Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 91


__ADS_3

Ketika melihat orang yang ia cintai meneteskan air mata, hati nya terasa perih. Seperti tersayat-sayat hingga akhirnya menjadi robek beberapa bagian. Qenan tidak tega meninggalkan istri kecilnya itu, walaupun di rumah ada bu Rani dan para pelayan. Tetapi tetap saja ia ingin selalu berada di samping istrinya, selalu memeluk dan membuatnya tenang.


"Kak, buruan berangkat sana. Katanya mau berangkat pagi-pagi." Ucap Asty melihat Qenan yang terus saja membelai lembut kepala nya.


"Aku tidak bisa meninggalkan mu sendirian, bagaimana kalau kamu ikut ke kantor denganku. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, cukup diam di dalam ruangan ku."


Qenan memutuskan untuk mengajak Asty ke kantornya, sebagai penyemangat kerjanya juga. Karena Qenan merasa jika hari-harinya terasa begitu bersemangat saat bersama dengan istri kecilnya itu.


Setelah berpamitan pada bu Rani akhirnya mereka berangkat bersama menuju kantor, awalnya bu Rani tidak mengizinkan Asty ikut ke kantor tetapi karena Qenan memaksa dengan alasan agar bisa segera menemui dokter setelah pekerjaannya selesai, sedangkan pak Bagas langsung saja menyetujui rencana Qenan karena melihat raut wajah Qenan yang begitu bersemangat.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang sama, Qenan mengemudikan mobilnya sambil sesekali memegang tangan Asty yang duduk di sebelahnya, seakan Qenan tidak ingin berpisah lagi dengan Asty. Waktu yang lalu sudah membuatnya begitu merasakan sakit yang teramat sangat dan Qenan tidak akan membiarkan suatu hal yang buruk terjadi lagi pada Asty.


Setengah jam perjalanan sudah mereka tempuh, dan saat ini mereka sudah sampai di kantor milik Qenan yang dimana dulu Asty pun pernah bekerja di sana. Dengan santainya Qenan berjalan memasuki gedung kantornya sambil memegang tangan Asty tanpa pernah sekalipun ia melepaskannya.


Para karyawan merasa heran dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat, bos besarnya bergandengan tangan begitu mesranya dengan sekretarisnya yang sudah lama tidak masuk kantor.


Asty berjalan dengan kepala yang di tundukan nya karena merasa malu menjadi pusat perhatian seluruh karyawan di kantor.


"Tegakkan kepalamu, saat ini kamu adalah istri dari pemilik gedung ini. Tidak akan ada yang berani macam-macam padamu." Ucap Qenan memegang kedua pipi Asty, menatapnya sambil tersenyum.


Asty tersenyum dan menganggukkan kepalanya merasa bahagia memiliki suami yang begitu pengertian dan menyayanginya.


Mendengar ucapan bos besarnya para karyawan tercengang, kebanyakan dari mereka tidak mempercayai apa yang telah mereka lihat secara langsung itu. Mereka menganggap jika ada yang tidak beres pada bosnya sehingga dengan tiba-tiba menjadikan Asty sebagai istrinya.

__ADS_1


Para karyawan mulai berbisik tentang apa yang telah mereka lihat, tetapi Qenan dan Asty terus melanjutkan langkahnya menuju ruangan Qenan, mereka memasuki elevator yang menuju langsung ke ruangan Qenan.


"Silahkan duduk istriku tercinta." Ajak Qenan mempersilahkan Asty untuk duduk di sebuah sofa yang berada di sudut ruangannya.


"Terimakasih, suamiku." Jawab Asty tersenyum ke arah Qenan yang berdiri tepat di sampingnya.


Jantung Qenan berdetak begitu kencang mendengar panggilan yang baru saja ia dengar langsung dari bibir Asty dengan senyuman yang begitu mempesona membuatnya ingin segera melahapnya dengan rakus, tetapi untuk kesekian kalinya Qenan harus bersabar karena Asty masih belum di nyatakan sembuh oleh dokter.


"Kau sudah berani menggodaku, ya.. Tapi aku masih bisa bersabar dan untuk menyemangati ku bekerja, bolehkah aku minta." Ucap Qenan meletakan telunjuknya ke pipi yang di dekatkan pada wajah Asty.


