
Bu Santy tidak melanjutkan kalimatnya karena dia nggak berani menduga-duga. Sedangkan Bayu sudah penasaran apa yang ada di pikiran Mamanya.
"Maksud Mama apa,?" tanya Bayu.
"Nggak apa-apa, Bay."
"Tapi, tadi Mama belum selesai bicara,!" jawab Bayu.
"Mama mau tanya sama kamu, saat kamu dan Irwan serta Aulia ke rumah Dinda waktu itu kira-kira respon Dinda gimana,?" tanya Bu Santy.
"Responnya baik, dia malah senang."
"Saat melihat Aulia gimana.?"
"Wuaduh, Bayu nggak fokus melihat sikap Dinda pada Aulia, karena kita sibuk berbicara dengan Bu Heny dan Dinda juga. Kayaknya biasa saja Ma."
"Mama kok merasa masih kurang percaya sama Dinda."
"Kurang percaya gimana maksud Mama.?"
"Ya memang sebenarnya dia anaknya baik, cuma kan dia sedikit berani. Beda dengan Dini kakaknya yang cenderung pendiem. Maksud Mama, apa Dinda bisa menerima kalau kamu lebih memilih wanita lain," jelas Bu Santy.
"Bayu nggak mikir sejauh itu, Ma. Karena Bayu pikir saat itu Dinda merespon dan menerima lagi Irwan, ya sidah beres."
"Tapi, ini hanya analisa Mama saja, Bay. Belum tentu benar juga," jawab Mamanya.
"Kita berfikir positif saja, Ma. Mungkin memang Aulia lagi sibuk," ucap Bayu.
"Ya sudah, kamu sekarang mandi dulu. Setelah itu makan."
"Siap boss,!" sahutnya sambil berlalu.
.
.
.
Ditempat yang berbeda, Aulia baru saja sampai rumahnya. Kini dia memarkirkan motornya di teras rumahnya. Sedangkan Ibunya masih sibuk di belakang mempersiapkan jualan besok pagi.
"Bu, gimana sudah selesai masaknya,?" tanya Aulia.
"Eh kamu Lia, iya tinggal sedikit saja. Kamu mandi dulu, setelah itu makan."
"Baik Bu."
Sekitar dua puluh menit kemudian, Aulia kembali lagi ke belakang membantu Ibunya. Dia dengan cekatan membantu Ibunya masak di dapur.
"Lia, Nak Fatih tadi kesini. Dia mencari kamu," ucap Ibunya tiba-tiba.
"Oh iya, ada apa dia kesini, Bu.?"
"Awalnya dia melayat karena baru tahu kalau Ayahmu meninggal. Tapi, setelah itu dia nanyain kamu. Katanya Aulia sudah dilamar sama pemuda itu apa belum. Kalau belum dia akan tetap melanjutkan rencana pernikahannya dengan dulu," jawab Ibunya.
"Lalu Ibu jawab apa.?"
"Ya Ibu jawab apa adanya, Ibu jawab belum. Kan memang belum, Nak,? ucap Ibunya.
"Sebenarnya Mas Bayu tadi nemui Lia lagi, Bu. Tapi, Lia menolak ajakannya. Karena aku bingung, Bu. Mbak Dinda dulu bilangnya kalau Mas Bayu itu hanya menganggap diri Lia sebagai pelarian saja, buat apa kalau suatau hubungan hanya berdasarkan pelarian saja," jelas Aulia.
"Lia, kalau Ibu nggak sependapat dengan pemikiranmu. Ibu merasa itu hanya akal-akalan Dinda saja supaya kalian nggak jadi menikah," jawab Ibunya.
__ADS_1
"Tapi, kan atas dasar apa dia berfikir seperti itu.?"
"Kamu pernah bilang kalau Dinda itu sebenarnya mencintai Bayu juga.!"
"Iya Bu, tapi kan dia sudah mau menerima lamaran Irwan. Masak dia masih urusin urusan Mas Bayu," tanya Aulia.
"Ibu juga nggak tahu, Nak. Tapi, buktinya kapan hari saat kita ketemu di toko roti itu dia bilang seperti itu sama kamu," jawab Ibunya.
"Iya juga, ya Bu. Ya sudahlah biarlah dia bilang seperti itu, saat ini Aulia masih fokus membantu Ibu menyekolahkan Aji dulu."
"Iya Nak, Aji kurang satu tahun lagi lulus. Setelah itu dia biar cari kerjaan supaya bisa membantu Ibu juga."
"Kenapa dia nggak lanjutin kuliah, Bu. Nanti biar dapat pekerjaan yang lebih baik," jawab Aulia.
"Nggak usahlah Nak, nanti biar bisa bantu Ibu."
"Kan Masih ada Aulia, kan.?"
