Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 60


__ADS_3

Hembusan angin di taman kala itu menembus helaian rambut panjang Asty yang ia gerai, menambah kesan anggun pada dirinya. Walau ia seorang gadis yang berbicara sesuka hatinya dan tak segan memberi pelajaran pada murid yang berbuat onar, namun Asty juga memiliki sisi keanggunan seorang gadis biasa.


Waktu seolah terhenti pada saat Dani menyebut nama Vian, nama itu adalah nama seseorang yang telah pergi meninggalkannya begitu saja tanpa pesan terakhir.


Ada sedikit rasa sesak di dadanya ketika orang yang sudah susah payah untuk di lupakan, teringat lagi dalam benaknya. Seakan waktu berjalan mundur, kembali teringat masa-masa indah saat mereka bersama dan teringat pula masa-masa kelam yang menyakitkan bagi dirinya.


Memang awalnya Asty merasa jika hatinya hanya untuk Vian, namun mengingat kejadian yang menyesakkan kala itu membuat Asty benar-benar membenci Vian dan bertekad untuk melupakannya.


Tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipi Asty, napasnya terasa begitu berat dan hampir membuatnya tak dapat bernapas. Bayangan masa lalunya menciptakan perasaan sedih bercampur marah pada diri Asty.


Perlahan ia menyadarkan diri sendiri agar tidak terus larut dalam masa lalunya. Ia mengatur napasnya sejenak hingga akhirnya membalikkan badan, berjalan menuju Dani yang sedari tadi menunggu dan memperhatikannya.


"gue tegaskan lagi sama lo, untuk saat ini gue gak butuh itu yang namanya pacar. pacaran cuma bakalan hancurin prestasi gue, masa depan gue. silahkan lo cari cewek lain buat lo jadiin pacar. banyak cewek di luaran sana yang lebih cantik, lebih pinter dari gue. dan tolong, jangan sebut nama itu lagi di hadapan gue." jelas Asty mendekat ke arah Dani dan mengangkat jari telunjuknya ke wajah Dani, memperlihatkan sisi garangnya karena ia sudah terlanjur emosi mengingat masa lalunya.


Asty sudah tidak peduli lagi jika ucapannya akan menyakiti perasaan Dani, karena kini hatinya pun sudah di penuhi rasa marah yang tak tertahankan.


Tanpa mendengar jawaban dari Dani, ia langsung membalikkan badannya meninggalkan Dani dengan sisa air mata yang masih mengalir di wajahnya.


Ia terus berjalan menuju ruang kelas sambil menyeka air matanya. Tak peduli dengan tatapan orang lain, ia terus berjalan hingga langkahnya terhenti di pada suatu ruangan yang nampak riuh dengan canda tawa para siswa.


Namun Asty seolah tak mendengar keramaian dalam kelas kala itu. Hati dan pikirannya entah pergi kemana, ia segera duduk di tempat duduknya dan meletakkan kepala di atas meja. berharap rasa lelah hatinya saat itu akan hilang.

__ADS_1


Asty merasa sangat lelah, lelah dengan rasa penyesalannya yang tidak bisa menghargai perasaan Vian yang tulus mencintainya. Tapi ia juga sadar, bahwa waktu tidak akan bisa ia putarkan kembali. Vian telah pergi dan entah ia akan kembali ataupun tidak, hidup Asty masih harus berlanjut.


Ia terus mencoba melupakan Vian dengan meyakini bahwa kalaupun mereka bertemu kembali, pasti Vian sudah melupakannya. Asty tidak ingin merasakan sakit lagi, jika Vian sudah berhasil melupakannya dan bahagia bersama gadis lain, kenapa ia harus masih merasa terpuruk.


"gue harus bisa hapus semua tentang dia, siapa tau dia udah bahagia di sana. bukannya gadis-gadis di sana lebih menarik, gue gak mau patah hati lagi." gumam Asty menyeka air matanya dan mencoba mengembalikan keceriaannya.


Setidaknya keceriaan yang ia perlihatkan pada orang lain membuat mereka ikut tersenyum dan itu yang akan membuat Asty merasa tidak sendirian, ia bahagia ketika melihat orang lain bisa tersenyum karenanya.


Sementara Dani yang masih duduk sendirian di tepian kolam, merasakan penyesalan yang begitu dalam.


"kenapa nggak gue tembak dia langsung pas dulu gue tau dia suka sama gue. lagipula Asty gak mungkin nembak gue waktu itu. dasar bodoh, gue malah ngarepin cewek orang." gumam Dani merutukki kebodohannya saat dulu.


Sejak saat itu mereka selalu fokus pada sekolahnya, mengutamakan pendidikan yang akan berguna bagi masa depan mereka. Tak peduli ucapan orang lain karena mereka masih jomblo, yang terpenting bagi mereka saat ini adalah terus berprestasi.


Di kelasnya mereka selalu menduduki peringkat pertama, hasil dari kerja keras mereka belajar selama ini. Mereka hanya fokus belajar, tidak memikirkan pacaran yang hanya akan merusak konsentrasi mereka dalam belajar saja.


Hari demi hari mereka lewati, di sekolah Asty sering bertemu dengan Dani membahas pelajaran yang mereka belum begitu fahami. Kejadian di taman kala itu, seolah tidak pernah terjadi karena mereka sepakat untuk melupakannya.


Saat ini mereka berteman baik, dengan tujuan yang sama yaitu lulus dengan nilai terbaik. Mereka saling membantu satu sama lain, ketika ada materi yang tidak mereka fahami pasti akan mereka bahas bersama dan memecahkan masalahnya bersama.


Hingga waktu tak terasa berlalu, 3 tahun sudah mereka melewati masa SMA. Kini saatnya mereka memulai perjalanan baru masing-masing. Dani yang menempati peringkat pertama lulusan terbaik di sekolah akan melanjutkan pendidikannya di kota. Sedangkan Asty yang menempati posisi kedua, karena terhalang biaya ia tak melanjutkan kembali pendidikannya.

__ADS_1


"gak kerasa sekarang kita udah lulus yah." seru Dani mengenakan jas berwarna hitam.


"iya, memang waktu cepat berlalu karena kita terlalu menikmati keindahan dunia ini." jawab Asty yang mengenakan kebaya berwarna Lilac lengkap dengan make up duduk di samping Dani.


Kini mereka tengah berada di acara pelepasan siswa di sekolah.


"lo cantik banget hari ini." ucap Dani spontan saat menatap Asty.


"beuh... jadi selama ini gue gak cantik gitu maksud lo. pas gue make up baru cantik." seru Asty mengejutkan Dani.


"iya, selama ini lo kan ganteng. sekolah kok hobinya berantem, hahaha." ledek Dani.


"wah.. ngajak ribut nih anak." seru Asty mengepalkan tangannya.


"jangan sekarang, penampilan gue udah rapih begini mau di ajak berantem. tar dulu, gue belum juga selfy." ucap Dani mengeluarkan ponselnya kemudian berfoto bersama Asty tanpa persiapan Asty terlebih dahulu.


"wouy, tunggu dulu. gue belum siap, ahh rese lo. jadi jelek kan tuh fotonya." seru Asty melihat hasil foto di ponsel Dani.


Dani hanya bisa tertawa melihat wajah Asty di ponselnya.


Mereka memang sudah menjadi teman dekat karena tujuan mereka sama yaitu mengejar prestasi. Dani merasa senang berada di dekat Asty yang selalu ceria, membuat semangatnya bertambah dan yang pasti selalu membuat hatinya bahagia walau tak bisa memiliki Asty sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2