
Asty terpaku kala beradu pandang dengan Qenan. Matanya yang sipit dengan bola mata berwarna coklat menambah kesan manis pada Qenan yang berwajah oriental.
Sejenak kerinduannya pada Qenan terobati, walau dalam keadaan tak di kenali oleh Qenan.
"Ayo ikut saya." Ucap Qenan mencengkram pergelangan tangan Asty.
"Tapi saya bukan maling, kak." Bela Asty mencoba melepaskan tangannya.
Qenan terus berjalan menuju pos pengamanan menyeret Asty untuk di serahkan pada security.
Sesampainya di pos, para security kebingungan melihat Qenan yang menganggap karyawan ibunya adalah pencuri.
Qenan mulai kesal karena semua security terdiam dan hanya saling pandang satu sama lain.
"Kenapa diam saja, bawa dia ke kantor polisi." ucap Qenan.
"Ta tapi pak, dia karyawan di sini. mana mungkin dia pencuri, malah biasanya dia yang nangkap pencuri." jelas security terbata-bata.
Qenan terkejut mendengar pernyataan dari security tersebut, namun ia tidak langsung mempercayainya.
"Kalo kamu karyawan, kenapa gak pakai seragam dan mana ID card kamu?" tanya Qenan dengan nada tinggi.
Mendengar ada keributan, bu Rani langsung ke luar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Bu Rani segera berlari menghampiri Qenan yang tengah mengintrogasi Asty.
"Qen, kamu apa-apaan sih. dia karyawan mama, dia admin di sini makanya cuma pakai kemeja gak kayak karyawan lain yang pakai seragam." jelas bu Rani membuat Qenan terdiam sejenak.
Sebagian pengunjung mulai berkerumun untuk melihat keributan yang telah terjadi, tapi segera di bubarkan oleh security. Kini hanya tinggal bu Rani dan Qenan yang tengah saling pandang, sementara Asty hanya menundukkan kepala sambil sesekali membetulkan posisi maskernya.
"Kamu itu kenapa Qen, kamu lupa sama dia? Dia itu Asty, dia yang selama ini bantu kamu buat sembuh dari sindrom yang kamu alami. Dia anak baik dan sopan, dulu kamu juga seneng pergi sama dia." jelas bu Rani memegang pundak Asty.
Qenan yang tengah terdiam tiba-tiba saja menarik masker yang menutupi wajah Asty, seketika ia terkejut melihat wajah Asty yang memperlihatkan bekas luka.
Ingatannya kembali pada saat melihat wajah Asty di ponselnya.
"Kamu.." Ucap Qenan menjatuhkan masker milik Asty.
"Dia terluka saat menolong kamu terlepas dari para penculik suruhan Lusy." ucap bu Rani.
"Lusy?" Qenan mengumpulkan ingatannya hingga membuat rasa sakit yang tak tertahankan pada kepalanya.
__ADS_1
Saat Qenan tengah memegangi kepalanya, Lusy datang menghampiri Qenan.
"Ada apa ini, kamu apakan calon suamiku?" Tanya Lusy mendorong Asty hingga terjatuh.
"Kalo kamu calon istrinya, kemana kamu selama satu tahun ini, saat kak Qenan sakit apa kamu merawatnya? apa kamu pernah menemui kak Qenan, hah? kamu pasti tak berani datang karena takut perselingkuhan mu terungkap, kan?"
Asty yang sejak tadi berusaha sabar, emosinya kian memuncak ketika melihat Lusy yang telah selingkuh di belakang Qenan malah mengakui Qenan sebagai calon suaminya. Asty bangkit dan menodongkan banyak pertanyaan pada Lusy yang hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa.
Sedangkan bu Rani terkejut melihat keberanian Asty yang sejak tadi untuk membela dirinya sendiri pun ia tidak bisa, tetapi ketika Lusy mendekati Qenan seolah ia ingin membela Qenan dan menjauhkannya dari Lusy.
"Asty benar, kemana saja kamu selama satu tahun ini? pasti kamu asyik berduaan dengan Arka, iya kan?" bu Rani ikut membantu Asty membuat Lusy mengakui kebenarannya.
Qenan memegangi kepalanya yang terasa sakit sambil mendengarkan pembicaraan Asty dan bu Rani, berharap ia mengetahui kebenaran yang terlupakan olehnya.
Melihat Qenan yang kesakitan muncul ide Lusy untuk melarikan diri dari pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya.
"Sayang, ayo aku antar ke rumah sakit." Ajak Lusy menopang tubuh Qenan.
"Tidak, biar pak Ujang dan saya yang akan membawanya ke rumah sakit. sekarang lebih baik kamu pulang saja, cepat." ucap bu Rani dengan segala kekesalannya menyuruh Lusy pergi.
Lusy pun dengan berat hati menuruti perintah calon ibu mertuanya untuk pulang menaiki taksi online.
