Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 90


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Qenan sudah berpakaian rapih dengan setelan jas berwarna hitam, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menemani Asty yang akan menemui dokter untuk memeriksakan lukanya.


"Kak Qenan pergi ke kantor saja, biar nanti aku pergi sama mama ke dokternya." Ucap Asty memasangkan dasi di leher Qenan.


"Tidak, aku ini suamimu. Aku sudah berjanji untuk selalu menjagamu, aku tidak mau ada pria lain yang melihat kecantikan istriku ini." Jawab Qenan membelai lembut wajah Asty yang tengah berjinjit memasangkan dasinya.


Wajah Asty bersemu merah mendengar ucapan suaminya itu, pasangan suami istri yang satu ini memanglah selalu bersikap romantis hingga membuat mereka tak ingin berpisah walau hanya sedetik saja.


Melihat wajah Asty bersemu membuat Qenan semakin gemas melihatnya, ia bahkan berulang kali mencubit pipi merah sang istri. Hingga waktu menunjukkan bahwa Qenan harus segera berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya sesegera mungkin.


"Kamu tunggu aku di rumah ya, jangan pergi ke mana-mana. Ingat ya, di rumah aja." Pinta Qenan mengacak rambut Asty.


Kemudian mereka berdua keluar kamar menuruni tangga menuju meja makan, di sana sudah ada bu Rani dan pak Bagas yang tengah menyantap sarapan. Mulai pagi ini mereka harus membiasakan diri dengan pemandangan yang sangat romantis setiap harinya.


Pagi ini Qenan dan Asty tengah berjalan menuruni beberapa anak tangga dengan Qenan yang terus saja menempelkan Asty agar selalu berada dalam dekapannya, Qenan memapah Asty dengan penuh kasih sayang.


"Kak, sebenarnya aku ini sudah sembuh lho. Aku sudah bisa berjalan sendiri." Ujar Asty yang merasa malu karena di perhatikan oleh kedua mertuanya.


"Sudahlah Asty, kamu turuti saja kemauan Qenan. Dia itu lagi bucin." Ledek bu Rani sambil mengoles selai di rotinya.


"Mama juga mau kan di gituin sama papa. Hayo ngaku?" Pak Bagas balas meledek bu Rani, mereka tampak harmonis dan romantis walau di usia yang sudah tidak muda itu.


Qenan dan Asty hanya bisa tersenyum melihat orang tuanya yang masih tampak harmonis di usia yang sudah tidak muda lagi. Tetapi Asty menitikkan air mata melihat mereka, ia mengingat sosok ayah nya yang selalu romantis dan lembut pada ibunya.

__ADS_1


"Hey kenapa kamu menangis, sayang?" Tanya Qenan mengusap air mata yang membasahi wajah Asty.


"Melihat mama dan papa, aku jadi ingat ayah." Jawab Asty terisak.


Qenan segera membawa Asty ke dalam pelukannya, bu Rani dan pak Bagas yang terkejut melihat Qenan memeluk Asty yang tengah menangis pun datang menghampiri mereka yang berada di ujung tangga.


"Asty kenapa, Qen? Apa dia sakit?" Tanya bu Rani terlihat cemas.


"Asty inget sama ayah, mam." Jawab Qenan yang tanpa hentinya memeluk dan membelai lembut kepala Asty.


Bu Rani dan pak Bagas ikut mengusap punggung Asty mencoba menenangkannya, mereka mengajak Asty sarapan setelah merasa lebih tenang. Asty memang begitu kehilangan sosok sang ayah yang sangat menyayanginya, ia begitu menyesali karena pada saat ayahnya pergi untuk selamanya, ia tidak ada di sisi sang ayah.


Ayah Asty meninggal pada saat Asty berjuang untuk bertahan hidup di tengah siksaan yang di berikan Arka padanya. Sehingga kabar ayahnya yang sedang sakit pun tak terdengar oleh Asty, baru saat ia terbebas dari Arka yang untungnya ia bertemu dengan Dani.


Asty merasa sangat terpukul mendengar kabar meninggalnya sang ayah, awalnya ia memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya saja. Tetapi mendengar cerita Laras jika Qenan begitu mengkhawatirkannya, membuat Asty memutuskan untuk kembali ke kota mengejar cintanya kembali.


Perjalanan cintanya memang penuh liku, pernah ia merasa begitu bersemangat mengejar cintanya tetapi ia juga pernah merasa ingin menyerah dan tidak mau mengejar cintanya lagi.


Ketika ia menyerah, ia melihat sebuah cahaya harapan terakhir yang dimilikinya. Asty yang tidak pantang menyerah, ketika melihat ada harapan ia segera bangkit dengan semangat yang baru.


Pada akhirnya usaha yang dilakukan selama ini membuahkan hasil di luar ekspektasinya, bahkan tak perlu berpacaran terlebih dahulu jika memang benar dia sudah jodohnya, kursi pelaminan pun sudah menyambutnya dengan hangat.


Karena tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, jika kita berusaha sekeras mungkin kita juga akan mendapatkan hasil yang terbaik bahkan lebih baik dari yang kita harapkan.

__ADS_1


Berbeda dengan ketika kita hanya diam saja menantikan keajaiban datang pada kita tanpa ada usaha yang kita lakukan, kita hanya akan mendapatkan yang kita mau tetapi dengan waktu yang lama dan perjalanan yang lebih rumit.


***


Di pagi hari yang sama, sebuah kamar hotel telah menjadi saksi bisu dua insan yang melewati malam panas bersama, malam yang tidak seharusnya mereka lewati. Hanya karena hawa nafsu mereka masing-masing yang akhirnya membuat mereka kini berada di atas tempat tidur yang sama tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka masing-masing.


Arka masih mendekap erat tubuh Gisel yang membuat candu di dalam dirinya. Semalam awalnya Arka hanya melihat wajah Asty pada diri Gisel, tetapi saat Gisel memapahnya menuju kamar hotel, wajah Gisel tergambar jelas di matanya dengan memakai mini dress yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan di hiasi dengan rambut ikal membuatnya semakin manis di pandang.


Hingga pada saat Gisel hendak meninggalkan Arka sendiri di dalam kamar, tiba-tiba dengan tubuh yang tak terkendali menarik tangan Gisel dengan paksa. Ada rasa nyaman pada diri mereka masing-masing saat tubuh mereka tidak memiliki jarak sama sekali, hingga akhirnya dengan kesadaran penuh mereka melewati malam berdua.


"Selamat, kau telah berhasil membuatku merasa candu." Ucap Arka mengecup kening Gisel yang berada dalam pelukannya.


"Terimakasih." Jawab Gisel hendak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Jangan pernah mencoba pergi jauh dariku." Bisik Arka menarik tangan Gisel.


Sementara Kiara yang semalam di kabari oleh Gisel jika Arka mabuk berat dan di bawa ke sebuah hotel, saat ini tengah santai menikmati sepotong roti bakar dan segelas susu menantikan kabar baik yang datang dari mereka.


"Wanita itu merelakan dirinya menjadi mangsa abangku, semoga bang Arka mau menerimanya." Ucap Kiara memasukkan roti ke dalam mulutnya dengan kasar.


Pada akhirnya yang buruk akan bertemu dengan yang buruk pula, begitu sebaliknya yang baik akan bertemu dengan yang baik pula. Kembali lagi pada diri kita, jika kita ingin mendapatkan yang baik maka kita pula harus memperbaiki diri.


Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, hanya saja kita perlu berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan, menggapai semua harapan yang telah setinggi mungkin kita gantungkan.

__ADS_1


__ADS_2