Mengejar Cinta Yang Salah

Mengejar Cinta Yang Salah
episode 16


__ADS_3

Di rumah sederhana milik bu Tatum dan keluarga tampak sepi, membuat Laras yang baru saja pulang sekolah menjadi bertanya-tanya karena biasanya adiknya itu sudah berada di rumah setiap ia pulang sekolah.


"Asty... Asty..." teriak Laras mencari di setiap ruangan. "kemana tuh bocah ya, biasanya jam segini lagi tiduran depan tv nonton acara kesukaannya." ujar Laras mengingat kegiatan di hari-hari biasanya.


Ketika Laras merasa kebingungan tiba-tiba datang seorang pria berbadan tinggi memasuki rumah.


"assalamualaikum." seru pria itu meletakan ransel yang ia bawa di lantai.


"wa alaikum salam." jawab Laras dan bergegas menuju ruang tamu. "ayah.." pekik Laras menghampiri pria itu dan meraih tangannya kemudian mencium punggung tangan ayahnya.


"kok sepi, adikmu mana biasanya dia langsung dateng kalo denger suara ayah." tanya pak Reno heran.


"gak tau yah, aku juga baru sampe nih dari tadi aku cari-cari tapi ngga ada." jelas Laras yang duduk di samping ayahnya. "ya udah aku bikinin minum dulu ya ayah." tambahnya beranjak dari duduknya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di ketuk, ternyata itu adalah mang Danang.


"eh mang Danang, ada apa ya mang?" tanya Laras masih memegang gagang pintu.


"itu mau ngasih kabar, tadi pulang sekolah Asty ketabrak mobil. sekarang lagi di rumah sakit, ini saya baru dari sana mengantarkan Asty." jelas mang Danang.


Betapa terkejutnya Laras dan ayahnya mendengar kabar itu. "lalu sekarang bagaimana keadaan anak saya mang Danang?" tanya pak Reno yang langsung menghampiri mang Danang.


"kata dokter sih nggak apa-apa pak Reno, cuma syok saja dan butuh banyak istirahat." jelas mang Danang menenangkan keluarga Asty.


"oh syukurlah kalau begitu, terimakasih mang Danang sudah menolong anak saya." seru pak Reno sedikit tenang.


"sama-sama pak, udah kewajiban kita saling menolong apalagi kita kan tetangga. oh iya, tadi juga saya ke rumah sakit sama anaknya bu Astrid, kayak nya dia khawatir banget sama Asty." jelas mang Danang.


" Andri maksud mang Danang?" tanya Laras penasaran.


"mamang nggak tau namanya siapa yang mamang tau dia anaknya bu Astrid." jelas mang Danang. "ya sudah kalo begitu mamang pamit pulang dulu yaah." tambah mang Danang dan berjalan menuju rumahnya.


Setelah mang Danang pergi, Pak Reno dan Laras pun langsung bersiap untuk menemui Asty di rumah sakit.


"ayah, aku mau kasih tau ibu dulu yaa." ujar Laras setelah selesai bersiap.


"iya sudah sana, hati-hati yah." seru pak Reno di jawab anggukan oleh Laras.


Laras langsung bergegas menemui ibu nya yang sedang bekerja. Kebetulan tempat kerja bu Tatum tidak jauh dari rumah mereka sehingga cukup berjalan kaki sudah sampai di tempat. Setelah beberapa menit berlari, akhirnya Laras sampai di tempat kerja bu Tatum. Terlihat dari luar bu Tatum sedang mengemasi kue-kue untuk di jual.


"ibu..." teriak Laras dengan napas ngos-ngosan.


"Laras, kamu kenapa?" tanya bu Tatum terkejut.


"Asty bu, Asty..." belum selesai bicara sudah di potong oleh ibunya.

__ADS_1


"Asty kenapa?" tanya bu Tatum tidak sabar mendengar apa yang terjadi pada anak bungsu nya.


"Asty ada di rumah sakit, tadi pulang sekolah dia ketabrak mobil." jelas Laras sambil mengatur napas.


"apaaa .. Asty?" bu Tatum teriak histeris. Ia tak percaya dengan kenyataan jika Asty anak bungsunya menjadi korban tabrak lari.


Seketika teman-teman kerja bu Tatum menghampiri karena penasaran kenapa bu Tatum teriak sehisteris itu.


"ada apa ini, ada apa dengan bu Tatum?" tanya salah seorang karyawan.


"adik saya jadi korban tabrak lari, bu. sekarang dia lagi di rumah sakit." jelas Laras


"Ya Allah... terus gimana keadaan nya sekarang?" karyawan lain ikut bersimpati, sementara bu Tatum masih syok mendengar kabar itu.


"katanya sih dia baik-baik saja, cuma masih belum sadar. sekarang kita mau ke rumah sakit." jelas Laras lagi.


