
"bu, besok aku berangkat sekolah yaa.." pinta Asty setelah melepas perban di kepalanya.
"kamu yakin mau berangkat sekolah? emangnya kepala kamu udah gak sakit lagi?" tanya bu Tatum cemas.
"yakin ibu, aku udah sehat kok. liat nih pipiku tambah tembem kan." jawab Asty menunjuk pipi bulatnya.
"iya deh iya, anak ibu udah sehat." seru bu Tatum mencubit pipi tembem Asty.
"aw.. aw... sakit ibu." Asty meringis memegangi pipinya.
"mau buru-buru ketemu siapa sih, baru mendingan dikit udah mau sekolah." ledek Laras sambil menatap buku tugasnya.
"aku bosen kak di rumah terus, gak ada temen main. kalo di sekolah kan ada Tina." seru Asty menoleh ke arah kakaknya yang tengah sibuk dengan tugas sekolah.
"sudah.. sudah.. sekarang kamu tidur gih, istirahat kalo besok kamu mau berangkat sekolah." sambung pak Reno mengacak rambut Asty.
"iya ayah. ibu aku tidur dulu yah.." pamit Asty.
"iya sayang, tidur yang nyenyak yaah." jawab bu Tatum mengcium kening Asty.
"selamat malam, sayang." tambah pak Reno juga mencium kening Asty.
"jangan mimpi yang aneh-aneh yaa .." ledek Laras sambil tertawa.
"yaa pengennya sih jangan donk kak, emangnya aku bisa ngatur mimpiku sendiri." teriak Asty.
"udah sana masuk kamar." seru bu Tatum mendorong perlahan pundak Asty.
Astypun berjalan menuju kamarnya meninggalkan ayah, ibu dan kak Laras yang masih di ruang keluarga.
"hoaaamm .. kok langsung ngantuk banget sih, efek obat kali ya." gumam Asty merebahkan badannya di kasur seraya meraih selimut berwarna ungu kesukaannya dan langsung menyelami alam bawah sadarnya.
Sementara di rumah Andri....
"bang, lo ngapain tidur di sofa." seru Andri yang tengah menaiki ranjang kakaknya dengan perlahan.
"gue tidur di sini ajah, takut kena kaki lu yang sakit kalo gue tidur bareng lu." jelas Nico berbaring di sofa.
"ya elah bang... nih kasur lega bang. ya kali emangnya lu mau tidur muter-muter bang?" seru Andri membuang napas dengan kasar.
"ya nggak lah, lu kira gue gasing muter-muter."
"ya udah buru sini, kapan lagi tidur sekasur sama gue." seru Andri.
"hadeehh... iya deh iya." jawab Nico menghampiri adiknya itu.
"udah ayo buruan tidur, gue udah ngantuk nih." ajak Nico sambil menutupi badannya dengan selimut dan di jawab anggukan oleh Andri.
__ADS_1
Suasana malam yang sepi memaksa Andri untuk segera masuk kedalam alam bawah sadarnya, terlelap dan sejenak melupakan beban yang ada di fikirannya.
********
Mentari telah menyapa, sinarnya yang menyilaukan masuk ke dalam sebuah ruangan melewati celah-celah. Terlihat seorang gadis kecil tengah meregangkan otot-otot tubuhnya dari balik selimut.
"hmmm... ternyata udah pagi.." gumam Asty mengatur pandangan menatap ke arah jendela dan menghampirinya.
"eh... anak ibu udah bangun." seru bu Tatum dari balik pintu menatap Asty yang tengah membuka tirai.
"iyya bu, aku kan mau sekolah." jawab Asty tersenyum.
"ya sudah ayo mandi, siap-siap terus kita sarapan. ibu udh bikin nasi goreng spesial buat anak ibu yang baru mau masuk sekolah lagi." seru bu Tatum tersenyum membelai rambut Asty.
Asty segera bergegas menuju kamar mandi dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya, Asty memang sudah terbiasa menyiapkan semuanya sendiri walau anak terakhir tapi dia tidak begitu manja terhadap orang tuanya.
Setelah semuanya selesai, ia keluar kamar dan menuju tempat dimana ibunya sudah menyediakan sarapan. Seperti yang telah bu Tatum janjikan, ia telah membuatkan nasi goreng dengan telur mata sapi kesukaan Asty.
"waahhh ini di liatnya ajah udah enak banget bu.." seru Asty menatap kagum sepiring nasi goreng yang di siapkan untuknya.
"ya ayo buruan dimakan, itu udah nungguin kamu dari tadi lho." jawab bu Tatum tersenyum melihat Asty yang sudah tidak sabar menyantap nasi goreng spesial nya.
"buruan dimakan, tar gue makan nih." ledek Laras dari belakang badan Asty.
