet Neptunus." batin Asty kesal.
Sebenernya Asty sudah sangat menyesali perbuatannya, karena dahulu ia pernah mengagumi Dani yang terlihat asyik. Tapi menurutnya, hanya Vian yang mampu masuk ke dalam hatinya selama ini.
"maaf Dani, dulu dan sekarang itu berbeda. gue akui dulu emang pernah suka sama lo, karena gue pikir lo anaknya asyik di ajak temenan. tapi maaf Dani, saat ini gue udah janji buat nutup hati gue buat siapapun. gue pengen fokus belajar, bukannya lo juga sama mau fokus belajar." jelas Asty melepas tangannya dari genggaman Dani dan berlalu meninggalkan Dani.
__ADS_1
"apa cuma Vian yang ada di hati lo?" teriak Dani menghentikan langkah Asty.