Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 76


__ADS_3

TRING...


Bunyi notifikasi ponsel menggema di ruang kerja yang tampak sunyi membuat sang pemilik segera meraih ponsel dari atas meja dan meninggalkan pekerjaannya.


Terlihat sangat antusias saat mendengar bunyi notifikasi karena sejak tadi ia tengah menunggu kabar baik dari rencana yang telah di jalankan oleh adik tirinya.


"Kerja bagus, Kiara. kini tinggal rencana selanjutnya yang akan aku lakukan sendiri." ucapnya tak lupa dengan seringainya.


Ia telah menyusun rencana sangat rapi untuk mencapai suatu kesenangannya, bahkan ia tidak peduli jika tindakannya akan melukai jiwa dan raga Asty.


***


Silaunya sinar matahari memaksa Asty untuk membuka matanya, perlahan ia mengatur pandangannya. Badannya terasa sangat lemah dan juga kepalanya terasa begitu berat.


"Di mana ini?" gumam Asty menatap ke sekelilingnya yang hanya terdapat tiang-tiang beton yang tampak tidak terawat.


Ia terkejut ketika mendapati dirinya dalam keadaan terikat di sebuah bangku, semalaman ia di biarkan duduk dalam posisi tangan yang terikat ke belakang.


Asty merintih kesakitan, ingin berteriak pun rasanya percuma karena ia berada di sebuah gedung tua yang tak terawat, terdapat tanaman merambat pada dinding-dindingnya menambah kesan seram bagi siapa saja yang masuk ke sana.


Tak lama setelah Asty bangun, suara langkah kaki terdengar menaiki anak tangga menuju ke arah Asty.


"Halo sayang, selamat pagi." bisik Vian di telinga Asty membuatnya merinding.


"Alvian.." Asty terkejut melihat Vian datang membawa paper bag dan terus tersenyum.


"Iya, aku di sini. Bagaimana tidurmu, apa mimpimu begitu indah sehingga yang pertama kali kau lihat adalah aku, haha.." ucap Vian tertawa dengan suara yang mengerikan.


"Alvian lepasin gue, sekarang." Pinta Asty menggerakkan tangannya yang mulai lemah karena menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Aduh.. kasihan gadisku ini, sakit ya." ucap Vian membelai wajah Asty yang mulai dibasahi keringat.


Perlahan Vian membuka tali yang mengikat Asty dan mengeluarkan makanan dari paper bag yang ia bawa.


"Ayo, makanlah. Aku tidak mau kau mati sekarang, aku masih membutuhkanmu." Vian menyodorkan sendok berisi nasi ke arah mulut Asty.


Tubuh Asty memang terasa sangat lemah dengan wajah yang nampak pucat. Jika ia menolak, maka ia tidak punya tenaga untuk melawan Vian.


Perlahan Asty memakan makanan yang diberikan oleh Vian. Vian tersenyum memandangi wajah Asty yang sangat nyata di hadapannya, dulu ia hanya bisa membayangkan hingga akhirnya ia terlelap dalam mimpinya bertemu Asty. Hanya dalam mimpi pun sudah membuatnya merasa bahagia.


Vian sebenarnya masih sangat mengharapkan Asty, kedekatannya dengan Lusy hanya untuk menghancurkan Qenan yang tidak lain adalah sepupunya.


Vian tidak ingin sepupunya lebih sukses dari dirinya. Saat Qenan terjatuh, ada kesempatan untuk Vian bangun dan naik lebih tinggi lagi, walau Vian sudah terbilang sukses dengan AA Group, namun ia tidak bisa melihat Qenan menyainginya.


Selama ini Laras bekerja di perusahaan Vian, namun Laras tidak mengetahui jika bos besarnya yang masih sangat muda itu adalah mantan kekasih adiknya.


Tatapan mata Vian seolah mengatakan jika kali ini ia tidak akan pernah melepaskan Asty, apalagi harus jatuh ke tangan rivalnya yaitu Qenan.


Asty tidak begitu memperhatikan Vian karena yang ada didalam pikiranya saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa keluar dari gedung tua yang menyeramkan itu dan hidupnya terlepas dari Vian, walau ia tidak bisa bersama Qenan, setidaknya ia masih memiliki semangat untuk memulai hidup baru.


