
Bayu kaget canpur senang setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh penjuak soto tersebut.
"Maaf Pak, berarti kenal Ibu Retno.?"
"Ya kenal banget, Mas. Rumah kami selisih lima rumah. Ibu Retno orangnya baik dan suka anak kecil. Sama anak saya dia senang bamget," jawab Pak Samad.
"Iya Pak, kami nggak sengaja ketemu di kereta saat dari Surabaya kemarin. Mungkin beliau nggak tahu saat kartu identitasnya terjatuh."
"Mau dititipin ke saya, Mas? Biar Mas nggak susah-susah mengembalikannya," tawar Pak Samad.
"Emm gimana ya, sebenarnya saya juga ingin mengembalikannya sendiri, berhubung kerjaan saya masih banyak, iya nggak apa-apa kalau memang Pak Samad mau bantu mengembalikan ini sama Bu Retno," jawab Bayu dengan sedikit bingung.
"Oh iya jelas mau saja Mas. Apa susahnya kan tinggal diberikan sama Bu Retno."
"Ya sudah kalau gitu saya nitip ini sama Bapak, ya. Salam sama Bu Retno dari Bayu yang ketemu di kereta."
"Siap Mas.!"
Bayu merasa lega karena kartu identitas ini akan kembali pada pemiliknya. Kini dia dan Windy kembali melanjutan makan soto yang dipesannya.
Dia memandangi Windy yang tengah asyik menyantap soto di depannya. Bayu teringat kembali dengan Dini yang dulu sering dia ajak makan di warung pinggir jalan.
Windy tidak menyadari kalau dari tadi Bayu tengah memperhatikan dirinya. Seketika Bayu langsung mengalihkan pandangannya saat dia tersadar kalau sikapnya jelas akan menimbulkan salah faham.
Lunch kali ini membawa kesan tersendiri bagi Bayu. Disamping baru kali ini dia makan siang di luar kantor, dia juga menemukan titik terang soal kartu identitas punya Bu Retno.
"Mas Bayu ini asli Surabaya,?" tanya Pak Samad tiba-tiba ikut nimbrung di meja Bayu dan Windy.
"Iya Pak. Saya asli Surabaya."
__ADS_1
"Boleh kan, Bapak ikut gabung sini. Mumpung masih sepi, luamaya bisa istirahat."
"Oh silakan Pak. Kita nyantai saja kok ngobrolnya," sahut Windy.
"Bu Retno itu janda sudah lama. Anaknya satu sekarang tinggal sama suaminya di Malaysia. Memang secara materi Bu Retno itu tidak kekurangan, tapi kalau teman dia sangat kesepian. Makanya dia angkat anak lagi untuk menemani dirinya. Dulunya memang orang susah, sejak anak semata wayangnya menikah dengan pengusaha dari Malaysia, perekonomian Bu Retno jadi terangkat," jelas Pak Samad.
"Oh pantesan dia suka sekali sama anak kecil. Saat ketemu saya di kereta dia bilang kalau habis jenguk anak temannya yang barusan melahirkan. Dia cerita panjang lebar sama saya kalau suka anak kecil."
"Beneran Mas, saya kenal Bu Retno sudah lama sekali. Dia juga punya teman yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, tinggalnya di Surabaya. Mungkin yang di ceritakan sama Mas Bayu soal temannya itu adalah orang yang sama," jawab Pak Samad.
"Mungkin juga Pak," ucap Bayu.
"Kalau tidak salah nama teman Bu Retno itu Pak Arman."
"Oh iya Pak, saya ingat. Namanya Pak Arman." jawab Bayu.
"Pak Arman itu juga sering ke rumah Bu Retno sama istrinya. Cuma sayang saya nggak begitu kenal, tahunya ya dari Bu Retno sendiri yang cerita sama istri saya."
"Sebentar Pak, Pak Samad tadi kok sempat menyebut nama Pak Arman. Bapak tahu siapa nama lengkapnya,?" tanya Bayu.
"Wuaah kalau itu saya kurang tahu, Mas."
"Oh ya sudah kalau gitu Pak."
Setelah kurang lebih lima menit mereka ngobrol-ngobrol, akhirnya Bayu dan Windy pamit balik ke kantor karena jam makan siangnya hampir habis.
***
Sore harinya sepulang kerja, Bayu langsung masuk kamar untuk ganti baju sekalian mandi lalu Sholat. Serelah semuanya sudah dilaksanakannya, dia duduk di depan laptopnya.
__ADS_1
Perlahan dia membuka lapotopnya untuk mencari salah file yang dibutuhkannya. Tangannya lincah memegang mouse menscroll atas menscroll bawah untuk mencari data tersebut.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Triiing...triiing...! Bayu lekas berdiri untuk mengambil ponselnya yang ada diatas tempat tidurnya.
Perlahan dia membuka ponselnya dan melihat dari siapa yang kirim pesan itu. Ternyata dari karyawan showroomnya di Surabaya. Juno..
"Selamat sore Pak Bayu, ini saya mau memberitahu kalau Mbak Aulia kemarin lusa sore mencari Bapak ke showroom. Tapi, sayangnya Pak Bayu keburu pulang. Katanya mau memberikan sesuatu. Terus ini tadi saya dapat kabar dari Gio kalau Pak Fatih suaminya Mbak Aulia kemarin itu meninggal dunia."
Bayu terhenyak melihat isi pesan dari Juno barusan. Dia nggak menyangka kalau Fatih pergi secepat ini. Usia pernikahannya dengan Aulia baru berjalan satu minggu. Tubuhnya sedikit gemetar karena dia nggak percaya.
Perlahan dia duduk di tepi tempat tidurnya dan terdiam. Wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangannya setelah itu dia meghela nafas panjang.
Kemudian dia matanya tertuju pada ponsenya kembali dan mencoba membalas isi pesan yang dikirim Juno.
"*Iya Juno, terima kasih karena sudah ngasih kabar. Lain kali kalau Mbak Aulia ke showroom lagi tolong minta nomornya. Karena saya sempat kirim pesan tapi nggak bisa."
"Iya Pak, dia bilang kalau nomornya ke blokir lalu dia ganti nomor baru. Kontak yang ada di ponselnya hilang semua."
"Oke kalau gitu, sekali lagi makasih ya.?"
"Iya Pak sama-sama*."
Bayu langsung menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Kini dia terlentang sambil kedua tangannya di rentangkan ke samping. Matanya tak henti-hentinya menatap langit-langit kamar.
"Aulia, kamu memang wanita hebat," gumamnya.
------------------------------
__ADS_1
Next...