MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 85 (Debat kecil)


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Pak Ridwan banyak diam saat berada di dalam mobil. Dia masih menyayangkan sikap istrinya terhadap Aulia saat di rumah sakit tadi.


Bu Santy yang mendapati suaminya yang hanya diam saja sejak keluar dari rumah sakit tadi jadi heran ada apa dengan suaminya tersebut.


"Pa, Papa kenapa sih kok Mama perhatikan dari keluar rumah sakit sampai disini kok diam saja," tanya Bu Santy heran.


"Nggak apa-apa," jawabnya singkat.


"Kalau nggak ada apa-apa kenapa diam saja. Biasanya justru Papa yang banyak cerita kalau lagi berdua gini," protes Bu Santy.


"Sudah dibilangin nggak ada apa-apa, kok masih tanya terus,!" jawab Pak Ridwan.


Bu Santy semakin bingung dengan perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba. Tak lama kemudian dia ingat sesuatu.


"Oh iya sekarang Mama ingat, apa gara-gara Mama bicara sama Aulia tadi di rumah sakit,?" tanya Bu Santy.


"Mama kenapa kok tega ngomong seperti itu sama Aulia,?" tanya Pak Ridwan.


"Memang ada yang salah dengan perkataan Mama? Enggak Kan,?" jawab Bu Santy sewot.


"Memang tidak ada yang salah, tapi moment dan saat menyampaikamnya yang tidak tepat," jawab Pak Ridwan.


"Ya mau dimana lagi Mama harus menyampaikannya, ketemunya saja di rumah sakit."


"Kenapa sih, sekarang Mama sepertinya tidak suka sama Aulia. Padahal kemarin sudah lumayan tenang.?


"Mama sebenarnya bingung Pa. Mama kasihan sama Bayu, kenapa dia selalu gagal dalam pernikahan. Padahal secara materi dan pekerjaan dia sudah mapan," ucap Bu Santy dengan muka sedih.

__ADS_1


"Ya ampun Ma, yang sabar.. Semua itu sudah kehendakNYA. Kalau memang Bayu dan Aulia jodoh, pasti nanti ada jalannya," jawab Pak Ridwan.


"Tapi sekarang Mama sadar kalau memang Aulia tidak buat Bayu, makanya dia tidak berjodoh."


"Ingat Ma, anak kamu masih cinta sama dia, Ma," tukas Pak Ridwan.


"Mama kurang setuju kalau Bayu kembali sama Aulia, Mama takut kalau nantinya mereka bakal nggak harmonis."


"Mama kau bilang gitu, apa alasan merwka tidak harmonis. Mereka kan saling cinta," sela Pak Ridwan.


"Papa tahu sendiri kan, Aulia sekarang itu seorang janda kaya. Mama nggak mau kalau nantinya anak Mama dibawa-bawa dalam urusan harta," jawab Bu Santy.


"Mama kok bicaranya ngelantur gitu. Nggak usah bicara yang aneh-aneh buat nutupin alasan Mama kalau memang sebenarnya Mama nggak setuju kalau Bayu balik sama Aulia,!" ucap Pak Ridwan.


"Papa apaan sih, Pa. Mama bilang apa adanya, kok."


"Cukup,!! Nggak usah diterusin lagi. Papa capek dengerinnya.!"


(***)


Sore harinya sekitar habis isya, Bi Lastri masih setia menemani Aulia di rumah sakit. Sejak kedatangan kedua orang tua Bayu tadi siang, dia banyak diam dan bersedih.


Bi Lastri dari tadi memperhatikan majikannya ini kayaknya ada yang beda. Biasanya Aulia cenderung banyak cerita dan bicara. Tapi kini dia tampak sedih.


"Kenapa Mbak Aulia kok diem saja. Apa Bibi perlu belikan sesuatu,?" tanya Bi Lastri.


"Nggak apa-apa, Bi. Saya hanya capek saja."

__ADS_1


"Tapi dari tadi Mbak Aulia hanya diem dan mukanya kayak bersedih gitu. Apa gara-gara kedatangan orang tua Mas Bayu tadi siang.?"


Aulia sontak menoleh kearah wanita paruh baya ini. Memang sejak menjadi istri Fatih dan tinggal di rumah beaar itu, Aulia sering ngobrol dan cerita sama pembantunya ini. Sampai masalahnya dengan Bayu pun Bi Lastri juga tahu.


Wajar kalau tadi Bi Lastri bicara seperti itu sama Aulia. Disamping dia tahu masalahnya, dia juga kawatir dengan keadaan Aulia yang menjadi pendiam dan bersedih.


"Mbak Aulia nggak apa-apa, kan,?" tanya Bi Lastri lagi.


"Bi, sepertinya Mamanya Mas Bayu benci sama saya,?" ucap Aulia pelan.


"Ah enggak juga, mungkin itu hanya perasaan Mbak Aulia saja," jawab Bi Lastri memebesarkan hati Aulia.


"Tapi nggak biasa-biasanya Bu Santy dingin dan kaku sama saya. Biasanya lembut sekali. Saya ngerti pasti ini semua gara-gara saya, Bi," jawab Aulia sambil menangis.


"Sssttt.., jangan menangis lagi. Yang tenang Mbak. Kalau Mbak Aulia dan Mas Bayu ada jodoh, pasti dipertemukan kembali," jawab Bi Lastri.


"Iya Bi. Saya percaya itu. Maafkan jika saya terlalu cengeng," ucap Aulia lemah.


"Nggak apa-apa, Mbak. Memang ada saatnya manusia itu perlu menangis untuk sekedar melepaskan beban dan uneg-uneg dalam hatinya," jelas Bi Lastri.


"Makasih ya Bi, Saya merasa ada temannya. Jangan bilang ke Ibu ya soal sikap Bu Santy sama saya tadi. Saya nggak mau kalau Ibu kepikiran terus jatuh sakit," ucap Aulia dengan memegang tangan Bi Lastri.


Perlahan tangan Bi Lastri memegang tangan Aulia lalu mengelusnya supaya dia merasa tenang.


"Bibi janji tidak akan cerita sama Bu Dewi," jawab Bi Lastri.


"Memang ada yang di sembunyiin dari Ibu, Lia,!"

__ADS_1


-------------------------------


Next...


__ADS_2