
Keesokan harinya tepatnya di rumah Dinda, Bayu memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Dengan langkah ringan dia memasuki rumahnya Dinda.
"Assalamualaikum.," ucap Bayu dari luar.
"Waalaikumsalam.," jawabnya dari dalam.
Pintupun terbuka, Bu Heny sontak kaget karena Bayu datang ke rumahnya.
"Selamat siang, Bu,?" sapa Bayu sambil mencium tangan perempuan itu.
"Bayu, kamu apa kabar,?" jawab Bu Heny dengan senyum yang ceria.
"Alhamdulilah baik, Bu. Ayah mana Bu,?" tanya Bayu sambil mengikuti Bu Heny duduk di kursi.
"Ayah kamu ada urusan keluar. Kamu kapan datang, Bay.?"
"Sudah kemarin lusa, maaf baru bisa mampir karena memang masih ada urusan di showroom sama ketemu teman-teman," jawab Bayu.
"Kamu sekarang hebat, ya. Sudah menjadi menejer. Tapi sayangnya kamu harus pindah ke Semarang. Irwan cerita sama Ibu kalau kamu menetap di Semarang," ucap Bu Heny.
"Alhamdulilah Bu, mau gimana lagi namanya tugas dari kantor."
"Iya Nak, mumpung karir lagi bagus-bagusnya kamu harus kerja yang rajin dan giat supaya semakin sukses," ucap Bu Heny.
"Iya Bu. Makasih supportnya."
Tiba-tiba ada wanita dewasa yang keluar dari dalam rumah memanggil Bu Heny.
"Maaf Bu Heny, Adik Zahra bangun," ucapnya.
"Oh iya, tunggu sebentar."
Bu Heny masuk sebentar kemudian dia keluar sambil menggendong bayi kecil yang cantik.
"Ini dia Zahra Nak Bayu, ini anak Dinda," ucap Bu Heny sambil menunjukkan bayi yang di pangkuannya itu.
"MashaAllah cantik sekali, anak sholeha," ucap Bayu sambil memegang pipi Zahra.
__ADS_1
"Oh iya Nak Bayu, perempuan yang itu tadi sebenarnya susternya Zahra, kalau ditinggal Irwan sama Dinda ke kantor, Zahra di jaga suster. Kebetulan Irwan mau ada kerjaan di luar kota, dari kemarin Dinda dan anaknya di boyong ke rumah Ibu. Biasanya juga di rumahnya Nak Irwan," jelas Bu Heny.
"Oh iya Bu. Bayu mau tanya. Apakah Irwan bersikap baik sama Zahra,?" tanya Bayu.
"Iya sangat baik, Bay. Dia sangat menyayangi Zahra seperti anaknya sendiri. Malah dia lebih sering memanjakan Zahra dibandingkan Dinda sendiri," jawab Bu Heny.
"Syukur alhamdulilah kalau gitu, Bu. Karena Irwan sangat mencintai Dinda, makanya dia mau terima Dinda apa adanya," ucap Bayu.
"Andai dulu kamu jadi menikah dengan Dini, mungkin kalian sudah punya anak. Ibu kalau lihat kamu jadi teringat almarhumah Dini, Nak," ucap Bu Heny tiba-tiba sambil meneteskan airmata.
"Sudahlah Bu, jangan bersedih. Memang semuanya jalannya sudah diatur sama Allah seperti ini, jadi Ibu yang sabar ya,?" jawab Bayu sambil memegang lengan Bu Heny.
"Iya Nak, maafin Ibu ya? Ibu telah mengingatkan kamu sama Dini."
"Nggak apa-apa, Bu. Mungkin habis dari sini saya mau ke makam Dini. Sudah lama saya nggak ziarah," ucap Bayu sambil senyum.
"Iya Nak, tengoklah sekali-sekali makam Dini jika kamu pulang," sahut Bu Heny.
Tak lama kemudian susternya Zahra keluar sambil membawa ponsel Bu Heny karena ada telpon.
"Bu Heny, ini tadi ada telpon masuk tadinya nggak berani angkat, lalu kok telpon terus akhirnya saya angkat, maaf kalau saya lancang takutnya penting," ucap suster itu.
"Tadi bilangnya Bu Retno Semarang," jawab Suster sambil memberikan ponselnya ke Bu Heny.
Lalu Suster itu mengambil Zahra dari pangkuan Bu Heny. Sedangkan Bu Heny berdiri untuk berbicara lewat telpon.
