
Di sebuah apartemen, Lusy tengah mencari cara untuk memisahkan Asty dengan Qenan, setidaknya Qenan harus merasakan penderitaan atas apa yang telah dilakukannya pada Lusy.
Lusy terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya mencari sebuah ide, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Vian yang selalu memiliki ide-ide brilian.
Sementara Vian tengah asyik memandangi wajah Asty yang tertidur di dalam kamarnya. Setelah menghabiskan makanannya pagi tadi, Asty merasa sangat mengantuk membuatnya langsung tertidur di pangkuan Vian.
Vian memang sengaja mencampur obat tidur ke dalam makanan dan minuman Asty agar memudahkannya untuk membawa Asty kemanapun ia mau. Ia terlihat sangat menggilai Asty, karena hanya Asty yang mampu membuat jantungnya berdegup begitu kencang.
"Kamu sangat cantik dan begitu baik, membuatku merasa nyaman terus menatapmu." Ucap Vian yang tengah berbaring di samping Asty, mengelus pipi Asty yang terlihat merona dengan penuh kasih sayang.
Situasi seperti itu yang dia inginkan, jika dia lakukan saat Asty dalam keadaan sadar, Asty pasti akan menolaknya.
Melihat Asty terlelap di sampingnya membuat Vian ikut mengantuk, namun bunyi panggilan masuk mengagetkan Vian yang akan memejamkan mata di samping Asty.
"Ck.. Aku lupa untuk mematikan ponsel ini." Ucap Vian meraih ponsel yang ada di atas meja. "Mau apa lagi dia?" Tanya Vian melihat nama yang tertera di panggilan masuknya.
"Halo kamu lagi dimana, sayang?" tanya Lusy dengan suara yang menggoda.
"Kau mau apa, langsung bilang saja?" ketus Vian.
"Kok kamu gitu sih sama aku, jangan marah donk." ucap Lusy dengan suara manjanya.
"Cepat katakan apa mau mu.!" pinta Vian.
Vian merasa sangat kesal saat ketenangannya terganggu, hingga tanpa sadar ia mengeraskan suaranya membuat Asty terbangun. Namun ketika melihat Vian tengah berbicara di telepon, Asty berpura-pura tidur agar bisa mendengar percakapan mereka.
"Aku minta bantuan mu untuk menjauhkan Asty dari Qenan, bila perlu lenyap kan saja dia." pinta Lusy terdengar sangat emosi.
__ADS_1
"Kau tenang saja, saat ini Asty sedang bersamaku. Kau dekati Qenan saja dengan tenang, Asty sudah menjadi milikku." Vian segera mematikan panggilan secara sepihak.
Lusy merasa kesal karena panggilannya di akhiri begitu saja sebelum Vian menjelaskan apa maksud perkataan terakhirnya. Lusy yang penasaran, memutuskan untuk pergi ke rumah Vian.
Lusy mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai di rumah Vian, rasa cemburu menyelimuti hatinya saat mendengar Asty kini bersama Vian. Lusy yang begitu mencintai Vian, namun ia juga harus mengikuti permintaan sang ayah membuatnya tidak bisa melepaskan salah satu diantaranya.
Kini Lusy sudah berada di depan pintu rumah Vian, ia sudah terbiasa keluar masuk rumah megah berlantai tiga itu karena memang hanya di huni oleh Vian dan para pelayannya saja. Lusy melangkahkan kakinya menuju kamar Vian, kebetulan kamarnya tidak terkunci karena Vian berpikir tidak akan ada yang berani masuk kamarnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Lusy sangat terkejut ketika mendapati Vian tengah berada dalam satu selimut bersama Asty. Vian yang akan terlelap pun kembali terjaga karena mendengar suara pintu yang terbuka dengan kerasnya. Sementara Asty yang masih berpura-pura tidur untuk mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Arka.. kamu, apa-apaan ini?" teriak Lusy menunjuk ke arah Asty yang masih memejamkan mata.
'Apa, Arka? apa maksudnya selingkuhan Lusy selama ini adalah Vian? Jadi, Vian itu sepupu Qenan.' batin Asty bertanya-tanya.
