Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 38


__ADS_3

Rasa sakit itu sudah tidak dirasakan oleh Asty lagi, sekarang yang ia rasakan adalah rasa gugup merasa diperhatikan oleh seorang cowok tampan berhidung mancung dan alis tebal yang tidak pernah terbayangkan oleh Asty sebelumnya.


"masih sakit ngga?" tanya Vian dengan tatapan mata yang dalam pada Asty, seolah tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua. Asty hanya menggelengkan kepala.


"gue gak nyangka si pembuat onar bisa jadi tukang pijat juga." Ledek Rehan.


"oh tentu saja, apa sekarang lo mau gue pijet?" tanya Vian sinis.


Vian adalah anak broken home, ayah dan ibunya sudah berpisah dan kini ia tinggal bersama sang ayah yang hanya fokus pada pekerjaanya.


Sementara sang ibu sudah tak pernah ia temui karena sudah memiliki keluarga baru dan seolah Vian sudah dilupakan. Tak heran jika Vian menjadi trouble maker karena kesepianya, terkadang situasi memaksanya untuk bisa melakukan segalanya sendiri.


Walau dirumahnya banyak pelayan, tapi ia tidak begitu bergantung pada para pelayan karena pribadinya yang selalu ingin tahu hal baru.


.


.


Jam sekolah telah usai, Asty berjalan dengan pincang keluar ruang kelas. Di depan ruang kelas Vian sudah siap dengan sepeda motornya.


"ayo, gue anter pulang." ajak Vian.


"nggak usah, gue bisa pulang sendiri." jawab Asty terus melangkahkan kakinya melewati Vian.


"mau nyampe rumah jam berapa lo jalan kaki kayak gitu." seru Vian.


Tidak mau kalah dengan Vian, Rehan tiba-tiba muncul didepan Asty mengajaknya pulang.


"daripada sama si kadal mending ikut Rehan ajah deh." batin Asty dan segera ia menaiki sepeda motor Rehan.


"sialan tuh bocah, maen srobot ajah, gue udah nungguin dia dari tadi. awas ajah lo Asty." gumam Vian.


Ditengah perjalanan menuju rumah, Asty berterimakasih pada Rehan yang sudah menyelamatkanya dari si kadal buntung.


"lo mending hati-hati deh sama dia, dia tuh anak gak bener. gue takut lo kenapa-napa. firasat gue kejadian tadi tuh udah dia rencanain." seru Rehan.


"iya han, gue juga sebenernya takut. tapi mau gimana lagi, kita sekelas tiap hari ketemu. ya semoga ajah itu cuma perasaan lo doang han." jawab Asty pasrah.


"ya semoga ajah sih. tapi kalo ada apa-apa lo langsung bilang sama gue ya." pinta Rehan.

__ADS_1


Bagaimanapun juga Rehan merasa bertanggung jawab karena telah dititipkan amanah oleh Andri untuk menjaga Asty.


Sesampainya dirumah, Asty langsung merebahkan diri di kursi tamu. Rumah tampak sepi karena kak Laras sudah bekerja di kota, ayahpun sama dan bu Tatum belum pulang bekerja.


"duuh badan rasanya pada sakit semua, gak berangkat latihan dulu deh." rintih Asty.


Sementara Vian sepulang sekolah ia tidak langsung ke pulang ke rumahnya melainkan ia pergi ke rumah Toby.


"bro, kenapa ya jantung gue deg-degan pas deket sama cewek tadi." seru Vian sambil memegang stik play stationya.


"wah, parah lo. jangan sampe rencana kita gagal gara-gara perasaan lo yah.." jawab Toby menepuk pundak Vian.


.


.


Sore hari terjadi kepanikan dirumah Asty, saat bu Tatum pulang kerja merasakan rumah yang tampak sepi dan segera mencari keberadaan Asty.


Biasanya Asty duduk didepan televisi menonton acara aktor kesayanganya, namun sore itu ia tidak ada disana. Bu Tatum pergi menuju kamar Asty, terlihat Asty yang sedang berbaring dengan seluruh badan yang ditutupi selimut tebal.


