Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 69


__ADS_3

Mesin mobil yang berhenti membuat Asty terbangun dari tidurnya, di lihatnya Qenan masih nyaman tidur di atas bahunya. Ada rasa tidak tega untuk membangunkan, namun bahu Asty sudah merasa sangat berat.


Asty hendak meminta bantuan pak Ujang, namun Asty tak menemukan pak Ujang di kursi kemudi. Rasanya ingin sekali Asty melanjutkan tidurnya saja yang terasa sangat nyaman dengan menghirup aroma tubuh Qenan yang menenangkan baginya.


Tak lama kemudian bu Rani datang membukakan pintu mobil dan membangunkan Qenan, namun bukannya bangun ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Asty seolah itu adalah bantal guling nya.


"ya ampun ini anak." seru bu Rani kesal.


Tiba-tiba tangan bu Rani mencubit pipi Qenan hingga merasakan sakit kemudian terbangun sambil memarahi ibunya.


Tanpa melihat ke arah Asty, Qenan segera keluar dari mobil dan langsung menuju kamarnya.


"hey, kita makan malam dulu bareng Asty." teriak bu Rani menghentikan langkah Qenan yang sedang marah.


"Asty? oh iya tadi aku sama dia." gumam Qenan kemudian kembali menghampiri Asty dan menarik tangan Asty mengajaknya ke ruang makan tanpa melihat sang ibu.


Bu Rani tertawa melihat kelakuan anaknya yang semakin menggemaskan.


Pak Bagas yang baru selesai mandi juga ikut bergabung di meja makan, awalnya Asty menolak untuk makan malam bersama namun bu Rani memaksa dan akhirnya Asty mau makan bersama.


Suasana terasa hening ketika Qenan memasukan sendok ke dalam mulutnya secara kasar, persis ketika ia remaja. Saat sedang marah pada orangtuanya pasti ia bersikap seperti itu, melihat suasana yang kurang mengasyikan membuat pak Bagas berinisiatif membuka obrolan.


"tadi abis jalan-jalan kemana, Qen?" tanya pak Bagas pada Qenan.


"pantai." ketus Qenan.


Melihat anaknya marah membuat bu Rani merasa tidak enak pada Asty, kemudian bu Rani meminta maaf agar Qenan tidak marah lagi. Namun Qenan malah diam saja membuat Asty gemas melihat wajah cemberutnya.


"Qenan, mama kamu udah minta maaf lho. masa kamu gak mau maafin, dosa tau kalo kamu kayak gitu." ucap Asty lembut pada Qenan yang duduk di sebelahnya.


"oh gitu ya. ya udah deh mam, aku maafin." seru Qenan tersenyum manis pada bu Rani yang duduk di depannya.


Terasa begitu bahagia melihat Qenan bisa tersenyum kembali dengan begitu manisnya dan juga Asty yang mau mengajarkan Qenan hal yang baik membuat bu Rani semakin kagum pada Asty.


Acara makan malam bersama Asty membuat keluarga Bagas terasa lebih hangat, karena Asty selalu bisa mencairkan suasana dengan segala canda tawanya.


Tanpa terasa hari semakin malam, Laras yang belum di beritahu Asty merasa cemas kemudian terus menelpon Asty namun tak juga di angkat karena ponselnya dalam mode diam.


Asty berusaha menjaga sikapnya ketika berada di meja makan, ia tidak ingin jika suara ponselnya mengganggu yang lain pada saat menyantap makan malam.


Acara makan malampun selesai, Asty pamit pulang setelah melihat puluhan panggilan tak terjawab dari kakaknya.


Sebelumnya Asty menelpon Laras terlebih dahulu agar tidak khawatir karena kini ia sedang dalam perjalanan pulang di antar oleh pak Ujang.


Waktu menunjukan pukul 9 malam ketika Asty mengetuk pintu kontrakan Laras. Asty di sambut dengan beberapa ceramah Laras yang menunjukan bahwa ia sangat mencemaskan Asty, apalagi ini di kota besar. Laras takut jika terjadi sesuatu pada Asty, karena yang bertanggung jawab atas Asty adalah sang kakak.

