Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 83


__ADS_3

"Tidak... maafkan aku.. tolong maafkan aku." lirih Dita yang terbaring di atas brankar rumah sakit dengan mata yang terpejam.


Setelah mengantarkan Dita ke rumah sakit, Qenan tidak segera pulang ke rumahnya melainkan ia terus menunggu Dita di luar ruangan karena sejak tadi Dita tak kunjung sadarkan diri, Qenan tidak tega meninggalkan Dita sendirian di rumah sakit.


Mendengar suara Dita membuat Qenan kembali ke ruangan dimana Dita berada. Pandangan Qenan masih terfokus pada tangan Dita yang terpasang infus dan bekas luka yang memenuhi tangannya.


"Dita, kamu sudah bangun?" tanya Qenan dengan lembut.


"A-aku dimana?" Tanya Dita melihat ke sekelilingnya.


"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan di toilet. Apa yang telah terjadi padamu?" Jelas Qenan duduk di samping brankar.


Dita terdiam sejenak, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Tetapi ia tidak bisa segera mengingat kejadian yang telah menimpanya.


"Akh.. kepalaku sakit sekali." Rintih Dita memegangi kepalanya.


"Sudahlah, lebih baik kamu beristirahat saja dulu. Aku akan kembali besok pagi, aku minta nomor telepon keluargamu agar menemanimu di sini." Ucap Qenan mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.


Dita kembali terdiam, ia bingung akan menghubungi siapa.


"Aku tinggal sendiri, pak. Tapi mungkin aku akan menghubungi temanku saja untuk menemaniku malam ini." Ucap Dita menatap langit-langit ruangan rumah sakit.


"Teman? maksudmu pemuda yang tadi siang mengantarmu pulang?" Tanya Qenan mengernyitkan dahinya.


Dita hanya menganggukkan kepalanya, sepertinya Qenan tidak terima jika Dita di temani oleh pria lain selain dirinya. Qenan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melipat kedua tangannya duduk si samping Dita, terlihat sangat kesal.


Melihat kelakuan bosnya Dita merasa bingung, ia perlahan bangun dan mencari keberadaan dimana ponselnya.


"Apakah bapa melihat ponselku?" Tanya Dita masih memegangi kepalanya sambil melihat sekelilingnya.


"Untuk apa kau mencari ponsel, sudahlah kau tidur saja. Aku akan menemanimu di sini." jawab Qenan dengan nada tinggi.


"Maaf pak, tapi aku tidak mau merepotkan bapak." ucap Dita menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Qenan pergi menuju sofa yang ada di dalam ruangan tersebut dan merebahkan tubuhnya tanpa menjawab perkataan Dita. Melihat sikap bosnya, Dita merasa tidak enak hati, ia masih duduk di atas brankar dan tidak bisa memejamkan matanya.


"Cepatlah tidur agar kau cepat sembuh, banyak pekerjaan yang kau tinggalkan di kantor. Jika tidak kau kerjakan, aku akan mencari sekretaris baru untuk menggantikan mu." Ucap Qenan berbaring di sofa dengan mata yang tertutup dan tangan sebagai bantalnya.


Mendengar hal itu Dita segera merebahkan tubuhnya dan membenarkan selimut untuk kemudian memejamkan mata, tanpa berkata apa-apa lagi.


"Dasar gadis bodoh." gumam Qenan tersenyum melihat ke arah Dita yang sudah memejamkan mata.


Malam itu Qenan merasa kesulitan untuk tidur, ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju brankar tempat Dita terlelap. Dilihatnya tangan Dita yang di penuhi oleh banyakan bekas luka, hatinya terasa sakit membayangkan betapa pedihnya tangan Dita saat menerima luka itu.


"Apa dia korban kekerasan di keluarganya hingga ia kabur, lalu tinggal di kota ini sendirian." gumam Qenan duduk di sebelah Dita yang tengah tertidur pulas karena efek obat yang di minumnya.


Suasana ruangan yang sepi dan rasa lelah yang Qenan rasakan membuatnya mengantuk, tanpa disadari ia tertidur sambil duduk dengan kepala berada di samping tangan Dita.


Malam yang panjang pun mereka lalui berdua, hingga suara perawat yang akan memberikan Dita makanan membangunkan Qenan dari mimpi indahnya.


"Loh kenapa aku ada disini?" Tanya Qenan bingung mendapati dirinya tidur dalam posisi duduk di sebelah tangan Dita.