"ya ampun Asty badan kamu panas banget.." teriak bu Tatum memegangi kening Asty yang begitu panas.


"iya sayang, ayo minum obat dulu." seru bu Tatum membantu Asty untuk meminum obatnya, tak lama kemudian Asty tertidur.


Dengan telaten bu Tatum merawat Asty yang tengah demam, mengompres kening Asty hingga bu Tatum menemukan luka di ujung bibir Asty.


Seketika hatinya merasa begitu sakit melihat anaknya terluka, entah apa yang telah terjadi padanya karena Asty belum sempat bercerita pada ibunya.


"apa kamu sudah berkelahi, nak." gumam bu Tatum membelai wajah anak bungsunya itu dengan sedih.


Tengah malam Asty terbangun melihat ibunya terbaring disampingnya sambil terus memegangi tanganya.


"ibu.." ucap Asty dengan suara begitu lembut mengusap kepala bu Tatum hingga membuatnya terbangun.


"Asty, kamu bangun nak. kenapa? apa ada yang sakit?" rentetan pertanyaan muncul dari mulut panik bu Tatum.


"nggak bu, aku udah baikan kok sekarang. ibu kenapa tidur di bawah? sini tidur bareng aku." ajak Asty.


"ibu tadi ketiduran nak." jawab bu Tatum membelai rambut panjang Asty.

__ADS_1


"maafin aku ya bu, aku udah bikin ibu tambah cape. baru pulang kerja langsung aku repotin." seru Asty menatap sayu wajah ibunya.


"sstt.. jangan bilang gitu, kamu anak ibu yang harus ibu jaga." bu Tatum tersenyum. "kamu tadi abis berantem di sekolah yaa?" tanya bu Tatum.


Deg....


Deg...


Jantung Asty rasaya mau lepas karena terkejut mendengar pertanyaan bu Tatum yang seolah tahu apa yang telah di alami Asty di sekolah tadi.


"aduh.. gimana ini, kalo jawab jujur nanti apa ibu bakal marah? terus kalo aku bohong pasti ibu bakal ga percaya liat luka di bibir ini, pasti ibu udah merhatiin dari tadi. duuh gimana dong?" Asty tengah berperang dalam batinya.


"Asty, kok malah ngelamun sih? ibu gak bakal marah kalau kamu berantem asalkan kamu punya alasan yang jelas." seru bu Tatum memberikan jalan untuk Asty menjawab.


"iya bu, tadi aku berantem tapi bukan aku yang duluan kok. aku cuma negur temen sekelas yaang suka jahilin anak yang culun eh malah aku dipukul." jelas Asty membuat bu Tatum terkejut.


"apa? terus kamu gak laporan sama guru ? biar dia dihukum, biar sadar yang dia lakuin itu salah." terang bu Tatum.


"percuma bu, laporan juga. orang dia itu komplotanya pembuat omar disekolah, ketuanya anaknya yang punya sekolah. ya bebas dari hukuman." jelas Asty kecewa.


"ya seharusnya gak gitu dong, mau dia anak siapa kalo salah ya harus di kasih hukuman biar dia jera. gimana sih." jawab bu Tatum kesal.


"hmm.. iya bu, sayang yah orang-orangnya gak kayak ibu. coba kalo ibu yang jadi gurunya pasti..," seru Asty menghayal.


"hustt.,, udah malem, tidur sana malah ngehayal sih." ucap bu Tatum mengusap wajah Asty dan tertawa bersama.


Setelah itu Astypun tidur kembali bersama bu Tatum disampingnya karena ia ingin ditemani walau sudah tidak demam lagi dan ia sudah merasa lebih baik berkat perawatan dari sang ibu.


Keesokan harinya saat matahari perlahan keluar dari persembunyianya, Asty terbangun dari tempat tidurnya.


Dilihatnya bu Tatum sudah tidak ada dikamarnya, segera ia pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.


.


.


bersambung...


Terimakasih buat yang selalu dukung.. 🤗

__ADS_1


__ADS_2