
Matahari telah menghilang di telan gelapnya malam, semua mata mulai terpejam untuk sekedar melepas penatnya aktifitas di hari itu. Tapi tidak dengan seorang anak perempuan yang satu ini, dia tidak dapat memejamkan kedua matanya padahal rasa lelah sudah menghampirinya dan memintanya untuk terlelap.
"ish.. kenapa nih mata gak bisa di ajak merem sih." Asty mengusap kedua matanya.
Di lihatnya jam yang setia menempel di dinding kamar yang berwarna biru langit itu.
"duuhhh udah jam 10 malem lagi, bisa-bisa besok sekolah kesiangan deh." decak Asty kesal.
Kembali membaringkan tubuh gempal nya di tempat tidur tetapi tetap saja mata nya tidak bisa terpejam. Miring kanan, miring kiri, wajah di tutup bantal sampai tengkurap pun tetap tidak bisa tidur.
" hadeeh.. ini gimana caranya bisa merem." Asty memanyunkan bibir kecil nya dan berfikir. Tiba-tiba muncul sebuah ide di otaknya.
"ahaaa... makan bolu pisang dulu kayak nya bisa tidur nyenyak deh." membayangkan nya saja sudah membuat cacing di perut nya menari-nari.
Asty bergegas membuka pintu kamarnya, suasana rumah sangat sunyi karena ibu dan kakaknya sudah terlelap.
Sebenarnya Asty bukan anak yang penakut, tapi entah kenapa sering sekali kena kejahilan teman-temannya.
Di tengah gelapnya ruangan, Asty melangkahkan kaki kecilnya tanpa suara sedikit pun agar tidak membangunkan ibu dan kakaknya.
Sesampainya di dapur ia langsung menyantap beberapa potong bolu pisang kesukaannya.
"hmmm enaknya.." gumam Asty sambil berjongkok dengan mulut dipenuhi bolu pisang.
Mendengar ada suara di dapur membuat bu Tatum terbangun dari tidurnya dan segera menuju dapur, betapa terkejutnya bu Tatum melihat Asty sedang berjongkok dan mulut penuh dengan bolu pisang.
"ya ampun Asty.... kenapa kamu belum tidur." tanya bu Tatum kaget.
"Aku ga bisa tidur bu." Asty menjawab dengan mulut penuh dengan bolu pisang.
"ya sudah ayo di habiskan dulu bolu nya, jgn lupa minum air putih terus kamu masuk kamar. baca doa dulu biar bisa tidur." bu Tatum memerintah sambil sesekali menguap karena sudah sangat mengantuk.
"baik bu.." jawab Asty kemudian ia menuruti kata ibu nya. Tak lama setelah berdoa, Asty pun tertidur dengan nyenyak.
...****************...
Sinar matahari mulai menembus jendela kamar Asty tapi itu membuatnya bertambah nyenyak karena kehangatannya..
"Asty..... kamu mau sekolah ngga sih." teriak Laras menarik selimut Asty dan membuangnya ke lantai.
"apaan sih kak, lagi enak-enaknya tidur juga." Asty mendudukan diri di atas tempat tidur sambil mengucek-ngucek mata mengatur pandangannya.
"bangun wouy ini udah setengah 7." Laras berkacak pinggang berteriak pada Asty.
"apa, setengah 7? kenapa ga bangunin aku dari tadi kak" Asty memelototkan kedua matanya melihat jam.
"kakak udah bangunin kamu dari tadi, kamunya gak mau bangun." jelas Laras melihat adiknya yang kocar-kacir mengambil handuk lalu mandi.
Setelah semua nya beres, Asty langsung bergegas menggendong tas ranselnya kemudian buru-buru keluar kamar.
"eh Asty sarapan dulu." seru bu Tatum yang tengah sarapan.
__ADS_1
"nggak bu, udah mepet nih waktunya." jawab Asty setelah meminum segelas susu putih kesukaannya lalu menyalami ibunya.
"hati-hati..." teriak bu Tatum
Teriakan bu Tatum tak mendapat jawaban karena Waktu sudah menunjukan pukul 7 kurang 5 menit, Asty langsung berlari sekencang-kencangnya sedangkan Laras sudah berangkat setelah membangunkan Asty tadi.
"sedikit lagi nyampe.." ujar Asty dengan napas terengah-engah menatap jelas gerbang sekolahnya.
Brughh...
Tiba-tiba Asty tersungkur ke tanah setelah kakinya tersandung oleh sesuatu yang melintang di jalan yang ia lewati.
"awww..." pekik Asty kesakitan memegani lututnya yang berdarah kerena ada pecahan kaca yang tertancap di lututnya.
Terdengar suara tawa yang sangat puas dari belakang Asty, membuat Asty menoleh ke sumber suara.
"Nuri.." pekik Asty kesal.
Ternyata Nuri sengaja menjulurkan kakinya ketika Asty hendak melewatinya. Saking terburu-burunya Asty tidak melihat ke sekitarnya.
"hahaha... rasain lo, makanya kalo jalan yang bener." Nuri merasa sangat puas melihat Asty terjatuh.
"ibu..." batin Asty sambil meneteskan air mata menahan rasa sakitnya..
