Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 30


__ADS_3

Pagi yang cerah telah menyapa dan memberikan semangat kepada Asty yang tengah bersiap berangkat ke sekolah, hari ini akan menjadi hari yang lumayan menegangkan baginya. Dalam benaknya pasti orangtua Nuri tidak mau tinggal diam dengan masalah ini, Asty harus menyiapkan diri dengan apa yang akan Nuri lakukan lagi kali ini.


"Asty, Laras ayo sarapan dulu." seperti biasa teriakan itu selalu bergema dipagi hari membangunkan semangat untuk bergegas menuju sekolah.


"Asty mana?" tanya bu Tatum melihat Laras berjalan sendiri ke meja makan.


"Belum selesai beresin bukunya, kebiasaan leletnya gak ilang-ilang." jawab Laras memasukan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya.


"Enak ajah ngatain aku lelet." sahut Asty dari belakang Laras.


"Ya emang kamu lelet. makanya siapin buku tuh tadi malem sebelum tidur, biar pas bangun udah siap." seru Laras lagi.


Suasana pagi memang selalu diwarnai percekcokan dua bocah beda usia ini, rasanya ada yang kurang jika mereka tidak melakukan perdebatan. Bu Tatum yang sudah terbiasa dengan kelakuan dua anaknya hanya memperhatikan mereka sambil melahap sarapannya.


"Udah selesai belum? bisa-bisa kalian telat ke sekolah kalo masih berdebat." suara bu Tatum menghentika perdebatan diantara mereka.


"Dah sekarang selesaikan sarapan kalian. oh iya Asty, nanti ibu ke sekolah jam 8 ya. Kamu tenang ajah, ibu pasti dateng. Ibu gak mau anak ibu yang gak salah ini selalu terpojokan." tambah bu Tatum membuat Asty merasa tenang dapat perlindungan.


"Iya Asty, kalo kamu gak salah tenang ajah. Biar yang salah yang panik, kalo bisa bikin dia malu sekalian," seru Laras kesal mengingat cerita Asty kemarin.


"hmmm... kalo tenang, aku bisa kak. Tapi kalo bikin dia malu kayaknya susah deh, dia kan banyak uang jadi bisa lakuin apa ajah sedangkan aku apa." jawab Asty lesu.


"hellooo... adiku yang otak toge. jangan minder walau gak punya apa-apa, kamu masih punya otak yang berfungsi kan. Otakmu lebih mahal daripada apapun yang si sok kaya itu punya. Adiku harus buang jauh-jauh rasa minder itu." jelas Laras membuat Asty memiliki semangat tambahan untuk menghadapi masalahnya.


Waktu sarapan telah habis, kini mereka bersiap untuk menuju sekolah masing-masing tak lupa menyalami bu Tatum meminta doa agar mendapat ilmu yang bermanfaat.


Ketika berjalan menuju sekolah, Asty disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa mengguncang hati dan perasaanya. Bagaimana tidak, Asty melihat Andri menaiki sepedanya berdua bersama si anak baru di kelasnya, siapa lagi kalau bukan Bella.


Mereka terlihat berboncengan sambil bercanda ria membuat hati Asty merasa disayat-sayat oleh sillet yang baru dibuka bungkusnya. Andri yang seolah menaruh rasa untuk Asty malah sekarang tengah berduaan dengan gadis lain, benar-benar membuat satu guncangan kuat dihati Asty.

__ADS_1


"hati, tolonglah jangan seperih ini. Dia bukan siapa-siapa dan aku hanyalah remahan rempeyek yang tidak menarik dimatanya. Dia memang cantik, sepertinya dari keluarga kaya raya yang sepadan dengan Andri yang tampan dan kaya itu." batin Asty sambil berjalan dengan memegangi dadanya.


"Ahhh sudahlah... pemandangan itu telah mengotori mataku di pagi yang cerah ini." batinya lagi lalu mengalihkan pandangannya dan bergegas menuju sekolahnya dan bertemu dengan Tina sahabat satu-satunya itu.


Setibanya diruang kelas, Asty langsung duduk di tempatnya bersama Tina dengan wajah yang tidak mudah untuk diartikan.


"Ini masih pagi lho... kenapa tuh muka udah abstrak begitu bentuknya wouy, kenapa?" tanya Tina menatap wajah Asty yang ditekuk tapi dengan sedikit senyum terpaksa.


