
Qenan kembali melajukan mobilnya menuju kantor dengan luka di jari-jari tangannya akibat telah memberikan pelajaran untuk Vian. Gelang milik Asty yang tadi ia dapatkan dari Vian, saat ini ia kenakan di tangannya.
Khayalan Qenan kembali pada saat melihat senyuman Asty yang menggambarkan betapa senangnya ia bisa mendapatkan gelang yang dia sukai walaupun hanya sebuah gelang sederhana, senyuman Asty membuat Qenan ikut merasa bahagia.
Awan mendung mewakili perasaan sedih atas kepergian Asty untuk selamanya, hal yang sangat ia sesali adalah keterlambatannya mengingat sosok Asty yang begitu penting di hidupnya.
Qenan berjalan gontai memasuki ruangannya, ia memilih kembali ke kantor sambil mencari cara bagaimana menjelaskan pada ibunya.
"Ya ampun, tangan bapak terluka. Saya ambilkan obat dulu, pak." Seru Dita bergegas mengambil kotak P3K ketika melihat darah yang keluar dari jari tangan Qenan.
Qenan hanya terdiam menatap Dita yang begitu panik melihat sedikit luka di jari-jari tangannya, seperti melihat sosok Asty pada diri sekretaris barunya itu.
Kini Dita tengah mengobati Qenan dengan penuh kelembutan, Qenan menatap lekat wajah Dita yang ternyata benar-benar mirip dengan Asty jika di lihat dengan jarak yang cukup dekat.
Jantung Qenan berdegup begitu kencang saat menatap wajah Dita, jika dia adalah Asty rasanya ingin sekali Qenan memeluknya dengan erat.
Namun sayang, kini Asty sudah tidak bisa ia temukan lagi di dunia ini. Qenan memalingkan pandangannya pada gelang yang berada di tangannya, sesekali ia memberikan kecupan pada gelang tersebut.
Dita yang baru selesai mengobati tangan Qenan merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Qenan, tetapi rasanya tidak sopan jika bertanya langsung karena ia hanya sekretaris yang baru mulai bekerja.
"Tunggu, Dita. Maukah kau mendengarkan cerita ku?" tanya Qenan membuat Dita menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Kalau saya tidak akan di pecat, saya mau pak." jawab Dita dengan polosnya.
Qenan tertawa mendengar kepolosan Dita, dulu Asty juga begitu polos walaupun ia berani melawan penjahat. Dita pun duduk berhadapan dengan Qenan, ia mendengarkan dengan serius cerita sedih Qenan saat mengetahui jika Asty telah pergi meninggalkannya.
Entah kenapa Qenan tiba-tiba memilih bercerita dengan Dita yang baru saja ia kenal, padahal banyak temannya di luar sana yang sudah akrab dengannya.
Qenan mengatakan betapa pentingnya Asty di dalam hidupnya, tetapi kini ia tak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Asty. Air matanya menetes begitu saja, membuat Dita ikut menangis mendengar cerita sedih tersebut.
Tanpa mereka sadari, kini hari mulai gelap karena matahari sudah kembali ke peraduannya. Mereka pun bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Hari semakin gelap, tidak baik kalo kamu pulang sendirian. Ayo saya antar." ajak Qenan dari dalam mobilnya.
__ADS_1
Awalnya Dita menolak, tapi akhirnya ia menerima ajakan Qenan karena sudah tidak ada lagi teman yang akan menaiki bis.
Mereka tampak akrab seperti sudah lama saling mengenal, sepanjang perjalanan mereka saling berbagi cerita. Tetapi Qenan lebih banyak menceritakan tentang Asty, membuat Dita merasa jika posisi Asty begitu spesial di hati Qenan.
"Terimakasih pak, sudah mengantar saya sampai di sini." Ucap Dita kemudian membuka pintu mobil Qenan.
Setelah mengantarkan Dita, Qenan melajukan mobilnya menuju rumah dengan perasaan sedikit tenang. Walau hatinya masih terpukul atas kepergian Asty, ia harus bisa tetap tenang untuk memberitahu bu Rani kabar tentang Asty yang sejak lama di nanti.
"Halo mam." Sapa Qenan duduk di sebelah bu Rani yang sedang menonton televisi.
Qenan terus memegangi tangan bu Rani dengan wajah kebingungan. Bu Rani melihat sikap anaknya yang berbeda memunculkan banyak pertanyaan.
"Kamu kenapa sih? Terus ini kenapa gelangnya Asty ada di kamu?" Tanya bu Rani memegang tangan Qenan yang memakai gelang Asty.
Suasana tiba-tiba menjadi hening, saat Qenan mempersiapkan dirinya untuk mengatakan hal sebenarnya yang telah terjadi pada Asty. Qenan yang berusaha kuat di hadapan bu Rani, dengan cepat ia memeluk bu Rani sangat erat dan meneteskan air matanya.
