
Matahari sudah tidak lagi menampakkan sinarnya, Qenan masih terlelap di atas tempat tidur sendirian. Sedangkan Asty sudah bangun dan saat ini ia tengah menikmati salad buah di mini bar rumahnya. Entah kenapa saat bangun tidur ia sangat menginginkan memakan salad buah yang menyegarkan, tanpa membangunkan Qenan yang tampak sangat kelelahan ia meminta seorang asisten rumah tangga untuk membelikannya sekotak salad buah. Untungnya penjual salad buah tidaklah jauh dari kediamannya.
Sementara di dalam kamar, Qenan meraba-raba tempat dimana Asty tertidur tetapi ia tidak menemukan tubuh Asty. Qenan terkejut dan seketika membuka matanya mencari keberadaan Asty di setiap sudut kamarnya tapi ia tak kunjung menemukan keberadaan Asty.
Mimpi buruk membuatnya semakin panik karena dalam mimpinya ia kehilangan Asty. Qenan segera turun menuju ruang keluarga, tetapi ia tidak menemukan Asty kemudian ia pergi ke taman juga tidak menemukannya. Akhirnya ia bertanya kepada salah satu asisten rumah tangganya dan ternyata ia melihat Asty tengah asyik menyantap salad buah tanpa menghiraukan apapun.
"Kamu lagi cari apa?" Tanya Asty dengan polosnya, ia tidak tahu jika Qenan tengah mencarinya padahal sejak tadi ia melihat Qenan mondar mandir dari kejauhan.
"Dasar bocil, aku dari tadi cari-cari kamu. Kenapa nggak manggil aku tadi, padahal kamu liat kan aku lewat." Ucap Qenan gemas pada istri kecilnya itu sambil mengacak rambutnya.
Asty hanya bisa nyengir kuda memperlihatkan barisan rapih giginya tanpa merasa bersalah ia terus menyantap salad buahnya sampai habis tak bersisa.
"Maafkan aku sayang, aku terlalu serius menghabiskan salad buah ini." Jawab Asty dengan bibir berlumuran mayonaise.
Qenan tersenyum melihat istrinya yang begitu lahap memakan salad buah hingga tak menyadari jika bibirnya kini sudah belepotan. Qenan pergi ke mandi setelah mengelap bibir Asty yang belepotan dan mencium kening sang istri.
"Kalo udah habis langsung mandi, aku punya kejutan untukmu." Teriak Qenan setelah beberapa langkah meninggalkan Asty.
"Siap, laksanakan.." Jawab Asty mengacungkan jempolnya.
Sebenarnya Qenan merasa bingung bagaimana caranya memberitahu Asty jika ia besok akan pergi ke luar kota, ia tidak sanggup membayangkan wajah Asty yang tampak sedih saat akan di tinggalkan untuk yang pertama kalinya.
Qenan terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya, ia benar-benar bingung memikirkan cara apa agar ia bisa memberitahu Asty akan kepergiannya selama beberapa hari ke depan.
Suara pintu terbuka mengejutkan lamunan Qenan, ia mencoba untuk bersikap biasa saja seolah tidak ada yang sedang di tutupi nya. Akan tetapi insting seorang wanita selalu merasakan adanya hal aneh pada lelakinya, Asty berjalan menuju Qenan yang tengah merapikan rambutnya di depan cermin.
__ADS_1
"Ada apa, sayang. Kamu tampak mencemaskan sesuatu?" Tanya Asty menatap wajah gugup Qenan.
Qenan tersenyum memegangi kedua pipi Asty yang mulai terlihat berisi. Ia memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya pada Asty.
"Maafkan aku, sayang. Besok aku harus pergi ke luar kota untuk mengurus cabang perusahaan ku di sana." Ucap Qenan memegang kedua tangan Asty.
Sejenak Asty terdiam menatap wajah Qenan dan mengusap pipinya. Jawaban tak terduga keluar dari mulut Asty, awalnya Qenan mengira jika Asty akan merengek dan meminta untuk tidak di tinggalkan.