"mataku udah ternoda." jawab Asty singkat membuat Tina makin bingung.


"Kamu abis liat apa wouy, jangan bilang kamu abis nonton vidio adegan dewasa ya." seru Tina menutup mulutnya tanda terkejut.


"waduhh.. aku gak segila itu Tina Wulandariiiii...." jawab Asty menepok jidatnya.


"Lagian kita masih dibawah umur, apa jangan-jangan kamu udah pernah liat yaa?" tanya Asty penuh selidik pada Tina.


"amit-amit... aku juga gak pernah liat begituan kali Asty." jawab Tina mengetok-ngetok mejanya.


"Lagi pada ngomongin apaan sih sampe ketawa-tawa kenceng banget gitu." batin Andri menatap ke arah dua anak yang sedang asyik tertawa.


.


.


.


.


Tak terasa jam istirahatpun tiba, Asty bergegas menuju ruang guru dimana sudah ada bu Tatum dan mamanya Nuri yang tengah mengobrol dengan guru wali kelas.

__ADS_1


"Ibu sudah tahu kan maksud saya mengundang anda berdua kesini?" tanya bu Dina dan dijawab anggukan oleh bu Tatum.


"Ya taulah bu, ini semua gara-gara si Asty yang gak tau malu itu." jawab mama Nuri dengan percaya dirinya.


"Maaf bu, saya tidak pernah mengajari anak saya untuk berkelahi. Mungkin kalau tidak ada yang memulai duluan dia tidak akan berkelahi seperti itu." jawab bu Tatum santai namun menambah emosi mamanya Nuri.


"Oh jadi kamu nuduh anak saya yang mulai duluan, gitu?" tanya mamanya Nuri sambil melotot dan berdiri dari tempat duduknya.


"Sekolah ini bukannya memasang CCTV dimana-mana ya bu, mungkin bu Dina dan yang lain sudah mengecek CCTV terlebih dahulu sebelum menentukan siapa yang salah." seru bu Tatum masih dengan tenang duduk di kursinya.


"benar bu, tapi kejadian ini berada di toilet yang tidak terpasang CCTV, jadi kami tidak bisa mengetahui siapa yang bersalah." jelas bu Dina. "dan solusinya kami memutuskan untuk menskors Asty dan Nuri selama satu minggu untuk memberikan peringatan kepada mereka bahwa berkelahi itu tidak baik." tambah bu Dina.


"apa, satu minggu? apa itu tidak terlalu lama bu, sedangkan mereka mau ujian." protes bu Tatum.


"iya bu, ini keterlaluan. bisa-bisa anak saya tidak lulus." tambah mamanya Nuri kembali duduk.


"tapi ini sudah keputusan kami bu." jawab bu Dina dengan berat hati.


Ketika mereka berdebat, tiba-tiba datang seorang guru dan berbisik ditelinga bu Dina. Setelah itu bu Dina segera mengumumkan sesuatu kepada bu Tatum dan mamanya Nuri.


"Baiklah ibu, setelah kami pertimbangkan kembali, Asty dan Nuri tidak akan kami skors melainkan harus membersihkan toilet sepulang sekolah selama tiga hari." seru bu Dina membuat bu Tatum sedikit merasa lega.


"Terimakasih bu, setidaknya anak saya masih bisa ikut pelajaran sebelum ujian." jawab bu Tatum dengan senyumnya.


"apa, membersihkan toilet bu? tangan anak saya bisa-bisa jadi kasar gara-gara tiga hari bersihin toilet." seru mamanya Nuri bergidik ngeri membayangkan anak kesayangannya membersihkan toilet.


Bu Dina dan bu Tatum hanya menggelengkan kepala. Setelah selesai, bu Tatum pamit dan menemui Asty yang menunggu didepan ruang guru.


Asty yang mendengar cerita bu Tatum merasa sedikit aneh karena bisa semudah itu mengganti hukuman jadi lebih ringan, biasanya akan sulit jika keputusan sudah disepakati.

__ADS_1


"kayaknya ada yang aneh deh. tapi siapa yang bisa bikin keputusan berubah secepat ini. ahh sudahlah yang penting aku masih bisa sekolah." batin Asty.


__ADS_2