
Di sebuah restoran ternama di kota itu tampak Vian tengah menikmati makan malam bersama Gisel, ia hanya ingin menuruti permintaan adik kesayangannya untuk berkencan dengan Gisel.
"Kau jangan merasa bangga karena aku menerima ajakan makan malam ini. Ini semua aku lakukan demi adikku." Ketus Vian memotong steak di atas piringnya.
Terlihat jelas raut wajah tidak sukanya pada Gisel walau ia tetap bersikap tenang. Sementara Gisel yang menerima undangan makan malam dari Kiara merasa sangat senang karena yang akan makan malam dengannya adalah Alvian Arka Saputra, seorang pemimpin perusahaan besar sekaligus menjadi pimpinan termuda di kota itu.
"Tapi aku benar-benar menjadi gadis paling beruntung yang bisa makan malam bersama pemimpin perusahaan ternama seperti anda, tuan Arka." Ucap Gisel tersenyum menatap ke arah Vian yang berada di hadapannya.
Vian hanya tersenyum sinis tanpa menatap Gisel yang ada di hadapannya. Ada sedikit rasa penasaran dengan Gisel, mengapa ia bisa masuk dalam daftar para gadis yang di pilih oleh Kiara.
"Apa? Kau bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh Qenan?" Ucap Vian terkejut meletakkan garpu dan pisau yang ia pegang di atas piring.
"Iya benar, aku bahkan ingin mencuri perhatiannya. Namun sepertinya dia lebih perhatian pada sekretaris barunya itu." jelas Gisel dengan wajah kesalnya.
Vian terdiam sejenak mendengarkan jawaban Gisel, ia berpikir jika terlalu cepat untuk Qenan bisa melupakan Asty dan berpaling pada gadis lain. Hingga tiba-tiba terpikir sebuah ide yang membuatnya kembali tersenyum sinis.
***
Pagi yang cerah seperti cerahnya hati Asty yang akan segera berangkat menuju kantor dan memberikan kejutan untuk Qenan. Hari ini ia akan mengakui bahwa selama ini ia telah menyamar menjadi orang lain.
"Huh.. Semoga dia tidak marah padaku." Ucap Asty menarik nafas panjang.
Seperti biasa ia berangkat menuju kantor menaiki transportasi umum agar tidak terlalu menambah kemacetan kota di pagi hari itu, senyuman terus terukir di wajahnya menggambarkan betapa senangnya hati Asty yang telah lama memendam rasa rindunya terhadap Qenan.
Setelah beberapa saat perjalanan, ia sampai di sebuah gedung perkantoran, ia berdiri didepan kantor dan menatapnya dengan senyuman. Segera ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Qenan untuk memberikan penjelasan, rangkaian kata pun sudah ia siapkan untuk menjelaskan pada Qenan.
Asty membuka pintu ruangan Qenan tanpa mengetuknya terlebih dahulu, berniat untuk memberikan kejutan. Tetapi pemandangan berbeda ia lihat ketika Qenan tengah berdiri memunggunginya menghadap ke arah jendela ruangannya bersamaan dengan seorang gadis yang memeluknya dari belakang, gadis itu adalah Gisel.
__ADS_1
Betapa hancurnya hati Asty mengingat jika Gisel adalah orang yang membuatnya masuk rumah sakit tempo hari, Asty langsung berpikiran jika Gisel di suruh oleh Qenan untuk mencelakainya karena Qenan tidak menyukai Asty saat menjadi Dita.
Tanpa berkata apa-apa, Asty segera pergi meninggalkan kantor. Berjalan gontai hingga akhirnya ia sampai di sebuah taman yang biasa ia kunjungi bersama Qenan, ia duduk sendiri sambil menitikkan air matanya.
Asty meratapi kebodohannya kembali, ketika ia mulai mempercayai Qenan yang dikiranya benar-benar menantikannya, ternyata ia sudah bisa melupakannya. Dalam lamunannya, ia kembali mengingat betapa Qenan sangat merindukannya. Qenan bahkan tidak menerima gadis manapun yang mendekatinya, tetapi ia kembali mengingat jika Qenan pernah memilih bercerita kepadanya, bukan pada Gisel.
Akhirnya Asty tersadar untuk memastikan terlebih dahulu apa yang terjadi antara Qenan dan Gisel di kantor beberapa saat yang lalu, ia memutuskan untuk kembali ke kantor dan meminta penjelasan dari Qenan.