"Kamu yang apa-apaan, masuk tanpa mengetuk pintu." ucap Vian bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Lusy.
"Apa katamu, tega? Menurutmu kau ini siapa, hah? Asal kau tahu, aku mendekatimu hanya karena ingin melihat Qenan hancur, tidak lebih dari itu. Dan Asty, dialah cinta pertamaku, hanya saja selama ini kita telah di pisahkan oleh jarak dan waktu. Aku sangat mencintainya, jadi pergilah kau mengejar Qenan mu itu. Kini sudah tidak ada lagi penghalang bagimu, kan?" jelas Vian berhasil membuat air mata Lusy membanjiri wajahnya.
"Aku tidak bisa terima ini." Ucap Lusy hendak menarik Asty dari tempat tidur.
Vian dengan cepat menarik tangan Lusy agar tidak membangunkan Asty. Vian menawarkan cara agar Qenan bisa kembali lagi pada Lusy dan Vian akan selamanya bersama Asty. Untuk saat ini Lusy menyetujui rencana Vian walau harus mengorbankan perasaannya, tapi demi ayahnya yang kini menjadi orang tua satu-satunya, Lusy rela berbuat apa saja.
Lusy bersiap dengan kameranya, sedangkan Vian bersiap untuk memeluk Asty agar mereka terlihat seperti benar-benar sedang bersama. Namun hal yang tak mereka duga terjadi, Asty terbangun dan menendang Vian kemudian secepatnya Asty keluar kamar setelah mendorong Lusy yang menghalangi jalannya.
"Sial, tangkap gadis itu." teriak Vian membuat seluruh pelayan dan penjaga bersiap menghalangi Asty.
Asty terus berlari menghindari siapapun yang akan menangkapnya, dengan tenaga yang cukup terkumpul banyak, ia yakin bisa keluar dari rumah yang begitu luas hingga membuatnya kebingungan mencari jalan keluar.
__ADS_1
Setelah berhasil menemukan jalan keluar, Asty di kejutkan dengan datangnya Kiara adik tiri Vian yang membuatnya bisa terjebak di genggaman Vian.
"Halo kakak, mau berusaha kabur?" Kiara berdiri tepat di depan pintu ketika Asty hendak berlari keluar.
Asty berjalan keluar dan tidak menghiraukan Kiara. Namun tanpa disadari oleh Asty, Kiara menyuntikkan obat penenang tepat pada paha Asty membuatnya langsung tersungkur tak sadarkan diri.
"Ups, sorry." ucap Kiara melihat Asty yang tergeletak di lantai.
Vian dan Lusy berlari menuju pintu keluar setelah memaki para pelayan dan penjaga yang tidak bisa menangkap Asty.
"Tenang saja kak, tawanan mu berhasil aku tangkap dengan dosis yang tinggi." ucap Kiara membereskan jarum suntik nya.
'gila nih kakak sama ade sama ajah psikopat.' batin Lusy.
"Haha.. Bagus adik ku, kau datang di waktu yang tepat." Vian tertawa membawa Asty kembali menuju kamarnya.
Lusy mengekor di belakang Vian, kali ini rencana mereka berjalan sangat lancar.
Vian mengikat Asty di kursi seperti pertama kali Vian menangkapnya, sebagai hukuman karena Asty sudah berusaha untuk lari darinya.
Lusy yang awalnya membenci Asty kini ia merasa iba melihatnya, rasa cintanya pada Vian pun hilang saat melihat adik tirinya yang sama mengerikan.
"Baiklah Arka, aku pergi dulu untuk memberikan ini pada Qenan." Ucap Lusy mengangkat ponselnya yang sudah berhasil mengambil gambar.
Untungnya Lusy mempunyai alasan untuk pergi dari rumah Vian, baru kali ini ia melihat sisi menakutkan pada Vian dan keluarganya.
"Sebagai sesama wanita, harusnya aku menolong Asty. tapi bagaimana caranya, aku juga harus mendekati Qenan." gumam Lusy di tengah perjalanan ke apartemennya.
__ADS_1