
"apa..?!? lu yang bener ajah, gimana dia bisa tahu?" Vian memijat keningnya karena tiba-tiba dia merasa pening.
"sorry bro, semalem gue gak sadar udah bongkar rahasia kita ke Hara." Toby tertunduk menyesali yang sudah terjadi.
"kenapa lu bisa bongkar rahasia sama cewek gatel itu, hah." Emosi Vian kian memuncak, ia menarik kerah baju Toby dengan kedua tangannya.
Melihat kedua bocah hendak berkelahi, Haikal langsung bangkit dari sofa dan melepaskan tangan Vian dari baju Toby.
"Vian, lu tenang dulu bro. Gue tau lu kesel, tapi nggak gini caranya. Kita cari solusinya bareng-bareng pake kepala dingin." ucap Haikal menatap ke arah Vian dan Toby bergantian.
Vian merasa tenang sejenak setelah mendengarkan Haikal. Mereka pun kembali duduk bersama dan memikirkan cara agar bisa menyelesaikan masalah ini.
*TRING
Sebuah bunyi notifikasi dari ponsel Vian terdengar begitu nyaring karena situasi di sana sangat sunyi. Segera Vian merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih berwarna hitam itu kemudian mengusapnya.
Vian mengernyitkan dahinya karena terkejut, gadis yang sedang di bicarakan mengirim pesan bernada ancaman beserta sebuah rekaman suara. Vian yang penasaran, ia membuka rekaman suara tersebut.
Ternyata itu adalah rekaman suara pengakuan Toby tentang rahasia mereka dengan sedikit mengedit agar hanya suara Toby yang terdengar.
[kalau mau rahasiamu aman, berkencanlah denganku dan temui aku kapan saja aku menginginkanmu.]
Setelah membaca isi pesan Hara tersebut, mereka saling pandang dengan ekspresi jijik.
"dasar tante gatal." ucap Toby mengangkat kedua bahunya bergidig ngeri membayangkan Hara si gadis gatal yang selalu mencari cara agar bisa dekat dengan Vian.
"menjijikan memang, tapi sepertinya kita bisa memanfaatkan situasi ini." ucap Haikal mengagetkan Vian dan Toby.
Haikal memiliki rencana untuk menjebak Hara dengan menuruti keinginannya, saat Hara tengah bersama Vian, diam-diam Toby akan mengambil ponsel Hara dan menghapus rekaman suara yang akan dijadikan alat bagi Hara untuk menghancurkan hubungan Vian dengan Asty.
"baiklah, demi hubunganku. semoga ini akan berhasil." seru Vian yang sudah tidak gengsi lagi dengan perasaanya.
__ADS_1
"akhirnya dia mengakui juga perasaanya, bang." bisik Toby pada Haikal namun masih bisa di dengar Vian.
"gue denger ogeb, gak usah lo bisik-bisik segala." ucap Vian mendengus kesal pada Toby.
"sorry bro, tapi kita juga ikut bahagia kalo lu bahagia." seru Toby.
Malam telah tiba, Vian tengah berbaring di tempat tidurnya dengan menatap lembaran fotonya bersama Asty yang di ambil tadi siang saat mereka berkencan.
"lu manis juga ternyata, gak sia-sia gue ikut taruhanya bang Haikal. Biar gue di bilang kalah juga yang penting gue udah menangin hati lu, jiyaah..." Vian berbicara sendiri sambil menertawakan dirinya yang tengah dimabuk asmara.
Kini Vian sudah tak peduli lagi dengan orang tuanya yang selalu sibuk dengan dunia masing-masing, ia sudah tidak kesepian lagi. Dunianya yang dulu hanya ada warna hitam, saat ini berubah menjadi lebih berwarna lagi karena kehadiran Asty di sampingnya.
"gue gak akan pernah lepasin lu karena lu adalah cinta pertama gue. Lu yang udah ngerubah dunia gue jadi lebih hidup, lu yang udah kasih warna di hidup gue. ah .. gini amat orang jatuh cinta, hahaha." Vian terus bermonolog dan terus tertawa membayangkan indahnya dunia ketika bersama Asty.
