
Sinar matahari sudah tak terlihat lagi ketika Vian membuka matanya, ia terbaring di atas tempat tidurnya seharian. Keningnya yang terikat oleh perban, masih terasa sakit. Akan tetapi sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan kehilangan Asty, kini Vian meneteskan air mata penyesalannya.
Ia merasa begitu menyesal karena telah memperlakukan Asty dengan kasar hingga membuatnya kembali kehilangan sosok gadis yang mampu membuatnya tersenyum. Hawa nafsu dan rasa takut kehilangan yang sangat berlebihan membuat Vian benar-benar kehilangan Asty untuk selamanya.
Walau tidak ada yang bisa memastikan jika Asty terjatuh ke dalam jurang, mereka sudah menyimpulkan bahwa Asty telah masuk ke dalam jurang yang dasarnya tidak terlihat itu. Tidak ada yang mampu untuk mencari jasad Asty karena dalamnya jurang membuat siapapun yang terjatuh akan hilang saat itu juga.
Vian terus terjaga dengan memegang gelang milik Asty, Vian masih berharap jika Asty masih bisa ia jumpai.
Perlahan Vian duduk bersandar di tempat tidurnya, menatap tangannya yang terpasang selang infus dengan tatapan yang sendu. Ia membayangkan jika Asty menemaninya kala ia hanya terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
"Dulu aku menemani mu saat kau terbaring di brankar UKS, kenapa sekarang kau tidak menemaniku di sini." lirih Vian tanpa terasa air matanya menetes.
Rasa sesal terus menghantui Vian, sudah tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidupnya kembali.
Setiap hari Vian selalu mengurung diri di dalam kamarnya, bukan hanya kehilangan semangat untuk terus hidup, ia juga kehilangan wibawanya. Perusahaan yang di bangunnya dengan penuh ambisi kini berada di ambang kehancuran, melihat hal itu Kiara datang menyusul kakaknya ke vila.
"Tidak, aku tidak mau kembali. Aku ingin tetap di sini menemani Asty." Ucap Vian yang berdiri menatap ke luar lewat jendela kamarnya.
Sebagai adik, Kiara terus berusaha membujuk Vian karena hanya Vian yang mampu membuat perusahaan kembali berdiri tegak. Ayahnya saat ini sedang sakit, usianya yang sudah tidak muda lagi hanya bisa mengharapkan Vian kembali.
Vian sebenarnya sangat menyayangi keluarga barunya, walau hanya ibu sambung tetapi Vian sudah menganggap sebagai ibunya sendiri karena kasih sayang yang di berikan nya pada Vian.
Begitupun dengan ayahnya, semenjak bertemu ibu sambungnya sikap ayah berubah menjadi lebih lembut lagi padanya. Mendengar sang ayah sakit keras, Vian akhirnya memilih untuk kembali memimpin perusahaan dan berjanji akan mengembalikan kejayaan perusahaan demi sang ayah.
***
Satu bulan berlalu sejak kepergian Asty, Vian perlahan mulai melupakan semua tentang Asty tetapi tidak dengan Qenan. Ia semakin kehilangan nafsu makannya sejak beberapa hari terakhir, tubuhnya yang proporsional kini terlihat lebih kurus.
"Qen, ayo kita makan siang bersama." ajak bu Rani pada Qenan yang masih fokus pada laptopnya.
"Mama duluan ajah, nanti aku nyusul." jawab Qenan tanpa mengalihkan pandangannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu menghentikan obrolan ibu dan anak tersebut.
"Iya, masuk." teriak Qenan.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, terlihat seorang gadis cantik memakai kemeja lengan panjang dan rok selutut dengan sepatu hak tingginya membuat kaki jenjangnya semakin indah di pandang, rambut yang di cepol ke atas, mata sipitnya di hiasi dengan sebuah kacamata membuatnya terlihat cantik walau dalam kesederhanaan.
"Asty.." gumam bu Rani melihat gadis tersebut.
"Maaf bu, nama saya Dita. Saya sekretaris baru pak Qenan." Ucapnya menundukkan kepalanya penuh hormat.
"Mama ini apa-apaan sih, masa dia di samain sama Asty. Di dunia ini gak ada yang bisa menggantikan Asty, ma." Seru Qenan membaca berkas yang di berikan Dita padanya.
Dita hanya tersenyum mendengar obrolan ibu dan anak yang satu ini. Setelah selesai, Dita pamit untuk makan siang terlebih dahulu, bu Rani terus menatap Dita sampai tubuhnya hilang di balik pintu.
"Udah ma, jangan di pikirin terus. Dia bukan Asty, dia tampak feminim sedangkan Asty dia tomboy tapi-..." Ucapan Qenan terhenti saat menatap foto Asty di atas mejanya.
"Tapi dia cantik dan kamu sangat menyesal telah mengabaikannya, iya kan? Dah lah mama mau ikut makan siang sama Dita, kamu mau ikut ngga?" tanya bu Rani bersiap untuk keluar ruangan.
Qenan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang mama.