Namun Asty malah tersenyum dan mengizinkan Qenan untuk pergi meninggalkannya. Hal tersebut malah membuat Qenan menjadi curiga jika Asty menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sayang, kenapa kau tidak mencegahku atau menangisi ku agar tidak pergi meninggalkan mu?" Tanya Qenan penuh selidik menatap kedua bola mata Asty.
Asty tertawa mendengar pertanyaan konyol suaminya itu, dengan santai Asty menjawab pertanyaan Qenan.
"Aku sudah tidak bekerja dan sedang mengandung anak kita. Jika aku selalu melarang dan mengganggu pekerjaanmu, darimana kita akan punya uang dan bagaimana nanti jika anak kita sudah lahir, mau di beri makan apa? Cinta saja tidak cukup sayang." Jelas Asty sambil tertawa.
Kemudian Qenan segera menarik Asty dan membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Berulang kali ia mendaratkan ciuman di kening Asty yang menempel di dadanya seraya terus mengucapkan terimakasih karena telah mengerti akan dirinya dan pekerjaannya.
"Sayang, aku belum mandi lho masa di cium-cium terus." Ucap Asty mendorong tubuh Qenan yang menempel padanya.
"Aku tidak peduli." Jawab Qenan mengeratkan pelukannya.
.
.
__ADS_1
.
Malam pun tiba, Qenan dan Asty kini tengah berada di sebuah restoran bintang 5 Qenan memilih rooftop sebagai tempat makan malamnya kali ini yang menurut Qenan akan menjadi sebuah makan malam yang sangat romantis dan tak akan terlupakan dengan ribuan bintang sebagai cahaya tambahan dan dekorasi bunga mawar yang menambah kesan romantis antara mereka berdua.
Malam itu akan menjadi malam perpisahan mereka karena besok Qenan akan pergi ke luar kota mengurus bisnis propertinya.
Qenan dan Asty menikmati makan malam romantisnya, pandangan Qenan terus tertuju pada Asty yang tampak sangat berbeda malam hari ini dengan riasan wajah yang sederhana menambah kesan manis pada diri Asty.
Semilir angin yang berhembus menerpa helaian rambut Asty yang sedikit terurai membuatnya semakin terlihat sempurna.
"Rasanya aku tidak ingin meninggalkan istriku yang cantik ini, aku malas sekali untuk pergi esok hari." Seru Qenan menggenggam erat tangan Asty.
"Ingat masa depan anak kita, sayang." Jawab Asty singkat menatap tajam ke arah Qenan sambil tersenyum.
Setelah selesai makan malam, Qenan mengajak Asty berdansa di bawah taburan bintang di langit malam yang indah. Qenan tidak ingin melewatkan sisa waktunya bersama Asty. Tangan kekar Qenan memeluk pinggang Asty yang sudah sedikit melebar tetapi Qenan tidak mempermasalahkannya, sedangkan tangan Asty memegang pundak Qenan dengan lembut.
"Malam ini hanya milik kita berdua." Bisik Qenan di telinga Asty yang tampak menikmati alunan musik romantis di malam indah itu.
Sementara di kediaman pribadi Arka, terlihat Arka tengah duduk di balkon menyesap rokoknya dan menghembuskan kepulan asap ke langit yang tengah bertaburan bintang seolah merusak acara bahagianya Qenan.
Tidak hanya Qenan dan Asty yang tengah berbahagia, rupanya Arka juga tengah bahagia karena rencana yang telah di susunnya dengan rapi beberapa hari yang lalu akan di mulai di jalankan esok hari ketika Qenan telah pergi meninggalkan Asty.
Walau Arka telah melepaskan Asty sebagai satu-satunya orang yang di cintainya, tetapi ia tidak akan pernah membiarkan Asty dan Qenan berbahagia selamanya, ia akan menghalalkan segala cara agar Qenan dan Asty selalu menderita.
Seulas senyuman terukir di wajah Arka, ia sudah membayangkan saat Asty akan terus-menerus merasakan penderitaan yang begitu menyakitkan. Arka ingin Asty merasakan penderitaan lebih dari apa yang selama ini ia rasakan.
__ADS_1
"Telah lama aku menunggu hari itu tiba, dan akhirnya sudah di depan mataku." Seru Arka menatap jauh ke depan.