MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 105 (Pertemuan keluarga)


__ADS_3

Setelah Bayu bertemu dengan Aulia, sore harinya dia langsung berbicara dengan kedua orang tuanya. Mereka langsung membicarakan soal kelajuntan hubungan Byau dan Aulia.


"Syukurlah kalau kamu sudah bicara dengan Aulia. Kita sebagai orang tua hanya mensupport dan mendoakan yang terbaik buat kalian berdua," ucap Pak Ridwan saat berkumpul di ruang tengah.


"Kapan rencananya kita kesana, Bay,?" kini Mamanya ikut menyaut.


"Kalau bisa besok saja, Ma. Mumpung Bayu masih di Surabaya. Kita bicarakan langsung soal pernikahan," jawab Bayu.


"Kamu serius, sayang,?" tanya Bu Santy.


"Iya Ma, Bayu nggak mau menunggu lama-lama. Nanti setelah menikah, Aulia langsung aku bawa ke Semarang," jawab Bayu.


"Oh iya, Bay. Kalau bisa nanti kamu cari rumah sendiri buat kamu dan Aulia. Kalau kalian tinggal di mess kan nggak enak," sahut Papanya.


"Oh jelas itu, Pa. Bayu sudah memikirkan hal itu kok. Tenang saja, di komplek dimana Bayu tinggal sekarang. Banyak rumah dikontrakam atau di jual," jawab Bayu.


"Kalau bisa kontrak saja sayang, kan nggak selamanya kamu di Semarang," Bu Santy ikut menyaut.


"Kalau itu dipikir sambil jalan saja Ma, nanti lihat kelanjutannya gimana. Soalnya kan Bayu juga belum tahu bakal ditempatkan di Semarang terus atau dipindah lagi," jawab Bayu.


"Syukur-syukur kamu bisa balik ke Surabaya lagi, Bay," Bu Santy menjawab.


"Ya mudah-mudahan saja, ya Ma. Doakan saja yang terbaik buat Bayu," ucap Bayu.


"Iya sayang, doa Mama selalu mengalir buat anak Mama satu-satunya ini," jawab Bu Santy sambil menepuk pundak Bayu.


"Oh iya Bay, lalu soal masalah Aulia dengan mantan istri Fatih itu gimana? Yang kamu sempat cerita ke Papa dulu," tanya Pak Ridwan tiba-tiba.


"Bayu juga sempat cerita sedikit sama Aulia. Dia akan menyerahkan masalah ini sama Reynaldi pengacara suaminya dulu," jawab Bayu.


"Syukurlah kalau begitu, setidaknya dia tidak akan dimanfaatkan oleh perempuan itu. Kasihan Aulia, dia kan dikasih mandat untuk mengelolah semua peninggalan almarhum suaminya dan mertuanya," jawab Pak Ridwan


"Tapi Bay, jika kalian menikah nanti. Tanggung jawab Aulia soal kepengurusan serta semua usahanya gimana,?" sahut Bu Santy dengan wajah yang cemas.

__ADS_1


"Ma, kalau soal itu Bayu belum tahu sedetailnya gimana. Mungkin saja akan dipegang adiknya. Kan adik Aulia sudah lulus sekolah," jawab Bayu.


"Ya mungkin saja seperti itu. Tapi usaha yang rentenir itu kan sudah berakhir,?" tanya Bu Santy.


"Oh itu sudah lama. Sebelum Fatih meninggal. Kini tinggal usaha pengerajin tempe saja," jawab Bayu.


"Pengerajin tempe,!" sahut Pak Ridwan.


"Iya Pa, Ayahnya Fatih dulu pengerajin tempe, lalu jadi rentenir itu. Kemudian sejak Ayahnya sakit-sakitan, pekerjaan sebagai rentenir itu sedikit demi sedikit dikurangi dan akhirnya tidak sama sekali. Lalu usaha pembuatan tempe dilanjutkan lagi dan dikembangkan lagi sampai sekarang," jelas Bayu.


"Oh iya siapa nama Ayah Fatih dulu,?" tanya Pak Ridwan.


"Pak Broto, Pa. Apa Papa kenal,?" tanya Bayu balik.


"Nggak apa-apa. Cuma Papa pernah denger pengerajin tempe itu dulu siapa ya. Sudahlah Papa juga lupa," jawab Pak Ridwan.


