
Qenan terus memanggil nama istrinya yang berada di pangkuannya, mereka tengah menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan, tak hentinya air mata Qenan mengalir ketika melihat Asty sama sekali tidak merespon panggilannya.
"Aku mohon bertahanlah." Qenan menggenggam erat tangan Asty dan mengusap kepalanya yang terus mengeluarkan darah.
Asisten Qenan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tak menghiraukan umpatan yang di lontarkan oleh pengendara lain kepadanya hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Asty segera di tangani oleh dokter sementara Qenan menunggunya di depan ruangan sambil terus memanjatkan doa agar di berikan yang terbaik, ia tak memikirkan pakaiannya yang kini berlumuran darah.
Tak lama kemudian bu Rani dan pak Bagas datang, mereka begitu terkejut saat mendengar jika Asty mengalami kecelakaan. Mereka kembali terkejut ketika mendapati baju yang di kenakan oleh Qenan berlumuran darah karena ia terus memeluk Asty.
"Lebih baik kamu bersihkan diri dulu, biar kami yang menunggu Asty di sini." Bu Rani menepuk pundak Qenan dengan lembut.
Qenan menuruti kata bu Rani, ia segera membersihkan diri dan berharap setelah selesai ia akan kembali memeluk tubuh istrinya dan menemukan kembali senyumannya.
Tak lama kemudian dokter keluar ruangan memberitahukan jika Asty sudah sadar dan ingin bertemu dengan Qenan, mendengar hal itu Qenan segera memasuki ruangan untuk menemui Asty. Qenan tersenyum getir kala melihat Asty tengah terbaring dengan alat bantu pernapasan.
Asty tersenyum menatap wajah Qenan dan perlahan membelainya, dengan suara lirih ia menyebut nama suaminya itu. "Kak Qenan, maafin aku yah. Aku gak bisa temenin kamu lebih lama lagi."
Qenan meraih jemari lembut Asty seraya meneteskan air matanya, dengan menahan rasa sesak di dadanya Qenan berkata, "Jangan bicara seperti itu, aku yakin kamu pasti akan sehat kembali."
"tidak, kak. Aku sudah mendapatkan cinta yang selama ini dengan susah payah aku kejar, aku sudah bahagia bisa bersamamu. Terimakasih, kak dan maaf juga aku gak bisa jaga anak kita." Asty mengusap-usap perutnya yang sudah tidak buncit lagi sambil meneteskan air mata.
Air mata Qenan terus mengalir dengan derasnya, ia terus menggenggam erat tangan Asty hingga terdengar suara napas Asty yang tersendat. Melihat Asty yang merasa kesakitan, Qenan begitu panik dan hendak memanggil dokter. Akan tetapi tangannya di cengkram kuat oleh Asty yang tersenyum padanya, sesaat kemudian cengkraman tangan Asty mulai melemah dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah tersenyum.
Qenan terus berteriak memanggil nama istrinya, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksanya, raut wajah sendu tampak dari dokter dan perawat setelah memeriksa denyut nadi dan detak jantung Asty.
__ADS_1
"Mohon maaf, pak. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi Tuhan berkata lain. Istri bapak sudah tiada." Dokter menundukkan kepalanya ikut merasakan duka cita yang di rasakan oleh Qenan.
Tubuh Qenan terasa begitu lemah, ia segera memeluk tubuh Asty yang sudah tak bernyawa lagi. Ia terus menangis dan berharap Asty akan kembali bangun seperti dulu saat ia menolong Qenan yang membuatnya harus mengalami koma.
"Asty... Bangun sayang, aku gak mau kamu pergi. Aku mohon, bangun sayang." Qenan berteriak sambil terus memeluk tubuh Asty.
Mendengar teriakkan dan tangis Qenan, bu Rani dan pak Bagas berlari menghampirinya. Mereka tak kuasa melihat Qenan yang begitu kehilangan Asty, bu Rani mengelus-elus pundak Qenan sambil menahan tangisannya kemudian berkata. "Qen, mama tau ini berat buat kamu. Tapi tak semestinya kamu meneteskan air mata di wajahnya, mama harap kamu bisa mengikhlaskannya agar Asty bisa tenang di sana."
Awalnya Qenan tidak ingin melepaskan pelukannya, tetapi setelah mendengar nasihat ibunya perlahan ia melepaskan tubuh Asty dan membaringkannya kembali di atas brankar.
