Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 35


__ADS_3

Sinar matahari sudah masuk melalui celah-celah ventilasi udara kamar Asty, ia nampak masih terlelap larut dalam mimpi indahnya.


Sebuah teriakan merusak mimpi indahnya seketika itu.


"Asty Aninditaaaa.. kamu udah mulai bosen sekolah apa?"


Kak Laras berkacak pinggang setelah menarik selimut yang menutupi wajah Asty melindungi matanya dari silaunya sinar matahari yang masuk ke kamarnya.


"Astagfirullah kaka... apa gak bisa bangunin pelan-pelan kak." seru Asty terperanjat dari tidurnya dan mengelus dadanya.


"aku dari tadi udah bangunin kamu Asty, kamu lagi apa sih dalam mimpi sampe gak mau bangun hah?" tanya Laras penasaran.


"aku....." Asty ragu akan menceritakan mimpinya pada Laras, karena pasti Laras akan meledeknya karena memimpikan Dani.


"Asty buruan mandi, udah telat nih kamu." Teriakan bu Tatum membantu Asty untuk melarikan diri dari pertanyaan Laras.


"aku udah telat ka, mau mandi dulu." Asty langsung melarikan diri menuju kamar mandi dan Laras hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya.


Setelah buru-buru menghabiskan sarapannya Asty langsung berangkat sekolah, di perjalanan sudah nampak sepi tidak seperti biasanya yang ramai dengan anak sekolah.


"duh gawat nih bakalan telat masuk, udah sepi gini jalannya. Ini gara-gara mimpi semalem, kenapa juga memimpikan dia. Jadi betah kan aku tidurnya, huh.."


Sepanjang perjalanan Asty terus merutukki dirinya sendiri sampai tiba didepan sekolah terlihat segerombolan anak laki-laki dengan santainya melewati gerbang utama sekolah.


"eh buset dah, tuh cowok-cowok pada santai banget masuknya apa gak takut kena hukuman, Bentar lagi gerbang ditutup."


Gumam Asty ikut dibarisan para anak lelaki yang hendak melewati gerbang utama.


Dengan langkah cepat, Asty menyalip-nyalip gerombolan para anak lelaki tersebut hingga akhirnya langkah kakinya melambat ketika melihat sosok anak lelaki didepannya.


"Dani., aaahhhh.. iya Dani."


Batin Asty kegirangan melihat Dani berjalan dengan santai dihadapannya walau tak menoleh ke arahnya namun Asty merasa sangat senang hanya melihat punggung Dani saja.


Mereka berjalan tanpa saling menyapa, Dani memang anak yang cuek terhadap orang yang belum ia kenali. Asty pun demikian, tak ada keberanian untuk menyapa terlebih dahulu walau ia ingin sekali akrab dengan Dani.


Asty sangat menikmati pemandangan yang berjarak begitu dekat dengan matanya, hingga tak terasa ia sudah sampai di depan ruang kelasnya.

__ADS_1


"Asty buruan masuk, itu pak Ari lagi jalan kesini."


Teriak Elena membuyarkan lamunan penuh bunga-bunga indah Asty yang kemudian berganti menjadi kengerian mengingat guru Matematika killer abis itu sudah mendekati kelasnya membuat Asty segera berlari menuju tempat duduknya.


"Asty Anindita, tulis jawaban PR kamu dipapan tulis sekarang."


Tanpa basa basi pak Ari menyuruh Asty ke depan kelas. Asty yang baru duduk segera mengeluarkan buku PR nya, namun kesialan pun datang padanya, ternyata ia lupa memasukan buku Matematikanya karena terburu-buru.


"ahhh sial, bukunya pake acara ketinggalan segala lagi." gumam Asty setelah mengobrak-abrik isi tasnya.


"ma... maaf pak, buku saya ketinggalan." Dengan memberanikan diri Asty berdiri dan berkata pada pak Ari yang sedari tadi sedang menantikan jawabannya.


"kamu ini niat sekolah tidak, udah datangnya paling akhir, buku pelajaran pun ketinggalan. Sekarang juga kamu keluar dari kelas saya, berdiri di lapangan sambil hormat bendera."


Pak Ari mengeluarkan Asty dari pelajarannya, Asty yang mengakui kesalahannya pun mengikuti perintah pak Ari.


