
Air mata Asty tak tertahankan melihat bu Rani bercerita sambil sesekali mengambil lembaran tisu yang ada di atas meja kerjanya kemudian mengusap tetesan air mata yang keluar dengan mudahnya.
Bu Rani telah menganggap Asty seperti anaknya sendiri karena kebaikan Asty selalu berani menolong orang yang lemah walaupun ia tidak mengenal siapa orang yang di tolong nya, kebaikan Asty membuat bu Rani menyukainya hingga berharap agar Asty bisa membantu Qenan bisa normal kembali.
Melihat bu Rani menangis membuatnya merasa tidak tega, ia juga merasakan kesedihan dalam diri bu Rani. Asty berjanji pada bu Rani untuk menjaga Qenan dan menuntunnya kembali menjadi manusia normal seusia nya.
Mendengar ucapan Asty, bu Rani merasa sangat bahagia kemudian segera memeluk Asty begitu erat. Asty pun membalas pelukan bu Rani, ia teringat akan sosok ibunya yang begitu menyayanginya.
Matahari sudah tak terlihat lagi, kini saatnya Asty kembali ke kontrakan sang kakak. Sebenarnya bu Rani menawarkan tumpangan untuknya, namun Asty menolak dengan alasan ingin berjalan-jalan dulu sebelum pulang.
Sesampainya di kontrakan, Asty di sambut oleh Laras yang pulang lebih dulu. Laras menyiapkan bermacam makanan untuk merayakan hari pertama Asty bekerja. Asty merasa senang mendapat perhatian luar biasa dari kakaknya hingga repot-repot menyiapkan makan malam spesial untuk mereka.
"sebenernya, kakak juga ngundang temen kakak kesini buat ikut ngeramein." seru Laras malu-malu.
"jangan banyak-banyak kak, kontrakan gak akan muat." ledek Asty.
"ya nggak lah.." jawab Laras.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, segera Laras membukakan pintu sementara Asty tengah sibuk dengan ponselnya. Melihat tamu sang kakak sudah datang, Asty berdiri dan menyambutnya.
Laras mendadak diam, tidak bawel seperti biasanya dan terlihat anggun. Merasa ada yang aneh pada sang kakak, Asty segera menebak bahwa yang datang adalah kekasih sang kakak.
"halo, saya Asty adiknya kak Laras." sapa Asty.
"halo Asty, saya Zidan. selamat ya buat hari pertama kamu masuk kerja, kalo ada masalah jangan sungkan bilang sama saya. sebentar lagi saya juga akan jadi kakak kamu." seru Zidan tersenyum pada Laras.
"waah.. jadi ini calon kakak ipar. ye, asyik punya kakak ipar yang baik." ucap Asty kegirangan membuat Laras semakin tersipu malu.
__ADS_1
Acara makan malam pun berlangsung dengan ramai walau hanya bertiga, karena Asty selalu saja bisa membuat Laras dan Zidan tertawa dengan tingkah dan ceritanya, Asty pun sudah menganggap Zidan sebagai kakaknya sendiri.
Zidan merasa senang mendapat sambutan baik dari adik kekasihnya dan berharap mendapat sambutan baik juga dari kedua orang tuanya.
Setelah acara makan malam selesai, Asty pamit untuk beristirahat karena mulai besok ia mendapat dua pekerjaan. Tak lama kemudian Laras juga ikut menyusul Asty karena Zidan langsung pamit pulang karena merasa tidak enak hanya berduaan saja dengan Laras yang belum sah menjadi miliknya.
Laras melihat Asty yang tidur sangat nyenyak melengkungkan senyumnya, Laras merasa senang jika Asty bisa menerima Zidan dengan baik karena memang Zidan anak yang sopan dan juga baik, Asty percaya jika Zidan bisa menjaga kakaknya sebaik kakaknya telah menjaga Asty selama ini.
***
Pagi telah tiba, seolah Asty memiliki alarm ajaib yang bisa membangunkannya walau ia tak memasangnya. Seperti biasa ia bangun untuk menunaikan sholat subuh dan melanjutkan dengan membereskan kontrakan dan menyiapkan sarapan.
Hari ini Asty sangat bersemangat karena mempunyai misi yang mulia untuk membantu Qenan kembali normal. Asty merasa kasihan pada bu Rani karena anak sematawayangnya yang selalu di banggakan saat ini tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain.
