Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
Di sebuah Ruangan


__ADS_3

Indah pun berjalan menuju ruangan karyawan sesuai apa yang diperintahkan kepala kedai padanya.


Sambil berjalan, ia terus memikirkan siapa karyawan baru itu. Ia yakin karyawan itu adalah seorang pria, karena sangat jelas dari namanya yaitu Fattan adalah nama yang dipakai oleh kebanyakan pria.


"Aku harap dia orang baik," gumam Indah sedikit cemas.


Saat ia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut, pandangannya langsung tertuju pada  seorang pria yang terduduk di salah satu kursi ruangan tersebut. Pria itu juga reflek menatap ke arah Indah saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Sehingga mereka berdua saling bertatap mata.


Bukan hanya itu, mereka berdua juga terkejut saat melihat satu sama lain.


"Bukannya kau wanita tadi?" Tanya Fattan menatap heran.


Tidak ada jawaban dari mulut Indah atas pertanyaan yang dilontarkan Fattan padanya. Ia masih terkejut dan tidak percaya dengan karyawan baru itu adalah pria yang telah menyelamatkannya masa depannya tadi pagi dari rekan kerjanya dulu.


"Di...dia satu kerjaan denganku?" Tanya Indah dalam hati.


"Apa ini nyata?" Tambahnya.


Melihat Indah yang terus terdiam sambil membuka mulutnya (mangap), Fattan berjalan ke arahnya sambil terus memanggil dan melambai-lambaikan tangannya.


"Hei.... Hei.... Kau baik-baik saja?" Tanya Fattan cemas.


Hingga jarak Indah dan Fattan kini saling berhadapan membuat wanita itu baru tersadar dari lamunannya.


"Astaga, maafkan aku melamun," ucap Indah terkejut.


"Kau sudah baikan?" Tanya Fattan penasaran.


Indah menatap ke arah Fattan. Karena Fattan ingin mendengar jawaban Indah atas Insiden tadi, ia terus menatap ke arah Indah, sehingga hal itu justru membuat Indah kembali memalingkan wajahnya.


"Aku baik-baik saja," ucapnya pelan.


"Ahhh, kenapa aku tidak kuat terus menatap wajahnya?" Gumamnya.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," ucap Fattan tersenyum manis ke arah Indah.


Indah pun sekilas kembali menatap ke arah Fattan, namun lagi-lagi ia memalingkan wajahnya.


"Ah, kenapa ini? Lagi-lagi aku tidak tahan untuk menatap wajahnya," gumam Indah.


Ia juga langsung memegang dadanya dan berkata bahwa detak jantungnya tiba-tiba bedegup cukup kencang.


Namun, tiba-tiba Fattan meninggalkan Indah yang tengah berdiri di depan pintu, untuk kembali duduk di kursi. Hal itu membuat jantung Indah kembali berdegup sangat kencang dan ia bertanya-tanya dalam hatinya.


"Eh, kenapa dia pergi begitu saja? Kenapa tidak bertanya lagi padaku?"


"Apa dia membenciku? Karena sudah merepotkannya?"

__ADS_1


"Bagaimana ini, aku merasa sangat bersalah telah merepotkannya."


Indah cemas, dan fikirannya selalu di landa dengan teori-teori pria itu yang langsung meninggalkan dirinya.


Ia pun kembali menatap ke arah Fattan yang tengah terduduk di kursi itu.


"Tapi dari raut wajahnya, ia seperti sedang tidak marah," gumam Indah.


"Tidak tidak, bisa saja dia menyembunyikan rasa kesal dan amarahnya dengan senyuman manis itu."


"Sungguh pria yang luar biasa, menyembunyikan rasa kesalnya dengan senyuman manis," pungkasnya kagum.


Karena ia juga penasaran perasaan Fattan yang sebenernya, ia langsung berjalan duduk menghampiri pria itu dan duduk di kursi kosong sampingnya walaupun terhalang satu kursi kosong di tengah mereka berdua.


Saat duduk, Indah kembali mendapatkan senyuman manis dari Fattan, hal itu lagi-lagi membuat hatinya luluh.


"Tidak, kenapa kau tersenyum ke arahku lagi?! Aku tidak kuat menatapnya," gumam Indah sambil duduk.


