Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 29


__ADS_3

"eh si Asty kok lama banget ya gak balik-balik." Seru Tina karena Asty sudah hampir setengah jam tidak kembali dari toilet.


"Iya ya, coba lo samperin sana Tin." Jawab Rehan.


Tinapun berjalan menuju toilet, dilihatnya disana Asty dan Nuri sedang jambak-jambakan.


"Astaghfirullah.. Asty.." Tina berlari menghampiri Asty dan mencoba melerai pertikaian mereka.


"Diem lo, gak usah ikut campur urusan gue." Ujar Nuri dengan mata melototnya dan melanjutkan menjambak rambut Asty.


"Udah Nuri, cukup." Seru Tina mencoba melepaskan rambut Asty yang di tarik Nuri, terlihat Aty begitu kesakitan.


Sementara dikantin, Andri dan teman-temannya penasaran apa yang telah terjadi sehingga mereka tak kunjung kembali dari toilet.


"Mereka kenapa ya, kok perasaan gue gak enak." Ujar Andri mengagetkan dua sahabatnya.


"Hmm.. gimana kalo kita susulin mereka ajah." Ajak Rehan yang memiliki perasaan yang sama dengan Andri.


Mereka bertiga meninggalkan tempat duduknya dan berjalan bersama menuju toilet. Sesampainya mereka di depan pintu toilet, terdengar suara keributan. Merekapun berlari menuju suara tersebut.


"Astaga Asty..." Teriak Andri kemudian berlari menghampiri Asty yang tengah kesakitan memegangi rambutnya.


"Nuri lepasin Asty." Bentak Andri pada Nuri. Akhirnya Nuri melepaskan cengkramannya.


"Aduuhh..." Asty meringis sambil memegangi kepalanya.


"Asty, kamu gak apa-apa?" Tanya Andri cemas.


"Nggak, aku gak apa-apa kok." Jawab Asty.


"Nuri, segitu bencinya lo sama Asty sampe mau celakain Asty." Seru Rehan kesal, tak lama kemudian guru BP datang karena mendengar keributan dan membawa mereka ke ruangannya.


Setelah beberapa saat di dalam ruang guru, Nuri dan Asty pun keluar dengan membawa sebuah surat. Tina dan yang lainnya setia menunggu di depan ruangan.


"Gimana ?" Tanya Tina segera setelah melihat Asty membuka pintu. Asty hanya memaksakan senyumnya sambil mengacungkan surat yang ada di tangannya.


"Ini semua gara-gara lo." Seru Nuri mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Asty. Segera Andri berdiri di depan Nuri dan menyingkirkan tangan Nuri dari hadapan Asty.


"Jauhin tangan kotor lo, dari muka Asty." Bisik Andri dengan mengeraskan rahangnya.


"Cih... Awas ajah lo Asty." Ancam Nuri meninggalkan mereka.


"Huuhh dasar mak lampir." Seru Topan jengkel.

__ADS_1


"Jangan takut, gue tau lo gak salah kok." Seru Andri masih membelakangi Asty dan berjalan meninggalkannya.


"Makasih." Jawab Asty dengan suara yang sangat pelan menatap bahu Andri.


***


Di kediaman keluarga Andri, terlihat Mommy Astrid yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di ruang tamu menanti kedatangan Andri sambil mengepalkan tangannya merasa kesal mengingat percakapannya tadi bersama Nuri.


"Aku benar-benar harus bertindak." Gumam Astrid. Tak lama kemudian Andri sampai di rumahnya dan menghampiri Mommy Astrid dengan malas.


"Tumben Mommy ada di rumah." Seru Andri menenteng tas ranselnya.


"Ada yang mau mommy bicarakan sama kamu." Jawab Mommy Astrid tanpa basa-basi lagi.


"Mommy mau ngomong apa?" Tanya Andri malas.


"Mommy tau, kamu masih deket sama si anak gembel itu. Ke kantin bareng pake pegangan tangan, mommy gak suka ya kamu masih deket sama dia. Dia itu gak selevel sama kita." Mommy nyerocos tanpa rem menandakan ia sedang sangat kesal.


"What, pegangan tangan? Siapa yang bilang gitu mom? Itu semua bohong, kita ke kantin rame-rame mom, dan aku sama Asty jalannya juga jauhan." Jelas Andri tak berharap banyak mommy akan percaya dengan penjelasannya karena ia tahu mommy tidak akan bisa menerima penjelasan tentang Asty.


"Kamu gak perlu tahu mommy dapet info dari siapa. Pokonya setelah lulus kamu harus ikut mommu ke luar kota, biar kalian gak pernah ketemu lagi."


Bagai tersambar petir di siang bolong, Andri membulatkan matanya mendengar perkataan mommy barusan.


"Aku nggak mau mom, aku tetep mau disini." Bantah Andri.