"Bu Retno Semarang? Aaah.., mungkin hanya kebetulan namanya sama," ucap Bayu dalam hati.
Sekitar lima menit kemudian Bu Heny mengakhiri obrolannya di telpon kemudian dia menghampiri Bayu yang masih duduk di kursi.
"Maaf Nak Bayu obrolan kita terputus lantaran ada telpon dari teman Ayahmu," ucap Bu Heny sambil mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Oh nggak apa-apa, Bu. Namanya juga telpon dari jauh," jawab Bayu.
"Iya itu Bu Retno teman Ayahnya Dini, ngabari kalau Ibu jadi ke Semarang suruh nelpon biar dijemput ke stasiun," jawab Bu Heny.
"Memangnya Ibu mau ke Semarang, kapan memangnya,?" tanya Bayu meyakinkan.
__ADS_1
"Oh Ibu belum tahu, Nak. Nunggu Ayahmu ada waktu," jawab Bu Heny.
"Besok Bayu balik ke Semarang, kali saja mau bareng sama Bayu," ucapnya menawarkan.
"Oh kayaknya nggak mungkin besok. Soalnya besok Ayah mau kirim barang ke Madura," jawab Bu Heny.
"Oh gitu. Kayaknya saya harus pamit dulu Bu, Bayu mau ke makam Dini," ucap Bayu sambil menyalami Bu Heny.
"Oh iya Nak, maaf Ibu hanya menyuguhi minum saja."
"Nggak apa-apa, Bu. Santai saja, kayak sama orang lain saja."
"Hati-hati ya Nak,?" ucap Bu Heny.
Bayu mengangguk sambil keluar mrnuju halaman rumah Dinda. Bu Heny hanya memperhatikan dari tempat dia berdiri. Bayu langsung masuk ke mobilnya dan meninggalkan rumah Dinda.
"Dini, seandainya engkau masih ada, kamu pasti senang ketika melihat Bayu seperti sekarang. Dia semakin sukses karirnya, sholeh dan ganteng lagi. Ya Allah, mudah-mudahan dia mendapatkan istri yang baik dan sholehah," ucap Bu Heny pelan.
Sedangkan dalam mobil Bayu masih tetap fokus menyetir untuk menuju makam Dini. Pikirannya masih mengganjal soal nama Bu Retno Semarang yang menelpon Bu Heny tadi.
"Sudahlah Bay, mungkin ini hanya kebetulan saja. Kamu jangan punya pikiran macem-macem," batinnya lagi.
Akhirnya dia sampai juga di makam Dini. Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia berjalan menyusuri beberapa makam untuk menuju pusara Dini.
Sesampainya di depan pusara Dini, wajah Bayu langsung menciut dan matanya mulai memerah. Dia kemudian jongkok agar bisa dekat dengan pusara Dini. Tangannya memegang batu nisan Dini sambil menundukkan wajahnya.
Sekitar lima sampai sepuluh menit dia berdiam dan berdoa untuk tunangannya dia cintai dulu. Air mata Bayu tak terasa menetes di pipinya. Bahunya mulai terguncang karena tangisnya mulai pecah.
Perlahan dia bersimpuh tepat di depan gundukan tanah yang sekarang menjadi tempat peristirahatan terakhir Dini. Bayu menangis sesenggukan sendirian sambil tetap memegang batu nisan Dini.
"Dini, aku kangen sama kamu. Kenapa dulu kamu meninggalkan aku secepat itu. Lihatlah aku sekarang seperti orang yang linglung. Gadis yang dulu pernah aku bawah kesini telah menjadi istri orang lain dan itu juga karena kebodohanku mengijinkan dia balikan dan menerima lamaran orang lain," ucapnya dengan matanya masih berlinangan airmata.
Bayu terguncang dan benar-benar kalut karena dia sudah tidak tahu lagi harus gimana. Soal Aulia Bayu memang mau memperjuangkannya, tapi untuk saat ini dia belum bisa berbuat apa-apa.
"Aku minta maaf karena aku selemah ini. Tapi, aku juga manusia biasa yang punya rasa capek, bosan, bahkan ingin menyerah. Mamaku kelihatannya sudah tidak suka sama Aulia. Aku ingin kamu di dekat aku, Din," ucapnya sambil memeluk batu nisan Dini.
--------------------------------
__ADS_1
Next...