Namun semuanya sudah terlambat, tiba-tiba saja ada sebuah tangan kekar yang menahan langkah kakinya.
"Mau pergi kemana, sayangku." Bisik Vian menarik tangan Asty dari belakang hingga membuatnya membalikkan badan.
Begitu terkejutnya Asty saat melihat Vian ada di hadapannya. Asty berusaha untuk tetap tenang karena ia berpikir jika Vian tidak mengetahui penyamarannya yang saat ini penampilannya jauh berbeda dari Asty yang dulu.
"Maaf, mungkin anda salah orang. Saya tidak mengenal anda." Ucap Asty menarik tangannya hingga terlepas dari cengkeraman Vian.
Mendengar ucapan Vian, Asty segera berlari tak tentu arah karena yang dia pikirkan saat ini hanyalah bisa menjauh dari Vian yang tampak mengerikan.
Sementara di kantor, Qenan tengah memarahi Gisel yang tiba-tiba kakinya tersandung saat akan memberikan laporan hingga ia terjatuh tepat di punggung Qenan hingga terlihat seperti sedang berpelukan.
"Kamu ini bagaimana sih, apa kamu tidak bisa berjalan dengan benar?" Qenan melepaskan tangan Gisel yang menempel di pinggangnya dengan kasar membuat Gisel merasa takut.
Gisel terkejut saat melihat raut wajah marah dari Qenan. Awalnya ia akan menggoda sesuai perintah yang di berikan Vian semalam saat mereka makan malam berdua dengan imbalan yang fantastis bagi Gisel.
Namun Qenan malah memarahi Gisel karena sudah ketahuan memberikan obat pencahar pada minuman Dita sehingga ia harus di larikan ke rumah sakit. Qenan masih ingat betul bagaimana saat Dita ia temukan dalam kondisi tak sadarkan diri di dalam toilet, wajahnya yang begitu pucat membuatnya begitu panik.
"Sekarang juga bereskan barang-barang mu dan mulai saat ini kamu bukan karyawan saya lagi, kamu di pecat atas kelakuan kurang baik yang telah kamu lakukan." Ucap Qenan mengacungkan jari telunjuknya ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Gisel tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia tidak bisa mengelak karena memang benar itu adalah kesalahannya setelah Qenan memperlihatkan rekaman CCTV padanya.
Gisel pergi meninggalkan ruangan Qenan tanpa permisi karena Qenan juga sudah tidak mau lagi melihat wajahnya ada di ruangannya.
Tak lama setelah Gisel keluar ruangan, bu Rani datang menghampiri Qenan yang tengah duduk di kursi kebesarannya sambil memijat pelipisnya.
"Duhh.. Anak mama kenapa nih, kok kepalanya di pijet. Apa Dita sudah menceritakan yang sebenarnya sama kamu?" Tanya bu Rani mengusap pundak Qenan dengan lembut.
"Dita, ada apa dengan dia? Hari ini aku belum bertemu dengannya, aku kira dia masih sakit." ucap Qenan masih terlihat santai.
"Ah.. masa sih dia gak masuk, katanya dia mau ngomong yang sebenarnya terjadi sama kamu." bu Rani mulai merasa panik.
"Sebenarnya apa yang kalian rencanakan, hah?" Tanya Qenan menatap mata bu Rani penuh selidik.
Bu Rani menjelaskan jika Dita sebenarnya adalah Asty yang selama ini mereka cari, awalnya Qenan tidak mempercayai perkataan ibunya karena ia berpikir jika ibunya hanya ingin membuat Dita dekat dengannya.
Setelah Qenan memeriksa CV Dita, baru Qenan mempercayai perkataan ibunya.
"Asty Anindita. Ah kenapa aku tidak melihat ini dari awal." Sesal Qenan setelah meminta CV Dita dari bagian personalia.
Selain itu, luka di tangan Asty bekas penyiksaan yang di lakukan oleh Vian pun menambah rasa yakin Qenan jika memang benar Dita itu adalah Asty.
Qenan segera meraih ponselnya untuk mencari tahu keberadaan Asty saat ini, karena pagi tadi para karyawan melihat Asty sudah datang ke kantor tapi ia kembali meninggalkan kantor sambil mengusap air matanya tanpa berkata apapun.
Qenan mulai panik ketika panggilannya tak kunjung mendapat jawaban dari Asty.
"Pergi kemana dia, apa tadi dia melihatku bersama Gisel. Akh.. pasti dia salah paham." Ucap Qenan mengacak rambutnya dengan frustasi.
__ADS_1