Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 82


__ADS_3

Qenan terus memandang Dita dari balik kaca mobilnya, ia mendapati kesamaan antara Asty dan Dita. Awalnya Qenan mengira jika Dita itu gadis yang feminim dan penakut, ternyata dia juga berani seperti Asty.


Ada rasa yang sama ketika ia menatap Dita, ia merasa sedang menatap Asty. Saat mendengar kabar tentang Asty, Qenan merasa masih ada sedikit harapan yang tersisa untuknya walau ia tidak tahu harus mencari Asty kemana.


Dita melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Qenan yang telah menunggunya di dalam mobil.


"Maaf pak, langkah saya terlalu pendek. Jadi saya tidak bisa dengan cepat menyusul bapak." Ucap Dita menundukkan kepalanya.


"Sebenarnya kamu ini siapa?" Tanya Qenan mengangkat dagu Dita hingga wajah mereka saling berhadapan.


Dita terdiam, ia tidak berani menjawab pertanyaan Qenan dengan jantung yang berdetak begitu kencang. Melihat Dita yang hanya diam saja, Qenan merasa kesal dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dita masih terdiam karena ketakutan, ia menggenggam erat sabuk pengaman yang ia gunakan sambil memejamkan mata, ia sama sekali tidak berani untuk memprotes cara mengemudi Qenan.


Laju mobil Qenan tiba-tiba melambat dan terhenti di sebuah taman bermain yang pernah ia kunjungi bersama Asty.


"Kau mau turun atau tetap di sini, hah?" Tanya Qenan melepaskan sabuk pengamannya dengan nada bicara yang begitu sinis.


Dita pun segera melepas sabuk pengamannya dan mengekor di belakang Qenan. Qenan berjalan menuju sebuah kursi taman, melihat ke sekelilingnya kemudian ia duduk di sana.


"Kenapa siang-siang begini bapak datang ke sini?" Tanya Dita ikut duduk di samping Qenan.


Qenan terdiam melihat keramaian dan keceriaan yang ada di taman siang itu, sesekali ia mengembangkan senyumnya melihat anak kecil yang tertawa bahagia ketika bermain.


"Aku merindukannya." Seru Qenan memejamkan mata seolah ia bisa melihat wajah Asty.


"Baiklah pak, aku mau membeli minuman dulu." Ucap Dita bangkit dari duduknya meninggalkan Qenan yang tengah mengkhayalkan Asty.


Dita berjalan menuju penjual minuman dingin yang menurutnya dengan meminum minuman dingin akan bisa menyegarkan hari yang panas ini.


Namun karena ramainya pengunjung, membuat Dita menabrak seorang pengunjung dan minuman yang ia pegang tumpah hingga membasahi lengan kemeja yang di kenakan nya.


Melihat hal itu Qenan segera menarik Dita dari kerumunan pengunjung taman kala itu.


"Kamu ini ceroboh sekali." Ucap Qenan hendak menggulung lengan panjang kemeja Dita.


Namun Dita menepis tangan Qenan, ia tidak ingin Qenan melihat lengannya yang di penuhi dengan bekas luka yang selama ini ia tutupi dengan selalu mengenakan kemeja berlengan panjang.


"A-aku.. aku tidak nyaman dengan baju basah, aku izin pulang dulu untuk berganti pakaian." Ucap Dita terbata-bata dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Qenan.

__ADS_1


Qenan merasa ada hal besar yang sedang di tutupi oleh Dita hingga membuatnya selalu bertingkah aneh.


Dita melangkahkan kakinya menuju halte bis untuk pulang ke kostnya berganti pakaian, Qenan mengikuti langkah Dita dan hendak mengantarnya pulang.


Namun, Qenan di kejutkan dengan seorang pemuda yang mengendarai sebuah motor sport menghampiri Dita kemudian mereka pergi bersama.


Pemuda itu tidak dapat di kenali oleh Qenan karena ia mengenakan helm yang menutupi seluruh wajahnya. Qenan hendak mengikutinya, tetapi kondisi jalanan yang padat membuatnya tidak bisa terus mengikuti mereka.


Qenan memilih untuk kembali ke kantornya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. Ada rasa cemburu menyelimutinya saat melihat Dita berboncengan dengan seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan Dita.


"Sial, kenapa perasaanku jadi seperti ini. Oh tidak, aku harus fokus mencari keberadaan Asty, yang harus aku lakukan adalah bertemu dengan Asty dan meminta maaf padanya. Hidupku tidak akan tenang jika belum bisa meminta maaf padanya." Qenan terus bermonolog sambil menatap langit-langit ruangannya.


Sementara Dita sudah mengganti pakaiannya dan kini ia tengah berjalan menuju meja kerjanya. Dita kembali mengerjakan pekerjaan yang tadi tertunda, karena banyaknya pekerjaan ia sampai melewatkan makan siang.


Ada rasa cemas saat Qenan melihat Dita yang begitu fokus pada tumpukan file yang harus di kerjakannya sampai menunda makan siangnya.


Qenan menghampiri Dita dan mengajaknya pergi makan siang di sebuah restoran di dekat kantor, hal itu membuat karyawan lain merasa iri pada Dita yang masih karyawan baru.


