MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 71 (Fatih meninggal)


__ADS_3

"Mas Fatih, Mas.. Bangun Mas, kamu pasti sembuh. Bangun Mas," teriak Aulia sambil menggoyang-goyangkan tubuh Fatih.


"Bu Aulia yang sabar ya, mungkin dengan begini Pak Fatih sudah tidak merasakan sakit lagi. Jadi ikhlaskan saja," ucap dokter itu.


"Iya Bu, Pak Fatih pasti tenang disana. Semoga semua amal ibadahnya diterima Tuhan," kini Bardi ikut bicara.


Aulia keluar kamar dan menemui pembantunya. Dia meminta untuk menyiapkan semua. Sedangkan dia sendiri menghubungi Ibunya.


Berhubung Fatih di Surabaya sudah tidak punya saudara lagi, ada saudara itupun jauh di luar jawa semua. Dalam hatinya apa dia perlu memberitahu kedua mantan istrinya.


"Pak Bardi, apa mantan istrinya Mas Fatih perlu dikabari kalau Mas Fatih sudah meninggal,?" tanya Aulia.


"Bu, kalau boleh saya sarankan mendingan jangan," jawab Bardi dengan sedikit cemas.


"Kenapa Pak.?"


"Maaf sebelumnya kalau saya ikut bicara. Selama bos Fatih sakit mereka meninggalkan bos Fatih. Buat apa kalau sekarang harus dikasih tahu. Mereka berdua saja sudah nggak peduli sama bos Fatih," jawab Bardi.


"Iya juga sih, Pak. Tapi, apa nggak sebaiknya tetap di kasih tahu, soal mereka mau ngelayat apa tidak terserah. Saya takut Pak nantinya kalau disalahkan jika tidak memberitahu," ucap Aulia pelan.


"Bos Fatih memang nggak salah pilih istri, beruntung dia punya istri seperti Anda. Cuma sayangnya dia nggak beruntung karena harus meninggalkan Bu Aulia secepat ini. Hati Bu Aulia memang mulia, masih mau berhubungan sama mantan-mantan istri bos Fatih. Ya sudah nggak apa-apa terserah Bu Aulia saja," kalimat Bardi membuat Aulia sedih.


Karena memang benar apa yang diucapkan Bardi barusan. Fatih meninggalkannya secepat ini. Kemudian Bardi membantu Pak Karim menyiapkan untuk keperluan Fatih.


Perlahan tetangga berdatang ngelayat ke rumah Fatih. Aulia sebagai tuan rumah hanya duduk sambil menunggui jenazah suaminya.


Meskipun keluarga Fatih sebelumnya terkenal sebagai rentenir, tapi tetangganya masih peduli karena memang mereka baik-baik.


"Bu Aulia, Ibunya sudah datang," ucap Bi Lastri.


"Suruh langsung masuk saja Bi."


"Baik Bu."


Ibunya Aulia langsung masuk dan mememani anaknya yang sedang berduka. Ketika Aulia melihat Ibunya langsung memeluk Ibunya dan menangis dipelukan Ibunya.


"Bu, Mas Fatih pergi, Bu.." ucapnya sambil menangis.

__ADS_1


"Sudah yang sabar, ya Nak. Kamu harus bisa menerima ujian ini. Allah lebih sayang Nak Fatih, karena supaya dia tidak merasakan sakit lagi," jawab Ibunya sambil mengusap wajah Aulia.


"Iya Bu. Meskipun pernikahan Aulia dengan Mas Fatih terjadi karena suatu alasan tertentu, tapi bagi Aulia dia tetap suami yang baik."


"Iya Nak, itu memang benar. Bagaimana awal mulanya terjadinya pernikahan kalian. Dia itu suami sah kamu yang harus kamu hormati," jawab Ibunya lagi.


"Iya Bu. Makasih telah datang untuk menemani Aulia."


"Iya Nak."


Akhirnya semuanya sudah siap. Jenazah siap dimandikan oleh orang-


orang sekitar. Pak RT sebagai pimpinan lingkungan setempat, dengan tegas mengistruksikan apa-apa yang harus dikerjakan.