Bu Rani kesal pada Qenan karena sampai saat ini belum ada kabar tentang Asty. Tetapi ketika melihat Dita, bu Rani merasa banyak kemiripan diantara mereka berdua. Bu Rani memutuskan untuk mengikuti Dita menuju kantin dan sengaja duduk bersama Dita untuk mengobrol.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Bu Rani menatap Dita yang duduk di hadapannya.
"Sama kakak kamu?" tanya bu Rani mengingat Asty yang tinggal bersama kakaknya.
"Tidak bu, saya tinggal sendiri. Kebetulan saya anak tunggal." jawab Dita tersenyum.
"Oh maaf, saya kira kamu calon menantuku yang telah hilang selama ini, wajah kalian sangat mirip. Hiks.." seru bu Rani terisak.
Dita berpindah duduk di sebelah bu Rani dan mengusap pundaknya, berusaha menenangkan bu Rani. Tak lama kemudian Qenan datang menghampiri ibunya yang sedang mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Mama, kenapa mama menangis?" Tanya Qenan panik memegang tangan sang ibu, tetapi bu Rani hanya diam tak menghiraukan Qenan.
"Maaf pak, sepertinya beliau merindukan calon menantunya yang hilang." jawab Dita sopan karena bu Rani terus menangis dan tidak menjawab pertanyaan Qenan.
Qenan ikut terdiam mendengar ucapan Dita, tidak dapat di pungkiri lagi ia juga sangat merindukan kehadiran Asty. Sejak ia sembuh hingga saat ini, ia sama sekali belum mengucapkan terimakasih pada Asty yang telah menemaninya ketika ia tidak bisa melakukan apapun sendirian, hal itu membuatnya semakin merasa bersalah.
Namun rasa sedihnya ia tutupi karena tidak ingin terlihat lemah di depan para karyawannya, tetapi raut wajahnya sudah bisa mewakili rasa sedih dalam hatinya.
Qenan mencoba untuk selalu tenang dan berharap ada keajaiban untuknya.
__ADS_1
"Ma, ayo aku antar pulang. Mama harus banyak istirahat, sejak kepergian Asty, mama terlihat sangat lelah." ajak Qenan.
Bu Rani pun akhirnya bersedia di ajak pulang oleh Qenan, sementara Dita melanjutkan makan siangnya walau sudah hilang nafsu makannya setelah melihat bu Rani menangis. Tetapi ia tidak memiliki waktu lagi untuk mengisi tenaganya karena setelah ini, ia memiliki banyak pekerjaan.
Di hari pertama kerjanya ini, ia harus banyak menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.
.
Qenan sudah mengantar bu Rani ke rumahnya, ia kembali melajukan mobilnya ke kantor. Ketika dalam perjalanan menuju kantor, pandangannya tertuju pada Vian yang juga mengendarai mobilnya menuju rumahnya.
"Manusia itu.." geram Qenan menancap gas mengejar Vian hingga sampai di depan rumahnya.
Vian terkejut melihat Qenan menghampirinya dengan wajah memerah penuh dengan emosi.
BUGH...
Satu pukulan mendarat di wajah Vian membuatnya tersungkur ke jalan.
"Dimana kau sembunyikan Asty, hah?" Tanya Qenan menarik kerah kemeja yang dikenakan Vian hingga membuatnya berdiri di hadapan Qenan.
Para security di rumah Vian segera menghampiri tuanya yang tengah dalam cengkraman Qenan, tetapi Vian mengangkat tangannya sebagai kode agar tidak usah mendekatinya.
"Heh, kau masih mengharapkan dia kembali padamu?" tanya Vian menyeringai, seolah mengejek Qenan.
"Katakan padaku, dimana Asty sekarang." seru Qenan mengencangkan kepalan tangannya.
"Dia terjatuh ke jurang, jasadnya tidak di temukan. Hanya gelangnya saja yang di temukan para pengawal ku." seru Vian dengan santainya.
Seketika itu hati Qenan terasa remuk, harapannya untuk bisa hidup bahagia bersama Asty pupus saat itu juga. Qenan mendaratkan pukulannya kembali pada wajah Vian dan mendorongnya, saat itu muncullah seorang wanita dari dalam mobil Vian berjalan membantu Vian untuk bangun.
"Nih, aku berikan gelangnya untuk mu sebagai kenang-kenangan dari Asty." seru Vian menyerahkan gelang yang di simpannya di dalam mobil.
Setelah memberikan gelang pada Qenan, Vian pun masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan dengan gadis yang tadi bersamanya di dalam mobil. Terlihat tidak ada penyesalan sama sekali dalam dirinya setelah memisahkan Asty dengan Qenan, ia malah tampak bersenang-senang dengan gadis yang baru dia temui.
Qenan menggenggam erat gelang yang ada di tangannya, ia ingat betul jika gelang itu di beli Asty ketika mereka berjalan-jalan di taman.
Air mata Qenan pun jatuh membasahi bumi yang di pijaknya, ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan pada bu Rani tentang apa yang sudah terjadi pada Asty.
__ADS_1