
Seperti biasa setiap sekolah telah selesai Asty dan Tina selalu pulang bersama, membuat Nuri merasa kesal melihat orang yang dulu pernah menjadi sahabatnya kini malah bersahabat dengan musuhnya. Tina dan Asty yang baru saja keluar dari kelas tiba-tiba di hampiri oleh Nuri si anak paling angkuh yang membanggakan kekayaan orang tua nya.
"hey Tina, ngapain sih lo temenan sama si anak cupu ini? mending lo ikut gue, lo mau apa aja pasti gue kasih. daripada sama dia yang gak punya apa-apa." Nuri melipat kedua tangannya sambil menatap sinis pada Asty yang hanya bisa menundukan wajahnya.
"heh Nuri jaga ucapan kamu yaa.. emang Asty gak se kaya kamu, tapi dia punya hati yang baik. menurutku itu jauh lebih bernilai daripada harta yang orang tua kamu miliki." ujar Tina mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Nuri sedikit emosi.
Nuri hanya diam melihat anak perempuan berkepang dua itu berani memakinya.
"Ayo Asty kita pulang." ajak Tina menarik lengan Asty dan melangkah maju.
Tepat ketika Tina dan Nuri bersebelahan Tina menambahkan ucapan nya "oh iya satu lagi, jangan kira aku bakalan diem kalo kamu berusaha nyakitin Asty lagi." bisik Tina di dekat telinga Nuri dan menepuk-nepuk pundak Nuri kemudian melanjutkan langkah nya menuju gerbang sekolah.
"sialan.. gue gak takut sama ancaman lo Tina, liat ajah nanti siapa yang bakal minta maaf duluan." umpat Nuri menatap sinis Tina dan Asty.
Dua sahabat itu berjalan sambil terus bergandengan tangan seolah tak mau di pisahkan, hingga akhirnya mereka berhenti di depan gerbang sekolah.
"Asty, maaf yaa aku ga bisa pulang bareng. aku mau nganter mamahku ke klinik, tuh mamahku udah nungguin." ujar Tina setelah melihat mamahnya sudah menunggu di sebrang jalan.
"oh iya ngga papa kok Tina, aku biasa pulang sendiri kok." jawab Asty melengkungkan senyumnya.
Tina dan mamahnya pun segera melaju dengan kendaraan roda dua yang di kemudikan mamahnya Tina. Sementara Asty, ia pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Dalam perjalanan nya, ia teringat akan kejadian tadi pagi.
"ah iya, pokok nya nanti kalo ibu pulang aku harus tanyain masalah ibu sama momy nya Andri." batin Asty mempercepat langkah nya.
Dalam setiap langkah kaki Asty tak luput dari pandangan seorang anak laki-laki, siapa lagi kalo bukan Andri. Entah kenapa mengikuti Asty seperti sudah menjadi kebiasaan dalam hari-harinya.
"buru-buru banget tuh bocah mau ngapain. udah sembuh apa lututnya." gumam Andri pandangan matanya tak mau lepas dari Asty.
Andri memang menyuruh Rehan dan Topan pulang duluan agar ia bisa dengan leluasa memperhatikan Asty karena Andri tidak mau jika ada yang mengganggu Asty. Namun Asty sudah menyadari bahwa ada yang mengikutinya.
"kayaknya si Andri nih dari tadi ngikutin ajah." batin Asty melirik ke belakang.
__ADS_1
Tiba-tiba Asty menghentikan langkahnya membuat Andri terkejut dan tidak bisa bersembunyi lagi.
"nah kan ketauan, ngapain kamu ngikutin aku?" tanya Asty penuh selidik.
"gue cuma mau mastiin lo gak di gangguin si Nuri, soalnya tadi gue liat Nuri nyamperin lo di depan kelas." jelas Andri dengan gaya so cool nya.
"Lah, bukannya tadi kamu udah keluar duluan yaa, kok bisa tau sih? ohh jangan-jangan kamu..." belum juga menyelesaikan pertanyaannya, Andri memotong perkataan Asty.
"ahhh udah laah gak usah di bahas, kalo gitu gue balik. minggir lo gue mau lewat." seru Andri kesal dengan pertanyaan Asty kemudian berlalu meninggalkan Asty.
"kenapa tuh anak, aneh banget." gumam Asty mengangkat kedua bahunya kemudian melanjutkan perjalanannya.
Tanpa di sadari ada yang memperhatikan mereka dari balik kaca mobil, terdengar sedang menelepon seseorang. "hmm baik bos, saya mengerti." ucap pria berkacamata hitam dan berpakaian serba hitam di balik kemudi.
Saat itu Asty hendak menyeberang jalan, ketika jalanan di rasa sepi Asty segera menyebrangi jalan itu. Namun pria berpakaian hitam itu tiba-tiba menancap gas dan menabrakan mobilnya pada Asty, seketika itu Asty terpental begitu jauh dan tidak sadarkan diri dengan mengeluarkan banyak darah, pria itu terus menancap gas mobilnya hingga tak terlihat oleh siapapun.
Suasana jalan yang begitu sepi berubah menjadi ramai setelah mendengar teriakan salah seorang warga yang melihat Asty terkapar di tengah jalan.
"Asty.." gumam Andri menghentikan langkahnya dan berbalik arah.
"Asty.. bangun Asty.." teriaknya menggoyang-goyangkan tubuh Asty yang berlumuran darah.
Tak lama kemudian Ambulance datang dan segera membawa Asty ke rumah sakit. Di dalam perjalanan, Andri terus menetaskan air mata menyesali perbuatannya yang meninggalkan Asty pulang sendirian.
"maafin gue Asty, coba ajah kalo tadi gue gak ninggalin lo." ujarnya menatap Asty yang terbaring dan tak sadarkan diri.
"udah dek, kita doain ajah semoga Asty bisa sehat lagi." seru mang Danang tetangga Asty yang ikut mengantarkan ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Asty segera mendapat pertolongan. Andri menunggu di depan ruangan dengan cemas dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Tak lama kemudian dokter keluar dari dalam ruang UGD.
"gimana dok temen saya?" tanya Andri penuh rasa khawatir.
__ADS_1
"sungguh sebuah keajaiban, dengan darah yang keluar begitu banyak tapi dia tidak apa-apa. dia hanya mengalami syok dan butuh banyak istirahat." jelas dokter dengan senyum lebarnya.
"syukur deh kalo dia baik-baik ajah." seru mang Danang lega mendengar kabar baik itu.
Andri begitu senang mendengarnya dan ingin segera menemui Asty.
"boleh saya masuk, dok?" tanya Andri senang.
"oh iya silahkan." dokter mempersilahkan Andri masuk.
Andri bergegas masuk dan di ikuti oleh mang Danang.
"Alhamdulillah, lo ngga kenapa-kenapa." ujar Andri menatap Asty.
"ya udah dek, mamang mau pulang dulu ngabarin keluarganya. ayo kamu juga harus pulang, nanti di cariin orang tua kamu." ajak mang Danang.
"iya mang." Jawa Andri menganggukan kepala.
"Asty, gue balik dulu yaah." seru Andri memegang tangan Asty.
Andri dan mang Danang pun pergi meninggalkan Asty sendirian, tiba-tiba ada seorang wanita datang memasuki ruangan Asty setelah Andri dan mang Danang sudah menaiki kendaraan umum untuk sampai di rumah, memang wanita itu sengaja menunggu keadaan terlihat sepi.
Langkahnya begitu hati-hati mendekati Asty yang tengah terbaring dengan perban di kepala dan memakai alat bantu pernapasan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....