MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 66 (Penyesalan)


__ADS_3

SEMARANG


Bayu masih termenung di kamar sendiri sambil mondar-mandir merasa nggak tenang. Dia merasa sedikit ada penyesalan dalam dirinya karena setelah mengijinkan Aulia menikah dengan Fatih.


"Aaah., Ya Allah, semoga saja keputusanku ini tidak salah, setidaknya bisa membantu memecahkan masalah orang lain," ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tok..tok..!


Tak lama kemudian terdengar pintu kamarnya diketuk. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya tersebut.


"Bu Sumi, ada apa.?"


"Ibu kawatir Den, kok dari tadi Den Bayu nggak keluar kamar. Ini sudah waktunya makan siang," ucap Bu Sumi.


"Oh iya maaf Bu kalau saya membuat kawatir, habis ini saya keluar. Saya mau sholat dhuhur dulu," jawab Bayu.


"Oh ya sudah kalau gitu, Den. Ibu kira ada apa-apa. Ibu ke belakang dulu, ya."


"Iya silakan, Bu."


Bu Sumi kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Bayu kembali menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk ambil air wudhu.


Setelah melaksanakan sholat, Bayu masih duduk diatas sajadahnya. Kini dia berdoa untuk minta petunjuk agar apa yang dilakukannya nantinya tidak akan menimbulkan masalah lain.


"Ya Allah, ampuni hambaMU ini jika keputusan hamba salah. Sebenarnya hamba ini juga bingung setelah tahu permasalahan sebenarnya. Mungkin hamba adalah laki-laki bodoh di dunia karena telah mengijinkan calon istrinya kembali pada mantan tunangannya dan menikah. Tapi, hamba juga bingung satu sisi orang tersebut secara kesehatan, bahkan umur sudah nggak ada harapan lagi. Sebenarnya setelah ini hamba juga merasa menyesal karena memberi ijin. Tapi, mudah-mudahan tindakan yang hamba ambil ini bisa memberi petunjuk supaya masalah yang ada bisa terselesaikan, Amin."


Bayu mengakhiri doanya dan kini dia keluar kamarnya untuk makan siang. Bu Sumi masih di belakang sedangkan Bayu makan sendirian.


Bayu membuka tudung saji diatas meja makan. Ada banyak makanan yang tersedia diatas meja makan tersebut. Bayu heran kenapa Bu Sumi masak segini banyaknya sedangkan penghuni mess hanya dirinya saja.


"Bu Sum., Bu Sumi,!" panggil Bayu.


"Iya Den, ada apa.?"


"Bu Sumi masak kok segini banyaknya, kan cuma saya sama Ibu saja di mess ini.?"


"Oh iya Ibu lupa bilang, Non Windy lagi nggak enak badan jadi Ibu yang sekalian masakin buat dia. Habis ini saya akan mengantarkan makanan ke rumahnya," jawab Bu Sumi.


"Memangnya Windy dakit apa,?" tanya Bayu kaget.


"Dia bilang hanya pegal-pegal saja sama sakit perut. Maaf, Non Windy setiap datang bulan selalu sakit perut. Ini saya buatkan jamu kunyit asem buat dia," jelas Bu Sumi.

__ADS_1


"Oh gitu, ya sudah kalau gitu Ibu lanjut saja. Saya makan duluan, ya Bu.?"


"Oh iya silakan, Den."


Bayu makan siang sendirian karena Bu Sumi masih sibuk membuatkan Windy jamu kunyit asam.


.


.


.


Malam harinya Bayu tidak keluar kamar sama sekali. Bu Sumi manggil-manggil dari tadi masih belum ada jawaban. Bu Sumi bingung mau minta bantuan siapa. Dia kawatir karena dari tadi siang setelah makan Bayu belum keluar kamar.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Bu Sumi mondar-mandir di depan kamar Bayu. Sejenak Bu Sumi berhenti mondar-mandir dan wajahnya sedikit tenang.


"Sebaiknya saya minta bantuan Non Windy saja. Kebetulan tadi sakit perutnya sudah mendingan," ucapnya pelan.


Bu Sumi bergegas berjalan kaki menuju rumah Windy. Kebetulan memang rumahnya satu komplek dengan mess karyawan.