Sementara di pagi yang sama, Qenan bergegas menghampiri bu Rani yang tengah menyantap sarapan bersama pak Bagas di meja makan.


"Mam, aku mau tanya soal Asty." seru Qenan terlihat sangat antusias.


Melihat ekspresi wajah Qenan membuat bu Rani terkejut sekaligus bahagia.


"Benarkah? Kamu mau tanya apa, dengan senang hati mama akan jawab semuanya." jawab bu Rani tersenyum.


"Aku mau tahu semua tentang Asty dan bagaimana hubunganku dengannya?" tanya Qenan tanpa merasa canggung.

__ADS_1


Bu Rani menceritakan semua hal tentang Asty, awal mula pertemuan mereka dan juga ketika Qenan pergi bersamanya. Qenan mulai mengingat semuanya dan membuat dirinya menyesal telah kembali pada Lusy dan melupakan Asty.


"Oh jadi yang suka main di taman itu Asty, pantesan kemaren aku ajak Lusy ke taman langsung marah-marah, bodohnya aku." gumam Qenan menyesal, merutukki kesalahannya.


Kini ingatan Qenan sudah kembali lagi sepenuhnya, ia memutuskan untuk membatalkan pertunangan dengan Lusy yang telah mengkhianatinya.


Di siang hari, Qenan melakukan pertemuan dengan Lusy di sebuah cafe yang tidak jauh dari minimarket bu Rani, agar setelah selesai dengan Lusy, Qenan bisa secepatnya menemui Asty mengungkapkan segala isi hatinya.


Rasanya Qenan sudah tidak sabar untuk bertemu Asty untuk meminta maaf dan mengungkapkan perasaan yang selama ini terperangkap di dalam hatinya.


"Lusy, aku sudah ingat semuanya. Ternyata aku telah melihatmu sedang berduaan dengan Arka di apartemen, ketika aku akan memberi kejutan untukmu. Mulai saat itu aku bertekad untuk melupakanmu, tetapi aku malah melupakan segalanya, bahkan tentang diriku sendiri. Ketika itu, aku bertemu dengan Asty, dialah yang membantuku untuk kembali normal." ucap Qenan dengan tatapan lurus ke depan seolah kejadian dahulu terpampang jelas di hadapannya.


"Tidak Qenan, aku bisa menjelaskan semuanya. Kau harus percaya padaku." Ucap Lusy memegang tangan Qenan.


"Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi, Lusy. Kini kita akhiri saja sampai di sini, dan cincin itu anggap saja salam perpisahan dariku." Ucap Qenan melepaskan tangan Lusy yang memegangi tangannya kemudian pergi meninggalkan Lusy.


Qenan bergegas menuju minimarket untuk bertemu dengan Asty. Tanpa di sadari, Qenan telah menumbuhkan rasa dendam di hati Lusy.


"Aku tidak akan membiarkan mu bahagia dengan gadis kampungan itu." Gumam Lusy mengepalkan tangannya menatap tajam ke arah Qenan melangkahkan kakinya.


Dengan penuh semangat Qenan mengendarai mobilnya menuju minimarket, ia berfikir setelah bertemu dengan Asty hidupnya akan bahagia.


Tak butuh waktu lama, Qenan sudah memarkirkan mobilnya di depan minimarket yang nampak sunyi seperti kehilangan sesuatu. Para karyawan terlihat murung, tak satupun diantara mereka yang memperlihatkan senyuman, walau mereka tetap berusaha ramah kepada pengunjung.


"Ada apa ini, mam?" tanya Qenan menghampiri bu Rani yang juga tengah kebingungan dengan situasi saat ini.


"Asty, Qen. Asty hilang kontak sejak kemarin. Terakhir dia nelpon mama minta izin pulang cepet karena tidak enak badan. Kakaknya juga tadi ke sini mencari Asty karena ia tidak bisa di hubungi." Jelas bu Rani terisak di pelukan Qenan.


Rasa bahagia Qenan hilang seketika saat mendengar berita hilangnya Asty. Namun ia berusaha untuk tetap berfikir positif dan mencari jejak yang di tinggalkan oleh Asty.

__ADS_1


"mama tenang, ya. Aku pasti akan bawa Asty kembali." Ucap Qenan mengusap lembut punggung bu Rani.


__ADS_2