Asty kembali ke ruangannya setelah bu Rani pergi membawa Qenan ke rumah sakit. Emosinya yang meledak-ledak secara tiba-tiba membuat tubuhnya yang memang sedang kurang sehat menjadi semakin lemah.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu memaksa Asty membukakan matanya yang tengah terpejam.
"Masuk ajah, gak di kunci." teriak Asty dari atas tempat duduknya.
"Hai.. nih aku bawain es cappucino cincau biar kamu semangat. hehehe" Ucap Dika menyodorkan satu cup es pada Asty.
"Haha ka Dika bisa ajah, makasih ya." jawab Asty meraih cup dari tangan Dika.
Dika merasa senang melihat Asty bisa kembali tersenyum, bagi Dika dunianya terasa hampa tanpa melihat senyuman Asty. Walau ia tidak berani menyatakan cintanya, cukup melihat Asty bahagia juga membuatnya ikut bahagia.
Sementara di dalam mobil, Qenan yang akan di bawa ke rumah sakit meminta untuk pulang ke rumah, ia ingin beristirahat di rumah saja.
"Aku mau tidur di rumah saja, mam." ucap Qenan.
Pak Ujang pun melajukan mobil menuju kediaman Bagaskara dengan Qenan yang sudah terlelap di pangkuan bu Rani.
__ADS_1
"Mama harap, kamu bisa mengejar cintanya gadis baik, nak." ucap bu Rani mengelus kepala Qenan yang tengah berada di pangkuannya.
Kini Qenan sudah beristirahat di kamarnya, di dalam mimpinya ia bertemu dengan Asty. Terasa begitu bahagia walau hanya dalam mimpi, hingga membuatnya enggan untuk terjaga.
Setelah beberapa lama di alam mimpi, Qenan pun terbangun dengan tubuh yang begitu segar. Ia meraih ponsel dan memandangi potret Asty dari ponselnya yang tidak ia hapus walaupun masih terasa asing di pikirannya.
"Sebenernya ada hubungan apa di antara kita." ucap Qenan menatap layar ponselnya.
Perlahan ia mencoba mengingat semuanya hingga ia merasa sangat bahagia saat mengingat kebersamaannya dengan Asty. Ada sedikit ingatan yang hadir di benak Qenan, namun ia sama sekali tidak merasakan sakit di kepalanya.
***
Asty merasakan tubuhnya yang begitu lelah, hingga ia menelpon bu Rani untuk meminta izin pulang duluan. Bu Rani meminta Asty agar pulang di antar oleh Dika jika ia merasa kurang sehat, namun Asty menolaknya.
Matahari sudah tak terlihat lagi, Asty berjalan gontai menuju tempat tinggalnya melewati jalanan yang begitu sepi. Lampu penerangan jalan yang remang, mendukung tindakan kejahatan berlangsung sangat mulus.
Asty tak menghiraukan apapun di sekitarnya, yang ada di benaknya hanyalah beristirahat di kasur kakaknya dengan tenang melepaskan segala kelelahannya.
Terdengar suara teriakan minta tolong dari seorang gadis dalam kegelapan, Asty mencoba untuk tidak menghiraukannya karena tubuhnya yang lemah tidak dapat berbuat apa-apa.
Namun teriakan itu semakin menjadi-jadi saat Asty berada tepat di depannya.
"Tolong, kak." teriak seorang gadis yang kedua tangannya di cengkram kuat oleh dua orang pria.
Awalnya Asty mencoba untuk cuek, namun ia merasa tidak tega melihat gadis yang terlihat lemah itu meminta bantuan.
"Hey, sedang apa kalian di sana." teriak Asty.
"Bukan urusanmu." sahut salah seorang pria itu.
"Ck .. lepaskan anak itu atau akan ku laporkan kalian pada polisi." Asty berdecak.
"Oh kamu berani melaporkan kami. tapi sepertinya itu tidak bisa terjadi, karena kita juga akan menghabisi mu." seru pria itu menyeringai.
Kedua pria tersebut melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju Asty yang sudah dalam posisi siap bertarung.
Pertarungan pun terjadi antara Asty dan dua pria yang lebih besar darinya, hingga akhirnya Asty mulai kehilangan tenaganya. Namun tak di sangka, ada sebuah sapu tangan yang menutupi mulut dan hidungnya. Hingga akhirnya ia melemah dan kehilangan kesadarannya.
"Wouy buruan nih bawa." ucap gadis tadi yang berpura-pura menjadi sandera.
Dua pria itu segera membawa tubuh Asty yang sudah tak sadarkan diri masuk ke dalam mobil mereka dan pergi menjauh dari lokasi kejadian tanpa adanya saksi.
__ADS_1
Gadis itu merogoh ponsel dari saku celananya dan mengirimkan sebuah pesan singkat pada seseorang.
"Misi selesai." ucapnya menyeringai dan segera pergi menaiki motor sport yang di parkir tersembunyi.