Mereka segera membawa pulang jenazah Asty ke rumah Qenan, di sana sudah ada bu Tatum, Laras dan juga Zidan yang menunggu kedatangan jenazah. Bu Tatum tampak sangat terpukul saat mendengar kabar jika Asty telah meninggalkannya untuk selamanya begitu pula dengan Laras yang sebelumnya ingin berkunjung ke rumah Asty tetapi belum menemukan waktu yang tepat hingga akhirnya ia berkunjung tapi Asty sudah tiada.
Berulang kali bu Tatum jatuh pingsan karena sangat merasa kehilangan anak bungsunya itu, sementara Qenan sudah tidak meneteskan air matanya lagi seakan sudah terkuras habis. Matanya tampak memerah, memperlihatkan rasa kehilangannya yang teramat sangat.
Para tetangga membanjiri kediaman Qenan untuk mengucapkan belasungkawa, mereka merasa begitu kehilangan Asty yang sangat baik dan ramah di mata mereka. Rasa tak percaya sempat hadir dalam pikiran mereka, tetapi tiada seorangpun yang bisa melawan takdir.
"tunggu aku di sana, sayang!" ujar Vian.
Kewarasan Vian memang sudah hilang sejak mengetahui Asty telah berbahagia dengan sepupu sekaligus musuh nya sendiri, ia nekad berbuat apa saja demi memisahkan Qenan dan Asty.
Kini ia tengah duduk sendirian di balkon kamarnya, tempat biasanya dia menyendiri. Setelah berhasil menabrakkan mobilnya pada Asty, ia membeli sebotol racun yang sangat mematikan. Ia berniat untuk menyusul Asty dan berbahagia bersama di alam sana, tanpa ragu ia menenggak racun tersebut dan dalam hitungan detik jiwanya sudah terpisah dari raganya.
Qenan yang mencurigai jika otak kecelakaan Asty adalah Vian segera mendatangi rumahnya. Namun ternyata Vian sudah tiada dengan cara yang sangat gila di mata orang waras, perbuatan yang sangat tidak di sukai oleh sang pencipta, pemilik kehidupan. Tapi Vian berharap agar bisa bersatu dengan Asty, sungguh hal yang sangat mustahil.
__ADS_1
.
.
Hari demi hari Qenan lalui dengan rasa sepi, kesendirian sudah menjadi hal yang biasa baginya. Ia tak pernah menginginkan seseorang yang akan menggantikan posisi Asty dalam hatinya, walaupun bu Tatum dan bu Rani menyuruhnya untuk segera menikah lagi tetapi ia sama sekali tidak mengikuti saran orang tua dan mertuanya itu.
Dua tahun sudah berlalu sejak kepergian Asty, setiap ada waktu luang ia menyempatkan untuk datang ke tempat peristirahatan terakhir dimana Asty berada. Rasa rindu masih ia simpan dengan rapih dalam hatinya.
Hingga suatu hari, ketika ia telah berziarah ke makam Asty, Qenan bertemu seorang gadis yang wajahnya tak asing baginya. Gadis itu tengah berlari dari kejaran para preman hingga sampai di area pemakaman, penampilannya tampak tidak karuan dengan noda darah di ujung bibirnya serta lebam di wajah.
Hati Qenan tergerak untuk menolong gadis tersebut, mengingat hanya ada dirinya seorang yang menyaksikan seorang gadis lugu yang akan di lahap oleh dua orang preman tua bangka.
Gadis itu menatap iba ke arah Qenan, berharap Qenan mau membantunya melepaskan diri dari kejaran para preman yang hendak merenggut mahkota nya.
"Hei kalian, lepaskan gadis itu sekarang." Qenan berdiri tepat di hadapan dua preman yang tengah memegangi tangan gadis itu.
Karena tidak terima ada orang yang berusaha menggagalkan rencananya, mereka pun berkelahi dengan Qenan. Namun mereka yang sudah tampak berumur bukanlah lawan yang sebanding dengan Qenan, saat kedua preman itu tersungkur Qenan segera membawa gadis itu menuju mobilnya dan pergi menjauh dari area pemakaman.
Gadis itu sangat berterima kasih kepada Qenan yang sudah bersedia menolongnya, sesekali Qenan menoleh ke sebelahnya dimana gadis itu saat ini tengah duduk sementara Qenan terus melajukan mobilnya. Qenan penasaran dengan wajah gadis itu yang sebagian tertutupi oleh helaian rambutnya yang tampak berantakan.
"siapa namamu?" tanya Qenan.
"nama saya Dita, tuan," jawab gadis itu dengan suara cukup pelan.
__ADS_1
Deg....
Jantung Qenan berdetak tak beraturan mendengar nama itu, ia teringat pada sosok mendiang istrinya dan di lihat-lihat juga tampak kemiripan dari wajah mereka berdua.