
Indah dan Mira pun pergi meninggalkan gudang setelah di suruh oleh pak Ahmad.
"Dasar pak Ahmad, padahal aku ingin liat kenapa Fattan bisa tiduran di situ," ucap Mira dengan wajah yang cemberut.
"Ya sudah, kamu tinggal saja di sini, biar aku saja yang pergi ke depan," ucap Indah menatap Mira.
"Ahhh benar juga, kamu saja ya yang ke depan Indah," ucap Mira memalingkan pandangannya ke arah pak Ahmad.
"Astaga?!"
Mira tiba-tiba terkejut. Kedua matanya langsung melebar saat melihat pak Ahmad membuka kancing baju Fattan. Saking terkejutnya, ia juga menutup mulut dengan kedua tangannya.
Melihat Mira yang tiba-tiba terkejut, membuat Indah penasaran sambil memalingkan pandangannya ke arah pak Ahmad.
Ia juga ikut terkejut dan mereka berdua langsung berlari ke arah kepala kedai itu.
"Apa yang akan kau lakukan pak?" Tanya Mira menatap ke arah badan Fattan yang sedikit terlihat kulit dadanya.
Begitupun dengab Indah, ia mencuri-curi pandang untuk melihat tubuh Fattan.
"Saya hanya sedikit membuka kancing baju Fattan, siapa tau dia sulit bernafas," jelas pak Ahmad sambil sesekali membenarkan posisi kacamatanya.
Pak Ahmad tiba-tiba menatap ke arah Indah dan Mira dengan tatapan sedikit tajam.
"Kenapa kalian berdua kembali ke sini?! Bukannya tadi saya suruh kalian untuk kedepan kasih tahu Dinda buka toko?!"
Namun, Mira malah memojok-mojokan Indah untuk segera pergi ke depan menemui Dinda.
"Indah, cepetan! Bukannya tadi kamu bilang biar kamu saja yang ke depan buat kasih tau Dinda buka toko?" Ucap Mira sambil mendorong-dorong tubuh Indah.
"Ia tau, cuman jangan dorong-dorong gini," pinta Indah sabar.
"Kenapa kalian malah diskusi?!" Tanya pak Ahmad sedikit kesal.
"I...ini pak, Indah yang mau kedepan," ucap Mira ngeles.
Indah hanya mengangguk sambil tersenyum pada pak Ahmad.
"Aku bilang kalian berdua! Bukan hanya Indah! CEPAT!"
Seketika Indah dan Mira pun terdiam, lalu mereka berdua pun dengan cepat pergi meninggalkan pak Ahmad dengan Fattan yang masih terkujur tidur.
Saat di ujung pintun gudang, Mira kembali menatap ke arah pak Ahmad dan Fattan. Dalam hatinya, ia ingin sekali melihat lebih lama wajah Fattan yang lugu saat tertidur pulas itu.
Namun, lagi-lagi ia dibuat terkejut dengan kelakuan atasannya itu.
"PAK AHMAAAAAAAAD!"
Mira berteriak kencang, sehingga membuat Indah dan Pak Ahmad sendiri terkejut.
"Apa yang akan kau lakukan pada Fattan?!" Tanya Mira sedikit terkejut.
__ADS_1
Ia juga berjalan dengan cepat ke arah kepala kedai itu.
Indah yang penasaran juga mengikuti langkah Mira dari arah belakang.
"Apa maksud semua ini pak?!"
"Jadi ini alasan pak Ahmad menyuruh kita berdua meninggalkan gudang?!"
"Pak Ahmad tega ya?! Ingat anak istri di rumah pak?!"
Mira terus bertanya dengan kesal terkait kelakuan pak Ahmad.
Namun, dengan wajah yang terlihat bingung, Pak Ahmad menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin memberi nafas buatan pada Fattan.
"Na-fas, buatan?!" Hellow pak, bukannya Fattan tertidur bukan pingsan?!"
"Siapa tau dia pingsan."
Mira dan pak Ahmad terus beradu argumen, hingga pada akhirnya Fattan terbangun dan membuat perdebatan antara mereka terhenti.
Celingak-celinguk melihat ke berbagai arah apalagi mendengar perdebatan antara Mira dan kepala kedai itu membuatnya semakin bingung.
Dengan kedua tangan mengucek-ngucek matanya, Fattan kembali menatap ke arah pak Ahmad dan Mira.
"Kau baik-baik saja Fattan?" Tanya pak Ahmad cemas.
