
Di ruang kelas, Toby memperhatikan Vian dan Asty belum masuk kelas. Ia mengira bahwa Vian sedang berusaha menjelaskan permasalahan kemarin.
"pada kemana tuh dua bocah. hah, paling juga lagi pacaran. nasib gue yang masih jomblo, sendirian terus." gumam Toby bersandar di bangkunya.
Hari itu kebetulan guru tidak masuk, hanya memberikan tugas saja. Ketika mengerjakan tugas, tiba-tiba perasaan Toby tidak enak mengingat Vian belum juga kembali.
"lagi pada ngapain sih tuh bocah, gue jadi penasaran."
Toby segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan buku tugas dan alat tulisnya begitu saja.
Toby melangkah menelusuri tiap koridor sekolah namun tak juga melihat tanda-tanda adanya Vian dan Asty.
Sementara Asty terus mencoba menyadarkan Vian yang seperti orang kerasukan itu seraya menenangkan dirinya yang begitu ketakutan ketika sebuah pisau kecil terus meliuk-liuk di wajah dan lehernya.
"lo gak pernah tau kalo selama ini hidup gue kesepian. gue gak ada orang tua, hidup gue begitu membosankan sampai akhirnya bang Haikal nantang gue buat deketin lo buat buktiin kalo gue emang jago naklukin hati cewek." ucap Vian memainkan pisau kecilnya di wajah Asty.
Asty hanya diam mendengarkan semua ucapan Vian sambil menahan rasa takutnya, karena hanya itu yang bisa Asty lakukan.
"sampai di satu waktu gue liat senyuman lo yang begitu tulus bikin hati gue hangat dan nyaman, gue bener-bener jatuh cinta. Awalnya cuma buat iseng tapi gue malah cinta beneran sama lo, haha. tapi gara-gara si cewek gatel itu semuanya hancur dan lo yang gak pernah mau denger penjelasan gue, pergi gitu ajah ninggalin hati gue yang udah terluka dan lo nambahin luka itu. LO TAU ITU NGGAK."
Vian yang awalnya bercerita dengan suara yang sangat lembut berubah dengan suara teriakan, menegaskan bahwa ia begitu terluka dalam kehidupannya.
"maafin gue Alvian, gue gak ada maksud buat nyakitin lo. gue mohon lepasin gue." ucap Asty meneteskan air matanya ikut merasakan sakit yang di rasakan Vian.
"cup .. cup .. cup .. jangan nangis sayang, gue gak rela liat lo netesin air mata kayak gini. lebih baik kita mati biar kita bisa terus bersama di dunia selanjutnya."
Vian menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Asty kemudian mengusap air mata yang mengalir di wajahnya.
"nggak Vian, itu bukan jalan keluar dari masalah lo. Sadar Alvian, sadar. gue tau ini bukan lo." teriak Asty berharap bisa menyadarkan Vian.
Namun teriakan Asty tidak bisa menyadarkan Vian yang sudah di buta kan oleh emosinya.
__ADS_1
"berteriak lah.. tak ada yang mendengar, anak-anak sudah berada di kelasnya masing-masing. Tempat kita berada jauh dari kelas mereka." ucap Vian tertawa melihat ke sekitarnya.
Asty berusaha tenang dan mencari celah saat Vian lengah agar bisa lepas darinya.
"Eh Toby tolongin gue." teriak Asty menatap lurus ke belakang Vian.
Vian terkejut mendengar teriakan Asty, dalam benaknya kenapa Toby bisa menemukannya, saat itu pula Vian langsung menengok ke arah belakangnya.
Ketika Vian menengok, kesempatan Asty untuk kabur dengan menginjak kaki Vian dengan sekuat tenaganya membuat Vian melepaskan tangannya yang sedari tadi memegang pisau untuk menahan Asty pergi.
"aduh.. duh.." Vian meringis memegangi kakinya yang kesakitan karena di injak oleh Asty.
Melihat Vian tengah kesakitan saat itu pula ada kesempatan untuknya kabur. dengan sisa tenaga yang di milikinya Asty berlari meninggalkan Vian berharap bisa menemukan bantuan.
