Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 98


__ADS_3

Malam yang panjang masih belum berakhir karena Qenan dan Asty begitu menikmati malam terakhir mereka sebelum esok hari mereka akan berpisah untuk beberapa hari ke depan dan Qenan akan di sibukkan oleh pekerjaan yang sudah menantinya di luar kota.


"Rasanya aku tak mau malam ini cepat berlalu, aku masih ingin berada di pelukanmu." Ucap Asty yang membenamkan wajahnya dalam pelukan Qenan.


Qenan mengeratkan pelukannya, ia juga merasakan hal yang sama. Jika hanya beberapa jam berpisah saja sudah membuatnya sangat merasa kehilangan, apalagi untuk beberapa hari ke depan, dunianya akan terasa hampa.


Kini mereka tengah berada di dalam kamar, Qenan tidak ingin jika Asty berlama-lama di rooftop karena ia tidak hanya membawa dirinya sendiri tetapi ia juga membawa bayi di dalam kandungannya, Qenan tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan menimpa orang-orang yang sangat di sayangi nya.


Asty yang sedari tadi meneteskan air mata kesedihannya di dalam pelukan Qenan, kini sudah terlelap dengan nyamannya setelah merasakan belaian lembut dari tangan Qenan.


Qenan terus membelai rambut Asty dengan lembutnya, menatap wajah teduhnya yang selalu membuat hatinya merasa nyaman. Malam ini ia tidak bisa tidur karena perasaannya yang tidak enak mengingat esok hari ia harus meninggalkan Asty di rumah hanya bersama dua orang asisten rumah tangga.


Qenan merasa jika hanya dua asisten rumah tangga pasti Asty juga masih akan membantu membereskan rumah walau sudah di larang, tetapi Asty tidak bisa diam ketika melihat rumah yang berantakan, Qenan memutuskan untuk menambah satu orang asisten rumah tangga lagi yang khusus untuk melayani kebutuhan Asty.


Malam kian larut, tetapi Qenan masih tetap terjaga dan terus memandangi wajah Asty yang tengah tertidur begitu nyaman di dalam dekapannya.


"Apakah besok malam kau akan tidur senyaman ini?" Gumam Qenan membelai rambut Asty.


***


Di pagi hari yang cerah Qenan masih terlelap karena semalaman ia tidak dapat memejamkan matanya karena terlalu mengkhawatirkan Asty. Sementara Asty sudah terlihat segar dengan memakai dress motif bunga-bunga menambah kesegaran mata siapa saja yang memandangnya.


Asty duduk di dekat Qenan yang tengah terlelap, jika semalam Qenan memandangi Asty yang tengah terlelap, kini giliran Asty yang memandang Qenan. Hatinya memang tidak rela jika harus berpisah dengan Qenan walau hanya sementara, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain karena ia tidak mungkin ikut ke luar kota bersama Qenan.

__ADS_1


Belaian lembut yang di berikan Asty membuat Qenan terbangun dan menyadari adanya Asty di sampingnya. Di raihnya tangan Asty dan segera memeluknya dengan erat, walau matanya masih terpejam ia sudah memahami jika Asty tengah berada di sampingnya.


"Bangun, sayang. Ini udah siang, nanti kamu bisa terlambat." Bisik Asty dengan penuh kasih sayang.


Qenan masih enggan untuk bangun dari tempat tidurnya dengan terus memeluk lengan Asty sambil tersenyum, hingga ide jahil pun datang pada Asty.


Jari-jari lentik Asty dengan cepatnya menggelitik perut Qenan hingga ke leher membuatnya segera bangun dan memeluk Asty agar berhenti membuatnya merasa geli. Canda tawa pun menghiasi kamar pribadi mereka hingga waktu yang menghentikannya, Qenan mendapat panggilan dari asistennya untuk segera bersiap karena sebentar lagi mereka akan berangkat ke luar kota.


"Oh ya ampun, anak ini mengganggu saja. Maafkan aku sayang, sepertinya aku harus segera bersiap." Ucap Qenan mencium kening Asty.


Setelah melihat anggukan kepala yang menunjukan jawaban dari Asty, Qenan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Asty menyiapkan keperluan Qenan yang akan di bawanya ke luar kota.


