
"hai, kok chat gue gak di bales sih." seru Dani yang tiba-tiba saja datang dan langsung duduk di hadapan Asty.
Asty terkejut begitu melihat Dani yang tadi menyapanya lewat chat sekarang sudah ada tepat di hadapannya.
"wah... ganteng banget." seru Shela tanpa bersuara namun terbaca oleh Asty dari gerak mulutnya.
Asty menepuk keningnya melihat tingkah laku Shela yang begitu terkesima melihat ketampanan Dani.
Siswa tampan nomor tiga setelah Vian dan Rehan di sekolahnya dulu memang selalu berhasil mencuri perhatian para siswi. Memiliki badan yang tinggi, mata sipit dan alis tebal cukup membuat para siswi ingin memilikinya.
Tapi wajahnya yang mencuri perhatian banyak orang tidak bisa membuat Vina mengkhianati kekasihnya. Mungkin jika Vina belum memiliki seorang kekasih pasti akan menerimanya dengan senang hati, pikir Dani.
Kenapa dulu Dani tidak mencari pengganti Vina untuk di jadikan pasangannya, padahal dengan wajah tampannya siapapun pasti akan menerimanya.
Dani enggan melakukan itu, karena ia belum mendapatkan yang cocok di hatinya dan menurutnya berpacaran hanya akan mengganggu sekolahnya saja.
Kini Dani mendekati Asty karena merasa tertarik dengannya yang selalu ceria dan membagikan energi positif untuk orang lain, ya walaupun dulu dia cuek pada Asty. Sekarang Dani berpikir bahwa Asty masih ada sedikit rasa untuknya, hingga ia berani mendekati Asty.
"ternyata lo sekolah di sini juga." seru Asty mencoba untuk bersikap biasa saja
"hmm iya, kebetulan nilai gue kan bagus. ya walaupun masih di bawah lo." ucap Dani merasa bangga.
"kenapa mesti satu sekolah lagi, gue kira dia udah pindah ke planet Neptunus." batin Asty sambil mengaduk-aduk lagi es jeruk nya.
Tiba-tiba muncul satu orang lagi di hadapan Asty, makhluk yang sudah tidak asing lagi di mata Asty.
"hey kalian pada ngumpul di sini ternyata." seru Toby membawa nampan berisi mie ayam dan es teh manis duduk di samping Asty.
Walau terbilang anak orang kaya, Toby lebih senang memakan makanan sederhana dan berteman dengan siapapun.
"ya ampun kereta kotak, lo sekolah di sini juga?" tanya Asty terkejut menepuk pundak Toby terlihat sangat akrab.
"yah dia mulai lagi manggil gue begitu. iya gue sekolah di sini, gak liat apa seragam kita sama." seru Toby menarik kerah bajunya menunjukkan baju batik yang menempel di badannya setelah meletakkan nampan nya di atas meja.
"iya gue liat, maksudnya kok bisa sih lo masuk ke sini. lulus SMP juga udh bersyukur banget kan lo." ledek Asty mengingat Toby murid yang menempati peringkat terakhir di kelasnya.
"wah itu mulut gak bisa di jaga yah, dari dulu hobinya ngeledek orang terus... gue temenan sama Rangga, belajar sama dia. berkat dia gue bisa lulus tes, puas lo." jelas Toby kemudian menyeruput mie ayamnya.
__ADS_1
Asty dan Shela hanya bisa tertawa mendengar ucapan Toby yang terlihat sangat kesal.
"ya maaf bro, gue seneng sih ledekin lo." ucap Asty menyikut lengan Toby.
"hmm.. ngomong-ngomong kemana si Rehan, biasanya dimana ada lo pasti ada dia." tanya Toby melirik ke arah Dani yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraannya.
"gue ke kelas dulu, kita ngobrol nanti di chat ajah ya. kayaknya kamu mau reunian dulu sama temen-temen." ucap Dani hanya menatap Asty kemudian berlalu meninggalkan meja Asty dan kawan-kawan.
"cih, reunian katanya. jadi, kemana tuh si Rehan?" tanya ulang Toby menatap wajah Asty dengan mulut penuh makanan.
"ya ampun, nih anak kepo bener ya. ada hubungan apa sih lo sama dia, sampe di tanyain terus." ledek Shela.
