
"Mas, setelah ini kemana lagi,?" tanya Aulia saat selesai makan.
"Terserah kamu, minta diantar kemana.?"
"Kata Mas Bayu tadi mau ajak aku ke suatu tempat. Emang mau kemana.?"
"Tadinya mau ajak kamu ke rumah singgah, cuma sekarang sudah siang. Kapan-kapan saja."
"Okelah kalau begitu, kita pulang saja," jawab Aulia.
Keduanya akhirnya memutuskan pulang. Bayu kelihatannya sudah bisa melepaskan bayang-bayang Dini dengan hadirnya Aulia.
(***)
Satu bulan ke depan, tepatnya hari minggu Dinda melangsungkan akad nikah di rumahnya Dinda. Bayu dan keluarganya mengantarkan Irwan ke rumah Dinda.
Orang tua Irwan sudah datang dari kemarin pagi, dan kini mereka sudah siap mengantarkan anaknya untuk melangsungkan akad nikah.
Ibunya Irwan adalah adik dari Papanya Bayu, jadi mereka memang satu keluarga. Bayu sama Irwan sepupuan.
"Mbak yu, apa bawaan kuta sudah cukup,?" tanya Bu Rina Mamanya Irwan.
"Sudah Rin, ini semuanya sudah cukup. Nanti kamu dan suamimu ikut mobilnya Masmu saja, biar Irwan, Aulia dan Gani ikut Bayu," ucap Bu Santy.
"Rina, kamu sudah siap,?" sahut Pak Ridwan.
"Sudah Mas, Mas Beni juga siap. Biar aku panggil dia," jawab Bu Rina.
"Oke.!"
Sekitar jam sepuluh pagi, mereka semua berangkat ke rumahnya Dinda. Yang ikut hanyalah dua keluarga saja, karena memang sudah kesepakatan bersama.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan mereka akhirnya sampai rumah Dinda. Di rumah Dinda dipasang satu tenda dengan ukuran kecil karena memang nggak di rayakan ramai-ramai, hanya teman dekat Dinda dan keluarga dekat saja.
Irwan memakai stelan jas warna hitam, sedangkan kedua orang tuanya memakai batik couple warna navi. Pak Ridwan dan Bu Santy juga memakai batik couple.
Bayu memakai kemeja batik lengan panjang warna coklat. Sedangkan Aulia sendiri mengenakan busana muslim warna pastel dengan hijab yang senada.
Semuanya persiapan akad nikah sudah selesai. Dinda belum selesai dirias lagian acaranya masih setengah jam lagi.
__ADS_1
"Silakan masuk, Pak Ridwan," ucap Bu Heny.
"Iya, Bu."
Sekitar lima belas menit kemudian pengulu datang dan masuk menuju tempat yang sudah di sediakan. Lalu Dinda juga sudah selesai dan keluar.
Semua tampak takjub dengan penampilan Dinda kali ini. Wajahnya yang cantik menambah keanggunannya. Badannya agak sedikit berisi lantaran usia kandungannya sudah menginjak dua bulan jalan tiga bulan.
Acara ijab qobulpun dimulai. Irwan dan Dinda duduk berdampingan dan menghadap Pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda lestari binti Arman sudrajat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,!" ucap Irwan dengan lantang.
"Sah,!" seru Pak pengulu.
"Sah,!" jawab yang lain dengan serentak.
"Alhamdulilah," ucap Irwan pelan.
Kemudian dilanjutkan dengan memasangkan cincin kawin masing-masing. Kemudian Dinda mencium tangan Irwan lalu sebaliknya, Irwan mencium keningnya Dinda.
Bu Heny dan Pak Arman kemudian saling pandang dan tersenyum. Mereka sangat bahagia karena anaknya sudah menemukan jodohnya sekaligus Bapak dari anak yang ada dalam kandungannya.
Kini Dinda bergabung dengan teman-temannya. Tampak bayu dan Aulia lagi berdua sambil bercanda. Sedangkan Dinda menangkap mereka yang lagi berduaan langsung pasang muka sinis.
Dinda menatap dengan tatapan yang penuh amarah. Dia merasa kalau dirinya kalah dengan gadis berhijab dan tampak udik. Mungkin kalau bukan karena dirimya hamil, pasti dia akan mendapatkan Bayu dengan cara apapun.
"Lia, aku ke Irwan dulu, ya? Kamu tunggu di sini atau kamu bergabung dengan Mama dan Papa,?" ucap Bayu.
"Nggak usah, Mas. Aku menunggu di sini saja," jawab Aulia pelan.
