Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 95


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah Qenan sangat bersemangat untuk bangun lebih awal, memandangi wajah Asty yang masih terlelap. Wajah teduhnya selalu membuat Qenan merasa tenang, ia menatap wajah Asty sambil sesekali mengelus perut Asty yang mulai terlihat membuncit.


Selama kehamilan, Asty merasa sangat lemas tidak seperti dulu yang sangat senang berlari mengejar penjahat yang meresahkan masyarakat. Kini ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, ia sama sekali tidak ingin keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar komplek perumahannya.


Sejak setelah mereka menikah, Qenan memutuskan untuk tinggal terpisah dengan orang tuanya. Walau awalnya bu Rani tidak menyetujui karena takut jika Asty belum benar-benar sembuh, tetapi Asty berhasil meyakinkan bu Rani dan akhirnya bu Rani menyetujui keputusan Qenan.


Di rumah baru mereka memiliki dua asisten rumah tangga, Asty tidak ingin semua pekerjaan rumah di lakukan oleh pembantu karena ia tidak ingin berdiam diri saja saat di rumah. Namun berbeda dengan saat ini, tubuhnya yang selalu merasa lemas membuatnya hanya bisa berdiam diri dan akhirnya mereka memutuskan untuk menambah asisten rumah tangga baru.


Perlahan Asty membuka matanya ketika merasakan ada sebuah telapak tangan yang berputar-putar di atas perutnya.


"Sayang, kamu udah bangun?" Tanya Asty dengan mata yang belum terbuka sempurna.


Asty segera bangun dan hendak menyiapkan keperluan Qenan yang akan berangkat ke kantor seperti biasanya, tetapi tangannya tertahan oleh Qenan yang terus memeganginya.


Qenan ikut terbangun dan membawa Asty ke dalam dekapannya, kini Asty tengah merasakan kehangatan yang di berikan oleh Qenan. Qenan memeluk erat tubuh Asty dari belakang dan menahannya untuk pergi meninggalkannya, ia meletakan kepalanya di atas bahu Asty.


"Kamu tidak perlu menyiapkan semuanya seperti biasa, hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dan anak kita." Bisik Qenan mengelus perut buncit Asty.


"Aha, kebetulan sekali. Aku ingin pergi berjalan-jalan. Sudah lama aku tidak keluar rumah." Jawab Asty begitu antusias menatap wajah Qenan.


Qenan terpaku melihat wajah Asty dari jarak sangat dekat, wajah teduhnya selalu membuat hati Qenan merasa tenang. Setiap waktu ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk menatap wajah istrinya sambil berdoa di dalam hatinya agar bisa selalu bersama sampai maut memisahkan.


"Sayang, kamu kenapa kok diem ajah? Apa aku salah bicara?" Tanya Asty dengan wajah sendunya.


Melihat wajah Asty membuat Qenan tertawa dan segera memegang wajah yang pipinya mulai terlihat tembem itu dengan kedua tangannya hingga wajahnya mirip seperti ikan kembung.

__ADS_1


"Aku sangat bersyukur bisa memilikimu, aku menyesal karena tidak sejak dulu menikahi mu." Ucap Qenan tanpa melepaskan tangannya dari wajah Asty.


Qenan terus tertawa sambil memainkan pipi Asty kemudian memeluknya. Kini giliran Asty yang terdiam, ia kesal pada Qenan yang terus memainkan pipinya. Tingkahnya mulai seperti anak kecil yang manja semenjak ia mengandung.


Asty kemudian pergi menuju kamar mandi tanpa berkata apa-apa pada Qenan, membuat Qenan merasa bersalah karena telah meledeknya. Ia terus mengetuk pintu kamar mandi untuk meminta maaf pada Asty, tetapi Asty tidak menjawab sama sekali.


"Enak saja aku di ledekin kayak gitu. Emangnya aku gak bisa bales apa." Ucap Asty tersenyum jahil di dalam kamar mandi.


Sementara di depan pintu kamar mandi, Qenan sudah mulai frustasi karena istrinya tengah marah kepadanya. Tak hentinya ia mengetuk pintu kamar mandi dan terus mengucapkan permintaan maafnya pada Asty.


Setelah beberapa saat di dalam kamar mandi, akhirnya Asty keluar dan mendapati Qenan tengah duduk di sofa menantikan Asty selesai mandi, Qenan segera menghampiri Asty yang hanya memakai handuk sebatas lutut.


"Sayang, tolong maafin aku. Aku nggak bisa di diemin kayak gini sama kamu." Ucap Qenan memegangi tangan Asty yang terasa dingin seperti sikapnya.


