
Tak terasa, sudah hampir dua bulan Bayu mengikuti pelatihan kerja di Semarang. Selama dua bulan ini dia belum pernah pulang ke Surabaya. Kali ini dia mendapat cuti, itupun cuma dua hari kamis dan jumat, sedangkan sabtu dan minggu dia libur. Jadi empat hari libur dia pergunakan pulang ke Surabaya.
Dia naik kereta supaya santai karena memang pulang kerja dia langsung berangkat ke Surabaya. Bayu sudah pamit sama Bu Sumi dan teman-temannya.
"Pak Bayu sudah siap,?" tanya Pak Sopir yang akan mengantarkannya ke stasiun.
"Iya Pak, saya sudah siap."
"Baiklah kalau begitu."
Bayu akhirnya berangkat ke stasiun dengan diantarkan Pak Sopir kantor. Dia langsung masuk ke mobil dan tak lama kemudian mobilnya sudah meningglakan pelataran mess.
.
.
.
Sekitar malam harinya, Bayu tiba di Surabaya. Dari stasiun ke rumahnya dia naik taksi. Dilihatnya jam tangannya sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Assalamualaikum.," ucap Bayu dari luar.
"Waalaikumsalam.," jawabnya dari dalam.
Pintupun terbuka, Mamanya yang buka pintu rumahnya. "Bayu," seru Bu Santy.
"Mama," ucap Bayu sambil mencium tangan Mamanya.
"Kamu kok nggak telpon kalau sudah sampai, tahu gitu kan di jemput Papamu ke stasiun," ucap Bu Santy.
"Nggak apa-apa, Ma. Takutnya Papa sudah tidur, kasihan nanti capek," jawab Bayu sambil mendaratkan tubuhnya di kursi ruang tengah.
Tak lama kemudian Pak Ridwan keluar kamar dan bergabung dengan Bayu dan Bu Santy.
"Loh, kamu kok nggak telpon Papa, naik apa kamu,?" ucap Pak Ridwan.
"Nggak apa-apa, Pa. Bayu tadi naik taksi," jawab Bayu sambil mencium tangan Papanya.
"Oh, iya. Kamu sudah makan.?"
"Sudah Pa tadi di kereta."
"Mama buatin minuman dulu, ya,?" ucap Bu Santy sambil melangkah ke dapur.
Akhirnya setelah Bu Santy membuatkan minuman, mereka bertiga ngobrol-ngobrol sambil minum teh.
"Bay, apa Aulia sudah cerita ke kamu soal mantan tunangannya dulu," ucap Bu Santy.
"Sudah Ma, dia juga minta ijin sama Bayu untuk menjenguknya ke rumah sakit."
__ADS_1
"Oh ya sudah kalau gitu," jawab Bu Santy.
"Rencana pernikahan kamu gimana? Kamu di Semarang tinggal berapa bulan lagi,?" kini giliran Pak Ridwan bertanya.
"Bayu masih bingung, Pa. Ini kantor malah mau memperpanjang tugas Bayu di Semarang. Makanya ini Bayu sempatkan pulang untuk membicarakan sama Papa dan Mama," jelas Bayu.
"Loh, terus gimana kelanjutannya,?" sahut Mamanya.
"Bayu mau merundingkannya sama Aulia, Ma. Besok rencananya Bayu ke rumahnya Aulia," jawab Bayu.
"Ya sudah kalau gitu, kalian kan sudah dewasa, jadi rundingkan matang-matang soal ini. Karena urusan pernikahan itu harus dirundingkan secara matang," sahut Pak Ridwan.
"Iya Pa, besok Bayu akan rundingkan."
Bayu kemudian pamit sama kedua orang tuanya untuk masuk ke kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Pak Ridwan dan Bu Santy juga masuk ke kamarnya untuk istirahat juga.
(***)
Keesokan harinya Bayu bangun pagi buat sarapan lalu rencananya ke rumah Aulia. Dia langsung turun setelah selesai mandi.
"Pagi Ma, Pa," sapa Bayu sambil menggeser kursi untuk di dudukinya.
"Pagi sayang, cakep amat anak Mama,!" jawab Bu Santy.
"Mau ketemu Aulia, ma."
"Kamu sudah janjian sama dia,?" sahut Pak Ridwan.
"Apa tidak kerja dia,?" kini Bu Santy yang berucap.
"Kan masih jam setengah tujuh, nanti Bayu jemput saja, biar pulang kerja nanyi Bayu juga antarkan pulang."