Hingga bunyi notifikasi ponsel mengacaukan kegembiraannya saat ini. Vian segera meraih ponselnya dengan malas dan segera membuka sebuah pesan dari Hara.
[Vian, temenin gue di Cafe Cemara sekarang. Gue tunggu ya, awas kalo nggak dateng, gue bakal bongkar rahasia lu sekarang juga.]
[baiklah..]
"dasar gadis menyebalkan." ucapnya kesal dan segera bangkit dari tempat tidurnya bersiap menuju cafe.
Sebelum berangkat, ia menghubungi Toby agar mengikutinya ke cafe cemara. Namun Toby tidak bisa kemana-mana sebab saat ini orang tuanya sedang berada di rumah dan melarang Toby untuk keluar malam, orang tua Toby sudah tahu kelakuannya yang sering ikut balapan liar jadi saat ini Toby sedang mendapat hukuman dari orang tuanya.
Sementara Haikal, tiba-tiba adik satu-satunya masuk rumah sakit dan membuat panik orang tuanya. Haikal yang sangat dekat dengan adiknya tidak tega untuk meninggalkanya yang sedang terbaring di rumah sakit.
"sial, jadi gue sendirian temuin si gatel itu. hah, rencana macam apa ini bikin gue jadi korban terus." umpat Vian setelah mengetahui kabar kawan-kawanya.
Suasana hati Vian yang tadinya sedang berbunga-bunga kini berubah, sebenarnya ia ingin sekali membatalkan pertemuanya dengan Hara.
Namun ketika ia hendak menelpon Hara, ponselnya berbunyi dan ternyata itu pesan dari Hara.
__ADS_1
[kalo lu nggak nurutin kata gue, gue bakal bongkar rahasia lu malem ini juga. Gue tau dimana rumah cewek cupu itu.]
Hara mengirim pesan ancaman dan sebuah foto yang tidak lain adalah foto rumah Asty. Hara bisa dengan mudah mencari tahu apa yang ia inginkan dengan wajah cantiknya ia bisa melakukan apa saja, tapi ia tidak bisa mendapatkan Vian.
Makanya Hara terus mengejar Vian karena ia belum pernah tidak bisa mendapat apa yang ia inginkan.
"kenapa gue harus berurusan dengan gadis menyebalkan ini." Vian mengacak rambutnya dengan kasar.
Vian mulai frustasi, sejenak ia menatap kembali foto Asty yang berserakan di atas tempat tidurnya.
"maafkan aku sayang, aku harus menyelesaikannya dulu." ucap Vian menatap foto Asty dengan suara lembut penuh kasih sayangnya.
Setelah menyimpan foto di dalam laci, Vian mengambil jaketnya dan segera menemui Hara di cafe.
Vian mengendarai motor sport nya dengan kecepatan tinggi, rasa kesalnya pada Hara ia lampiaskan dengan mengebut di jalanan.
Tak butuh waktu lama Vian sampai di cafe dan segera menghampiri Hara yang tengah menunggunya.
"akhirnya kamu datang juga sayangku." seru Hara dengan manja.
"jangan manggil gue pake sebutan itu, cuma cewek gue yang berhak pake panggilan itu." seru Vian dengan kesalnya.
"jangan marah begitu, malam ini kamu adalah milikku." Rayu Hara dengan genitnya.
Hara terus merayu Vian dengan suara manjanya, namun Vian sama sekali tidak menatapnya membuat Hara mulai kesal.
"aku bosan di sini, bagaimana kalau kita nonton. Hari ini ada film bagus." ajak Hara.
"terserah lu ajah yang penting tepati janji lu." jawab Vian melipat kedua tangannya dan tanpa menatap Hara sama sekali.
Hara bangkit dari kursinya dan menarik tangan Vian masih dengan mode manjanya membuat kesan agar orang yang melihat mereka seperti sepasang kekasih baru, tapi tidak dengan Vian. Ia bangkit dari kursinya dengan malas dan berjalan di belakang Hara.
__ADS_1
"ayo Vian." teriak Hara yang sudah berdiri di samping motor sport berwarna merah milik Vian.
"ah.. harusnya gue boncengin Asty, bukan malah ulet bulu yang gue bawa. ih.." batin Vian menatap Hara dengan malas.