"Enak banget tuh anak baru udah di ajak makan siang sama bos." ucap Gisel karyawan paling **** di kantor menatap Dita yang tengah berjalan mengekor di belakang Qenan.


"Iya, padahal muka dia biasa ajah. Kenapa bos gak ngajak lo ajah yang udah jelas lebih cantik dan seksi daripada dia." tambah Karina teman dekat Gisel.


Rasa iri dalam hati Gisel menimbulkan rencana jahat untuk membuat Dita tidak betah bekerja di kantor.


"Kalo makan pelan-pelan saja, jangan terburu-buru karena ingin segera menyelesaikan pekerjaanmu. Bos mu ada di sini, dia tidak akan memecat mu." Ucap Qenan dengan lembut mengelap bibir Dita dengan tisu.


"Ini orang kenapa sih, tadi galak sekarang baik. Dasar aneh." umpat Dita dalam hatinya.


Dita tersenyum ke arah Qenan dan melanjutkan kembali menyantap makanannya. Qenan terus menatap Dita sambil sesekali melengkungkan senyumnya seolah ada rasa bahagia melihat gadis kecil di hadapannya terlihat menikmati makanannya.


"Kalau mau tambah lagi aku akan memesannya untukmu." tawar Qenan.


"Tidak pak, tidak usah. Aku juga sudah kenyang, terimakasih banyak pak." Ucap Dita menundukkan kepalanya.


"Ya, anggap saja ini adalah hadiah telah mendengar cerita ku kemarin." Ucap Qenan bersandar di kursinya.


Setelah selesai makan, mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing.


Ketika Dita tengah fokus pada layar laptopnya tiba-tiba Gisel datang menghampirinya.

__ADS_1


"Halo anak baru, nih buat kamu. Anggap saja salam perkenalan dari aku, semoga betah ya kerja di sini." Ucap Gisel dengan senyumannya memberikan satu cup es cappucino pada Dita.


"Terimakasih, kak." Seru Dita menganggukkan kepalanya dengan sopan.


Gisel segera kembali ke meja kerjanya, mengintai Dita dari kejauhan.


"Salam kenal gadis manis." gumamnya tersenyum sinis.


Dita yang tidak tahu jika di dalam minumannya telah di masukan obat pencahar oleh Gisel, dengan senang hati ia meminumnya hingga tersisa setengah.


Awalnya Dita tidak merasakan apa-apa hingga membuat Gisel yang sedari tadi memperhatikannya merasa geram, tetapi setelah beberapa saat perut Dita merasa begitu sakit, ia segera berlari menuju toilet.


Melihat hal itu, Gisel tertawa sangat puas. Sementara Dita tidak bisa meninggalkan toilet karena ia tidak bisa menghentikannya hingga membuat badannya terasa lemas.


Dalam situasi seperti itu, Gisel menghampiri Dita tetapi bukan untuk menolongnya melainkan untuk mengunci pintu agar Dita benar-benar tidak bisa meninggalkan toilet.


"Rasakan itu, selamat bermalam di toilet." bisik Gisel tertawa kecil.


Dita berusaha untuk keluar toilet mencari obat penawar rasa sakitnya, tapi ia terkejut ketika pintunya tidak dapat ia buka.


"Tolong.. tolong.. siapapun yang ada di sana tolong buka." Teriak Dita sambil memukul-mukul pintu toilet hingga ia merasa lemas dan akhirnya terjatuh ke lantai.


Jam kerja telah usai, kini para karyawan tengah bersiap untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Melihat meja kerja Dita yang masih berantakan, Qenan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan tetapi tidak berhasil menemukan Dita.


"Pergi kemana dia? Kenapa mejanya masih berantakan seperti ini?" Qenan bertanya-tanya dalam hatinya.


Semua karyawan sudah meninggalkan kantor, Qenan pergi menanyakan pada security dimana Dita berada.


"Maaf pak, tetapi saya tidak melihat mba Dita meninggalkan kantor." ucap salah satu security kantor.


Dengan paniknya Qenan berlari mengecek CCTV di kantor untuk menemukan Dita, tapi sayangnya Qenan tidak menemukannya. Ia mulai frustasi karena mencemaskan keadaan Dita, hingga ia teringat jika hanya satu tempat yang tidak di pasang CCTV yaitu toilet.


Qenan yang di temani security segera menuju toilet dan benar saja, ada satu toilet yang terkunci dari luar.


"Dita.. Dita... Apa kamu mendengar suara saya?" Teriak Qenan menggedor pintu toilet yang terkunci.


Namun sama sekali tidak ada jawaban yang terdengar oleh Qenan, dengan paniknya ia merusak kunci toilet dan akhirnya pintu toilet berhasil terbuka.


"Dita.." Ucap Qenan mengangkat tubuh Dita yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

__ADS_1


Qenan segera menggendongnya ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit, di dalam perjalanan Qenan terus saja menengok ke kursi belakang dimana ia meletakan Dita yang tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi padanya, kenapa hatiku merasa tidak tenang." Ucap Qenan memukul-mukul kemudinya.


__ADS_2