Fattan mengangguk bahwa dirinya baik-baik saja. Walaupun ia tidak ingat kejadian sebelumnya kenapa dirinya bisa berada di dalam gudang terlebih saat bangun telah terlihat tiga orang berada di dekatnya.
Pak Ahmad kembali bertanya pada pria yang baru saja terbangun itu. Ia masih terlihat cemas apalagi dirinya melihat Fattan masih seperti orang kebingungan.
Tiba-tiba Fattan terkejut, ia juga langsung berdiri sambil menunduk-nundukan kepalanya ke arah pak Ahmad.
"Maafkan atas ke tidak sopanan ku pak."
Namun pak Ahmad mendekati, ia langsung menepuk pundak Fattan dan berkata untuk tidak meminta maaf sama sekali.
"Lagian, kenapa kamu bisa tertidur di dalam gudang ini?" Tanya pak Ahmad penasaran.
Mira dan Indah pun ikut di buat penasaran, mereka berdua langsung menajamkan pendengaran mereka untuk mendengar alasan dari mulut Fattan.
Fattan tersenyum lugu. Ia berkata bahwa dirinya juga tidak mengetahui alasan pasti kenapa bisa sampai tertidur di dalam gudang.
Namun ia mengetahui, sebelum ia tidur lampu gudang tiba-tiba padam, dan setelah itu ia tidak mengingat apapun lagi.
"A...apa kamu tidak mendengar suaraku, saat aku memanggil-manggilmu?" Tanya Indah gugup dengan ciri khas malu-malu kucingnya.
Sambil menatap ke arah Indah, Fattan menggeleng-gelengkan kepalanya bertanda bahwa ia tidak mendengar suara Indah sama sekali.
"Ya sudah kalau begitu, Fattan kamu baik-baik saja kan?" Pak Ahmad kembali bertanya.
Fattan kembali mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, kalian berdua segera ke depan beri tahu Dinda untuk segera membuka kedai." Perintah pak Ahmad.
Namun Mira terdiam menatap tajam ke arah pak Ahmad.
"Kenapa lagi denganmu Mira?" Pak Ahmad bertanya.
"Pak Ahmad gak akan buat macam-macam pada Fattan kan?" Tanya Mira curiga.
"Apa maksudmu? Saya dengan Fattan hanya akan mencari mesin Genset di gudang ini," jelas pak Ahmad meyakinkan Mira.
"Aku masih tidak percaya," ucap Mira pada pak Ahmad.
"Sebaiknya kamu hati-hati Fattan." Mira memperingati Fattan dan pergi sambil menarik tangan Indah.
"Aw, Mi...Mira pelan-pelan," ucap Indah yang tersentak saat tangannya ditarik Mira.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan pak Ahmad dan Fattan di dalam gudang.
Setelah kedua karyawan wanitanya benar-benar pergi, pak Ahmad kembali mengajak ngobrol Fattan.
"Baik Fattan, kita berdua disini bukan tanpa alasan, kita di sini dalam misi mencari mesin Genset," jelas pak Ahmad.
Fattan yang mendengar ucapan bahwa dirinya akan menemani atasannya itu untuk mencari mensin genset hanya mengangguk sambil menunggu perintah selanjutnya yang harus ia lakukan.
"Namun sebelum itu, saya tanya kembali, apa kamu memang benar baik-baik saja?"
Pak Ahmad kembali bertanya mengenai kondisi Fattan.
"Kalau merasa tidak enak badan atau lelah, sebaiknya kita istirahat dulu di gundang ini," tambahnya terduduk di lantai gudang.
Ia juga menepuk-nepuk lantai di sampingnya dengan maksud agar Fattan duduk di samping dirinya.
"Tidak pak, saya baik-baik saja," ucap Fattan tersenyum.
"Sebaiknya kita langsung memcari mesin genset yang pak Ahmad maksud itu. Agar pekerjaan lebih cepat selesai," tambahnya.
Dengan wajah kecewa, pak Ahmad berdiri sambil menepuk-nepuk pantatnya.
To Be Continued....
...----------------...
...JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL DENGAN JUDUL...
..."MENGEJAR CINTA YANG SALAH"...
...DENGAN CARA LIKE, COMMENT, SHARE, DAN TAMBAHKAN FAVORIT UNTUK MENDAPATKAN UPDATE BAB TERBARU....
...DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGIKU...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1
...----------------...