
"bu... sakit bu.." di tengah malam Asty mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Bu Tatum yang tertidur di samping tempat tidur Asty terbangun mendengar anaknya kesakitan.
"sayang, badan kamu panas sekali." seru bu Tatum menyentuh badan Asty.
"ibu, tolong bu.." pinta Asty mencengkram selimut yang menutupi badannya. Segera bu Tatum mengambilkan obat dan memberikannya kepada Asty agar segera di minum.
"ibu..."
"iya sayang, ibu disini." seru bu Tatum memegangi tangan Asty.
"aku mau tidur sambil di peluk ibu." pinta Asty dengan suara yang melemah.
"iya sayang." bu Tatum segera menaiki tempat tidur dan berbaring di sebelah Asty kemudian membawa tubuh Asty ke dalam pelukannya.
"ibu, aku sayang ibu. maafin aku yaa bu.." seru Asty dalam dekapan bu Tatum.
"ibu juga sangat sangat sayang kamu, nak. kamu pasti akan segera sembuh." seru bu Tatum dengan air mata yang tak sanggup lagi ia bendung hingga menetes di pipinya dan segera ia usap.
"Ya Allah.. badannya panas sekali, segera sembuhkan anak ku Ya Allah." batin bu Tatum sambil memeluk erat tubuh anak bungsunya itu hingga Asty terlelap dan panasnya mulai menurun.
Malam terasa begitu cepat berlalu, sinar mentari telah menembus jendela kamar Asty yang masih terbuai dalam mimpinya.
"Asty, bangun sayang. ayo kita sarapan dulu, terus di minum obatnya." bu Tatum membelai pipi chubby milik anaknya itu dengan lembut penuh kasih sayang.
"ibu, aku masih ngantuk." jawab Asty mengernyitkan dahi masih dengan mata yang terpejam.
Rasanya baru saja matanya terpejam, sinar matahari malah sudah muncul di hadapannya menyilaukan mata. Semalaman Asty tidak bisa tidur karena merasakan kepalanya yang begitu sakit.
"sarapan dulu terus minum obat, abis itu kamu boleh tidur lagi. hari ini kamu istirahat dulu di rumah tidak usah berangkat ke sekolah." jelas bu Tatum melihat kondisi anaknya yang belum benar-benar pulih.
"iya bu." perlahan Asty membuka matanya dan duduk bersandar di tempat tidurnya.
Dengan penuh kasih sayang, bu Tatum menyuapi Asty sambil sesekali menyeka air matanya yang menetes dengan sendirinya membuat Asty terkejut melihatnya.
"ibu kenapa?" Asty mendekat dan memegangi tangan bu Tatum dengan tatapan cemas.
"ibu gak apa-apa sayang, ibu cuma gak tega ajah liat kamu kayak gini. mending ibu ajah yang sakit daripada harus liat kamu kayak gini." seru bu Tatum menangkup pipi Asty.
"sssttt... ibu jangan bilang kayak gitu, aku baik-baik ajah kok bu. bentar lagi juga aku sehat lagi." Asty tersenyum menenangkan bu Tatum.
"iyya sayang, ibu yakin kamu akan sehat kembali secepatnya." seru bu Tatum dan Segera Asty memeluk bu Tatum dengan erat.
...----------------...
Sementara di kediaman Andri pagi itu terlihat Mommy Astrid tengah sibuk membereskan barang-barangnya yang akan dibawa ke luar kota.
__ADS_1
"mommy jadi berangkat hari ini?" tanya Andri mendekati Astrid.
"Iyya sayang, mommy berangkat hari ini." jawab Astrid sibuk dengan barang-barangnya.
"soal ajakan mommy tadi sore.." seru Andri menundukan kepala seolah tak mau menuruti mommy nya.
"kenapa? kamu tidak mau ikut mommy." tanya Astrid mendekati putra bungsunya.
"hmmm iyya momy, bolehkah aku tetap di sini?" seru Andri dengan wajah memohon.
Astrid tidak tega melihat wajah lesu anaknya itu, jika ia memaksa takutnya merusak kebahagiaan masa kecilnya.
"baiklah kalo kamu gak mau ikut mommy, tak apa. nanti mommy sering kesini buat nengokin kamu." seru Astrid berlutut di hadapan Andri membelai rambut hitam dan lebat anaknya itu.
"terimakasih mommy." seru Andri girang dan memeluk mommy nya.
"sama-sama sayang, dah sekarang kamu sarapan yaah terus berangkat sekolah." jawab Astrid tersenyum.
* * *
Setelah selesai sarapan, Andri bergegas menuju sekolah tak lupa berpamitan kepada orang tuanya.