"Baiklah kalau begitu besok Mama akan pesankan saja kue-kue yang akan dibawa ke rumah Aulia," sahut Bu Santy.


(***)


Keesokan harinya sekitar pukul tiga sore Bu Santy bersiap-siap untuk pergi ke rumah Aulia. Semua kue dan makanan sudah datang. Kini mereka tinggal berangkat saja.


Pak Ridwan dan Gani ikut membantu Bu Santy memasukan semua barang-barang tersebut ke bagasi mobil. Setelah itu keluarlah Bu Santy dan Bayu dari kamarnya masing-masing.


"Bay, kita pakai mobil kamu saja ya. Nanti kalau pakai mobil Papa kamu gengsi, kan mobil Papa jadul," ucap Pak Ridwan dambil tersenyum.


"Ya ampun Pa, Papa ini kok ada-ada saja sih? Mobil Papa itu juga bagus kok. Cuma memang kegedean. Mendingan mobil aku kan pas buat kita berempat," jawab Bayu.


"Ayo sudah kita berangkat saja. Nanti keburu sore, kalau hujan gimana,?" ucap Bu Santy.


Akhirnya mereka berempat masuk mobil semua. Kini Bayu dan Gani yang duduk di depan. Sedangkan Pak Ridwan dan Bu Santy duduk di belakang.


Perjalanan ke rumah Aulia yang sekarang nggak begitu jauh dibandingkan ke rumah Aulia yang dulu. Sejak Fatih meninggal Aulia menempati rumah peninggalan Fatih bersama para pembantunya.

__ADS_1


Sedangkan Ibunya masih tinggal di rumahnya yang lama. Kadang sesekali menginap di rumah Aulia.


Sekitar dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Aulia. Mobil Bayu memasuki halaman rumah yang begitu besar dengan halaman yang sangat luas. Ada seorang pria paruh baya yang bertugas menjaga gerbang untuk membukakan pintu tersebut.


Perlahan Bayu dan keluarganya turun dari mobil. Lalu mereka mengeluarkan semua barang bawaannya itu dengan dibantu oleh Pak Karim tukang kebun Aulia.


Mereka masuk ke rumah dan di sambut oleh Ibunya Aulia dan pembantunya dan dua orang asistennya. Bu Santy dan Pak Ridwan terperangah dengan rumahnya Aulia ini.


"Ayo silakan masuk Pak, Bu. Silakan duduk. Maaf rumahnya berantakan," ucap Ibunya Aulia.


"Oh iya Bu makasih," jawab Bu Santy.


Mereka duduk di sofa yang ukurannya sangat besar sekali. Ruang tamunya sangat luas sekali sehinga dua set kursi tamu masuk di ruang tamu tersebut.


"Maaf Aulia masih di dalam, sebentar lagi keluar," ucap Ibunya.


"Oh iya nggak apa-apa, Bu. Maaf sampai lupa, ini ada oleh-oleh dari kami. Maaf tidak bisa membawakan yang lebih," ucap Bu Santy.


"Nggak usah repot-repot, Bu. Ini saja sudah cukup banyak. Jadi nggak enak ini soalnya kami nggak nyediakan makanan yang enak-enak seperti ini," jawab Ibunya Aulia.


Tak lama kemudian Aulia keluar ditemani gadis yang usianya nggak jauh beda dengan dirinya. Bayu dan keluargan kaget melihat penampilan Aulia yang sangat cantik.


Meskipun tidak dandan seperti layaknya orang yang menghadiri pertemuan penting, namun kecantikan alami yang dimiliki Aulia sudah menempel dalam diri Aulia.


Dengan memakai baju abaya warna hitam dengan payet emas yang begitu indah menambah keanggunan dirinya. Bayu sampai tak berkedip melihat gadis yang sangat di cintainya ini begitu cantik luar biasa.


Jilbab warna senada dengan warna payet membungkus kepalanya sehingga semakin indah di pandang mata. Bu Santy dan Pak Ridwan saling pandang melihat calon menantunya yang cantik tersebut.


Aulia memang dari sananya sudah cantik alami. Dulu dia memang gadis lugu dari keluarga sederhana yang penampilannya sangat sederhana namun tetap tidak mengurangi kecantikannnya itu.


---------------------------------


Next...

__ADS_1


__ADS_2