Selama mereka berdua duduk, satu patah kata pun tidak ada yang keluar dari mulut mereka. Hampir 10 menit, mereka berdua hanya terdiam dengan aktivitasnya masing-masing. Fattan yang terus menatap ke seluruh ruangan karena memang hobinya adalah mengamati lokasi sekitarnya, sedangkan Indah selalu mencuri-curi pandangan untuk menatap pria di sampingnya.


Indah terus mencuri pandangan untuk menatap Fattan, ia tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu, hanya saja ia merasa penasaran dengan bentuk wajah Fattan yang selalu membuat hatinya berdegup kencang.


Suasana semakin hening, Indah juga semakin canggung berdiam diri dengan pria yang membuat hatinya luluh dalam ruangan tersebut. Dalam batinnya, ia ingin sekali mengajak ngobrol Fattan, hanya saja ia tidak tahu hal apa yang harus ia katakan untuk membuat sebuah percakapan.


Lama ia berfikir untuk mencari kata-kata, akhirnya ia mendapatkan kata-kata untuk memulai pembicaraan.


"Terima kasih," ucap Indah tersipu malu dengan kepala yang menunduk.


"Terima kasih untuk hal apa?" Tanya Fattan bingung.


"Kau telah menyelamatkan hidupku."


"Haha, bukan apa-apa," ucap Fattan tersenyum manis.


"Maksudmu?"


Indah bingung dengan jawaban Fattan barusan. Ia berfikir kenapa pria di sampingnya menganggap sepele penyelamatan dirinya. Karena penasaran ia kembali bertanya kenapa ia bisa menyelamatkan dirinya saat itu.


Fattan pun tersenyum kembali ke arah Indah. Ia berkata, dirinya hanya kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat Indah yang sedang terikat yang hampir di serang oleh kedua orang asing itu.


"Maksudku itu, kau menyelamatkanku saat itu," ucap Indah lantang.


"Tapi aku tidak melakukan apapu," ucap Fattan.


"Hah? Bukannya kau mengancam akan membunuh mereka atau semacamnya?" Tanya Indah bingung.


Fattan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berkata saat itu, ia juga bingung harus melakukan apa untuk menghadapi mereka berdua terhadap Indah.

__ADS_1


"Hah?"


Mendengar penjelasan langsung dari Fattan, Indah kecewa terhadap dirinya sendiri.


"Apa ekspetasiku terlalu berlebihan? Sampai-sampai aku menganggapnya sebagai penyelamatku," gumam Indah kecewa.


"Tapi kenyataannya memang dia menyelamatkan hidupku walaupun itu tidak sengaja sekalipun," tambahnya dalam hati.


Indah kembali menatap ke arah Fattan, walaupun kedua bola matanya selalu bergerak ke arah lain.


"Walaupun begitu, aku berterima kasih kau telah menyelamatkan hidupku."


Fattan membalasas ucapan Indah dengan tersenyum manis.


Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Pak Ahmad dan kedua karyawannya yaitu Mira dan Dinda masuk ke dalam ruangan.


"Apa kalian menunggu lama?" Tanya pak Ahmad sambil berjalan ke arah mereka berduan dan langsung duduk di kursi kosong.


Diikuti oleh Mira dan Dinda yang duduk juga di kursi yang masih tersedia.


"Tidak pak," ucap Indah atas pertanyaan pak Ahmad.


Sementara itu Fattan menjawab pertanyaan pak Ahmad dengan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Baguslah kalau begitu."


Pak Ahmad pun kembali bertanya pada Indah dan Fattan.


"Apakah kalian berdua telah berkenalan satu sama lain?"


Indah terdiam dengan pertanyaan pak Ahmad barusan. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


Walaupun ia sudah tahu nama pria di sampingnya itu, Indah merasa bahwa dirinya belum berkenalan secara face to face dengan Fattan.


Namun di sisi lain, Fattan berkata bahwa dirinya belum mengenal nama wanita di sampingnya itu.


To Be Continued.......


...----------------...


...JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL DENGAN JUDUL...


..."MENGEJAR CINTA YANG SALAH"...


...DENGAN CARA LIKE, COMMENT, SHARE, DAN TAMBAHKAN FAVORIT UNTUK MENDAPATKAN UPDATE BAB TERBARU....


...DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGIKU...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


...----------------...


__ADS_2