"heh, gue cuma mau tau ajah dia kemana. gue mau pamerin gue bisa masuk ke sini, dulu dia remehin gue gara-gara gue suka bolos." seru Toby penuh dendam.
"dia udah pindah, nyamperin Andri dan mereka juga masuk SMA favorit di sana." jelas Asty dengan wajah sendu.
Dia teringat sosok Rehan yang selalu menemaninya di saat sedih dan selalu khawatir saat dia terluka, begitupun dengan Andri. Asty selalu mengingat sosok Andri yang membantunya lepas dari perundungan saat sekolah dasar dahulu.
Sampai saat ini gelang pemberian Andri pun masih ia simpan, karena sudah tidak muat lagi di tangannya jika terus di pakai.
"siapa lagi Andri?" tanya Shela penasaran.
"wah, baru SMA udah punya rencana sebesar itu." seru Shela menggelengkan kepala karena kagum.
"perusahaan apaan." ketus Toby dengan mata yang fokus pada mangkuknya.
"AA Group, Andri Asty. oh tidak, kenapa gue mikir nyampe ke sana. pasti di sana dia udah punya cewek, cewek kota kan cantik-cantik." batin Asty mengingat Andri dan membuatnya jadi sedih.
"yah, jangan sedih donk Asty. ini gara-gara lo sih tanya-tanya Rehan, Asty jadi sedih kan." seru Shela mencubit tangan Toby.
"aw aw... sakit Shel." ucap Toby kesakitan menjauhkan tangannya dari Shela.
"udah jangan ribut, lama-lama gue jodohin juga nih lo berdua." seru Asty melerai keributan diantara mereka.
"dih, ogah. siapa yang mau sama cewek galak kayak dia." ucap Toby mengangkat kedua bahunya, terlihat mengejek Shela.
"lo pikir gue mau sama cowok so keren kayak lo, hah." balas Shela tak mau kalah.
__ADS_1
"yaah.. malah makin rame deh, udah ah gue cabut duluan." seru Asty berdiri dan meninggalkan perdebatan mereka.
"Asty tungguin gue." teriak Shela kemudian mengekor Asty.
"dasar cewek-cewek galak." gumam Toby menghabiskan es teh manisnya kemudian menyusul mereka berdua.
Sementara di dalam kelasnya, Dani tengah duduk di dekat jendela yang mengarah ke lapangan. Pikirannya terus melayang-layang menghayal kan senyuman Asty yang membuat hatinya terasa damai.
"Asty, kenapa baru sekarang aku merasakan hal seperti ini. rasanya aku ingin memilikimu." gumam Dani sambil terus melengkungkan senyumnya.
***
Matahari yang bersinar kini telah tergantikan oleh taburan bintang di langit. Terlihat Asty tengah duduk di teras rumahnya menikmati indahnya ribuan bintang yang menghiasi gelapnya malam.
TRING..
Sebuah notifikasi muncul dari ponsel yang ia letakkan di sampingnya, membuyarkan lamunannya.
[selamat malam bintangku.]
"cih, bintang katanya. berarti gue ada lebih dari satu donk, dasar buaya." ketus Asty setelah membaca pesan dari Dani.
"darimana sih dia dapet nomer gue, ih nyebelin banget. berasa di teror gue dapet chat dari dia terus." gumamnya lagi mengetikan suatu kalimat hendak membalas chat Dani.
Sebelum ia mengirim balasan, tiba-tiba ponselnya berbunyi kembali. Kali ini bunyi panggilan masuk, dengan segera Asty menjawab panggilan tersebut.
"halo kak Laras, ada apa?" tanya Asty setelah menjawab telepon.
Memang di jam-jam tersebut Laras selalu menyempatkan diri untuk menelpon dan menanyakan keadaan orangtuanya, karena saat itu Laras sudah ada di kontrakannya sedang beristirahat.
"nggak apa-apa, kamu lagi ngapain?" tanya balik Laras.
"aku lagi duduk di luar, mau bales chat eh kakak nelpon." jawab Asty.
"chat dari Dani ya?" tanya Laras meledek.
"lah, kok kakak tau sih?" tanya Asty mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"tau donk, kemaren kan kakaknya Dani minta nomer kamu. katanya Dani mau akrab sama kami, ya udah kakak kasih." jawab Laras dengan santainya.
"apa?" seru Asty terkejut.