"iih... kakak, jangan dong ini kan punya aku. tuh punya kakak disana." seru Asty memegangi piringnya dan d balas tawa oleh semua anggota keluarga Asty.
Suasana hangat memang selalu terjadi dikelurga pak Reno dalam keadaan apapun mereka selalu bersama, canda dan tawa selalu menghiasi hari-hari keluarga pak Reno. Berbanding terbalik dengan keluarga Andri, rumahnya selalu tampak sepi karena kedua orangtuanya selalu sibuk dengan urusan bisnis mereka masing-masing.
"Andri, lo mau sekolah ngga?" tanya Nico yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"gue gak enak badan bang." lirih Andri yang seluruh badannya tertutup selimut putih tebal dan hanya menyisakan kepalanya saja.
"astaga.. badan lo panas banget." seru Nico memegang kepala dan seluruh tubuh Andri.
"iya bang, kayaknya gue ga masuk deh hari ini." seru Andri perlahan.
"ya udah gue telpon dokter dulu yaah." Nico segera mengambil handphone nya dan memanggil dokter keluarga mereka.
"lo sabar dulu ya, bentar lagi dokter Billy dateng." seru Nico sambil mengompres kening Andri dan hanya di balas senyuman oleh adiknya itu.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"masuk ajah." teriak Nico
"selamat pagi tuan, mari saya periksa dulu." seru dokter Billy mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya.
Setelah beberapa saat diperiksa, dokterpun menuliskan resep obat.
__ADS_1
"adik saya kenapa dok?" tanya Nico cemas.
"mari kita bicara di luar tuan, biarkan tuan Andri beristirahat." ajak dokter muda tersebut.
Merekapun berjalan keluar kamar meninggalkan Andri yang sudah terlelap.
"jadi, bagaimana dok?" Nico makin cemas.
"tuan Andri hanya kelelahan. sepertinya dia memikirkan suatu hal terlalu mendalam hingga membuat tubuhnya tidak stabil, di usianya yang masih sangat muda memang tidak seharusnya dia berfikir terlalu berat seperti itu. Saran saya, tuan Nico harus membantunya menyelesaikan masalahnya karena tuan Andri hanya memiliki anda disini. Orangtua kalian pasti tidak punya cukup waktu untuk sekedar mendengarkan cerita kalian." jelas dokter Billy.
"baik dok, terimakasih atas sarannya." seru Nico
"baiklah kalo begitu saya pamit dulu dan ini resep obatnya. Semoga tuan Andri cepat pulih kembali." seru dokter Billy memberikan secarik kertas sambil tersenyum.
"iya dok, terimakasih." jawab Nico menganggukan kepalanya.
Dokter Billy berlalu meninggalkan Nico yang masih termenung di depan pintu kamarnya.
"Andri.. apa sih yang lo pikirin sampe jadi kayak gini." gumam Nico sambil memijat pangkal hidungnya.
"ahh.. pusing gue.." teriaknya lalu membuka kunci layar ponselnya dan mengirim pesan pada Robby yang sudah ada di sekolah.
"bro.. hari ini gue gak masuk."
"lahh.. kenapa emangnya, lo mau bolos kok ga ngajak gue.. ga asik lo."
"gue gak mau bolos kancil... ade gue sakit, gue harus turun tangan langsung. ga bisa gue suruh bi Nina jagain dia."
"waduuhh separah itu bro. ya udah moga ade lo cepet baekan ya."
"oke thanks.."
Nico mengakhiri pesannya kemudian ia masuk ke kamar untuk melihat keadaan adiknya itu.
"udah turun panasnya." seru Nico memegang kening Andri membuatnya membuka mata.
"bang, lo kenapa belum berangkat. bukannya ini udah siang ya?" tanya Andri melihat Nico yang sudah berseragam lengkap.
"guru mau pada rapat, jadi kita di bubarin." Nico berbohong karena jika Andri tau ia tidak masuk karena ingin menjaganya, maka Andri akan menyalahkan abangnya dan menyuruhnya untuk tetap berangkat sekolah.
"oh gitu, enak donk bang. biasanya lo main sama temen-temen lo kan?" Andri mulai curiga.
"aahhh maen mulu, bosen gue. sekali-sekali rebahan di rumah lagian si Roby sama si Tio lagi ga bisa di ajak maen." jawab Nico mencoba santai.
"hmm.. gitu ya bang." seru Andri memejamkan matanya.
"dah mending lo tidurr lagi gih, gue mau ke apotek dulu. lo mau nitip apa?" Nico beranjak dari duduknya sambil memberi tawaran.
__ADS_1
"ngga deh bang makasih, gue lagi ga mau apa-apa." jawab Andri.
"ya udah gue tinggal dulu ya." seru Nico meninggalkan Andri dan hanya di jawab anggukan olehnya.