"berlari lah sebisa mungkin, aku tetap akan menemukanmu kembali." ucap Vian dengan santainya berjalan karena ia tahu jika Asty tidak begitu pandai berlari.
Asty berlari tanpa henti dengan sesekali melihat ke belakangnya walau jarak antara dirinya dengan Vian cukup jauh, tapi Vian pasti bisa mengejar dengan kaki jenjang nya.
"aduh.. " Asty meringis kesakitan memegangi kepalanya.
"ngapain lari-lari, lagi ngikutin film India yaa..?" tanya Toby yang badannya di tabrak Asty sedikit meledek.
Mendengar suara yang tidak asing lagi baginya membuat Asty langsung bangkit dan bersembunyi di balik badan besarnya Toby.
"Toby tolongin gue, Vian bawa pisau mau bunuh gue katanya." pinta Asty memegang baju Toby dengan erat sambil mengintip keberadaan Vian.
Asty sedikit bernafas lega ketika ia benar-benar bertemu Toby, padahal tadi dia hanya menipu Vian agar menoleh dan membuatnya lengah agar ia bisa melarikan diri.
"apa, Vian mau bunuh lo? kerasukan setan apa dia." ucap Toby heran menatap ke arah Vian yang terus berjalan mendekatinya.
Kini Vian menghentikan langkahnya tepat di hadapan Toby yang sedang menutupi keberadaan Asty.
__ADS_1
"minggir lo, gue mau bunuh dia sekarang juga." seru Vian mengacungkan pisau kecilnya.
"ya ampun bro, nggak gini juga cara selesain masalah. cinta gak harus memiliki bro." ucap Toby mengangkat kedua tangan di depannya mengatur jarak dengan Vian yang terus melangkah mendekatinya.
"cih, tau apa lo soal cinta." Vian menyeringai.
Setelah memulihkan tenaganya yang habis di pakai berlari, Asty berpikir bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi, ia harus mencari bantuan sebelum jatuh korban.
"Toby, gue mau lari cari bantuan ya. Lo tolong halang Vian dulu." bisik Asty dan di jawab anggukan oleh Toby.
Tanpa menunggu lama, Asty langsung berlari sekuat tenaganya menuju ruang kepala sekolah.
"hey mau lari kemana lo." teriak Vian dan bersiap mengejar Asty.
Ketika ia berlari, Toby merentangkan kakinya di depan Vian dan membuatnya terjatuh. Pisau yang di pegang nya pun ikut terjatuh dan segera Toby menendangnya ke semak-semak yang berada di dekatnya.
"sorry bro, gue lakuin ini buat kebaikan lo juga." seru Toby mengulurkan tangannya membantu Vian untuk bangun.
"gue gak butuh bantuan lo." ucap Vian menepis tangan Toby kemudian ia berdiri tepat di hadapan Toby.
"tolong, tenangin diri lo. Cewek di dunia ini bukan cuma Asty bro, gue mohon jangan kayak gini." pinta Toby.
Vian yang biasanya selalu mendengar nasehat Toby, kini ia sama sekali tidak memperdulikannya.
"jangan ikut campur urusan gue, lo gak pernah ngerasain apa yang udah gue rasain. Lo gak berhak ngelarang apa yang mau gue lakuin." ucap Vian mengangkat kerah seragam Toby dengan kedua tangannya.
"pukul ajah gue bro, kalo itu bisa bikin lo tenang. Vian yang gue kenal gak lakuin hal sadis kayak gini, kita sering berantem, pukul-pukulan tapi gak sampe ada niat buat bunuh bro. sadar Vian, sadar." ucap Toby mencoba menyadarkan Vian.
"ah berisik lo." teriak Vian di ikuti dengan sebuah pukulan yang mendarat di wajah Toby hingga membuatnya terjatuh.
"gue peduli sama lo bro, lo jangan pernah ngerasa sendirian. gue bakalan terus jadi temen lo, kalo lo butuh bantuan bilang ajah ke gue. gue pasti bakalan bantuin lo, kita udah temenan lama bro." Toby terus berusaha menyadarkan Vian walau kini bibirnya sudah mengeluarkan cairan berwarna merah.
__ADS_1