Setelah berpamitan Asty segera menuju minimarket untuk memulai pekerjaannya.
Sesampainya di sana ia segera menyelesaikan berkas-berkas yang masih menumpuk di meja ruangannya.
"okeh Asty kamu sekarang tunggu dulu di sini, sebentar lagi Qenan akan sampai." ucap bu Rani.
Tak sampai lima menit, Qenan sudah sampai di ruangan bu Rani dengan riang gembira mendapatkan teman baru.
"makasih mama, udah ngasih aku temen baru. aku bosen di rumah terus." seru Qenan melengkungkan senyumnya dan tak lupa mencium pipi sang mama.
"iya sayang, sekarang kamu main sana sama Asty. jangan nakal ya, nanti Asty nya ngambek kalo kamu nakal." ancam bu Rani sambil tersenyum ke arah Qenan.
Qenan hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat menandakan ia tidak akan berbuat nakal, ia tak mau kehilangan teman barunya.
__ADS_1
Kini Asty dan Qenan sudah duduk di kursi belakang sopir, mereka asyik bersenda gurau mengakrabkan diri. Asty yang senang bercanda membuat Qenan merasa nyaman, pak Ujang tersenyum melihat tuan mudanya bisa tersenyum lagi setelah sekian lama.
"semoga den Qenan bisa cepet sembuh, kayaknya dia cocok sama non Asty." batin pak Ujang sesekali melirik ke belakang lewat kaca mobil.
Perjalanan terhenti di sebuah pantai berpasir putih yang sangat indah dan menenangkan. Deburan ombak yang menabrak batu karang seakan seperti sebuah irama yang membuat hati siapa saja menjadi tenang.
Qenan terlihat sangat antusias melihat pasir putih dan segera bermain dengan hamparan pasir putih yang terlihat dimanapun mereka berada.
Asty tersenyum melihat Qenan yang begitu bahagianya membangun sebuah istana pasir, namun ia nampak kesal karena istana pasirnya selalu rusak terkena ombak dan kemudian dengan susah payah ia bangun kembali.
"pilihan lokasi yang tepat, non." seru pak Ujang mengacungkan kedua jari jempolnya pada Asty yang tengah berdiri dari kejauhan mengawasi Qenan.
Asty hanya tersenyum pada pak Ujang, mengingat ia juga sebenarnya ingin bermain di pantai, jadi ia mengajak Qenan ke pantai. Tak di sangka ternyata Qenan juga menyukainya, Asty pikir pantai adalah tempat yang sudah biasa bagi Qenan, namun ternyata ia merasa sangat bahagia bermain di pantai.
"Asty ayo sini bantuin aku, istana ku rusak terus kena ombak nih." teriak Qenan melambaikan kedua tangannya meminta bantuan. Asty pamit dengan sopan pada pak Ujang untuk menemani Qenan membangun istana pasir.
Dengan canda tawa mereka saling membantu membangun istana pasir yang kokoh dan takkan hancur terkena ombak.
"saat ini kalian hanya membangun istana pasir, semoga kelak kalian bisa membangun rumah tangga yang harmonis. sepertinya nyonya juga sudah menyetujui mereka." gumam pak Ujang menatap kebahagiaan Qenan.
Mereka bermain di pantai hingga matahari mulai tenggelam. Tak hanya bermain pasir, mereka pun bermain lari-larian hingga merasa lelah dan memutuskan untuk duduk bersama menikmati pemandangan matahari tenggelam di sore itu.
"indahnya..." gumam Asty begitu takjub melihat sinar matahari yang perlahan menghilang seolah tenggelam di tengah lautan.
Sementara Qenan, ia terus menguap menandakan ia sudah merasa sangat mengantuk. Asty yang melihatnya kemudian mengajak Qenan untuk pulang karena hari juga sudah mulai gelap.
Dalam perjalanan pulang, Asty di buat terkejut oleh Qenan yang tiba-tiba saja menjatuhkan kepalanya di atas bahu Asty.
__ADS_1
Hari yang melelahkan bagi Asty membuatnya ikut mengantuk melihat Qenan, dan bahunya pun kini mulai terasa lelah menahan kepala Qenan. Hingga tanpa di sadari Asty juga terlelap dan kepalanya menempel di kepala Qenan.
"kasihan non Asty, harusnya dia yang tidur di bahu den Qenan." batin pak Ujang tersenyum.