
Dinda dan Bu Heny sontak langsung saling pandang setelah mendengar Irwan berbicara. Terlebih adalah Dinda karena Irwan memang dari dulu mencintainya.
"Maksudnya Nak.?"
"Bu, Irwan ini dari dulu sudah cinta sama Dinda. Bahkan mereka sudah sempat dekat." jelas Bayu.
"Iya Bu, sekarang saya ingin menjalin lebih serius sama Dinda." sahut Irwan.
"Din, apa betul yang dikatakan mereka.?" tanya Bu Heny.
Dinda nggak berani jawab pertanyaan Ibunya. Dia hanya menunduk dan kemudian menangis. Bayu mencoba memdekati Dinda yang saat ini memang butuh support banget.
"Din, kenapa kamu menangis. Sudahlah jangan dipikirkan lagi soal apa yang menimpamu saat ini. Sekarang, kamu saatnya menatap masa depan." ucap Bayu.
"Aku malu Mas, aku sekarang beda tidak seperti aku yang dulu." jawabnya sambil terisak.
"Jangan berkata seperti itu, semua yang menimpa kamu juga bukan kehendak kamu. Irwan dari dulu mencintai kamu bahkan sampai detik ini pun dia masih mencintai kamu." jawab Bayu.
"Aku sekarang hamil Mas, aku sekarang mengandung anak dari laki-laki yang aku sendiri tidak kenal. Apa aku pantas menerima cinta Mas Irwan lagi." jawabnya lagi.
"Siapa saja pantas menerima cinta seseorang yang benar-benar mencintainya. Begitu juga dengan kamu, Din. Aku bisa menerima kamu apa adanya." sahut Irwan.
"Bu Heny, Bayu kesini mengantarkan Irwan untuk mengutarakan maksudnya untuk menikahi Dinda. Dia bersedia menikahi dan menerima anak dalam kandungan Dinda." ucap Bayu.
"Din, benar apa yang dikatakan Nak Bayu. Kamu nggak usah malu dan ragu lagi. Ingat anak dalam kandungan kamu, Nak." ucap Bu Heny.
"Baiklah, aku bersedia menerima Mas Irwan sebagai suami Dinda." ucap Dinda.
Tak lama kemudian Pak Arman datang dan masuk ke ruang tamu. Dia kaget karena ada banyak orang yang datang.
"Ayah,!" ucap Bayu sambil menyalami tangan laki-laki itu.
Kemudian diikuti oleh Aulia dan Irwan. Setelah itu dia ikut duduk di dekat istrinya. "Ada apa ini, kok tumben rame-rame kesini.?"
"Yah, Nak Irwan kesini mau ijin untuk memperistri Dinda." jawab Bu Heny dengan matanya yang berbinar.
"Apa.!" jawabnya kaget.
__ADS_1
"Iya Yah, ini Irwan sepupu Bayu. Dia teman Dinda saat di sekolah dan dia juga suka sama Dinda sejak lama, bahkan mereka sempat dekat pula, tapi belum sampai pacaran. Dan saat ini dia datang dengan tujuan ingin menjadikan Dinda istrinya." sahut Bayu.
"Apa betul itu Nak Irwan.?" tanya Pak Arman.
"Iya, Pak. Saya datang kesini memang berniat memperistri Dinda. Saya sangat mencintai Dinda, Pak." jawab Irwan.
"Alhamdulilah, akhirnya ada jalan keluar juga buat masalah ini Bu.!" ucap Pak Arman sambil berucap syukur.
"Alhamdulilah, kalau kita nggak berhenti berdoa dan memohon, pasti masalah yang kita hadapi segera terselesaikan." sahut Bayu.
"Oh iya Yah. Dinda nggak mau ada pesta, Dinda maunya hanya akad nikah saja." ucap Dinda.
"Iya Nak. Ayah juga berfikir seperti itu." jawab Pak Arman.
"Maaf, kira-kira kapan orang tua saya kesini untuk melamar.?" tanya Irwan.
"Mas, nggak usah pakai lamaran. Aku malu, biar langsung akad nikah saja sudah cukup. Yang penting Mas Irwan sudah datang kesini dan berbicara langsung sama Ayah dan Ibu." ucap Dinda.
"Tapi Din, apa sebaiknya nggak pakai lamaran lalu seserahan.?" tanya Irwan.
