
Asty terus berlari mengejar Qenan yang berada cukup jauh dari jangkauannya. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, akhirnya Asty berhasil menghadang pria berbadan besar yang hendak membawa Qenan memasuki mobil mereka.
"hah.. hah.. hah.. lepaskan dia." seru Asty menundukkan badannya dan mengatur napas.
Dua pria berbadan besar itu menertawakan Asty yang kini ada tepat di belakangnya dan terlihat sangat kelelahan setelah mengejarnya.
"kayaknya asyik nih buat mainan, ayo kita main bentar dulu." ajak salah seorang pria berbadan besar itu.
Saat Asty tengah mengatur napas, tangannya di kunci dari belakang oleh salah satu pria berbadan besar itu. Asty tampak sangat tenang, mengatur napas dan mengumpulkan tenaganya.
Pria berbadan besar satunya lagi berjalan ke arah Asty bersiap untuk membuka kancing kemeja yang tengah di pakai Asty.
Bukkk...
Kaki Asty melayang mengarah tepat ke wajah pria di hadapannya, kemudian di injaknya kaki pria yang memegangi tangannya hingga akhirnya ia bisa melepaskan diri.
Qenan berdecak kagum melihat keberanian Asty menghadapi pria besar itu.
Kini Asty tengah terlibat baku hantam dengan dua pria itu hingga ia merasa kelelahan dengan segala luka di seluruh tubuhnya. Namun tidak dengan dua pria berbadan besar itu, mereka tampak senang mempunyai mainan baru.
"kau saja duluan, tidak seru jika kita berdua yang melawannya." seru pria besar itu pada temannya.
Asty terus melawan hingga akhirnya ia tersungkur, membuat Qenan merasa tidak tega melihat Asty. Ia menghampiri Asty hendak membantu mengalahkan pria besar itu.
Tapi Qenan di dorong oleh pria besar itu dan terjatuh. Kepalanya membentur sebuah batu besar yang ada di sekitarnya, hingga ia mengeluarkan banyak darah dan tak sadarkan diri.
"Qenan..." teriak Asty mencoba bangkit dan menghampiri Qenan.
Dua pria berbadan besar itu ketakutan karena targetnya malah terluka, merekapun memutuskan untuk pergi meninggalkan Asty dan Qenan.
Asty panik melihat Qenan mengeluarkan banyak darah, ia segera menelpon pak Ujang untuk membawa Qenan ke rumah sakit terdekat.
Di dalam mobil, Asty terus menangis sambil mengelap darah yang terus keluar dari kepala Qenan dengan menggunakan syal yang selalu ia simpan di dalam tas nya.
__ADS_1
Walau badannya sendiri penuh luka, tapi ia tidak merasakannya karena ia begitu khawatir melihat Qenan yang terus-menerus mengeluarkan darah.
"maafkan aku, Qen. andai saja tadi aku mengajakmu membeli air minum, pasti tidak akan seperti ini." ucap Asty terus menangisi Qenan yang berada di pangkuannya.
Melihat Asty menangis, membuat pak Ujang ikut merasa sedih. Namun ia tetap fokus menyetir dan terus menambah kecepatan agar cepat sampai di rumah sakit.
Pakaian Asty penuh dengan darah dari kepala Qenan, di wajahnya terdapat banyak lebam dan rambutnya yang biasa tertata rapih kini terlihat acak-acakan.
Asty begitu frustasi melihat Qenan masuk sebuah ruangan yang dingin dan beraroma obat-obatan. Ia terus mondar-mandir di depan ruangan, hingga akhirnya ia merasa lemas dan memilih bersandar di tembok sambil terus meneteskan air mata.
Tak lama kemudian bu Rani dan pak Bagas datang. Mereka terkejut melihat penampilan Asty yang acak-acakan dan penuh luka.
"Asty.." ucap bu Rani memegang kedua bahu Asty.
"bu, maafkan saya bu. saya gagal menjaga Qenan." seru Asty yang langsung berlutut di hadapan bu Rani sambil terus mengeluarkan air matanya.
Melihat Qenan yang masih di tangani dokter dan kondisi Asty membuat bu Rani meneteskan air matanya.