"Oh ya sudah kalai gitu."
"Baiklah Pa, Ma. Bayu berangkat jemput Aulia dulu, ya,?" ucap Bayu sambil mencium kedua tangan orang tuanya.
"Hati-hati sayang," jawab Bu Santy.
"Siap Ma."
Bayu keluar menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Setelah itu dia melajukan mobilnya ke jalan raya menuju rumah Aulia.
Bayu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia mengejar waktu supaya tidak bersimpangan jalan dengan Aulia. Bayu sengaja tidak mengabari Aulia karena mau bikin kejutan buat Aulia.
Sekitar tiga puluh menit kemudian akhirnya Bayu sampai di rumah Aulia. Dia langsung memasukan mobilnya ke halaman rumah Aulia.
Ketika turun dari mobil, Bayu kaget karena dihalaman rumah Aulia ada motor laki-laki terparkir. Bayu heran ini motor siapa, sedangkan adiknya Aulia nggak mungkin punya motor seperti itu.
Bayu melangkah masuk karena pintu rumah terbuka. Ketika dia hendak melangkah, tiba-tiba keluar laki-laki tinggi besar dan Bayu tidak mengenal laki-laki tersebut.
__ADS_1
Mereka berpapasan tepat di teras rumah Aulia. Bayu hanya menatap laki-laki tersebut saat hendak menaiki motor yang terparkir tadi. Tak lama kemudian Aulia keluar rumah dan dia kaget karena melihat Bayu sudah berada di teras rumahnya.
"Mas Bayu! Kapan kamu pulangnya, Mas,?" seru Aulia sambil menatap Bayu tanpa kedip.
"Dia siapa, sayang,?" Bayu tidak menjawab pertanyaan Aulia, malah justru balik menanyakan siapa laki-laki yang barusan datang.
"Masuk dulu Mas, kita bicara di dalam," ajak Aulia.
Bayu menuruti apa yang dikatakan Aulia, dia berjalan mengikuti Aulia dan duduk di ruang tamu. Aulia kedalam membuatkan minum buat calon suaminya tersebut.
"Ini minumnya, Mas. Mumpung masih hangat, silakan di minum."
"Makasih Aulia.,"
"Mas Bayu kok nggak ngabari aku kalau mau pulang," ucap Aulia.
"Kenapa aku harus kabari kamu, kan sama saja. Lagian aku mau bikin kejutan buat kamu," jawab Bayu.
"Setidaknya kan kirim pesan atau telpon kalau mau pulang," jawab Aulia.
"Kenapa kamu kok begitu mempermasalahkan kepulanganku yang tanpa kabar ini,?" ucap Bayu dengan menatap Aulia tanpa kedip.
"Ya nggak apa-apa, Mas. Maksud aku kan--" Aulia tidak melanjutkan kalimatnya karena keburu Bayu menyelahnya.
"Apa biar kamu bisa janjian sama laki-laki yang barusan datang itu,!" jawab Bayu dengan mata melotot.
"Astaghfirulloh Mas., kamu kok punya pikiran seperti itu, sih,!" jawab Aulia sambil matanya berkaca-kaca.
"Lalu siapa laki-laki tadi.!"
"Ceritanya panjang, Mas," jawab Aulia pelan.
"Panjang gimana, meskipun panjang kan tetap ada alasannya kenapa orang itu kesini."
"Iya Mas, aku akan menceritakannya."
Tapi ketika Aulia hendak memulai pembicaraan, tiba-tiba ada suara motor yang tadi kembali masuk pelataran rumah Aulia. Bayu sontak menoleh keluar karena dia juga kaget dengan suara motor tersebut.
Ternyata laki-laki tadi yang datang ke rumah Aulia. Dia balik lagi untuk memberitahukan sesuatu.
"Maaf Mbak Aulia, tadi saat di tengah jalan, saya di telpon sama Bos Fatih. Katanya saya disuruh bawa Mbak Aulia datang ke rumah," ucap laki-laki itu.
Degh,!
Aulia kaget kenapa laki-laki itu bicara seperti itu dan mau membawanya. Terlebih lagi Bayu, dia semakin curiga dengan laki-laki itu.
"Maaf Pak, untuk apa bos Bapak mau membawa tunangan saya,!" sahut Bayu dengan wajah yang merah nahan marah.
---------------------------------
__ADS_1
Next...