MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 101 (Dilema)


__ADS_3

Brian menatap Bayu dengan tajamnya sampai-sampai seolah Bayu hendak dimakannya. Bayu hanya diam dan malah duduk tanpa meladeni Brian.


"Hay.. saya ini tanya. Kenapa kamu nggak menjawabnya,?" tanya Brian sambil mengikuti Bayu duduk di kursi.


"Maaf, apa masih penting kita membahas ini. Saya rasa ini hanya salah faham saja," jawab Bayu santai.


"Apa kamu bilang, ini nggak perlu dibahas? Kamu sudah mengakui Windy sebagai istri kamu, jelas saya harus membahasnya," jawab Brian.


"Cukup Brian,! Saat ini yang penting Windy sembuh. Jangan bicarakan hal nggak penting. Dia seperti ini juga karena salah kita berdua. Dia tadi mencoba melindungi saya dari pukulan kamu, sekarang saya merasa bersalah karena telah menyelamatkan saya dari pukulan kamu dia yang jadi korban. Apa kamu juga tidak merasa bersalah, hah,!" jelas Bayu dengan wajah yang mulai memerah.


Brian akhirnya terdiam. Dan mengakui kalau apa yang dikatakan Bayu itu ada benarnya. Jika tadi dia nggak emosi dan hendak memukul Bayu, mungkin ini tidak akan terjadi.


Brian kemudian meredakan emosi dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi rumah sakit. Bayu hanya terdiam dan sepertinya dia mengalami dejavu saat kecelakaan dia dan Dini waktu itu.


"Ya Allah, tolong selamatkan Windy. Saya nggak mau kalau sepanjang hidup saya dihantui perasaan bersalah jika Windy kenapa-napa. Sembuhkanlah dia, Ya Allah," ucapnya dalam hati.


Tak lama kemudian dokter keluar dan mencari keluarga pasien. Seketika Bayu langsung mendekati dokter tersebut.


"Gimana dok,?" tanya Bayu.


"Sebelumnya saya minta maaf Pak, istri Bapak saat ini belum bisa sadar. Gumpalan yang menjadi penyebab dia nggak sadarkan diri kini sudah menyerang ke otak. Saya usahakan supaya dia nggak kenapa-napa. Cuma untuk sadar dalam waktu dekat saya belum bisa janji. Bantu doa, ya Pak,?" jelas dokter.


"Ya Allah., tapi dia bisa sembuh kan, dok? Tolong lakukan yang terbaik, soal biaya saya tidak masalah. Saya mohon tolong selamatkan dia, dok," ucap Bayu memohon.


"Iya Pak, saya usahakan. Jangan lupa bantu doa ya,?" ucap dokter itu seraya melangkah pergi.


Brian yang sebelumnya ke kamar kecil dia tidak tahu kabar yang barusan dokter katakan ke Bayu. Setelah itu dia heran dengan sikap dan wajah Bayu yang tiba-tiba menjadi murung dan diam meskipun ada dirinya.


"Bay, kamu kenapa? Ada perkembangan apa soal Windy,?" tanya Brian.


Bayu perlahan menoleh kearah Brian. Kemudian dia menarik nafas panjang lalu menghadap Brian dengan matanya luris menatap Brian.


"Kamu ingin tahu gimana keadaan Windy sekarang,?" jawab Bayu.

__ADS_1


"Iya."


"Sekarang dia diantara hidup dan mati. Semua ini karena ulah kamu,!" ucap Bayu dengan matanya melotot.


Brian semakin nggak ngerti apa yang dikatakan Bayu. Apa Windy sekarang parah.


"Dokter bilang apa,?" ucap Brian sambil memegang kedua pundak Bayu.


"Dokter bilang kita disuruh bantu doa saja. Ada pendarahan di otaknya. Sekarang dia belum sadar," jawab Bayu lirih.


"Apa,! Windy koma,?" serunya.


"Iya, bisa dibilang seperti itu. Pukulan serta benturan yang sangat keras membuat kepalanya bermasalah," jawab Bayu.


Brian semakin terpojok dengan perkataan Bayu barusan. Dia sadar kalau pukulannya tadi memang keras sekali. Belum lagi benturan kepalanya ke lantai membuat kepala Windy dua kali terbentur.


"Biarkan saya yang mengurus dia, saya mengaku bersalah, dan sekarang biarkan saya yang menjaga dan merawat Windy," ucap Brian.


"Apa kamu yakin kalau kamu bisa menjaganya. Bukankah tadi kamu nyarus melukai Windy?" jawab Bayu.