"Ya sudah, aku tinggal dulu."
Kini Aulia sendirian duduk di kursi. Dinda yang mendapati Aulia duduk sendirian tak di mau kehilangan kesempatan untuk mendekati perempuan itu.
"Kok sendirian? Mana Mas Bayu,?" tanya Dinda dengan senyum yang di paksa.
"Mas Bayu lagi menemui Mas Irwan," jawab Aulia.
"Kamu sekarang sudah tenang, Kan. Karena aku sudah menikah dengan Mas Irwan, jadi kamu nggak akan ada yang menghalangi untuk menikah dengan Mas Bayu karena orang tuaku jelas-jelas sudah nggak akan menjodohkan kami lagi," ucap Dinda dengan tatapan yang penuh kebencian.
__ADS_1
"Maaf Mbak Dinda, dari awal saya sudah bilang sama Mas Bayu dan orang tuanya, kalau memang mereka ingin melanjukan perjodohan kalian, silakan. Saya nggak akan menghalangi. Tapi, ternyata Mas Bayu sendiri yang menolak, dan dia lebih memilih saya sebagai calon istrinya," jelas Aulia.
"Jangan sok cantik dan sok menang, Kamu!! Dia itu melihatmu karena kamu mirip Mbak Dini, makanya dia terobsesi sama kamu karena dia melihat Mbak Dini ada pada diri kamu," ucap Dinda dengan wajah yang sudah memerah.
Aulia langsung terdiam dan menunduk. Dinda merasa puas karena sudah melampiskan apa yang selama ini dia simpan.
"Maaf Mbak Dinda, saya memang tidak kenal dengan Mbak Dini. Tapi, saya yakin kalau dia juga nggak sependapat dengan Mbak Dinda," jawab Aulia.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu,?" tanya Dinda.
"Yang Mbak Dinda katakan tadi, katanya saya adalah mirip dengan Mbak Dini, almarhumah tunangan Mas Bayu. Dan Mas Bayu mencintai saya karena hal itu. Saya rasa kalau Mbak Dini tahu pasti dia akan marah sama Mbak Dinda. Karena dia juga nggak mau disamakan dengan orang lain. Demikian pula dengan saya juga nggak mau kalau dibilang mirip dia," jelas Aulia sambil matanya berkaca-kaca.
"Kamu memang pintar berkata-kata,!" ucap Dinda sambil melangkah pergi.
Aulia hanya bisa menatap Dinda dengan tatapan nanar. Dia nggak habis pikir kenapa Dinda begitu membencinya. Padaha dia sudah menikah dengan orang lain, masih saja bersikap seperti itu sama Aulia.
Aulia menundukan wajahnya dan air matanya sudah menetes di pipinya. Dia sudah nggak betah di tempat ini karena sikap Dinda yang begitu sinis sama dirinya.
Perlahan dia ada yang mendekati. Seorang perempuan muda mungkin teman Dinda. Buru-buru Aulia mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh perempuan itu.
"Kenalin, namaku Desi, teman kantor Dinda," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Aulia."
"Maaf sebelumnya kalau aku ganggu kamu."
"Oh nggak apa-apa, kok," jawab Aulia.
"Oh iya, tadi aku nggak sengaja melihat dan mendengar sedikit pembicaraan kamu dengan Dinda. Kamu jangan kaget, dia itu memang seperti itu anaknya. Sebenarnya baik, mungkin dia bersikap seperti itu ke kamu lantaran cemburu karena kamu pacarnya Bayu.
Dinda selalu cerita sama aku tentang semua perasaannya sama Bayu, bahkan sejak Kakaknya masih hidup. Cuma, aku mau kasih tahu kamu satu hal. Dia itu sebenarnya masih cinta sama Bayu, dan menerima Irwan hanya supaya untuk menutupi kehamilannya saja," jelas Desi.
"Kenapa Mbak Desi menceritakan semua ini sama saya,?" tanya Aulia.
"Karena aku kasihan sama kamu yang selalu di rongrong sama Dinda dengan kalimat-kalimat yang nggak enak di dengar. Aku peringatkan kamu supaya hati-hati dengan Dinda. Sejak dia nggak berhasil membuat Bayu menikahinya, dan ditambah dengan kehamilannya, dia sering marah dan selalu memaksakan kehendaknya," jelas Desi.
"Apa maksud kalimat Mbak Desi dengan hati-hati. Apa Mbak Dinda akan menjahati saya,?"
------------------------------
__ADS_1
Next....