Bu Rani mencoba untuk kuat menghadapi segala cobaan yang menimpanya. Dengan tegar, bu Rani mengangkat bahu Asty dan memintanya untuk bangkit.
"ini bukan salah kamu, nak. ayo bangun." ucap bu Rani menahan air matanya mencoba untuk kuat.
Pak Bagas terus berada di belakang bu Rani untuk menguatkannya.
"iya Asty, ini bukan salah kamu. lebih baik kita doakan saja semoga Qenan cepat sadar dan bisa kembali normal." tambah pak Bagas dengan tegar.
Asty mulai merasa sedikit tenang karena sudah mendapatkan maaf dari orang tua Qenan.
"sekarang kamu pulanglah, beristirahat dan obati lukamu. biar pak Ujang mengantarkan sampai ke rumah." pinta bu Rani terus mengelus bahu Asty.
Awalnya Asty menolak, karena ia juga ingin menunggu sampai Qenan bangun dan meminta maaf padanya. Namun bu Rani tak tega melihat wajah Asty yang sangat kelelahan dan pakaiannya yang penuh darah yang sudah mulai mengering, akhirnya Asty menuruti perintah bu Rani.
Di dalam mobil, Asty hanya diam memandang ke luar dari balik kaca jendela. Pikirannya terus melayang, ada rasa takut kehilangan namun rasanya ia juga tak pantas mengharapkan Qenan.
__ADS_1
Asty yang biasanya tak mau diam, saat ini ia memilih tak mau berbicara sedikitpun. Pak Ujang yang melihat perubahan Asty ikut merasa sedih, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Kini mereka hanya bisa mendoakan keselamatan Qenan.
***
Di ruangan yang dingin dan sunyi, Qenan terbaring dengan ventilator yang menempel sebagai alat penyambung hidupnya.
Bu Rani duduk di samping Qenan yang tidak melakukan pergerakan sedikit pun sejak ia mendapat penanganan dari dokter.
"Qenan, ini ibu sayang. bangun yuk jadi anak ibu yang dewasa, ibu kangen sama kamu, nak." ucap bu Rani memegang jemari Qenan sambil menahan air matanya.
Sekuat tenaga bu Rani menahan air matanya, namun ia sudah tak sanggup lagi membendungnya. Akhirnya air mata bu Rani jatuh, ia menjatuhkan kepalanya di sisi Qenan yang tidak merespon sama sekali.
Bu Rani menangis...
Selama ini bu Rani sudah menjadi kuat, saat menghadapi anak dewasanya yang tiba-tiba menjadi remaja kembali. Kekuatannya kini kembali di uji dengan kondisi Qenan yang berada diantara hidup dan mati.
Dengan dukungan dari pak Bagas yang selalu bisa membuatnya kuat menghadapi kenyataan yang ada pada saat ini.
"sudahlah bu, kita do'akan saja anak kita agar mendapatkan jalan yang terbaik." ucap pak Bagas membelai lembut kepala sang istri.
Pak Bagas selalu ikhlas menerima segala ujian yang diberikan Allah kepada dirinya dan keluarga. Ia menyadari jika apa yang dia miliki saat ini adalah suatu titipan dari Allah, tidak terkecuali seorang anaknya.
Kedua orang tua Qenan menemaninya di rumah sakit hingga rasa lelah menghampiri bu Rani yang selalu duduk di samping Qenan, tanpa terasa kepalanya terjatuh di atas tangan Qenan.
Melihat bu Rani sangat kelelahan, pak Bagas berinisiatif mengajaknya pulang, mengingat hari sudah malam. Bu Rani menyambut dengan baik ajakan pak Bagas untuk pulang, karena iapun sudah merasa tidak kuat menopang badannya sendiri.
Sementara Asty, kini sedang mendapat pengobatan dari Laras yang terus meneteskan air mata.
"udah kak, jangan nangis terus. lagian aku msih hidup kok." ucap Asty kesal karena Laras tak kunjung menghentikan tangisnya.
"huwwaaa... Asty, kamu emang adik yang nyebelin. tapi aku nggak siap buat kehilangan kamu." ucap Laras sambil terus menangis.
__ADS_1