"ya sudah ayo kita pergi sekarang." ajak bu Tatum yang segera bangkit dari duduknya. "saya izin yaah." tambah bu Tatum pada teman-temannya.


"iya nanti kita sampaikan ke bos, kamu tengok anak kamu dulu ajah." jawab salah satu karyawan.


Bu Tatum dan Laras segera menuju rumah dengan penuh rasa cemas hingga Laras lupa memberitahu kalo ayahnya sudah pulang. Beberapa menit berjalan, mereka pun sampai di depan rumah. Dari kejauhan, bu Tatum melihat pintu rumah yang terbuka membuatnya terkejut.


"ya ampun Laras, kamu lupa apa tadi ga kunci pintu sebelum nyamperin ibu?" tanya bu Tatum tegang, khawatir ada orang tak di kenal masuk rumah.


"di dalem ada ayah bu, tadi ayah datang pas aku baru pulang sekolah." jelas Laras santai menghilangkan rasa khawatir ibunya.


Sesampainya di rumah, bu Tatum langsung menghampiri pak Reno yang tengah duduk di ruang tamu dan menyalaminya.


"ibu mau siap-siap dulu, terus kita pergi ke rumah sakit." seru bu Tatum bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Tak butuh waktu lama bu Tatum sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit menemui anak bungsunya. Di tengah perjalanan, bu Tatum begitu mencemaskan keadaan Asty karena saat ini dia sendirian di dalam ruang UGD. Melihat ibunya cemas, Laras mencoba mengajak ngobrol bu Tatum.


"bu, tadi kata mang Danang. Asty di bawa ke rumah sakit itu sama mang Danang dan anaknya bu Astrid. pasti itu si Andri, dia kan deket banget sama Asty kan bu." tanya Laras menerka-nerka.


"ya, kalo memang anaknya Astrid pasti itu Andri Karena Astrid hanya punya dua anak yaitu Andri dan Nico temen kamu waktu SD kan" jelas bu Tatum.


"apa ini semua ada hubungannya dengan Astrid, dia gak mau kalo Asty dekat dengan Andri. perasaan ku jadi gak enak gini ya." batin bu Tatum mengingat kata-kata Astrid tadi pagi di sekolah..


...****************...


Sementara di dalam ruang UGD, Asty masih belum sadarkan diri. Terlihat seorang wanita memasuki ruangan dengan langkah yang begitu hati-hati mendekati brankar yang di tempati Asty untuk segera melancarkan aksi jahatnya.


"ternyata kamu masih bisa hidup, bukannya mati sekalian agar kamu gak bisa deketin anak saya." gumam Astrid dengan senyum jahatnya.


Tiba-tiba jari tangan Asty bergerak perlahan dan mengejutkan Astrid.

__ADS_1


"i-bu.." suara Asty yang tertutup alat bantu pernapasan dengan mata yang masih terpejam.


"oh kamu sudah bangun rupanya, di sini tidak ada ibu kamu." seru Astrid mendekati wajah Asty.


Perlahan Asty membuka matanya dan mengatur fokus pandangannya, yang pertama di lihatnya adalah wajah sinis Astrid yang tengah menatapnya sambil melipat kedua tangannya.


"ta-tante..." Asty masih terbata-bata dan mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama di kepalanya.


"kamu sudah siap untuk mati?" tanya Astrid dengan tatapan mata yang penuh kekejaman.


"ta-tante mau ngapain." Asty panik mendengar ucapan Astrid.


"aku mau kamu mati saja biar kamu gak bisa deketin anak ku, Andri." jelas Astrid melepaskan alat bantu pernapasan yang di pakai Asty.


"ng-ngak tante, jangan." Asty ketakutan dan berusaha untuk menjauh dari Astrid.


"kamu takut?" Astrid semakin mendekat, memegang bantal di bawah kepala Asty yang hendak ia gunakan untuk menutupi wajah Asty agar kehabisan napas.


"jangan tante jangan." teriak Asty


"sssttt... jangan berisik, nanti ada orang yang dengar." Astrid meletakan jari telunjuknya di bibir Asty. "kalo kamu gak mau mati, jauhin Andri." tambahnya berbisik di telingan Asty.


"ba-baik tante, aku akan jauhi Andri." jawab Asty bersandar di tembok merasa semakin ketakutan.


"anak pintar.." seru Astrid menekan pundak Asty agar kembali berbaring. "beristirahatlah yang tenang di sini, tapi jika aku masih melihat kamu dekat dengan Andri, akan aku buat kamu beristirahat selamanya." bisik Astrid di telinga Asty.


Astrid pun berjalan ke arah pintu keluar meninggalkan Asty yang masih ketakutan. Belum juga ia membuka pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dan terlihat seorang Pria dari balik pintu tersebut.


"mas Reno..." seru Astrid terkejut melihat ayah Asty.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


ada hubungan apa momy Astrid dengan ayah Reno...?

__ADS_1


see you next episode 😉


__ADS_2