__ADS_1


Asty tertunduk mengakui kesalahannya yang tidak memberitahu kakaknya jika kini pekerjaannya ada dua yaitu di minimarket dan menjaga anak bos pemilik minimarket.


"oh jadi si Qenan itu anaknya bu Rani? bisa gitu ya, sepertinya dunia ini sempit." tanya Laras terkejut setelah menyelesaikan ceramahnya yang panjang tadi.


"iya kak, aku juga kaget pas ketemu lagi sama dia ternyata anaknya bos." ucap Asty.


"tapi pas waktu itu anterin kamu ke sini, dia kayak orang normal deh." seru Laras.


"iya kak, awalnya aku juga ngga percaya. tapi pas bu Rani cerita, aku mulai ngerti dan mungkin sebentar lagi sembuh makanya kadang keliatan normal." jelas Asty.


Malam semakin larut, mereka menyudahi obrolan dan segera tidur karena besok mereka harus bekerja kembali.


***


Pagi hari saat karyawan yang lain belum memulai pekerjaannya, Asty sudah berada di ruangannya. Menyelesaikan berkas-berkas yang selalu menumpuk di atas mejanya, ia mengejar waktu karena hari ini Qenan mengajak pergi ke taman bermain.


Para karyawan yang lain pun memaklumi jika Asty memulai pekerjaannya mendahului mereka, bahkan diantara mereka mengagumi Asty yang bekerja keras.


"keren banget si Asty, pagi-pagi gini udah mulai kerja. salut gue sama dia." seru Dika yang tengah menikmati secangkir kopi.


Asty menyelesaikan pekerjaannya tepat pada jam makan siang. Ia bergegas menuju ruangan bu Rani untuk menyerahkan berkas-berkas yang telah di kerjakan olehnya dan berpamitan untuk pergi makan siang.


Langkah kakinya terhenti saat pintu yang akan ia buka tiba-tiba sudah terbuka, ternyata Qenan yang membukakan pintu secara tiba-tiba untuk menemui bu Rani.


"nah kebetulan ada Qenan. kamu makan siang sama Qenan ajah, di deket sini ada resto yang makannya lumayan enak lho." seru bu Rani menghampiri Asty dan Qenan sambil menyerahkan kartu berwarna hitam kepada Asty.


"tapi bu.."


"udah di pegang kamu ajah, Qenan belum begitu mengerti. Lagi pula kalian juga akan pergi ke taman bermain, pagang lah untuk membeli tiket dan apapun yang kalian inginkan." bu Rani memotong ucapan Asty dan mendorong mereka dengan lembut menuju ke luar ruangan.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di sebuah restoran yang tampak tenang dengan tanaman yang tertata rapih dan warna-warni bunga yang bermekaran membuat Asty terlena dengan suasana restoran.


"Asty, ayo kita makan. aku sudah lapar, nih." ajak Qenan mengelus-elus perutnya sambil menarik tangan Asty.


Asty tertawa melihat kelakuan Qenan saat sedang kelaparan, mereka berdua segera masuk ke dalam restoran, sementara pak Ujang yang sudah makan siang menunggu di dalam mobil.


Qenan sangat menikmati makan siang berdua saja bersama Asty. Tatapan mata Qenan terlihat berbeda pada Asty, seperti sudah timbul rasa suka. Namun, Asty yang sedang di tatap Qenan menyadarkan dirinya jika Qenan bisa saja sedang bercanda dengannya.


Setelah selesai makan siang, Qenan dan Asty segera menuju taman bermain yang sangat ingin Qenan kunjungi. Di perjalanan, Qenan terus menyuarakan kegembiraan nya. Membuat Asty gemas melihat tingkah anak kecil yang berada di dalam tubuh yang tinggi dan berotot.


"duh... senengnya yang mau ke taman bermain. mau naik wahana apa sih?" tanya Asty membuka pembicaraan.