"mommy, daddy aku berangkat sekolah dulu yaa.." seru Andri menyalimi orang tua nya bergantian.
"iya sayang, hati-hati ya. sekolah yang bener jangan kayak abang kamu main mulu." seru daddy melirik Kearah Nico yang tengah menyelesaikan sarapan nya.
"dihh, daddy apaan sih. kayak gak pernah muda ajah." ketus Nico melahap roti dengan kasar.
"mommy hati-hati yaa, jangan lupa telpon kalo udah nyampe." pinta Andri.
"iya sayang, mommy pasti bakalan sering telpon kalian kok. jaga diri baik-baik yaa.." seru mommy mengusap kepala Andri lalu mencium keningnya.
Andri pun bergegas menuju garasi dan mengambil sepedanya. Hari ini ia ingin berangkat menaiki sepeda, karena ia tahu kalau Asty belum bisa masuk sekolah, jadi ia tidak ingin berlama-lama di jalan karena tidak ada yang ia tunggu.
Dalam perjalanan nya menuju sekolah, Andri melewati rumah Asty. Terlihat bu Tatum tengah menyiram tanaman di halaman rumahnya, Andri pun berhenti dan menghampiri bu Tatum menyempatkan diri menyapanya.
"pagi tante.." sapa Andri dengan lesung pipi yang menghiasi senyum mempesonanya.
"pagi.. ehh Andri, mau berangkat sekolah." seru bu Tatum masih memegangi selang air.
"iya tante. oh iya, Asty gimana keadaannya tante?" tanya Andri dengan raut wajah khawatir nya.
"ya gitu, masih belum benar-benar pulih. semalam dia mengeluh sakit di kepalanya. sekarang dia tidur lagi setelah minum obat." bu Tatum menjelaskan keadaan Asty dan mencoba tegar.
Andri terdiam sejenak membayangkan betapa tersiksanya Asty tadi malam. Hingga akhirnya lamunannya terhenti ketika ayah Asty datang menghampiri bu Tatum.
"bu, ini siapa?" tanya pak Reno pada bu Tatum.
__ADS_1
"oh ini Andri, anaknya Rafa sama Astrid." jawab bu Tatum tersenyum.
"pagi om..." sapa Andri tersenyum.
"tante Tatum sangat ramah walau tahu bagaimana bencinya mommy dengan keluarga ini." batin Andri.
"oh Andri, pantas dari tadi om lihat kamu kayak lihat Rafa kecil." seru pak Reno tertawa, Andri hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"eh iya Andri, terimakasih yaa katanya kamu kemaren ikut bawa Asty ke rumah sakit." seru pak Reno menghentikan tawanya.
"iya om sama-sama. kalo gitu saya pamit ke sekolah dulu om tante, sebentar lagi masuk soalnya." Andri pamit dan segera menaiki sepedanya kembali.
"awas hati-hati nak." seru pak Reno memperhatikan jalanan yang sedang ramai-ramainya.
Pak Reno memandangi Andri sampai tak terlihat lagi, kemudian menghampiri bu Tatum yang tengah melanjutkan kegiatan menyirami tanaman. Hari ini bu Tatum mengambil cuti karena ingin menjaga Asty sampai benar-benar sehat.
"untunglah Andri mewarisi sifat daddy nya." gumam pak Reno.
"ya, aku tidak bisa membayangkan jika ia mewarisi sifat mommy nya." seru bu Tatum.
"oh iya bu, kemarin pas ayah ngurus administrasi, masa kata stafnya biaya rumah sakit Asty sudah di lunasi oleh orang yang mengaku tantenya." seru pak Reno.
"tante? bukannya adik kamu tidak tahu soal ini?" tanya bu Tatum terkejut.
"iya makanya aku heran, siapa ya." pak Reno terdiam sejenak.
"yang kemarin ada di rumah sakit kan cuma mang Danang yah, apa mungkin Astrid yang melunasinya?" bu Tatum menerka-nerka.
"bisa jadi bu, soalnya kan tidak ada orang lain lagi." jawab pak Reno.
"kenapa dia sampai seperti itu yaa." bu Tatum heran.
"ya mungkin dia sekarang sudah berubah bu." seru pak Reno
"semoga saja seperti itu ya, yah. aku sudah capek bermusuhan terus." keluh bu Tatum sambil menatap tanamannya yang tengah ia sirami.
.
.
.
.
bersambung..
yang udah baca boleh dong tinggalkan komentar, like atau masukin ke favorit gitu biar author makin semangat up terus... 😁
__ADS_1
semangat belajar terus buat menyenangkan hati readers 😉
see you next episode 😉