Bayu bingung dengan sikap Brian. Sebenarnya dirinya memang nggak berhak atas Windy. Cuma dia juga nggak yakin kalau Brian bisa menjaga Windy. Secara dia sendiri juga berhutang nyawa sama Windy, gara-gara menyelamatkannya dari pukulan Brian, akhirnya Windy yang jadi korban sampai koma seperti saat ini.


"Tidak., saya tidak bisa membiarkan Brian mengurus Windy, dia kasar sama Windy dan Windypun tidak suka sama Brian. Saya harus menghalangi Brian untuk itu. Saya yang harus bwrtanggung jawab atas musibah yang dialami Windy," ucap Bayu dalam hati.


"Gimana Bay, kamu percaya sama saya, kan,?" tanya Brian lagi.


"Sorry, saya tidak bisa meninggalkan Windy begitu saja. Saya berhutang nyawa sama dia. Jika saya pergi meninggalkannya, berarti saya orang yang nggak punya hati. Biarkan saya juga merawat sampai dia siuman," jawab Bayu.


"Tapi, kamu bukan siapa-siapa Windy,?" uap Brian.


"Lalu apa kamu juga nggak merasa kalau kamu juga bukan siapa-siapanya Windy.?"


"Memang benar, tapi setidaknya saya mau memperbaiki hubungan saya dan Windy," jawab Brian.

__ADS_1


"Apa dia mau dan menerima,?" tanya Bayu.


Brian tidak bisa menjawab. Karena memang selama ini Windy tidak pernah mau diajak balikan. Brian semakin lemah posisinya.


"Sudahlah, saat ini jangan permasalahkan soal itu. Kalau kamu mau menjaga silakan. Tapi, kalau kamu suruh saya meninggalkannya, maaf saya tidak bisa. Saya sudah menjelaskan sama kamu kenapa saya tidak bisa meninggalkan Windy. Kita urus dia bareng-bareng sampai dia siuman dan sembuh," jelas Bayu.


Brian mengangguk pelan lalu dia duduk di sebelah Bayu. Tak lama kemudian suster keluar lagi dan mencari Bayu.


"Maaf Pak, tolong sekarang Anda ke bagian administrasi untuk mengurus keperluan pasien. Karena kami akan melakukan tindakan operasi untuk istri Bapak," ucap suster.


"Baik sus. Saya akan mengurusnya. Sekarang yang penting selamatkan istri saya secepatnya," ucal Bayu.


"Baik Pak. Kami akan usahakan."


Brian hanya melongo saja ketika Bayu juga menyebut Windy adalah istrinya. Setelah itu Bayu melangkah pergi menuju bagian administrasi untuk mengusur semuanya.


Sekitar lima belas menit kemudian Bayu sudah kembali dan kini dia kembali duduk di kursi yang tadi. Brian kemudian mendekatinya. Bayu melihat kalau Brian mendekatinya pasti akan tanya kenapa dia tadi menyebutkan kalau Windy adalah istrinya.


"Kamu pasti bertanya kenapa saya tadi mengiyakan saat suster bilang kalau Windy adalah istri saya. Tadinya saya juga nggak bilang apa-apa. Saat pertama kali dia masuk UGD, dokter sendiri yang mengira kalau Windy adalah istri saya. Saat saya mau menjelaskan siapa Windy sebenarnya, keburu suster masuk dan tidak meghiraukan penjelasan saya. Itulah sebenarnya yang terjadi, saya tidak punya kesempatan untuk menjelaskan, lagian bagi saya itu nggak penting karena bagi saya yang penting adalah keselamatan Windy, misalkan memang suatu saat kita berdua ada jodoh, kita juga nggak tahu. Karena kita sama-sama single, kan,?" jelas Bayu.


"Iya juga sih, tapi jujur saya sakit kalau kamu sebut dia istri kamu," jawab Brian.


"Maaf jika ini semua membuat kamu tidak nyaman. Sebaiknya kita kesampingkan ego kita masing-masing. Saat ini Windy perlu banyak dukungan dari orang-orang terdekatnya," jawab Bayu.


"Maaf Pak Bayu, Anda dipanggil dokter sebentar," ucap suster yang tiba-tiba keluar.


"Iya sus."


Saat Bayu sudah berada di dalam ruangan, dia diauruh melihat kondisi pasien sebelum dia dipindahkan ke ruang operasi. Windy hanya terbaring lemah dan matanya masih tertutup.


"Pak Bayu, saat ini keadaan istri Bapak seperti ini. Silakan lihat sebelum saya melalukan operasi," ucap dokter.


Bayu memdekati Windy lalu memegang tangannya. Matanya tiba-tiba hangat lantaran air matanya perlahan menetes. Kalau lihat ini dia seperti melihat Dini saat kecelakaan dulu.

__ADS_1


------------------------------


Next...


__ADS_2