"Qen, apa kamu sudah mengetahui dimana Asty berada?" Tanya bu Rani mengusap punggung Qenan yang tengah memeluknya.
"Maafkan aku, bu." lirih Qenan.
Atas saran dari Dita, Qenan segera menceritakan hal tersebut pada bu Rani, karena cepat atau lambat semuanya akan terungkap. Walau dengan berat hati, Qenan menceritakan informasi yang ia dapatkan dari Vian kepada sang ibu.
Tangis bu Rani pun pecah setelah mendengar kabar bahwa Asty sudah tiada. Gadis yang selama ini ia dambakan untuk di jadikan menantu, kini telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Mama gak percaya, Qen. Arka pasti sudah membohongi kamu." Ucap bu Rani mengusap air matanya.
Qenan terdiam, ia juga berpikiran sama dengan ibunya. Vian memang sering membuat masalah, bisa saja ia menyembunyikan Asty di suatu tempat.
***
Pagi hari itu sebelum berangkat ke kantor, Qenan pergi ke rumah Vian terlebih dahulu untuk memaksa Vian mengatakan di mana Asty berada.
"Kau ini, sudah ku bilang dia masuk ke dalam jurang. Waktu itu dia berusaha kabur dari penyiksaan ku, tapi sayangnya dia tidak berhasil kabur dengan selamat." jelas Vian dengan santainya.
__ADS_1
Qenan yang melihat Vian tanpa ekspresi bersalah membuatnya geram hingga kembali mendaratkan pukulan di wajah Vian. Merasa tidak terima, Vian membalas hingga terjadi perkelahian diantara mereka.
Perkelahian mereka berakhir ketika para pengawal Vian memisahkan mereka dan mengusir Qenan, kemudian ia memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor.
Sebagai sekretaris baru, Dita sudah sampai lebih dulu di kantor mengerjakan pekerjaannya dengan terampil. Tak lama kemudian Qenan pun sampai di kantor dan segera duduk di kursi kebesarannya dengan kesal.
"Bapak terluka, apa bapak berkelahi lagi?" Tanya Dita membawa kotak P3K.
"Cepatlah obati luka ku, bukankah sebentar lagi kita akan ada meeting." Ucap Qenan mengepalkan tangannya di atas meja.
Dengan sigap, Dita mengobati luka di wajah Qenan. Mereka saling berpandangan, Qenan menatap kedua bola mata bulat dengan bulu mata lentik yang terhalang oleh kacamatanya. Dita tersenyum ketika menyadari Qenan tengah memperhatikannya.
"Ekhm.. Kau jangan coba-coba merayuku, kau hanyalah sekretaris ku." Qenan mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berdetak cukup kencang saat itu.
"Maaf, pak." Ucap Dita menunduk kemudian meletakkan kembali kotak P3K.
Kini mereka sudah berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan rekan bisnis Qenan. Pertemuan mereka berjalan dengan lancar, hingga di akhir pertemuan rekan bisnis Qenan menatap Dita tanpa mengedipkan mata membuat Qenan merasa geram dan memutuskan untuk undur diri.
Dalam diri Qenan muncul rasa cemburu ketika Dita di lirik oleh orang lain, Qenan merasa seolah ia tengah berdua bersama Asty hingga tak rela jika wanitanya menjadi perhatian orang lain.
Dita hanya tersenyum melihat tingkah laku bosnya yang mendadak terasa aneh, jika tadi ia marah ketika Dita menatapnya, saat ini malah ia tidak terima jika Dita di tatap oleh orang lain.
Dita berlari kecil di belakang Qenan yang berjalan menuju tempat parkir, tubuhnya yang lebih pendek dari Qenan membuatnya kesulitan untuk berjalan beriringan dengan Qenan.
"Tolong.. jambret.."
Suara teriakan seorang gadis terdengar jelas telinga Dita seiring dengan seorang pria berlari ke arahnya membawa sebuah tas kecil di tangannya.
BUKK...
Satu tendangan berhasil menjatuhkan pria tersebut, kemudian orang-orang di sekitar segera mengamankan pria tersebut yang kesakitan memegangi perutnya yang terkena tendangan Dita.
Qenan yang sudah berada di dalam mobil memperhatikan Dita menghentikan pencuri dan membuatnya teringat pada Asty. Penampilan mereka yang berbeda 180 derajat membuat Qenan sadar jika mereka adalah dua orang yang berbeda, tetapi saat ini ia melihat kesamaan yang terdapat pada diri mereka.
__ADS_1
Menolong orang yang tidak dikenalnya walau nyawa menjadi taruhan.