"Nak, kamu akan menikah dan pasti ikut suamimu. Jangan mikirin Ibu terus, pikirkan kehidupan kamu sendiri. Sudah waktunya kamu menjemput kebahagiaan kamu," jawab Ibunya.
Aulia terdiam, dia sadar karena sebenarnya dia harus memikirkan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga kedepannya dia harus menikah dan membangun rumah tangga.
"Tapi, Bu. Aulia sekarang jadi ragu tentang Mas Bayu."
"Nak, Bayu itu anak yang baik. Ibu merasa kalau kamu sama dia, pasti kamu aman. Ibu tidak akan kawatir lagi," jelas Ibunya.
"Iya juga sih, Bu. Aulia sebenarnya juga sudah sayang sama Mas Bayu."
"Tuh kan, kenapa kamu meragukan dia. Soal omongan Dinda jangan diambil pusing. Mungkin memang dia masih belum bisa menerima kalau Bayu milih kamu."
"Baiklah Bu, Aulia akan coba bicarakan lagi dengan Mas Bayu," jawab Aulia.
"Iya Nak, jangan sia-siakan orang seperti Bayu."
(***)
Beberapa hari kedepan, Aulia sengaja nggak masuk kerja lantaran ijin ada pesanan kue. Setelah dia selesai mengerjakan dan mengantarkannya langsung ke rumah pemesan, dia disuruh Ibunya mengantarkan kue ke Mamanya Bayu.
Sekitar jam dua siang dia sampai rumah Bayu. Dia memarkirkan motornya di depan rumah Bayu.
"Assalamualaikum.," ucapnya dari luar.
"Waalaikumsalam."
Tak laam kemudian pintu pun terbuka, dan munculah Bu Santy dari dalam.
"Aulia," seru Bu Santy.
"Bu," ucapnya sambil mencium punggung tangan perempuan itu.
"Silakan masuk, Lia."
"Makasih, Bu."
"Tumben, ada janji sama Bayu, kah,?" tanya Bu Santy.
"Enggak, Bu. Kebetulan ini tadi saya habis antar pesanan kue, lalu disuruh Ibu sekalian kirim ini ke Bu Santy," ucap Aulia sambil memberikan kotak isi kue.
"Oh terima kasih, ini buatan kamu sendiri, Lia,?" tanya Bu Santy sambil mengamati isi kotak tersebut.
"Iya, Bu. Saya sama Ibu bikin sendiri."
__ADS_1
"Kamu pintar sekali, oh iya tunggu sebentar ya. Ibu taruh kue ini di dalam."
Bu Santy kedalam dan kini Aulia berada di di ruang tamu sendirian. Tak lama ponselnya ada panggilan video masuk dari Bayu.
"*Assalamualaikum.,"
"Waalaikumsalam.,"
"Lagi apa?," ucap Bayu dari ujung telpon.
"Hmmm, lagi duduk aja."
"Loh, itu kok aku pernah lihat hiasan dinding itu.?"
"Ayo, tebak aku dimana.?"
"Kamu di rumahku.!"
Aulia menganggukan kepalanya, "Iya aku di rumah sama Mama kamu."
"Nah gitu dong main kerumah meski aku tidak di rumah."
"Iya, Mas."
"Apa kamu libur atau istirahat."
"Aku ijin karena ada pesanan kue, ini tadi aku mampir sekalian anterin kue buat Bua Santy."
"Oh ya sudah kalau gitu. Jangan pulang dulu ya, nunggu aku."
"Iya, Mas."
"Oke, Assalamualaikum.,"
"Waalaikumsalam*.,"
Aulia kemudian mematikan ponselnya kembali dan dia nggak tahu kalau Bu Santy sudah keluar.
"Bayu ya, Lia,?" tanya Bu santy.
"Iya, Bu. Saya disuruh nunggu Mas Bayu pulang kerja."
"Iya nggak apa-apa. Kamu tunggu saja di sini.!"
"Iya, Bu."
"Kamu istirahat saja di kaamr tamu biasanya, kalau mau sholat nanti Ibu ambilkan."
"Disini saja Bu, nanti aja kalau sudah Ashar. Tadi sudah sholat Dhuhur," jawab Aulia sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Kalau gitu masuk saja ke ruang tengah, sekalian nonton tv. Ibu tinggal keluar bentar."
"Iya, Bu," jawab Aulia sambil berjalan menuju ruang tengah.
Aulia mengamati seluruh ruangan di dalam rumah Bayu, setelah itu dia berdiri dan melihat-lihat. Tapi, ketika melihat foto-foto yang dipajang diatas meja pajangan dekat tv, dia menangkap foto Bayu dengan seorang cewek.
Terlihat cewek itu digendong belakang sama Bayu dengan tertawa lepas. Seketika mata Aulia berembun melihat pemandangan tersebut.
"Mas, kamu terlihat bahagia banget di foto ini," ucap Aulia pelan.
-----------------------------
__ADS_1
Next...