Asty yang memahami maksud Qenan segera berjinjit untuk mencium pipi Qenan dan segera berlari menuju sofa karena rasa malunya, sementara Qenan masih terpaku merasakan lembutnya bibir Asty yang menempel di pipi sebelah kanannya.


"Kak, udah buruan sana kerja." Seru Asty menyadarkan lamunan Qenan.


Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan senyuman Qenan, tetapi wajahnya masih tetap memancarkan sinar kebahagiaannya.


Suara langkah kaki dari balik pintu mengalihkan pandangan Asty dari majalahnya, kini pandangannya beralih pada seorang wanita yang memakai rok di atas lutut dengan pakaian yang tidak memperlihatkan satu sentimeter kelonggaran pun hingga membuatnya terlihat seperti tidak mengenakan pakaian.


Wanita itu adalah Tamara, sekretaris baru yang menggantikan posisi Asty. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Qenan dan memberikan berkas yang harus mendapat tanda tangan Qenan, mata lelaki yang melihatnya pasti akan tergoda. Tetapi tidak dengan Qenan, ia tetap fokus pada berkasnya walaupun Tamara sudah semakin mendekat hingga akan menempel pada Qenan.


Asty yang melihat pemandangan itu merasa geram walau suaminya tidak tergoda sedikitpun. Asty berjalan dengan tenang menuju meja kerja Qenan.


"Sorry mba, sekretaris baru di sini ya. Bisa sopan sedikit? Di sini sudah tersedia kursi buat anda duduk menunggu berkas yang sudah selesai di tandatangani." Ujar Asty memegang kursi yang berada di depan Qenan dengan santai.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum sinis ke arah Asty, seolah dalam fikirannya tengah meremehkan Asty yang terlihat tidak semenarik dirinya.


Pandangan Qenan hanya fokus pada berkas yang ada di hadapannya walau sebenarnya ia juga memperhatikan apa yang di lakukan oleh istrinya, dalam hatinya ia merasa senang karena melihat Asty yang tengah cemburu.


Tamara tidak menghiraukan ucapan Asty, ia malah semakin mendekati Qenan membuat Asty begitu geram ketika tangan Tamara sudah memegangi kursi kebesaran Qenan.


Hal yang mengejutkan tiba-tiba dilalukan oleh Asty, ia menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Qenan dan Qenan pun dengan senang hati memeluk sang istri, ia meletakan kepalanya di pundak Asty membuat Tamara semakin menatap dengan sinis.


"Apakah kamu tidak merasa malu menggoda suami orang di depan istrinya sendiri?" Sindir Asty menunjukan cincin yang sama dengan Qenan.


"Ini sudah saya tandatangani, silahkan lanjutkan pekerjaan mu dan jangan coba usik istri kecil saya. Dia sangat jago membuat wajah orang lain babak belur." Kata Qenan memberikan sebuah map pada Tamara dengan posisi Asty yang masih di pangkuannya.


Tamara berjalan meninggalkan ruangan Qenan dengan rasa kecewa dan dalam hatinya di penuhi dengan berbagai macam umpatan. Ia tidak percaya jika pria idaman seperti Qenan telah memiliki seorang istri yang terlihat lemah tetapi sangat sangar di balik wajah polosnya.


Sementara di dalam ruangan Qenan tengah menggoda Asty yang masih tertahan oleh kedua tangan kekar Qenan yang melingkar di pinggang Asty.


"Aku suka melihat kamu cemburu." Bisik Qenan tepat di telinga Asty.


Namun Asty mengelak tuduhan Qenan yang menganggapnya cemburu saat wanita lain mendekati suaminya itu.


"Tidak, aku tidak cemburu. Aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga dan cinta yang sudah susah payah aku kejar." Ujar Asty hendak beranjak dari pangkuan Qenan.


Tetapi tidak semudah yang di bayangkan Asty, tubuhnya masih tertahan kuat oleh kedua tangan Qenan.

__ADS_1


"Kau benar-benar menggoda ku lagi, istri ku." Seru Qenan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Asty.


__ADS_2