"Kamu... Ah sudahlah, cepat makan dan minum obat agar cepat sembuh. Pekerjaan mu masih banyak." Seru Qenan kemudian pergi meninggalkan Dita dan perawat di dalam ruangan.


Dita dan perawat itu saling melempar senyuman saat melihat ekspresi wajah Qenan yang tengah menahan rasa malu.


Sementara di kediaman Qenan, bu Rani tengah mengkhawatirkan putra satu-satunya yang tidak pulang ke rumah semalaman. Bu Rani takut jika Qenan merasa terpukul atas kepergian Asty dan kembali melakukan hal yang sama ketika di khianati oleh Lusy.


Beberapa kali menghubungi Qenan, tetapi ia tidak menjawab panggilan bu Rani. Hingga akhirnya Qenan terkejut saat baru memeriksa ponselnya, terdapat puluhan kali panggilan tak terjawab dari bu Rani.


Qenan sengaja tidak memberikan nada pada ponselnya agar tidak menggangu istirahat Dita, segera ia menghubungi bu Rani kembali agar tidak mencemaskan nya.


"Kamu dimana, kenapa telepon mama ngga di angkat." ucap bu Rani segera memarahi Qenan saat baru menjawab panggilan dari Qenan.


"Mama tenang dulu, nanti darah tinggi nya kumat. Aku lagi di rumah sakit, semalem Dita pingsan di toilet. Dia gak punya keluarga, jadi aku deh yang temenin dia." Jelas Qenan yang tengah duduk di kantin rumah sakit.


Bu Rani sedikit bernafas lega mendengar Qenan baik-baik saja, kemudian ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Dita. Bu Rani menyukai Dita karena ia merasa ada banyak kesamaan dengan Asty.

__ADS_1


***


Di pagi hari yang sama, Vian tengah duduk di depan meja makan. Menatap roti selai kacang kesukaannya dengan lesu, merasakan ada bagian dari dirinya yang hilang.


Rasa cintanya pada Asty masih tersisa walau ia sudah berkencan dengan banyak wanita, akan tetapi hanya Asty yang ada di dalam hatinya.


Cinta pertama memang sulit untuk di lupakan walaupun ia telah tiada. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Asty di hatinya, walau banyak gadis yang lebih mempesona dari Asty sekali pun.


Sekeras apapun usahanya melupakan Asty, tetap saja pada akhirnya ia begitu merindukan sosok Asty yang menjadi cinta pertamanya.


"Rasanya aku ingin ikut pergi bersama mu." Ucap Vian mengambil sebuah pisau yang ada di atas meja makan.


Vian bersiap untuk menancapkan pisau ke perutnya, beruntung Kiara datang di saat yang tepat.


"Kau tidak seharusnya melakukan hal menjijikan ini, bang." Seru Kiara mengambil pisau yang ada di tangan Vian.


"Lantas, apa yang harus aku lakukan sekarang, hah?" Tanya Vian bangkit dari duduknya.


"Pilihlah yang kau suka." Kiara melemparkan beberapa foto gadis cantik di atas meja makan.


Vian terdiam, tidak sedikitpun menatap ke arah deretan foto gadis cantik pilihan Kiara.


"Come on, brother. Kau harus bisa move on, setidaknya perlahan kau harus memulai usahamu untuk membangun hidup barumu. Kau memiliki segalanya, kau bisa membuat bahagia mu sendiri walau tanpa dia. Mungkin saat ini dia sudah bahagia, kenapa kau masih meratapinya? Ayolah bang." Kiara terus membujuk Vian agar bangkit dari keterpurukannya.


Mendengar ucapan adiknya, Vian kembali ke tempat duduknya dan menatap satu per satu gadis dalam barisan foto yang di berikan Kiara.


Hingga matanya terhenti pada satu foto gadis berambut panjang bergelombang, mata yang indah dan senyuman yang begitu menggoda.


Vian menyerahkan foto gadis itu pada Kiara tanpa berkata apa-apa kemudian pergi ke kantor nya meninggalkan Kiara seorang diri di meja makan.


Kiara meraih foto dari tangan kakaknya, menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki kemudian ia membalikkan foto tersebut yang terdapat sedikit biodatanya.


"Gisel.." ucap Kiara setelah membaca tulisan di balik foto tersebut.

__ADS_1


__ADS_2