.


.


.


Malam harinya setelah diadakan pengajian, Aulia ditemani Ibunya ngobrol di ruang tengah. Masih ada beberapa orang yang masih di duduk-duduk di luar sekedar ngobrol.


Semasa hidupnya Fatih memang sangat percaya sekali sama kedua asistennya tersebut. Dan kebetulan mereka juga sangat loyal dan baik sama Fatih.


"Lia, apa setelah ini kamu pulang ke rumah Ibu lagi,?" tanya Ibunya.


"Belum tahu, Bu. Lia juga masih ada tugas yang harus Lia kerjakan di rumah ini," jawab Aulia.


"Oh ya sudah kalau gitu, tapi kalau kamu merasa nggak nyaman karena suamimu sudah meninggal, kamu boleh pulang Nak," ucap Ibunya.


Tiba-tiba Bi Lastri ikut nimbrung dimana Aulia dan Ibunya lagi ngobrol. "Saya boleh ikut duduk disini, Bu.?"


"Silakan Bi, ayo kita ngobrol-ngobrol."


"Bu Aulia, Pak Fatih itu sebenarnya orangnya baik banget. Sama para pembantunya di rumah ini beliau sangat baik dan menganggap kami semua seperti bagian dari keluarganya," ucap Bi Lastri.


"Iya Bi, saya sebenarnya juga merasakan kalau memang Mas Fatih itu orangnya baik," jawab Aulia.

__ADS_1


"Memang semua itu gara-gara Bu Rini dan Bu Sari," jawab Bi Lastri.


Aulia mengernyitkan alisnya, "Siapa mereka, Bi,?" tanya Aulia.


"Lho, apa Bu Aulia tidak kenal siapa mereka. Bu Rini itu istri pertama, dan Bu Sari itu istri kedua Pak Fatih, tapi semuanya sudah meninggalkan Pak Fatih." jawab Bi Lastri.


"Oh jadi mereka itu mantan-mantan istrinya Mas Fatih."


"Iya Bu, dulu saat Pak Fatih dijodohkan sama Bu Aulia, dia sangat senang sekali. Sebenarnya sudah sejak itu Pak Fatih mau menceraikan kedua istrinya namun mereka tidak mau. Pak Fatih itu suka marah dan kasar lantaran setiap harinya dia merasa seperti suami yang nggak ada gunanya," jelas Bi Lastri.


"Iya Bi, saya sempat dikasih tahu sama Pak Jhony saat pertama kali ke rumah saya. Mas Fatih seperti tertekan," jawab Aulia.


"Ya mudah-mudahan Pak Fatih khusnul kotimah."


"Amin, makasih ya Bi."


"Iya Bu sama-sama."


"Oh iya Bi, untuk urusan pengajian saya serahkan sama Bi Lastri saja gimana biasanya lingkungan ini adakan. Nanti saya akan kasih uangnya," ucap Aulia.


"Iya Bu. Nanti biar Bibi yang urus sama Pak Karim."


"Makasih ya Bi, kalau nggak ada Bi Lastri saya tidak tahu gimana lagi," ucap Aulia sembari memegang tangan Bi Lastri.


Mereka akhirnya menyudahi obrolannya. Karena sudah semakin malam dan jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aulia minta ditemani Ibunya tidur di kamarnya.


"Lia, ini kamar kamu,?" tanya Ibunya.


"Iya Bu, ada apa,?" tanya Aulia.


"Tapi, Nak Fatih kok di kamar sebelah, jadi selama ini ka--" Ibunya tidak meneruskan kalimatnya karena Aulia sudah keburu memotongnya.


Aulia tersenyum dan memandangi wajah Ibunya dengan lembut. Kemudian dia menganggukan kepalanya.


"Iya Bu, Aulia tidur disini sejak pertama kali Aulia masuk ke rumah ini."


----------------------------

__ADS_1


Next...


__ADS_2