"Nggak usah Mas, langsung akad saja. Yang penting anak ini lahir ada Ayahnya." jawab Dinda sambil menangis.
"Maafkan aku ya Mas, dari dulu kamu nggak berubah. Ternyata masih sayang dan cinta sama aku. Dulu aku dibutakan cintaku sama Mas Bayu. Padahal jelas-jelas Mas Bayu lebih mencintai Mbak Dini. Dan sekarang, kamu datang sebagai penyelamatku dan anakku." jawab Dinda.
"Sudahlah Din, berarti kita memang dijodohkan dalam keadaan seperti ini. Mungkin dibalik ini semua ada hikmahnya." jawab Irwan.
"Terima kasih sekali Nak Irwan, kalau bukan karena Nak Irwan mungkin Dinda juga belum menemukan laki-laki sebagai Ayah dari anak dalam kandungannya." sahut Pak Arman.
"Iya Nak, Ibu setuju apa yang dikatakan Dinda. Nggak usah pakai acara lamaran dan seserahan segala, kita maklum kok karena memang Dinda sudah hamil." ucap Bu Heny.
"Tapi Nak Irwan, apa orang tua Nak Irwan tahu akan hal ini.?" tanya Pak Arman.
"Orang tua saya kebetulan ada di Semarang Pak. Baru satu bulan dia pindah karena tugas yang mengharuskan mereka pindah. Mereka sudah saya telpon dan menyerahkan semuanya sama saya. Apapun keadaan Dinda kalau saya cinta mereka akan merestuinya. Saya di rumah sendirian, dan rumah saya dekat dengan rumah Bayu." jelas Irwan.
"Terima kasih Nak Irwan, saya benar-benar ucapkan terima kasih banyak." jawab Bu Heny.
"Sama-sama Bu, saya juga berterima kasih karena sudah di restui dan diterima niat baik saya." ucap Irwan.
__ADS_1
"Mas, sekali lagi aku ucapkan terima kasih ya. Aku janji akan belajar mencintai kamu seperti kamu mencintaiku." sahut Dinda dengan mata yang sembab karena dari tadi menangis terus.
"Iya sama-sama, Din. Aku juga senang sekali karena wanita yang aku cintai sebentar lagi jadi istriku." jawab Irwan.
"Baiklah kalau begitu, kalau sudah tidak ada yang dibahas lagi, kita balik sekarang?" ucap Bayu.
"Oh iya Pak, Bu. Kita mau pamit dulu. Kasihan Aulia nanti kemalaman pulangnya." sahut Irwan.
"Oh iya Nak. Maaf sampai lupa buatin minum." ucap Bu Heny.
Akhirnya mereka pamit pulang dan menuju mobil. Kali ini Bayu yang kemudikan mobilnya gantian. Dari tadi Aulia diam saja nggak kedengaran suaranya.
"Lia, dari tadi kamu kok diam saja.?" tanya Bayu.
"Nggak apa-apa, Mas.!"
"Kamu bilang kalau memang mau diantarkan kemana gitu.?" sahut Irwan.
"Nggak kok Mas. Oh iya, sebentar lagi maghrib, kita cari masjid dulu, ya Mas.?" jawab Aulia.
"Oh iya, nanti di depan sana ada Masjid. Kita berhenti disana." jawab Bayu.
Akhirnya tak lama kemudian mereka menemukan sebuah Masjid. Bayu membelokan ke sebuah Masjid dan langsung memarkirkan ke tempat parkir.
Mereka bertiga turun dari mobil dan menuju dalam Masjid. Bayu dan Irwan menuju tempat wudhu pria sedangkan Aulia ke bagian wanita.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Bayu dan Irwan selesai sholat. Kini mereka menunggu Aulia yang masih didalam.
"Bay, Aulia kok lama banget sih.!" seru Irwan.
"Sabar dong Ir, mungkin dia lagi berdoa." jawab Bayu.
Ketika mereka lagi ngobrol, tiba-tiba ada yang rame-rame di depan Masjid. Bayu dan Irwan sontak ikut melihat ada apa sebenarnya.
"Maaf Bu, ada apa ya, kok rame-rame?" tanya Bayu.
"Itu Mas, ada Bapak-Bapak ketabrak.!"
__ADS_1
--------------------------------
Bersambung..