Tak sampai lima menit akhirnya sampai juga dia di rumah Windy. Bu Windy langsung mengetuk pintu rumah tersebut.


"Ada apa, Bu Sum,?"


"Bu Sumi tenang dulu, ya. Tarik nafas dalam-dalam, lalu bicara pelan-pelan."


"Aaah, Non Windy bisa bantu Ibu. Den Bayu dari tadi siang nggak keluar kamarnya. Sehabis makan siang tadi dia langsung masuk lagi ke kamarnya sampai ini tadi. Ibu kawatir kalau dia kenapa-napa, Non," jelas Bu Sumi.


"Apa di mess tidak ada orang Bu.?"


"Belum ada yang datang Non, biasanya kalau libur weekend itu anak-anak datangnya senin pagi. Jadi sekarang di mess hanya ada saya dan Den Bayu," jawab Bu Sumi.


"Oh iya Bu. Baiklah kalau begitu saya tutup pintu dulu dan ambil hp ponsel."


Mereka akhirnya berjalan menuju mess. Bu Sumi dan Windy langsung masuk setibanya di mess. Mereka langsung menuju depan kamar Bayu.


"Pintunya dikunci, Bu.?"


"Iya Non."


"Coba saya yang panggil."

__ADS_1


Windy kemudian mendekati pintu lalu mengetuk pintu pelan-pelan. Hampir sepuluh menit tak ada jawaban dari dalam.


"Pak Bayu., Pak Bayu,!" panggil Windy dari luar.


Masih belum ada jawaban. Mereka semakin cemas dan kawatir. Apalagi Bu Sumi yang sudah menganggap Bayu seperti anaknya sendiri kini mulai menangis.


"Tunggu bentar, Bu. Apa Bu Sumi nggak melihat Pak Bayu keluar. Kali saja dia keluar,?" tanya Windy.


"Enggak Non, Ibu dari tadi di mess. Lagian biasanya Den Bayu kalau mau keluar selalu pamit sama Ibu," jawab Bu Sumi.


Ketika mereka ngobrol di depan pintu kamar Bayu, tiba-tiba terdengar kunci kamar dibuka dari dalam. Seketika Bu Sumi dan Windy menoleh kearah pintu tersebut.


Saat pintunya kebuka, Bu Sumi dan Windy kaget karena wajah Bayu pucat sekali serta keadaan tubuhnya lemas. Seketika Bu Sumi langsung memdekati Bayu.


"Alhamdulilah akhirnya Den Bayu keluar juga. Ibu kawatir Den karena dari tadi siang Den Bayu nggak keluar kamar," ucap Bu Sumi senang.


"Maaf Bu kalau saya sudah bikin Ibu kawatir. Tiba-tiba kepala saya pusing dan badan saya lemas. Nggak tahu kenapa," jawab Bayu.


Bu Sumi tidak sungkan-sungkan untuk memegang dahi Bayu untuk memastikan badannya panas apa tidak.


"Astaga Den, badan Den Bayu panas sekali. Ayo ke dokter," ucap Bu Sumi.


"Nggak usah Bu, biar nanti saya minum obat pasti sembuh."


"Iya Pak Dimas, sebaiknya diperiksakan ke dokter. Atau saya panggilkan ke sini,?" tawar Windy.


"Nggak usah Bu Windy, nanti ngerepoti saja."


"Pak Bayu nggak usah berpikiran seperti itu. Kita semua disini adalah keluarga. Kalau ada apa-apa sama Pak Bayu kita juga nggak akan tinggal diam," jawab Windy.


"Makasih ya Bu Windy."


Tapi tiba-tiba Bayu kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Seketika Bu Windy dan Bu Sumi memegangi tangan Bayu.


"Tuh kan, Pak. Saya panggilkan dokter dulu ya. Saya ada dokter pribadi yang biasa saya panggil ke rumah."


Bayu berjalan menuju tempat tidur dengan dibantu sama Bu Sumi. Sedangkan Bu Windy mencoba menghubungi dokter.


"Den Bayu.,!!" teriak Bu Sumi.


-----------------------------

__ADS_1


Next...


__ADS_2