Dengan langkah malasnya Asty berjalan menuju Lapangan, di sana terlihat sepi sekali karena siswa siswi sudah memulai pelajaran masing-masing.


"okeh, ini hari sial gue," gumam Asty mengangkat tangan kanan dan menempelkannya di alis kananya.


"sama, ini juga hari sial buat gue." seru Rehan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Asty membuatnya menoleh ke arah sumber suara.


"hem." jawab Rehan malas sambil terus hormat ke arah bendera.


"Lah kok bisa sih? emangnya kamu kenapa?" Asty merasa kepo dan senang bisa bertemu lagi dengan teman sekolahnya dulu.


"Ya biasalah anak cowok. Kamu sendiri kenapa bisa disini?"


"aku gak bawa buku Matematika, padahal PR nya sih udah dikerjain. gara-gara bangun kesiangan malah gini jadinya." jelas Asty dengan tangan yang masih hormat bendera dan arah pandanganya pun ke sana.


Rehan hanya bisa menertawai Asty sambil mengacak-acak rambut Asty, sepertinya Rehan sangat gemas pada setiap tingkah laku Asty.


Mereka berdua berdiri di lapangan menjalani hukuman sambil sesekali bersenda gurau, mereka terlihat sama sekali tidak memperdulikan teriknya matahari di pagi menjelang siang itu.


Hingga tak terasa bel pun berbunyi, sudah saatnya hukuman mereka usai.


"Asty, kamu boleh masuk kelas kembali. Dan kamu juga kembali ke kelas."

__ADS_1


seru pak Ali hendak menuju ruang guru. Rehan dan Asty pun berpisah karena mereka berbeda ruang kelas.


Sesampainya diruang kelas, Asty langsung merebahkan setengah badannya di atas meja namun raut wajahnya tidak terlihat kesal atau marah tapi ia malah tersenyum bahagia.


Elena yang melihat keanehan Asty ingin sekali menanyakan apa yang terjadi, akan tetapi seorang guru telah memasuki kelas mereka dan segera melanjutkan pelajaran.


.


.


.


"Asty, kamu nggak kesel apa, tadi kan kamu abis dihukum pak Ari?"


Akhirnya Elena bisa melontarkan pertanyaan pada Asty setelah mereka duduk di kantin dan menikmati segelas es teh manis yang menyejukkan kepala mereka.


"hmm.. nggak kok, aku malah seneng tadi pagi ketemu seseorang." Jawab Asty santai memutar-mutar sedotan yang tenggelam dalam es teh manisnya sambil menatap ke arah cowok manis yang duduk tidak jauh dari pandanganya, siapa lagi kalau bukan Dani.


Mood Asty langsung melayang tinggi di angkasa saat melihat pujaan hatinya berada ditempat yang sama dengan dirinya, membuat Elena semakin kepo tentang siapa sosok yang tengah Asty kagumi.


"siapa sih? yang tadi di hukum bareng di lapangan yaa?" tanya Elena penasaran.


Tapi belum juga Asty menjawab, Elena tiba-tiba saja mengarahkan pandanganya pada Dani yang memang sudah ia kenali sejak sekolah dasar.


"eh kamu liat gak cowok yang duduk di sana itu, dia namanya Dani. Dia dulu pernah nembak si Vania. Tapi Vania nolak, gara-gara Vania udah punya gebetan. Kasian banget dah tuh si Dani, apa sampe sekarang dia belum dapet pengganti Vania ya.. haha gagal move on tuh anak."


Elena tiba-tiba memberitahu kenyataan yang pahit bagi Asty, sebenarnya tadi Asty akan memberitahu siapa cowok yang ia sukai pada Elena, tapi mengetahui kenyataan itu akhirnya Asty memilih untuk menyembunyikan perasaanya pada Dani.


"heh, kok kamu malah bengong sih?" tanya Elena melihat Asty yang moodnya tiba-tiba berubah.


"ah.. ngga kok aku ngga apa-apa, hmm bentar lagi masuk nih. Kamu mau disini dulu apa mau ikut aku ke kelas?" tanya Asty mengalihkan pembicaraan.


.


.


.

__ADS_1


bersambung..


jgn lupa like dan komentar nya yaa.. 🤗


__ADS_2