Andri tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang selain menuruti keinginan Mommy Astrid. Di satu sisi Andri ingin selalu berada di kota kelahirannya ini dan bisa dekat dengan Asty, penyemangat hidupnya. Di sisi lain, Andri takut terjadi suatu hal yang membahayakan diri Asty lagi jika ia membantah perintah mommy.


"Arrrghhh..." Teriak Andri yang tengah duduk di tempat tidurnya sambil mengacak kasar rambutnya. "Untuk saat ini mungkin gue turutin perintah mommy, nanti baru gue cari cara buat bisa balik lagi ke sini. Yaa, gue pasti bisa." Gumam Andri menyemangati dirinya sendiri.


Sementara dirumah Asty, ia tengah kebingungan bagaimana caranya memberikan surat panggilan orangtua kepada ibunya. Asty memasuki rumah dengan cara mengendap-endap, tanpa disadari ada Laras yang memperhatikan kelakuan adiknya itu dari balik pintu kamarnya.


"Bocah lagi ngapain, udah kayak maling ajah." Gumam Laras dari balik pintu.


"Sepi nih kayaknya." Seru Asty perlahan menutup pintu. Tiba-tiba Laras berdiri dibelakangnya.


"Iya emang sepi nih banget kayak kuburan." Suara Laras mengagetkan Asty.


"Ya ampun kakaaaaa....." Teriak Asty memegangi dadanya karena terkejut.


"Kamu ngapain masuk rumah kayak gitu hah?" Selidik Laras..


"Hmm.. anu ka..." Jawab Asty bingung

__ADS_1


"Ada masalah apa lagi?" Tanya Laras duduk di kursi ruang tamu. Asty pun ikut duduk bersama dan menjelaskan apa yang terjadi.


Laras mendengarkan cerita Asty yang panjang kali lebar kali tinggi dibagi dua itu dengan seksama dan sambil manggut-manggut ria.


"Ohh jadi gitu, ternyata kamu lebih hebat dari kakak bisa dapet surat panggilan. Hahaha." Seru Laras dengan tawa yang menyebalkan.


"Hebat dari sudut mananya kak. Pusing nih gimana cara bilang ibu." Pikir Asty cemas.


"Udah tenang ajah, ibu pasti bisa ngertiin kamu kok. Secara kamu kan anak yang gak ada catatan kenakalan dibukunya ibu. Hahaha." Laras kembali menertawakan adik culun yang udah mulai berani yang satu ini.


"Tenang, tenang. Mentang-mentang kakak tukang buat onar enak banget bilang kayak gitu." Jawab Asty kesal. "Udah deh, mau ganti baju dulu." Tambah Asty meninggalkan Laras.


"Cieee yang udah mulai nakal." Ledek Laras.


"Kakaaaaaaaaa....." Teriak Asty dari dalam kamar.


Tak lama kemudian bu Tatum pulang, melihat Laras yang tengah tertawa terbahak-bahak menimbulkan tanya bagi bu Tatum.


"Kenapa ka, seneng banget keliatannya? Abis dapet lo tre ya?" Tanya bu Tatum ngasal sambil duduk di sebelah Laras.


"Aku gak jajan begituan bu, paling jajan ciki yang serebuan terus dapet hadiah dua rebu." Laras kembali tertawa geli.


"Sama ajah kaka... Eh iya Asty mana, apa belum pulang?"


"Asty baru dateng bu, lagi ganti baju." Jawab Laras mulai mengaktifkan mode serius.


"Ada apa emang, kayaknya ada yang mau kamu omongin?" Selidik bu Tatum.


"Tau ajah deh si ibu.. itu si Asty abis berantem di sekolahan bu." Celetuk Laras membuat bu Tatum terkejut.


"Apa? Berantem sama siapa? Terus gimana? Asty.. Asty..." Bu Tatum mulai panik dan memanggil Asty.


Asty pun terkejut mendengar ibunya berteriak memanggil namanya.


"Duhh, ni pasti kak Laras udah bilang ibu." Gumam Asty di dalam kamar dan segera keluar menemui ibu dan kakaknya.


Melihat Asty keluar dari kamarnya, rentetan pertanyaan keluar dari mulut bu Tatum.


"Bener kamu abis berantem? Sama siapa? Terus gimana?"


Asty hanya menundukan kepalanya dan menyerahkan sebuah surat yang sedari tadi ia pegang.


"Apa ini?" Tanya bu Tatum membuka suratnya.

__ADS_1


Setelah membacanya, bu Tatum masih mempertanyakan apa yang terjadi sebenarnya sehingga bu Tatum harus ke sekolah besok. Astypun segera menceritakan kejadian tadi disekolah dan bu Tatum memakluminya.


"Baiklah kalo begitu besok ibu akan datang ke sekolah, pastinya juga akan menghadapi mamanya Nuri." Seru bu Tatum dengan tatapan jauh mendalam seolah siap membalas segala perlakuan anaknya terhadap Asty.


__ADS_2