Hari ini akan menjadi sarapan terakhir antara Qenan dan Asty, sehingga Asty sengaja untuk menyiapkan sarapan dengan tangannya sendiri khusus untuk Qenan. Asty menyiapkan semuanya dengan penuh cinta, ia ingin memberikan yang terbaik sebelum berpisah dengan orang yang sangat di cintainya.


Qenan terkejut melihat Asty dengan perut yang terlihat sudah membuncit tengah sibuk menata makanan di atas meja.


"Tidak apa-apa sayang, kapan lagi aku bisa menyiapkan sarapan untuk mu." Ucap Asty tersenyum menatap wajah Qenan.


Ada rasa sesak di dada Qenan mendengar ucapan Asty yang seolah tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Qenan terdiam menatap wajah Asty yang tengah menatapnya juga, tanpa terasa air mata Qenan mengalir di pipinya dan ia segera memeluk erat tubuh Asty.


"Aku sungguh tidak ingin kehilanganmu untuk yang kesekian kalinya, tolong jaga dirimu baik-baik untukku." Ucap Qenan memeluk Asty dan membelai lembut rambut panjang Asty.


Mendengar ucapan Qenan membuat Asty ikut menitikkan air mata, entah kenapa rasanya ia tidak bisa melakukan apa yang Qenan minta. Tetapi ia berusaha untuk membuat hati Qenan menjadi tenang.

__ADS_1


"Lebih baik kita sarapan, aku tidak mau kamu melewatkan masakan ku." Ajak Asty menyeka air matanya kemudian meraih tempat duduknya.


Mereka pun melakukan sarapan berdua dengan sesekali saling memandang seolah tengah menyimpan memori indah untuk mereka kenang dalam pikiran masing-masing.


Qenan terus menggenggam erat tangan Asty seolah ia tidak ingin melepaskannya dan berharap agar waktu bisa melambat walau untuk beberapa menit saja, hatinya masih ingin berada di rumah tetapi raganya harus segera mengurus bisnisnya di luar kota.


Sarapan pun sudah selesai, tetapi Qenan masih saja duduk dan menggenggam tangan Asty membuat Asty bertanya-tanya dengan keanehan yang di perlihatkan oleh Qenan.


"Sayang, walaupun kita terpisahkan oleh jarak tetapi kita masih bisa berkomunikasi lewat ponsel atau lewat surat." Ucap Asty sedikit tertawa karena pada zaman ini sudah jarang sekali yang berkomunikasi lewat surat.


Namun candaan Asty tidak membuat Qenan merasa tenang untuk meninggalkannya, ia tetap terdiam menatap wajah Asty dan membelai lembut wajah Asty. Hingga suara langkah kaki asistennya menghentikan adegan romantis antara Asty dan Qenan di meja makan.


"Maaf, pak. Kita harus berangkat sekarang." Ucap asisten Qenan membungkukkan badannya.


Qenan berdecak kesal mendapati asistennya yang sedari tadi mengganggunya saja. Tetapi Asty terus mengusap punggung Qenan agar ia bisa terus bersabar menahan emosinya.


"Sayang." Lirih Qenan menatap wajah Asty dengan sendu.


"Tak apa sayang, kita masih bisa bertemu lagi di lain waktu." Ucap Asty tersenyum memegang erat tangan Qenan.


Pelukan hangat pun Qenan berikan kepada Asty, walaupun tidak lama tetapi itu cukup membuat hati mereka merasa sedikit nyaman dan tenang. Setelah puas berpelukan, Qenan segera berjalan menuju halaman rumah dimana mobilnya sudah siap dengan asistennya yang akan mengemudi.


Asty pun ikut mengantar Qenan hingga ke jalan depan rumahnya. Karena terlalu merasa sedih, Asty tidak memperhatikan jalanan hingga akhirnya sebuah mobil yang memang sudah menantinya keluar rumah, melaju dengan kecepatan tinggi dari belakang Asty hingga kecelakaan pun tak terelakkan.

__ADS_1


Qenan yang sudah menatap jalanan di depannya pun tiba-tiba ingin menoleh ke arah Asty berada dan ia terkejut ketika melihat Asty sudah tergeletak di tengah jalan dengan bersimbah darah. Qenan berteriak histeris membuat asistennya menghentikan laju mobil, Qenan segera berlari menuju Asty yang sudah tidak sadarkan diri.


"Sayang, bangun. Sayang aku mohon jangan tinggalin aku." Teriak Qenan memeluk tubuh Asty dan meneteskan air matanya.


__ADS_2