
"Vian, kalo lo beneran mau jadi pacar gue. Gue mau lo berhenti jadi pembuat onar disekolah ini, jadilah cowok biasa yang bisa menghargai orang lain. Apa kamu sanggup?" tanya Asty menatap ke arah Vian yang menanti jawaban.
"yah, aku siap." jawab Vian tanpa berpikir lama.
Deg...
Deg...
Mendengar jawaban Vian yang begitu yakin membuat jantung Asty berdetak begitu cepat.
Ia tidak menyangka Vian akan menyanggupi persyaratanya, dalam hatinya Asty masih meragukan keyakinan Vian karena ia tau sendiri jika Vian adalah raja prank disekolahnya, Asty takut akan menjadi korban selanjutnya.
"gimana Asty, berarti kita udah resmi jadian kan?" tanya Vian tersenyum menyadarkan lamunan Asty.
"jadian.. jadian.. jadian.." Toby memulai lagi paduan suaranya bersama siswa satu kelas.
"hmm baiklah, kita jadian." seru Asty memutar bola mata malas.
"yes, berarti sekarang aku boleh dong minta kamu buat panggil aku sayang." pinta Vian dengan bangganya.
"gak usah lebay deh, malu diliat yang lain." seru Asty menatap ke arah para siswa yang tengah menontonya.
Tak terasa sudah waktunya pulang sekolah, Asty yang masih belum terbiasa jika dia sudah resmi berpacaran dengan Vian berjalan sendiri meninggalkan ruang kelas.
"sayang tunggu aku." seru Vian berjalan dibelakang Asty membuatnya terkejut.
"enak ajah maen panggil-panggil sayang, dasar kadal." jawab Asty kesal dan berjalan kembali meninggalkan Vian.
"ya ampun, kita kan udah sepakat mau manggil sayang." jelas Vian dengan sabar menarik pergelangan tangan Asty menghentikan langkahnya.
"cihh... emang lo siapanya gue?" tanya Asty tidak terima.
"Asty.. kita baru jadian 2 jam yang lalu, masa kamu udah lupa sih." jawab Vian menepuk jidatnya.
"ya ampun, maaf aku lupa." seru Asty menutup mulutnya.
"hadeehh.. ya udah ayo aku anterin kamu pulang." ajak Vian kembali meraih tangan Asty dan menggandengnya menuju tempat parkir.
Seluruh siswa siswi menatap ke arah Asty dan Vian yang berjalan bergandengan tangan.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan mereka Vian terus menggenggam tangan Asty dengan satu tanganya dan tangan satunya ia masukan kedalam saku celananya, Vian berjalan dengan gagahnya.
Memiliki badan yang tinggi dan tubuh yang atletis berbeda dengan siswa lain pada umumnya membuat para siswi merasa iri kenapa Vian memilih Asty yang berbadan kecil dengan tinggi hanya sebatas dada jika di sandingkan dengan Vian.
"Vian, bisakah kita berjalan biasa saja tidak usah bergandengan tangan?" tanya Asty membuat Vian menghentikan langkahnya.
"siapa yang suruh panggil nama? panggil aku SAYANG." seru Vian penuh penekanan. "kenapa tidak mau aku gandeng tanganya, hah? apa kamu malu kalau mereka tahu kita udah jadian?" tanya Vian kembali sambil menunduk dengan wajah yang terus mendekat ke wajah Asty membuatnya ketakutan.
"bu-bukan begituu, aku ngerasa gak enak sama pandangan mereka seolah aku jadi yang istimewa banget, iya gitu." jawab Asty gugup sambil mengatur jaraknya dengan Vian.
"oh hahaha... kenapa kamu mikirin orang lain, cuek ajah lah kamu emang istimewa dihatiku." seru Vian berhasil membuat pipi Asty merona.
Vian kembali menarik tangan Asty menuju tempat parkir, namun mereka berhenti ketika Rehan memanggil Asty.
"Asty, satu sekolah membicarakanmu... coba jelaskan apa artinya ini." seru Rehan menatap jari-jari Vian dan Asty yang saling menyatu.
"maksud lo ini?" tanya Vian mengangkat tanganya yang menempel dengan Asty ke hadapan Rehan.
"gue mau denger sendiri penjelasan dari Asty." seru Rehan.