"Udah sana mandi dulu, aku udah siapin air hangat. Kalo nggak mau mandi gak usah ikut pergi jalan-jalan." Ucap Asty membelakangi Qenan.


Setelah mengenakan pakaian, Asty turun ke ruang makan. Para asisten rumah tangga tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk Asty dan Qenan, Asty melangkahkan kakinya menuju dapur untuk ikut menyiapkan sarapan, tetapi bi Darmi sebagai asisten rumah tangga tertua melarang Asty.


"Udah, non. Duduk ajah di sana, nanti kita di marahin tuan." Ucap bi Darmi di ikuti oleh para pelayan lainnya dengan raut wajah ketakutan.


Asty pun menuruti perkataan para asisten rumah tangganya, ia duduk santai di ruang makan sambil menunggu Qenan selesai mandi.


Tak lama kemudian Qenan datang bersamaan dengan sarapan yang sudah siap di atas meja, lalu Qenan segera duduk di samping Asty. Kali ini Asty tampak seperti biasa, mengambilkan nasi goreng untuk Qenan dan memberikannya dengan senyuman penuh cinta.


Qenan hanya membalas senyuman Asty dan tidak berani untuk bertanya apapun tentang masalah yang telah terjadi beberapa saat lalu di dalam kamar, mereka menikmati sarapan seperti biasa layaknya sepasang suami istri yang selalu terlihat romantis membuat para asisten rumah tangga merasakan kedamaian dan kenyamanan saat berada di dalam rumah.

__ADS_1


Setelah menghabiskan sarapannya, Qenan berpindah tempat menuju ruang keluarga untuk menonton televisi sedangkan Asty pergi menuju kamar untuk merias diri sebelum keluar rumah.


Asty memakai sedikit riasan di wajahnya yang membuat dirinya tampak lebih segar. Dengan memakai dress selutut berwarna merah jambu ia berjalan menuju Qenan yang tengah asyik menonton film kartun di pagi itu.


Pandangan Qenan teralihkan ketika Asty berjalan menghampirinya dengan perut yang sedikit membuncit tidak menghilangkan kecantikan yang selalu ia pancarkan lewat senyum manisnya, Qenan hanya bisa terdiam menatap setiap jengkal tubuh istrinya.


"Sayang, ayo kita pergi sekarang." Ucap Asty merapikan cepol rambutnya membuat Qenan dengan secepat kilat berlari menuju kamar untuk berganti pakaian.


Sambil bersenandung kecil, Qenan berdiri di depan cermin mengoleskan sedikit gel rambut dan merapikannya. Aroma kebahagiaan tengah menyelimutinya saat mendapati Asty sudah tidak marah lagi kepadanya, ia bergegas turun menghampiri sang istri kemudian menggandeng tangannya menuju mobil yang sudah di siapkan.


Di dalam perjalanan Qenan memegangi tangan Asty sambil mengemudikan mobilnya, hari itu adalah hari pertama Asty keluar rumah setelah sekian lama ia merasa malas untuk bepergian karena rasa mual yang terus di rasakan nya.


Kini mereka tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan, Asty meminta Qenan mengantarnya untuk membeli perlengkapan bayi. Walau usia kandungan Asty masih berada di trimester pertama tetapi keinginan ibu hamil harus lah di turuti, begitu ucap Qenan.


Asty merasa sedikit kelelahan setelah berjalan mengelilingi setiap sudut pusat perbelanjaan, melihat istrinya kelelahan Qenan mulai panik takut jika terjadi hal yang tidak di inginkan. Akhirnya Qenan mengajak Asty untuk beristirahat terlebih dahulu.


Ketika mereka berdua tengah duduk di sebuah kursi yang tersedia di dalam pusat perbelanjaan, seseorang yang tidak asing lagi bagi mereka berjalan menghampiri.


"Hey, long time no see Qen. Sedang apa kalian di sini?" Tanya Arka duduk di samping Qenan dengan gaya sok akrabnya.


Qenan hanya tersenyum sinis menatap ke arah Arka sambil terus memegangi tangan Asty yang mulai terasa dingin saat melihat keberadaan Arka.


Arka menatap sebuah paper bag yang terdapat sebuah gambar bayi lucu di tangan Asty.


"Apa saudara sepupuku tengah mengandung?" Tanya Arka menatap ke arah Asty.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." Ucap Qenan kemudian berlalu meninggalkan Arka karena Asty semakin merasa ketakutan.


Arka hanya tersenyum sinis menatap kepergian orang yang sangat di cintainya tengah mengandung buah cinta dengan sepupu yang sangat di bencinya.


__ADS_2