"aku mau naik kuda-kudaan, Asty. nanti kamu juga ikut yah." ucap Qenan menganggukkan kepalanya.


"nggak ah, ga seru. aku mau naik rollercoaster ajah." seru Asty melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.

__ADS_1


"jangan Asty, itu berbahaya." cegah Qenan.


Asty hanya tertawa melihat ekspresi wajah Qenan yang ketakutan ketika hanya mendengar nama sebuah wahana yang sedikit ekstrem.


***


Kini mereka telah berada di dalam taman bermain yang sedang ramai pengunjung. Asty meminta pak Ujang untuk menunggu saja di tempat teduh, mengingat pak Ujang yang sudah berumur, ia tidak ingin membuat pak Ujang kelelahan karena mengikutinya dan Qenan yang ingin mencoba semua wahana.


Qenan terlihat senang sekali menaiki kuda yang hanya berputar lambat, namun Asty merasa sangat bosan karena kuda yang mereka tumpangi hanya berputar di situ saja.


"heummm.. apa serunya muter-muter di sini doank." gumam Asty memutar bola mata malas memeluk tiang.


Setelah berputar cukup lama, akhirnya kuda berhenti dan mereka pun turun.


"nah, sekarang gantian tinggal aku yang milih kita mau naik apa lagi ya.." seringai Asty menatap Qenan membuat Qenan mundur ketakutan.


Asty tidak peduli jika Qenan merasa ketakutan melihat rollercoaster, Asty tetap membawa Qenan menaiki wahana tersebut.


"Asty aku takut." ucap Qenan memegangi pengaman yang sudah terpasang di tubuhnya dengan mata tertutup.


Asty terkesima melihat wajah Qenan tanpa kacamata tebalnya. Sebelum mereka naik wahana, kacamata Qenan di titipkan terlebih dahulu.


"ternyata dia tampan juga." batin Asty terus menatap wajah Qenan yang tengah memejamkan matanya sebelum wahana mulai berjalan.


"Asty, aku lagi ngomong. apa nggak kedengaran, ih nyebelin. aku mau turun ajah ah." ucap Qenan merajuk.


"eh eh.. jangan, lagi pula kalo udah naik gak boleh turun lagi tau. udah kamu tenang ajah, anak laki-laki harus berani. kalo kamu gak berani, siapa donk yang nanti jagain mama kamu kalo ada penjahat hayo.." ucap Asty membuat Qenan merasa lebih berani.


Qenan memberanikan diri membuka matanya sedikit demi sedikit mendengar suara teriakan orang-orang di sekitarnya.


Setelah terbuka matanya, ia juga ikut berteriak dan membuat Asty tertawa mendengar teriakan Qenan yang seolah dia meluapkan segala emosi yang ada di dalam hatinya.


Rollercoaster pun berhenti, Qenan terlihat sangat kelelahan karena terus berteriak. Sementara Asty malah terus tertawa kegirangan melihat wajah Qenan yang terlihat kusut.


"kamu duduk dulu di sana ya." pinta Asty menunjuk sebuah bangku di pinggir jalan.


Asty menuntun Qenan menuju bangku, kemudian Asty berpamitan untuk membeli sebuah minuman.


Gerak gerik mereka sudah di pantau dari kejauhan oleh dua orang pria berbadan besar, mereka adalah suruhan Lusy.


Sejak bertemu Qenan di taman, Lusy terus mencaritahu tentang Qenan dan mengikuti kemana dia pergi.


Saat Asty membeli minuman, dua pria berbadan besar itu memegangi tangan Qenan dari belakang membuat Qenan ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa.


"Asty.." teriak Qenan memanggil Asty yang tengah membeli minuman yang berjarak lumayan jauh dari jangkauan Qenan.

__ADS_1


Mendengar suara Qenan memanggilnya, Asty langsung menoleh dan berlari menghampiri Qenan setelah tau Qenan telah di bawa oleh dua pria berbadan besar itu.


"oh tidak, bos unyu-unyu ku." seru Asty terus berlari mengejar Qenan yang sudah cukup jauh darinya.


__ADS_2