"semua udah jelas bro, gue sama Asty udah jadian. udah deh, jangan ganggu kita lagi. kita mau ngerayain hari jadian kita." ucap Vian menarik tangan Asty memanas-manasi Rehan kemudian berlalu meninggalkanya yang sedang mencari jawaban pasti.
Rehan hanya bisa terdiam melihat Asty pergi dengan Vian. Rehan yang selalu menjaga Asty sudah menganggap seperti adiknya itu merasa khawatir karena ia dekat dengan Vian, Rehan tak mau terjadi hal yang tidak menyenangkan bagi Asty.
"hah... semoga lo baik-baik ajah Asty, sejujurnya gue gak yakin dia bisa jagain lo." gumam Rehan menghela napas kasar menatap kepergian Asty.
Asty dan Vian masih berjalan beriringan menuju tempat parkir namun saat ini tanpa bergandengan tangan, membuat Asty merasa jika Vian marah padanya.
Sesampainya mereka ditempat parkir, Vian mengambil motor dan membawanya ke hadapan Asty.
"ayo naik.." seru Vian tanpa melihat ke arah Asty. Tak mau banyak berdebat Astypun menuruti perintah Vian, perlahan ia menaiki sepeda motor Vian.
"pegangan yang kuat, aku tidak mau kamu terjatuh." seru Vian masih dengan nada jutek, namun kali ini Asty hanya diam tak menuruti perintah Vian.
"ck.. dasar keras kepala." keluh Vian menarik tangan Asty dan melingkarkan dipinggangnya.
Vian langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, setiap ia merasa kesal ia lampiaskan pada kebut-kebutan di jalan membuat Asty ketakutan.
"Viaaan... kalo kamu marah sama aku mending turunin aku ajah disini." teriak Asty ditengah kecepatan motor Vian, tetapi Vian hanya diam pura-pura tidak mendengar.
__ADS_1
"Vian berhenti., kalo kamu gak berhenti aku lompat nih." teriak Asty kembali, kali ini Vian menghentikan motornya. Asty segera turun dan meninggalkan Vian tanpa berkata apapun.
Melihat Asty berjalan kaki disiang hari yang panas terik membuat Vian tidak tega, segera ia mengejar Asty.
"Asty, ayo naik. aku antar pulang." ajak Vian dengan lembut.
"Tidak, terimakasih. aku sudah biasa jalan kaki." ketus Asty terus berjalan tanpa melihat ke arah Vian.
"oh ya ampun, kenapa jadi dia yang marah." gumam Vian.
"kamu kalo mau bunuh diri jangan ngajak-ngajak, aku masih mau hidup aku mau bekerja dan bahagiain ayah ibu." Asty meracau.
"siapa juga yang mau bunuh diri. harusnya kamu ngerti kalo aku tuh cemburu." seru Vian membuat Asty menghentikan langkahnya dan menatap Vian heran.
"kamu cemburu aku ngobrol sama Rehan?" tanya Asty memastikan.
"iya, aku sangat cemburu. harusnya kamu hanya mengobrol dengan satu pria yaitu aku." jawab Vian sangat posesif, semenjak pacaran Vian berubah jadi sangat posesif.
"ya Ampuun Vian, dia itu cuma temen SD aku, kita udah lama kenal bukan berarti kita ada hubungan lain." jelas Asty menatap Vian dengan mata berkaca-kaca.
"oh astaga, kenapa gue bisa ngerasa secemburu ini." kini batin Vian yang berbicara.
"ya sudah ayo naik, aku antar sampai ke rumah." ajak Vian lembut.
Melihat Vian sudah tenang, Astypun kembali menaiki motor. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berkata sedikitpun hingga tak terasa sudah sampai didepan rumah Asty.
Ia terkejut, bagaimana bisa Vian mengetahui rumahnya sedangkan sedari tadi ia tidak memberitahu dimana alamat rumahnya.
"kok kamu tau rumahku disini? padahal aku belum ngasih tau alamat rumahku." tanya Asty heran.
"aku tau segalanya tentang kamu sayang. bolehkah aku masuk?" tanya balik Vian tersenyum.
"oh jangan, lain kali saja ya. kalo di rumah ada ibu." jawab Asty dengan cepat menolak Vian.
"kenapa? bukanya bagus tidak ada ibumu, kita jadi leluasa..." seru Vian tersenyum menatap Asty dari ujung rambut ke ujung kaki.
.
.
__ADS_1
bersambung...