Asty menyeka air matanya dan mencoba bangkit, namun begitu sulit karena sakit yang teramat sangat di rasakan Asty di tambah lagi rasa lemas yang di rasakan karena tidak sarapan dan langsung berlari dari rumah ke sekolah tanpa berhenti.
Ketika berusaha untuk bangkit, tiba-tiba ada sebuah tangan yang kecil namun terlihat kokoh dan lembut terulur di hadapan Asty. Ia hendak meraihnya karena memang ia kesulitan untuk membawa tubuhnya bangkit, di lihatnya pemilik tangan tersebut.
"gak usah, aku bisa sendiri." Asty menepis tangan Andri dan berusaha bangkit sendiri namun tidak bisa.
"udah deh, gak usah sok kuat." seru Andri meraih tangan Asty dan membantunya bangun.
"darah lo keluar banyak banget, gue bantu lo ke UKS.." tambah Andri sambil melingkarkan tangan Asty ke lehernya.
Tanpa menghiraukan Nuri, mereka pergi menuju UKS agar segera mendapat pertolongan.
"ahhhh.. sial, kenapa ada Andri sih. selalu aja nolongin anak gembel itu." pekik Nuri kesal mengacak rambutnya.
"iya tuh si Andri kenapa sih nolongin terus dia. tenang Nuri, kita masih banyak cara lain buat ngerjain dia." ujar Dinar dengan senyum jahatnya.
"keterlaluan banget kalian.. udah deh berhenti, kalian tuh kenapa sih selalu ajah jahilin si Asty. padahal dia kan gak pernah bikin masalah sama kalian. Coba kalo kalian ada di posisi dia, gimana perasaan kalian?" Tina yang selama ini hanya diam sudah merasa tidak tahan dengan sikap kedua sahabatnya itu.
"mulai sekarang aku gak mau lagi temenan sama kalian yang hatinya pada busuk." tambah Tina beranjak meninggalkan Nuri dan Dinar.
"udah sana pergi lo, gue juga gak mau temenan lagi sama lo." teriakan Nuri tak di hiraukan oleh Tina.
Sementara Andri dan Asty telah sampai di UKS. Andri langsung membaringkan Asty di brankar dan segera mendapat pengobatan.
Wajah Asty semakin pucat, keringat terus keluar dari seluruh tubuhnya, pandangannya semakin kabur ketika melihat darah yang tengah di bersihkan dari lututnya.
Semakin kabur dan akhirnya berubah menjadi gelap, Asty tak sadarkan diri setelah menahan rasa sakitnya..
__ADS_1
"Asty.. Asty..." teriakan Andri tak mendapat respon apapun.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Tina masuk dengan raut wajah penuh penyesalan.
"ngapain lo kesini?" tanya Andri ketus, tangan nya tak henti menyodorkan minyak kayu putih ke arah hidung Asty berharap segera sadar.
"gue ke sini mau minta maaf sama Asty." jawab Tina menunduk.
"setelah apa yang kalian lakuin ke Asty lo mau minta maaf. lo kira dengan lo minta maaf bisa balikin keadaan hah?" teriak Andri penuh amarah melihat keadaan Asty yang tak kunjung sadarkan diri.
Tina pun memundurkan langkahnya penuh rasa takut dan memilih untuk menunggu di luar.
Mendengar kegaduhan yang terjadi membuat Asty terusik dan mengerejapkan matanya. Samar-samar terlihat sebuah tangan yang memegangi botol kecil minyak yang sedikit menyegarkan badannya berada tepat di hadapannya.
"Andri.." pekik Asty menebak pemilik tangan itu karena sudah tidak asing dengan suaranya.
"Asty, syukurlah kamu udah sadar." seru Andri menatap wajah Asty dengan senyum bahagianya.
"kamu?" tanya Asty heran.
"biasanya kalo ngomong lo gue kok sekarang kamu, apa aku salah denger ya." batin Asty.
"hmm maksud gue syukur kalo lo udah sadar, jadi gue gak usah nungguin lo lagi di sini." seru Andri gugup. "eh iya nih ada si Tina katanya mau minta maaf sama lo." tambah Andri mengalihkan pembicaraan.
Tina yang sejak tadi berdiri di depan pintu pun masuk menghampiri Asty.
"Asty, aku minta maaf yaa. dari dulu juga aku gak suka sama Nuri yang selalu jahilin kamu, tapi tiap aku ingetin dia ga pernah denger. maaf yaa Asty kamu jadi gini sekarang." ujar Tina melihat kondisi Asty yang terbaring di ranjang UKS.
"ngga apa-apa Tina, sebelum kamu minta maaf udah aku maafin kok. semua teman yang suka jahilin aku juga udah aku maafin, lagian buat apa dendam, yang ada cuma nyiksa diri sendiri aja." jelas Asty melengkungkan bibirnya menciptakan senyuman yang menenangkan setiap jiwa yang melihatnya.
"bener-bener lo itu udah kayak malaikat, Asty." batin Andri tersenyum melihat Asty.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mulai ada rasa khawatir, kagum dan.... apa lagi yang akan terjadi pada Andri dan Asty yaaa...
See you next episode 😉
__ADS_1